
Tugas kelompok berjumlah empat orang terdiri dari Irlan, Zafran, Dewi, dan Mira membutuhkan waktu lebih dari dua jam menyelesaikan presentasi.
Irlan lebih bekerja keras dari yang lain. Dia mengerti konsep yang dibutuhkan agar mencapai nilai terbaik.
Kelopak mata Mira sudah berat padahal masih jam tujuh sore menjelang malam. Dia sering mengantuk tanpa alasan yang jelas. Mungkin efek stres, memikirkan sesuatu yang tidak diketahui penyebabnya.
Dewi membantu mereka. Ya, bantu menyaksikan bagaimana Irlan menggarap tugas sangat serius sehingga hampir oleng dari Surya.
Zafran turut mengedit tampilan serta format presentasi. Sesekali dia membacakan isi yang nanti mereka bawakan hari kamis nanti agar hafal di luar kepala.
"Masih lama? Hoamm."
"Tiduran aja."
Irlan mengizinkan Mira istirahat. Dia sudah membuat kerangka sebelum diketik ke power point.
Mira justru menyandarkan kepala ke pundak Irlan yang dekat di sampingnya.
Irlan tahan napas selama hampir lima detik kemudian menatap Zafran mendelik tak suka.
"Tiduran di sofa maksudnya," imbuh Irlan mendorong pelan kepala gadis itu menjauh dari tubuhnya.
Bukannya peka, Mira meletakkan kepalanya lagi di pundak Irlan.
"Bisa sambil liat dari sini," balas Mira menguntungkan baginya.
Memang betul Mira bisa sekalian lihat kerjaan mereka di depan laptop sambil sandaran.
Irlan berdeham mengisyaratkan Zafran supaya tidak salah paham. Mira masih belum waras. Semoga Zafran mengerti.
Dewi menonton adegan di hadapannya cukup meninggalkan kesan mendalam.
"Gue perhatiin ada cinta jajar genjang di sini," ucapnya sedekap dada seraya mengangkat satu alis memindai mereka secara bergantian.
"Bukan persegi panjang?" sahut Irlan.
"Lingkaran kali, Dew. Saking gak jelasnya jadi tak terhingga. Muter aja kek gasing," timpal Zafran.
Para lelaki yang tengah disindir menyembur gelak tawa.
Mira menegakkan badan mencoba menelaah maksud Dewi.
"Maksudnya gue sama Mirza, Zafran, sama Irlan yang jajar genjang?" tanya gadis itu membungkam mulut mereka.
"Jawab." Zafran menggerakkan mulut tanpa suara kepada Dewi.
Dewi bicara tanpa pikir dua kali.
__ADS_1
Rasakan itu, batin Zafran ikut tertekan.
"Bukan kita. Maksud Dewi pasti Jefri, Awan, sama Juan." Irlan beri alibi.
Dewi menarik sudut bibirnya tersenyum paksa. "Itu maksud gue."
Zafran berlagak mau muntah. Perempuan bisa akting penuh alasan, namun sesungguhnya lelaki mampu mengetahui dia jujur atau berdusta.
Mereka kembali fokus dengan pekerjaan agar cepat selesai dan pulang sebelum larut malam.
Hampir satu jam tugas telah tuntas. Mereka meregangkan otot pinggang, leher, tangan, dan kaki sebelum bebenah.
"Mirza belum niatan ke Jakarta lagi, Mir?"
Dalam hati Irlan gemas atas pertanyaan Zafran. Dia menyukai diam-diam tapi bertanya pacar aslinya.
"Bukan urusan lo Mirza ke Jakarta lagi atau nggak. Kecuali lo mau sambut dia pake karpet merah," sambar Dewi selagi memasukkan buku ke ransel.
"Gak nanya sama lo."
"Belum tau. Sabtu kali pas libur." Mira jawab sepengetahuannya.
Irlan biarkan Dewi dan Irlan berjalan mendahuluinya.
"Zafran dijemput sopir. Dewi dijemput Surya. Lo dijemput Jefri?"
Mira lupa belum minta jemput Jefri. "Oh iya." Dia berjalan ke luar lalu memakai sepatunya sambil menghubungi orang rumah yang belum tidur.
Sangat penasaran siapakah pria itu Dewi lihat dari dekat langsung memekik kaget.
"Lo kok ada di sini!"
Setelah aksi Mirza melindungi Mira sampai rela tertusuk, Dewi putuskan menjadi penggemarnya.
Zafran cuma sempat menyapa mereka dari dalam mobil saat melintas. Ada pacar aslinya, dia takut ketahuan.
"Halo, Jef."
[ "Gimana?" ]
"Ada Mirza!"
Mira rada terkejut Dewi berteriak dari depan memberitahu Mirza datang.
Mereka saling tatap namun tak lama. Mira masih berada dalam panggilan dengan Jefri.
"Hati-hati di jalan," pesan Irlan.
__ADS_1
Mira tersenyum menganggukkan kepala. Dia ke depan seorang diri sementara Irlan mengawasi dari teras.
"Mirza di Jakarta. Lo tau, Jef?"
[ "Tadi dia mampir ke rumah terus sekalian gue suruh jemput lo. Pulang sama dia ya." ]
"Ya."
Ada sesuatu yang memicu kesedihan di lubuk hati Mira ketika berjumpa Mirza.
Apa ini?
Tidak seperti pasangan lain yang saling menghampiri dengan gembira penuh bunga bermekaran.
Gadis itu merasa tertekan tiap adu mata dengan Mirza. Kakinya bahkan berat mendatanginya.
Terpaksa senyum adalah cara yang bisa menutupi perasaan sesungguhnya.
Pas dia berada di depan Mirza. Dewi berpamitan bersama Surya.
"Kita balik duluan, Duo Mir."
"Yoi."
"Tiati bawa anak orang," ujar Mirza.
Setelah mereka melaju pergi Mirza menunggu Mira naik ke motornya tapi dia malah mematung dengan tatapan kosong.
"Lo mau berdiri di sini terus?"
Mira kembali menguasai dirinya. "Eh iya."
Mirza rupanya menyiapkan jaket supaya Mira tidak kedinginan kena angin malam.
"Makasih."
"Lo gak diganggu kelamaan di rumah Irlan? Gue liat energinya gak begitu bagus."
"Pernah sekali ketemu hantu air di kolam, tapi udah gak keliatan. Energinya masih ada?"
Selagi Mira memakai jaket dan helm Mirza menggumam. "Kenapa lo cuma lupa hal itu?" Sengaja dia menunggu Mira pakai helm biar tidak dengar.
"Dari Bogor gue belum makan."
"Gampang mampir di jalan."
Mira barusan bilang begitu?
__ADS_1
Mirza tidak salah mengartikan Mira ngajak dia jalan-jalan, bukan?
Argh!