
Di satu ruangan, sebut saja kelas 11B. Terdapat banyak anak dengan bermacam-macam perasaan sekarang. Jefri, Surya, Awan, Dewi, Lia, Gilang, Ratna, Kinanti, Pian, Nuri, dan Astuti dari kelas Jefri turut serta dalam pembuktian sore ini.
[Lo beli lilin sama warungnya? Lama banget ini pada nungguin!]
Awan lagi-lagi melirik pintu. Tinggal dua orang yang belum kembali disuruh beli lilin di kantin. Mira dan Irlan.
"Mereka pacaran dulu kali." Celetukan Surya mendapat sorot mematikan dari Jefri dan Awan. "Heii, cuma bercanda. Kalian diem-diem bae. Why? Takut?"
"Emang lo nggak?" tanya Astuti di ujung bersama Nuri enggan lepas sejengkal.
Surya cengar-cengir. "Ada mereka." Dia mempersembahkan dua jagoan kelas di bidang perhantuan. "Selama kita cuma nonton bakal aman."
"Lo gak mau coba?" Pian melontarkan pertanyaan untuk Surya.
"Tiap Zafran kesurupan dia gak mau bantu kita," ujar Kinanti. "Surya juga manusia. Wajar takut."
Ratna menepuk-nepuk bahu Kinanti. "Jantung gue berasa mau lompat. Pulang aja yuk."
"Lia gimana? Ditinggal sendiri?"
"Banyak orang di sini dia gak bakal sendiri."
"Lo kalau mau pulang, pulang sekarang mumpung belum maghrib."
"Katanya gak boleh kelayapan menjelang maghrib?" Ada saja yang melintas di kepala tentang mitos daerah.
"Itu dia. Satu-satunya pilihan tunggu Lia di sini."
"Kalau gue liat gimana?"
"Jangan kabur."
"Kalau lo yang liat jangan kabur juga. Jangan tinggalin gue. Ini kelas terkutuk."
"Iya ..."
Dewi menyerahkan korek ke Jefri. "Jelasin ke mereka buat jaga-jaga nanti muncul sesuatu."
"Hm. Jangan tinggalin Surya. Lebih repot dia pingsan di sini."
"Panas banget, njir." Astuti mengibaskan tangan ke wajahnya. Keringat dia seukuran bulir jagung.
"Gak dingin?" tanya balik Nuri.
Astuti menyanggah udara dingin di sekitar. "Apa gue terlalu gugup?"
"Atau mungkin gue," duga Nuri.
Meja telah disusun di belakang mereka. Terdapat empat meja di setiap sudut kelas untuk menaruh lilin.
Akhirnya sekian lama ditunggu mereka datang. Irlan menghampiri Surya dan Dewi di sisi kanan, sementara Mira menghampiri Awan dan Jefri yang ada di tengah kelas sebagai pusat.
"Lilinnya." Tangan Awan menengadah lebih dulu.
Mira mengeluarkan lilin yang dia beli. "Sisa dikit jadi gue borong."
"Mau ngepet juga?" sarkas Awan mengambil cepat lima lilin putih dari tangan Mira.
Ngepet apanya. Mira bingung mereka butuh lilin berapa. Dari pada kekurangan lebih baik dilebihkan. Sisanya bisa dibawa pulang.
Awan bawa korek sendiri, dia bergerak menyalakan lilin di dua meja sebelah kanan.
"Gue aja. Lo pasti capek." Jefri mengambil kantong kresek dari tangan Mira dan bergerak ke sebelah kiri.
"Gue tetep ikut lo." Mira mengekorinya tak ingin berjauhan.
Saat mau ke meja terakhir, Dewi mau lihat Jefri. Surya memegangi tangannya jadi ikut juga.
Begitu Jefri mengeluarkan lilin dari kantong plastik, dia menghela napas ke arah Mira.
"Kenapa yang ini beda?" Jefri mempertanyakan bentuknya.
Mira melihat apa yang Jefri tanyakan. Bola matanya melihat ada jarak yang kosong. Artinya kekurangan lilin.
"Kurang?" Dia mendadak bisu.
"Kenapa?" Dewi mengecek bentuknya. Mata dia dan Mira bertemu. "Lo beli lilin aroma terapi, Mir?"
Mereka yang turut mendengar tidak mau berkomentar.
Surya mengusap punggung Mira agar tetap semangat. "Lo udah amal tenaga. Ikhlasin."
Jefri mengembalikan pada pemiliknya. "Bawa pulang."
Awan sudah selesai menyalakan lilin. Dia mendekati sahabatnya yang tidak bersuara.
__ADS_1
"Apa?" sahutnya bertanya ke Surya. Lilin dalam wadah yang biasa Awan lihat di kamar Mira membuat matanya membelalak tapi dia tertawa. "Bisa-bisanya lo beli lilin beginian." Dalam sekejap tawa itu berubah menjadi raut datar serius. "Lo mau ngundang setan atau bikin setan tidur. Astaga ..."
"Udah, udah." Dewi membalikkan tubuh Awan kembali ke tempat semula. "Lo sama gue." Dewi menyeret Mira bergabung mereka, dia berdiri dekat Irlan.
Api lilin begitu tenang tanpa terusik angin. Entah sampai kapan bertahan.
Awan mematikan lampu kelas sampai cahaya lilin saja yang tersisa. Langit diakhir senja pun menggelap. Kesan horor didapat di kelas yang tidak jauh dari ujung koridor.
"Tutup mata kalian."
"Lo gak jelasin ke mereka?" bisik Awan.
"Nanti."
"Kita semua, Jef? Bukannya Lia sama Gilang doang yang mau liat?" Nuri rada takut.
"Tutup aja, anjir!" Astuti sudah menutup matanya.
"Iya, iya." Nuri ikut menutup mata.
Awan sering berada di situasi seperti ini. Dengan mata terbuka lebar dia bisa melihat semua makhluk mengerikan hingga saat kecil sulit tidur nyenyak.
Sama seperti Awan. Jefri menyuruh mereka menutup mata bukan karena alasan sepele. Mereka mengingatkan memori masa kecilnya yang kelam. Jefri bersyukur seiring bertambah usia cepat beradaptasi dengan matanya. Dia ingat sekali tatkala menyadari sebagian orang di keramaian bukan manusia, matanya tidak bisa berkedip lama seolah menyuruh tetap terbuka.
Mira menyaksikan teman-temannya yang menutup mata semua. Ada yang gemetar, Nuri dan Ratna.
Dia berbisik pada Dewi. "Seharusnya gak begini, Dew."
"Ha?" Dewi tidak dengar.
Jefri mulai berbicara. "Apa pun yang kalian rasain mulai sekarang bukan semu. Gue tau kalian takut karena gelap. Dalam gelap pun masih ada satu cahaya. Kalian liat titik putih ... anggap pergi ke sana untuk menemukan cahaya."
"Jefri?" Awan merasa janggal.
Firasat Mira benar. Jefri keluar dari rencana, namun dia tetap perhatikan langkah serta ucapan Jefri.
Lilin-lilin mulai meredup bergantian secara acak padahal tidak ada angin berhembus.
"Lia, Gilang?"
Mereka tidak menyahut panggilan Jefri. Yang lain bingung.
"Nyalain lampu, Wan."
Awan bergegas menyalakan lampu. Fokus Jefri memang hanya pada Mira. Dia tahu Mira tidak menutup matanya.
"Maksudnya?" Bulu kuduk Surya merinding sekujur tubuh. Terlebih di tengkuk leher. Semacam ada angin dingin seliweran tapi matanya sulit dibuka.
"Gue tau kalian anggap kita halusinasi dan cari perhatian. Dua jam lagi ... Gue bakal terima review dari kalian semua."
Mira tahu Jefri muak dengan segala komentar jahat di belakangnya. Dia mengetahui orang-orang yang kerap membicarakan mereka kalau mereka cuma sekelompok keluarga yang terlalu berlebihan, mau terkenal, dan menjadi pusat perhatian.
Jefri tahu segalanya dan dia sudah bungkam selama ini.
"Jefri buka mata batin semuanya," tuturnya pelan.
"Apa?!" Dewi langsung buka mata karena terkejut. Bukan itu saja, dia terpaku melihat makhluk yang belum pernah dilihatnya seumur hidup.
"Berisik banget apaan sih!" Surya mengintip sedikit.
"Buka mata lo, Sur." Dewi memukuli Surya. Tangannya mencengkeram lengan pria itu kuat-kuat.
Surya membuka mata sesantai mungkin, adaptasi dengan cahaya lampu. "Emang udah selesai?"
Dewi merasa mual pertama kali lihat wujud tanpa kepala jalan terseok-seok di depan pintu kelas.
Surya berteriak histeris melihat wujud wanita mengerikan tersenyum memamerkan mulutnya yang robek sampai telinga melayang di atasnya.
"Goblokkkk!" Surya mengagetkan semua orang. Mereka membuka mata bersamaan dan tidak lama jeritan-jeritan terdengar.
Nuri dan Astuti tidak bisa ke mana-mana selain duduk di pojokan. Mereka terus menangis sambil menutup mata akibat ada sosok nenek berkebaya hitam mendekat.
"Jangan gue! Jangan!"
"Nuri! Nur! Itu apaan, Nur!"
"Gue juga gak tau! Jangan tanya gue!"
Lia mematung beberapa saat melihat semua sosok hantu berdatangan seperti mendapat undangan ke kelas. Dia jatuh pingsan.
Kinanti takut, jelas! Dia khawatir dengan teman-temannya yang menjerit ketakutan dan minta tolong tidak bisa pergi bahkan keluar kelas.
"Lia! Lia!"
"Kinanti, lo mau ke mana!" teriak Ratna berlari menuju Kinanti. "Jangan tinggalin gue, bego!"
__ADS_1
"Lia pingsan!"
"Huaa! Jangan deket-deket gue! Gue takut! Kinannn!"
"Tutup mata lo, Rat!"
"Gak bisa! Makin jelas!" Ratna teriak tepat di sebelah Kinanti.
"Jefri! Lo bilang cuma Lia sama Gilang! Kenapa kita bisa liat juga!" gertak Kinanti.
Gilang bahkan menggila hingga mau melempar kursi ke arah sosok yang mendekatinya.
"Woi! Jangan dilempar! Ganti ruginya mahal!" Pian memeluk perut Gilang dari belakang dan menariknya mundur supaya menjatuhkan kursi.
Kaki Gilang tidak bisa diam menendang-nendang ke berbagai arah. "Pergi lo, anjing! Gue gak takut!"
"Woi udah! Itu bukan manusia! Gak usah ditantang!"
Dewi pasrah lengan seragamnya basah ditangisi Surya. Mereka sembunyi di bawah meja. Dewi sadar tidak berguna. Meski begitu dia syok awal saja.
"Gue baru tau mereka bisa gelantungan."
"Bisa-bisanya lo tenang liat bentukan gak jelas!" Surya mengomel. "Sialan Jefri. Gak bakal gue maafin kali ini. Kenapa gue bisa liat juga. Bangsat."
"Mereka bertiga cuma berdiri di tempat yang sama," ujar Dewi.
"Cari cara kabur, Dew! Gue mau pulang! Pulang sekarang!" Surya merengek seperti anak kecil.
"Mereka pasti ketakutan setiap hari." Dewi berempati pada ketiga orang yang harus melewati banyak wujud tidak sempurna. Jujur dia takut, ini pertama kalinya melihat sangat jelas.
"Daripada lo ngasihanin mereka. Liat gue! Gue gak tahan lagi!"
"Diem aja di sini! Jefri bilang dua jam."
"Dua jam gue udah gila masuk rumah sakit jiwa, bangsat!"
"Gak usah teriak, bajingan. Gue sama takutnya tapi kalau lo gak tenang mereka malah tertarik deket kita."
"Serius?"
"Makanya anteng. Baru lima menit. Sisa satu jam lima puluh lima menit."
"Lo seneng bisa liat kembaran lo? Si kunti yang bajunya merah kek cabe pasar? Bangsat."
Plak!
"Gue bilang anteng, goblok." Dewi menampar pipi Surya.
Surya makin mewek. Dia takut dimakan setan, ditambah dapat tamparan penuh cinta. Rasa sakitnya bertubi-tubi. Tetapi jika tidak ada Dewi siapa yang bisa dia ajak sembunyi.
"Sekali lagi kamu membuat Mira dalam bahaya." Suara familiar Sanjaya memecah keributan bagi Jefri, Mira, dan Awan.
Awan mendapati Sanjaya muncul dari balik kaca jendela balkon lalu menghilang.
Teriakan kencang yang bersahutan berubah hening dalam sekejap. Mereka merasakan gelap dalam keadaan mata terbuka kemudian buram. Butuh beberapa saat sampai penglihatan jernih.
"Mata gue!" jerit Ratna.
"Kenapa?!" Kinanti teriak.
"Gue gak liat hantu lagi, Kinan!"
"Gue juga." Kinanti berusaha menyadarkan Lia. "Bangun, Lia. Lia!"
Dewi melepas pegangan Surya dari bajunya. Bisa robek nanti. "Bangun. Udah gak ada apa-apa."
"Boong!"
"Buka mata lo!"
Irlan berjongkok di sebelah Mira. Dia tidak ke mana-mana, cuma menutup mata sambil baca doa semampunya.
Jefri dan Awan menutup telinga mereka yang tiba-tiba berdenging panjang menyebabkan keheningan berdurasi cukup lama. Mereka berdua tidak mendengar bunyi apa-apa bak orang tuli.
Dewi bergerak keluar dari bawah meja usai orang yang berada di sebelah Irlan jatuh pingsan. Sayang sekali kakinya tersandung kaki meja yang menghalangi jalan.
"Dew!" Surya buru-buru mengecek kaki Dewi.
Irlan menggunakan tangannya sebagai bantalan kepala Mira disaat dia terhuyung ke belakang supaya tidak membentur lantai.
Apa yang terjadi barusan? Semua berlangsung begitu cepat. Ketakutan masih terasa hingga sendi-sendi terkecil.
Mira, mengapa dia pingsan? Irlan membangunkan gadis itu tapi dia tidak merespon.
Awan berlari dan berlutut di samping Mira. Suaranya bergetar memanggil nama Mira.
__ADS_1
"Mira. Bangun, Mir. Mira!"