
Awan senderan di balkon melihat situasi sekeliling menggunakan teropong andalan. Zio lagi isi tenaga duduk di bawahnya. Udin nyalin contekan besok ulangan matematika.
Mata minus Awan tidak sering bisa lihat debu kecil secara jelas, seperti sekarang.
"Aduh mata gue kelilipan, su!" Udin lantas mengucek matanya.
Zio ketularan sakit mata lihat mata Udin berair dan merah. "Ah lo yang bener kek."
Awan mengerjap cepat ditelepon Juan. "Hm, kenapa? Udah ketemu?"
^^^"Belum. Kalian bertiga di tempat dari tadi?"^^^
"Ya jelas lah kita masih di sini." Awan berkacak pinggang sebelah lalu melihat ke koridor kanan. Apaan yang menggelinding di sana?
Zio dengar bunyi menggelinding dari samping, pas dia nengok. "Anjengggg!"
Udin mengambil buku-bukunya kaget Zio teriak. "Apaan? Woi!"
Zio sembunyi di belakang Awan, begitu juga Udin ikut-ikutan.
"Apa sih? Gue lagi ngomong ini!" Awan tangkis mereka berdua.
"Kepala siapa tuh? Goblok mata gue salah liat?" Zio memejamkan mata sejenak.
"Lah kok lo bisa liat?" Awan kaget sendiri.
"Maksudnya?"
"Itu setan bego."
"Heh?" Udin tidak salah dengar?
"Lari, lari!" Awan ambil langkah seribu duluan.
"Buka mata lo, goblok!" Udin seret Zio lari.
"Hah?" Zio lihat ke belakang dan lihat puluhan kepala merambat di dinding juga lantai. "Hoahhh! Hahh! Setaaannn!"
"Bacot!" Udin makin kencang larinya.
"Gak usah nengok ke belakang!" teriak Awan.
"Lo biasanya ngelawan mereka, Awan! Ngapain lari!" Zio harap Awan menggunakan jurus-jurus yang sering dilihat.
Awan panik meminta bantuan Juan. "Tolongin kita dikejar kepala buntung! Juaannn!" Dia tidak sengaja noleh ke belakang untuk lihat seberapa cepat Zio dan Udin berlari, justru yang dilihat kepala menggelinding sangat banyak. "Juaaann! Budeg lo denger gue kagak!"
Tuing!
__ADS_1
"Sepatu gue terbang!" Udin hampir nyungsep jika Zio tidak menarik bajunya dari belakang.
"Jangan diambil!" Zio sudah gila bisa kejar-kejaran dengan hantu.
"Mahal!"
"Gue ganti!"
"Serius lo!"
"Lari aja gausah ngebacot!"
Mereka turun ke lantai dasar, jangan lupakan teriakan heboh tiga anak. Hampir terlewat ruang guru, Awan menendang pintu lalu menyuruh Udin dan Zio masuk.
Brak!
Situasi panik tak berguna bagi Putri yang santai mengepel di belakang. Dia kesal lantai yang dipel kotor oleh jejak ceker mereka.
"Lo bertiga asal masuk sih?"
"Ssutt! Ssutt!" Awan menyuruh Putri diam.
"A-ada pala buntung ngejar kita, Put. Sepatu gue ... Se-sepatu gue copot di atas." Udin mengadu hampir menitikkan air mata. Bukan takut, tapi capek lari.
"Mereka kenapa sih?" Putri heran kelakuan mereka sampai kapan begini.
Cklek!
"Juannn ... Napas gue rasanya ilang tadi dikejar setan. Lo ke mana aja, hah? Gak ada Jefri di sini, gue gak bisa lawan ratusan kepala sendirian!!"
Juan bergeming ditatap Putri, Udin, dan Zio yang kebingungan. Mengapa Awan memanggil Juan informal? Menyebut Jefri pada Juan pun bukankah mereka tidak saling kenal?
Abaikan sikap mendramatisir Awan. Giliran Juan bertanya pada mereka.
"Kalian gapapa?"
"Kenapa lo panggil Pak Juan tanpa "Pak" ?" Putri bertanya.
Juan langsung bungkam tidak ingin menghadap mereka apalagi menjawab.
"Kita gapapa. Wan, bukannya kita cari harta karun yang lo ceritain. Tapi kenapa rame banget ada Pak Juan sama Putri segala?" Udin melongo.
"Harta karun?" Putri mau benturkan kepala Udin biar sadar tak ada yang namanya harta karun.
"Jangan sebut sesuatu yang gak masuk akal. Awan pasti nyuruh kita aneh-aneh." Zio berbisik. "Awan, jujur sebenernya kita berdua perannya apa di sini?"
Putri melempar pel ke kaki mereka. "Kepentingan gue selesai. Kalian berempat masuk dan ngotorin lantai, pel lagi."
__ADS_1
Putri mengambil tasnya lalu pulang.
"Ati-ati, Put. Banyak pala buntung." Udin mengingatkan.
"Bacot lo ah!" Zio harus gimana sekarang, ada guru di sini.
"Kalian pulang. Saya ada urusan sama Awan." Juan akhirnya ambil alternatif.
"Lo punya utang penjelasan," kata Zio.
"Utang tetaplah utang!" tekan Udin.
"Ayo keluar," ajak Zio.
"Gue takut ada pala buntung lagi, goblok!" Udin mau ke luar tapi rada takut.
"Udah gak ada. Cepat pulang," ulang Juan.
"Buruan." Zio memaksa tapi dia tidak mau jalan di depan.
"Iya sabar!"
Tinggal Juan dan Awan serta pel di lantai.
"Gimana? Tempatnya ketemu?" Awan mau dengar kabar terbaru yang baik-baik setelah mau pingsan diinterogasi mereka.
"Gak mudah. Gue baru berhasil nemuin pusat energi di belakang sekolah." Juan menyuruh Awan duduk di bangku dan angkat kaki, supaya lantainya dipel bersih lagi.
"Pantesan banyak setan dari sana. Terus lo gimanain tempatnya?"
"Gimana lagi? Musnahin lah!"
"Sendiri?"
"Ditolong Sanjaya."
"Kita beruntung punya Sanjaya. Mana bisa lo usir semua setan di sana."
"Lo kocar-kacir tadi. Itu akibatnya ganggu tempat mereka. Belum seberapa. Lo mau bawa Zio sama Udin lagi tau bisa dalam bahaya?"
"Bergerak sendiri gue gak mampu."
"Percuma lo bela diri ngapain gak bisa ngatasin satu orang."
"Backing-an Roni ratusan bahkan ribuan tanpa kita tau. Gue harus jaga keselamatan dan keamanan."
"Jangan libatin mereka lagi. Ke depannya bisa lebih bahaya."
__ADS_1
"Tapi ..."
"Turutin gue kali ini. Gue serius."