
Semua orang saling berbisik siapa dia dan ada urusan apa datang ke sana.
Detak jantung Mira berdegup kencang. Bukan sebab mantan pacarnya datang bak hantu yang menyamar. Bukan itu.
"Dari mana tau gue sekolah di sini?" batinnya mematung.
Bahkan setelah lelaki itu masuk kelas dengan begitu tenang dan berdiri tepat di depannya, muka Mira cengo.
Pesan bahwa Mirza akan mencari dan mendatanginya sungguh tercapai.
Zafran memangku sisi wajahnya dengan satu tangan di meja.
"Mira, dia sepupu lo yang lain atau siapa?"
Kalau mau tebar pesona jangan di kelasnya, atau ada perlu dengan Mira tidak perlu diperlihatkan gamblang.
Dia pikir ini sinetron, benak Zafran.
Mira bangun memberi jarak. Menatap dari bawah hingga atas. Kemungkinan besar ini nyata, bukan ilusi. Teman-temannya pun menautkan alis penasaran.
"Gue rasa bukan sepupunya," lirih Dewi.
"Gak ada peraturan orang asing boleh masuk kelas tanpa kepentingan." Irlan, ketua kelas berdiri mempertanyakan keberadaan manusia yang baru dilihat pertama kali. "Lo siapa?"
"Gue orang yang pernah merangkai cerita sama dia."
Mendengar jawaban itu membuat Zafran mual seketika. "Cerita apa yang bisa Mira buat selain horor."
Irlan menghela napas berat dan memberikan sehelai kertas hvs juga bolpoin dari dalam tasnya untuk diberikan pada pria asing itu.
"Tulis nama, asal sekolah, alamat, dan alasan lo masuk kelas ini biar jadi laporan ke wali kelas."
Mira masih megap-megap kesulitan bicara.
"Lo gak mungkin anak pindahan atau murid transfer, kan?" Zafran muak mendapat teman baru di kelas terkutuk ini.
Zafran dan Mirza saling tatap kemudian buang muka tak sudi.
Mira makin kaget Mirza menyentuh atas kepalanya tapi keburu dipisahkan Zafran.
"Wah berani-beraninya lo sentuh cewek kita."
Mira memejamkan mata.
__ADS_1
Irlan menyerobot masuk di tengah mereka dan hendak menyeret keluar cowok itu.
"Cewek kita?" Mirza mendecih tak percaya. "Dia pikir gue bisa dikibulin.. " gumamnya tak sangka dapat saingan baru di tempat baru.
"Kalau gak ada urusan boleh keluar dan nengok Mira pas jam pulang sekolah, oke?"
Mirza menahan tubuhnya bergerak dari tempat sementara ditarik Irlan.
Hal utama yang harus kalian ketahui dari alasan Mira memutuskan hubungan dengan Mirza adalah, dia sangat posesif.
Dewi menutup mulut saat kerah seragam Zafran dicengkeram Mirza. Dia langsung bergegas melepaskan Zafran darinya.
"Jangan main kasar dong. Lo di wilayah orang sekarang."
Mirza menyeringai remeh. Mira membuka kepalan tangan Mirza di leher Zafran tapi susah sekali.
"Kasian dia kecekek, Za."
"Siapa nih bocah ingusan? Bisa dianggep penyerangan ini. Gue laporin ke kantor polisi abis ini," ujar Zafran.
Irlan berhenti menarik Mirza, ganti menjambak rambutnya.
"Woi!" Kepala Mirza menengadah. Dia melepaskan cengkeramannya dari Zafran.
"Anjir. Mir, dia siapa?" Dewi bertanya.
Mira membawa paksa Mirza ke luar dari kelasnya sebelum diserbu Zafran dan Irlan.
Dewi tidak mau berurusan dengan mereka.
Dua lelaki yang heboh tadi ingin ikut campur dengan keluar juga namun tidak sempat satu langkah dari pintu, Awan datang menenteng sapu di pundaknya.
Bel masuk berbunyi tak dihiraukan sama sekali.
Ketiganya bertemu dan saling pandang bergantian.
"Dari jauh gue mencium bau dupa ternyata jurignya ada beneran," cibir Awan.
Betul kata Awan. Mantan seperti bau dupa. Mau minta balikan sudah tercium baunya. Ingin bau dupa hilang, asapnya pergi perlahan.
Sekali lagi Mira tegaskan bukan Mirza yang meninggalkannya, tapi dia.
"Gue denger lo ada survei ke gelanggang."
__ADS_1
Mira ingat Mirza atlet renang. Jadi ini alasan dia di sini.
"Tiap gue ada urusan sama Mira pasti banyak orang yang ikut campur."
Awan menodongkan ujung gagang sapu ke arah mata Mirza supaya mengintimidasi.
"Siapa dua cowok di belakang?" Mirza menunjuk mereka dengan dagunya.
Mira memergoki Zafran dan Irlan sembunyi di balik pintu.
"Lo berdua sekolah di atap yang sama lagi? Biasanya ada Mira pasti ada Jefri juga. Mana dia?"
Gelak tawa Awan pecah. "Heh, bahkan kalau lo ketemu Jefri mana berani nyapa Mira kayak sekarang."
Tampang Awan berubah datar penuh ancaman bak memiliki kesumat lama.
"Urus urusan lo di sini daripada buang waktu."
Tatapan Awan pindah pada Mira yang diam saja di tempat.
"Masuk kelas. Ngapain mau ketemu dia lagi. Lo yang mutusin juga."
"Darah keluarga lo ngalir juga di badan gue," jawab Mirza.
Mira yang mulanya simpati langsung tak acuh. "Gak mengubah pandangan mereka ke lo meskipun jantung gue ada di badan lo, Za."
Zafran nemplok ke Irlan. "Mantannya Mira."
"Kok bisa.. "
"Kebiasaan orang indo. Udah putus masalah terus ada."
Mirza merapikan rambutnya kemudian berlalu tanpa pamit.
Awan pura-pura menyerang Mirza dari jauh dengan sapunya lantaran tak bisa dari dekat.
"Lo juga balik sana! Ngapain ke sini ngurusin tuh orang!" omel Mira.
"Jangan deket-deket dia lagi."
"Gue bukan anak SMP lagi."
"Cih, mantan anak dukun datang setelah sekian lama."
__ADS_1