Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Apa yang Jefri Pegang?


__ADS_3

"Pengen gua gampar lambe lo, Jap."


Bisa-bisanya dia cuma apal alif ba ta sedangkan lawannya jin.


Mira takut, kasihan, namun tersenyum karena tingkah lucu mereka. Dia berhasil melawan hantu tersebut.


"Aduh.. " Mira masih gemetar efek ketempelan barusan.


Dipegangi Jefri, Mira berdiri. Mereka mau kembali ke kelas.


"Dah balik?" tanya Zafran turun dari kursi.


"Udah dong."


"Parah ih kalian bertiga becandaan sama setan," pungkas Dewi menunjuk Mira, Jefri, lalu Zafran.


"Balik, Dew." Surya ajak Dewi.


Zafran mendekati mereka. "Bae-bae di kelas lo lagi yang kesurupan, bukan gue, Mir."


"Doa lo yang bagusan dikit kek!" omel Dewi padahal agak jauh dari mereka.


Mira menunjuk kebanggaannya. "Nih ada Jefri."


"Sambil jalan," kata Jefri memulai langkah.


"Lo emang belajar gituan atau jangan-jangan sekutu sama mereka, Jep?"


Mira gemas menjitak Zafran. "Huh! Kalau ngomong gak pernah disaring."


"Eh, eh baru kenal kok main tangan."

__ADS_1


"Lo pantes dijitak."


"Main hati gimana?" Zafran nanya sambil gemuyu.


Jefri menggeser Mira jadi dia yang di tengah. "Lo ketemu beberapa hantu aja ketakutan setengah mati. Kenal keluarga gue bisa gila beneran, Zaf."


Mira tertawa. "Haha, makan tuh hati." Dia dan Jefri mempercepat langkah, masa bodo si Zafran tertinggal. Biar dikerubungi hantu sekolah sekalian.


***


Selesai sekolah mereka dibuat heran oleh pengumuman di mading tiap lantai kelas 10 dan 11.


"Hah? Gak salah liat mata gue?" Astuti mengeluh.


Mahen menyambar lewat dari belakang. "Yang salah itu lo mauan sekolah di sini, oge."


Astuti sempat lihat Mahen tapi dia menolak berpartisipasi. "Ogah gue ikut kelas tambahan. Otak gue udah pinter, ngapain."


Nuri di sebelahnya pun mengatakan hal yang sama. "Mereka mau nilai kita seratus semua."


Nuri menggeser kaca mading dan menyentil kertas gereget. "Hadir gak nih?"


Astuti mengangkat bahu belum tahu hadir atau tidak.


"Mampus." Muncul Zafran dari belakang mereka.


Saking tidak percayanya Zafran merentangkan tangan biar bisa nyempil buat mencopot kertas yang dipaku payung, dia melotot baca lebih dekat.


"Materi tambahan kok berasa jam kerja kantor? Kita berangkat delapan pulang jam lima. Buset sembilan jam, cok."


Zafran bicara dengan dua orang di belakangnya, Jefri dan Mira.

__ADS_1


"Heh, tumben lo gak ngereog." Astuti mulai nyinyir.


Zafran melirik sinis ala emak-emak lihat tetangga pakai perhiasan baru.


Nuri penuh harap berkata, "Semoga lo gak ikut. Pulang jam tiga sore aja lo ngereognya parah bingits. Apalagi menjelang maghrib, gue denger itu waktu setan pada berkeliaran."


"Salah satunya setannya itu lo, Nuri."


"Ikut, Jef?" Mira akhirnya bertanya.


"Lo butuh materi sama nilai gak?" tanya balik Jefri.


"Ikut gak ikut kata Bapak Irlan wajib hukumnya."


Ketua kelas seperti Irlan memang punya daya tarik sehingga sulit ditolak.


"Ada ikut gituan kudu wajib?" sewot Zafran. Dia tempel asal kertasnya lagi lalu cabut pergi.


Nuri nunjuk Zafran. "Tuh anak mulai ngedumel gak jelas."


"Lo berdua sepupuan tapi vibes twins gitu ya." Astuti perhatikan mereka berdua banyak kesamaan wajah.


Nuri melengang pergi baru jawab, "Orang sering bareng jadi mirip."


Menunggu Jefri ambil motor di parkiran Mira lihat Zafran dijemput mobil. Banyak yang bilang sih kalau dia orang berada walaupun tampilan sederhana.


Lambat laun Mira membuat pertanyaan, apa alasan mata batin Zafran terbuka tepat setelah dia pindah di sini? Orang awam pun tahu bakat baru yang belum diasah lebih banyak ruginya.


Tiba di rumah mereka langsung masuk kamar masing-masing.


Jangan tanya Mira, begitu nemplok kasur dia langsung ketiduran.

__ADS_1


Jefri duduk di tepi ranjangnya memegang botol kecil berisi cairan berwarna putih ada satu kelopak bunga di atasnya.


Seolah merenungkan sesuatu, Jefri meletakkan botol tadi ke dalam tas sekolahnya supaya besok tidak ketinggalan.


__ADS_2