
Mira melihat Sanjaya yang berdiri di depan kelas seperti patung.
"Tuh liat! Orang ganteng yang gak terekspos aja kayak pajangan kelas!" Zafran meledek Sanjaya secara terang-terangan.
Irlan menegurnya. "Woi, gue denger dari Awan dia pangeran yang punya kekuatan angin. Jangan ngeledek lagi." Dia takut kualat.
Zafran memandang rendah Sanjaya. "Kekuatan angin? Kentut maksud lo? Haha!"
"Udah ..." Mira menyuruh Zafran berhenti.
"Maaf, Pangeran. Hamba hanya bergurau," lanjut Zafran masih belum jera.
Leher Sanjaya menoleh kaku disertai tatapan mematikan ke arah pelaku utama. Kemudian dia memutar bola mata malas menghadapi remaja konyol. Tak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang aneh, Sanjaya pergi.
"Sanjaya beneran bisa bikin badai, anjir."
"Jangan main-main sama dia!" omel Dewi.
"Hah, angin badai?"
"Lo pernah liat?" Jadi kabar kekuatan angin sungguhan? Wah! Irlan berdecak kagum.
Kepala Mira mengangguk tiga kali.
"Waduh! Gak bisa ghibahin sembarangan dong? Padahal menurut cerita lo sama Awan muka dia mirip Jefri. Lebih ganteng."
"Inget punya pacar!" sahut Irlan.
"Lo suka cowok ganteng modelan Jefri, kenapa gak pacaran dia kalau nanti putus dari Surya?"
Ide brilian Zafran dianggap tidak masuk akal. Lantas dia mengagumi Mira apakah harus pacaran dengannya? Ditolak yang ada.
Mira melarang. "Gak boleh."
"Why not?" Zafran beranggapan sebelum janur kuning melengkung siapa pun bebas menikung.
"Ayo sambil jalan ke kantin." Dewi membujuk Mira dengan cara mengaitkan tangan ke lengannya.
Mulut biadab Zafran jika bisa ditutup pakai benda apa pun, siapa saja diperbolehkan.
Zafran tersenyum tanpa merasa keberatan mengusik ketenangan Mira.
"Jefri terlalu fokus sama lo tempo hari. Gak gue izinin dia pacaran, apalagi satu sekolah."
"Tapi Jefri gak deket sama siapa-siapa selain kita."
"Jangan ngomong lagi," pungkas Irlan. "Lo bikin Mira gak nyaman."
Mira memberi jempol untuk Irlan. Sang pembelanya. Gadis itu berbalik arah menggandeng Irlan.
"Dari kemarin lo bikin mood gue bagus. Makasih, Irlan."
Dewi melihat kebersamaan mereka tiba-tiba semakin dekat cuma bisa menghela napas. Pandangan matanya mengarah ke ekspresi muka Zafran. Mengapa wajahnya begitu?
"Lo cemburu liat mereka deket?"
"Ngapain cemburu? Gak."
Dewi tertawa pelan. Tidak cemburu buat apa jalan duluan di depan meninggalkan mereka. Ketahuan banget.
"Lo panas, kan?" Sekarang kesempatan Dewi mengejek Zafran.
Zafran menyenggol Dewi sampai gadis itu terhuyung ke samping.
"Zafran! Mainnya pake tenaga!"
Mereka berujung saling kejar.
Surya memanggil Dewi ketika terlihat melintas kelasnya.
Dewi seketika berhenti, menunggu Surya datang.
Surya mengucek mata. Omong-omong, sedang apa Mira dan Irlan berdampingan saling gandeng tangan segala? Benak Surya bertanya.
"Mereka pacaran?" Surya ingin konfirmasi.
Dewi menyanggah dugaannya.
Pertanyaan Surya masuk ke telinga Jefri. Kebetulan dia mau beli minum di kantin sekalian membahas sesuatu bersama mereka.
"Siapa yang pacaran?"
Belum dapat jawaban, Jefri terpaku melihat pemandangan tak biasa.
"Jefri," sapa Irlan rada canggung dan refleks melepas tangan Mira.
Mira kaget mendadak Jefri berhenti di depannya seperti menghadang jalan mereka.
"Kita ke kantin duluan aja." Dewi memisahkan diri.
__ADS_1
"Kenapa? Tungguin aja bentar," ucap Surya.
"Ssutt! Ayo!"
"Kenapa sih? Mereka beneran pacaran?"
"Diem!"
"Kalian berdua- " Jefri melotot belum selesai bicara dirinya ditarik pergi oleh Mira.
"Gak kayak yang lo pikirin, Jef. Percaya sama gue."
Irlan terhibur dengan cara singkat Mira mengatasi kesalahpahaman. Dia tersenyum mengikuti dari belakang.
"Gue belum selesai ngomong." Jefri minta dilepaskan.
Mira menyela, "Gak usah ngomong."
"Lo belum move on dari Mirza ngedeketin Irlan?"
"Emang gandengan tangan doang gak boleh?"
"Lepasin dulu tangan gue."
Mira akhirnya melepas tangan Jefri.
"Mau lo deket sama siapa terserah. Gue cuma mau tau kalian lagi pendekatan atau nggak." Jefri beralibi.
"Oh iya ada yang mau gue tanyain ke lo, Jef."
"Apa? Kenapa lagi?"
"Ini permintaan aneh dari temen gue. Kita ngobrol di kantin."
Jefri curiga permintaan aneh yang dimaksud lebih gila dari dugaan.
**
Di kantin mereka yang mendengar cerita Mira dari awal seketika mematung.
Posisi Surya berhenti dari yang mau menyuap mie ke dalam mulut. Nafsu makan berkurang drastis.
"Jadi kesimpulannya, dua manusia bego itu mau liat setan? Di sekolah? Sore ini?" Tawa kencang menggelegar berasal dari Surya.
Dewi memukul kepala Surya. "Lucu? Ini horor tau gak."
Zafran menebak. "Dari mukanya, Jefri agak kesel."
Itu sebabnya Mira bertanya untuk memberi mereka jawaban pasti. Orang penasaran kalau jawabannya digantung pasti ditagih terus.
"Nyali mereka gede juga." Awan mengepalkan tangan karena gemas manusia era sekarang banyak waktu luang.
Jefri masih merenung sementara yang lain menunggu.
"Pembukaan mata batin lebih beresiko. Iyain aja permintaan mereka."
"Eh?" Mira padahal berharap Jefri melarang mereka.
"Lo gak tau sosok apa yang bakal mereka liat. Boleh?" Awan sedikit cemas apabila mereka ketakutan berlebih.
"Gimana kalau larang aja? Gue sama Mira keberatan," ucap Dewi.
"Mereka yang minta," jawab Jefri.
Memang benar. Mira mengikuti keputusan Jefri. "Lo bakal ikut gue cari tempat yang cocok, kan?"
"Ahh, firasat gue gak baik nih." Zafran ingin pulang ketimbang terjadi sesuatu pada dirinya sendiri. Takutnya mereka yang uji nyali, dia yang kesurupan.
"Zafran pulang," imbuh Jefri.
"Yess! Kok lo tau gue pengen balik, Jep? Makasih, Jepri! Makasih banget!"
"Tercetak jelas muka lo pengen kabur!" sahut Dewi.
Surya memukul meja. "Guys! Berhubung gue gak tau apa-apa dan kurang berguna, gue pulang ya."
"Gak bisa. Lo jaga Dewi."
"Dia pemberani, Jep. Gak butuh gue perkara perhantuan. Iya kan, beb?"
"Dewi lumayan sensitif sekarang. Jaga dia. Gue gak ngulang sekali lagi."
Surya memelototi Dewi. "Sekarang lo bisa liat setan? Mata lo jadi ajaib, Dew?" Dia membuka mata Dewi supaya melihat apakah matanya berubah.
Dewi pasrah wajahnya diunyel-unyel Surya. "Singkirin tangan lo," ucapnya masih punya hati.
Lantas Surya menurunkan tangan. "Lo liat kunti sama genderuwo? Gimana bentuk wewe gombel? Susunya beneran panjang sampe bawah kaki? Dia nyulik anak kecil yang keluyuran pas maghrib?"
Dewi melihat teman-temannya sembari mengerjap pelan sebagai permintaan maaf atas ucapan frontal Surya.
__ADS_1
Zafran mengakui pengakuan Surya barusan. "Pertanyaan lo gak berguna. Gak deng, lo juga sama gak berguna."
Mira tertawa datar. "Dewi gak liat sejelas itu, Sur."
"Asli?!"
Dewi mengangguk sebagai jawaban.
"Bukan halusinasi?" Surya belum percaya.
"Gue yang verifikasi." Mira mengacungkan tangan.
"Temen lo gak ada yang waras?" bisik Awan.
"Awalnya gue kira mereka waras," bisik balik Jefri.
Zafran terpantau santai karena tidak ikut rombongan mereka dalam misi membuktikan keberadaan hantu.
"Cuma sebentar, kan?" Irlan tetap khawatir dengan teman-temannya yang menyaksikan. "Ada kemungkinan yang lain liat juga gak?"
"Menyesuaikan energi mereka. Kalau besar, besar kemungkinan. Tapi kebetulan kecil paling beberapa," tutur Jefri.
"Ada lo, Mira, sama Awan yang punya mata batin lama. Gabungan energi kalian memengaruhi alam lain atau gak?" Irlan tanya lagi.
"Saking pinternya dia nanya ke mana-mana," celetuk Surya.
Awan menegakkan punggung yang sebelumnya bersandar penuh pada kursi kantin. "Selagi Jefri dan gue gak buka pintu komunikasi lebih jauh, gak ngaruh. Tapi Irlan, tau dari siapa energi pemilik mata batin bisa tergabung?"
Dari senyum Awan jujur saja Dewi langsung mengamati gerak-gerik Irlan.
"Gue baca banyak buku tentang itu."
Cukup masuk akal.
"Oh gitu."
"Berteman sama kita ngebuat lo baca buku tentang alam ghaib selain buku mata pelajaran, Lan? Otak lo penyimpanannya unlimited kah?" Zafran iri. Dia cukup malas sekadar baca fabel.
"Gue harus tau banyak karena tiap hari ketemu kalian."
"Bawa lilin sama korek nanti, Wan." Jefri meminta bantuan.
"Nanti gue beli di luar."
"Lilin aja, koreknya gue punya."
Dewi punya korek?
"Belum lama gue ngerokok."
"Lo ngerokok?" Bahkan pacarnya lebih kaget baru tahu.
Sisanya cuma membisu.
"Gue udah liat Dewi ngerokok pas piknik," ujar Mira.
"Di mana? Gue gak liat sama sekali." Mata Surya melotot lebar.
"Belakang vila," jawab Mira.
"Lo!" Surya menunjuk Dewi. "Yang tau cuma circle kita, kan?"
Surya memang sulit diprediksi. Dia mengira Surya mau memarahi Dewi akibat ketahuan merokok. Pria aneh itu pasti mendukung Dewi apa pun yang dia lakukan. Terlihat jelas.
"Gue bakal rahasiain." Surya berjanji. Setelah itu Surya tersenyum lebar.
Dewi ikut tertawa. "Gue udah mau kabur liat mata lo mau copot."
"Pasangan gila," desis Zafran.
"Justru kegilaan mereka bikin hubungan awet," sambung Mira.
"Entah apa peran gue di sini ..." Awan bergerak meninggalkan kantin selesai makan.
"Kebiasaan abis makan pulang," cibir Zafran.
Jefri memandang Irlan yang duduk di sebelah Mira. "Lo lebih tau mereka. Percaya bakal baik-baik aja. Sebisa mungkin gue gak bahayain mereka."
"Hm, gue yakin lo bisa."
Jefri lega Irlan tidak begitu khawatir.
"Cuma Irlan? Gue gak disemangatin?" Mira meminta hal yang sama dari Jefri.
"Gak ada yang bisa masuk selagi pintunya tutup. Paham maksud gue, kan? Kendaliin diri lo."
"Sialan," batinnya mengumpat. "Gue bakal duduk diem!"
"Lebih baik begitu."
__ADS_1