Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Gak Tidur Sama Sekali


__ADS_3

Terbangun karena haus sering terjadi oleh sebagian banyak orang.


Lantai marmer dingin malam hari paling dibenci Zafran. Begitu berjalan tanpa menggunakan sandal rumah, dinginnya menusuk telapak kaki.


Mau bagaimana lagi. Haus harus minum, daripada tenggorokannya seret sampai pagi.


Hanya informasi di rumah Zafran tidak ada pekerja yang benar-benar tidur pulas.


Tengah malam Bi Sum masih menonton televisi di ruang tamu sambil tiduran di sofa.


Sesaat Zafran kaget Bi Sum menyaksikan film horor. Pas sekali setannya muncul depan layar.


"Astaga. Bi Sum! Belum tidur?"


Bi Sum ikut terkejut dengar backsound juga suara anak majikannya.


Beliau bangun dan duduk mencepol rambut panjangnya yang tipis.


"Nak Zafran belum tidur juga?"


Zafran tidak pernah sengaja gunakan mata batinnya.


Kepalanya miring usai menyadari ada wujud asap putih berbentuk manusia duduk di sebelah Bi Sum.


Zafran maju dua langkah. Ketika sosok itu menoleh pelan ke arahnya, dia mundur tiga langkah.


"Mau ke mana tengah malam?" Bi Sum berdiri ingin membantu.


"Gak usah ke sini, Bi. Tiduran lagi aja di situ. Lanjut nonton film sampai habis. Aku cuma mau ambil minum."


Zafran penuh hati-hati dalam tutur kata dan bersikap.


Bi Sum menawarkan bantuan, "Bibi ambilin aja ya."


Zafran menghentikan Bi Sum. "Gak usah, Bi. Suer!" Dia bergegas pergi tapi malah kejedot tiang. "Bangsat."


"Gue kudu ngapain sekarang? Telpon Jefri? Atau Mira sekalian? Tapi emang masih bangun? Gak bisa. Irlan? Gak berguna. Dewi? Apalagi."


Zafran buka kulkas dan ambil dua botol air ukuran per satu liter ke kamar. Dia pura-pura jalan lurus, tanpa nengok ke ruang tamu.


"Itu definisi nonton setan dengan setannya, kah?"


Sampai kamar Zafran mengunci pintu, naik kasur, dan minum air banyak. Dia menyambar ponsel lalu menelepon Jefri. Jika tidak diangkat beralih ke Awan, Mira, Dewi, Surya, harapan terakhir adalah ... Juan si berengsek kasar.


"Alhamdulillah.. " Jantungnya mencelos lega Jefri mengangkat telepon darinya. "Jef!"


"Apaan?"


"Jangan matiin teleponnya. Temenin gue tidur sampe besok."

__ADS_1


"Gue gak segabut itu."


Tut!


"Wah! Diputus sepihak!" Zafran menghubungi Jefri lagi tapi tidak aktif.


Dia ganti telepon Awan. Tidak dalam jangkauan.


Untuk mempersingkat waktu Zafran hubungi Juan.


"Gak inget waktu lo!"


"Tenang dulu. Tenang."


"Paan sih!"


"Kiat-kiat menjauh dari jurig gimana, njing?"


"Lo? Mau menjauh dari jurig? Haha. Goblok. Kan lo makanan mereka. Hahaha!"


Zafran mengeryit paham Juan tertawa panjang dan langsung menutup sepihak seperti Jefri.


**


Kukuruyuk!


"Astaga. Gue gak percaya ayam udah berkokok padahal baru mimpi sekilas."


Hantu di ruang tamu tidak mendatanginya, tapi Zafran mengalami cemas berlebih hingga matahari terbit.


"Bolos sehari kayaknya gak masalah."


"Tapi Bapak Hardi yang sangat disiplin bisa pidato kayak konferensi pers."


"Berangkat, gak, berangkat, gak."


"Berangkat gak guna, bolos percuma."


Pak Mus yang hari ini mendapat jadwal mengantar jemput Zafran sampai kaget melihat penampilan anak tampan itu berubah mengerikan dalam semalam.


Zafran mengaca dalam mobil. "Es batu, Pak." Tangannya terulur ke depan.


Pak Mus berikan kain berisi es batu.


Selama perjalanan Zafran menyempatkan waktu mengompres mata.


Melihat jalanan membuat dia berpikir mengapa hidupnya tidak selancar laju kendaraan.


Zafran lahir di keluarga berada. Orang berburu uang, sedangkan anak itu bingung cara habiskan uang. Sesudah lulus orang cari kerja layak, Zafran sudah diutus meneruskan bisnis.

__ADS_1


Perkara wanita bisa langsung klik, siapa saja. Masalahnya yang dia suka tidak ada.


Sehampa itu hidup seorang Zafran Kusuma.


Uang tiada habisnya tak menjamin kebahagiaan. Kutipan kalimat yang lewat di beranda medsos sangat nyata.


"Abis ngapain kamu sampai begadang gitu?" tanya Pak Mus.


"Kalau saya jawab nanti ngadu ke Bapak Hardi," balasnya.


"Masalah perempuan?"


"Boro-boro."


Pak Mus tersenyum, kepalanya menggeleng. "Kamu sepertinya menyukai perempuan."


"Ya perempuan dong, Pak. Saya kan laki."


"Setenang ini kamu njawab berarti betul ada yang lagi disukai."


"Gak ada, Pak."


"Dia suka orang lain?"


"Astagfirullah."


Menyukai diam-diam saja bikin hati tidak karuan dan kepala pusing seperti orang mabuk. Apalagi cinta bertepuk sebelah tangan.


Pak Mus menertawakan ekspresi Zafran namun tetap menghargai jawabannya.


"Masa-masa SMA mah memang sering suka perempuan. Tinggal kamunya aja gimana cara mengatasi detak jantung gak karuan sama keringet dingin pas ketemu."


"Temen cewek saya cuma dua. Dewi punya pacar namanya Surya. Mira- "


"Mbak Mira, punya pacar juga?"


Dibilang punya sebetulnya tidak. Bilang tidak, Mira merasa punya.


"Dia sama Mirza. Orang Bogor."


Hubungan mereka belum jelas. Mira masih terombang-ambing traumanya sendiri. Mirza mengizinkan dia mengingatnya sebagai pacar.


Zafran tak tahu perasaan macam apa yang dia miliki terhadap Mira.


Istimewa. Mungkin itu kata yang tepat.


Mira berani mendekatinya sementara orang lain menjaga jarak. Mira membuka komunikasi Zafran dengan orang lain. Mira yang mengubah persepsi orang tentang kelemahan bisa menjadi kekuatan diri sendiri.


"Dia orang yang berjasa."

__ADS_1


Ucapan barusan tanpa sadar terlontar ketika memikirkan nama Mira. Tentu saja Jefri turut membantu kesulitan mereka berdua.


"Bingung sama hati sendiri sering terjadi, Nak Zafran. Kamu meragukan hati karena dalam pikiran sudah tertulis dia cuma teman yang berjasa. Nanti kamu pasti merasakan hatimu memilih dia."


__ADS_2