
Lamunan malam ditemani angin dan suara daun mengiringi ketenangan yang terusik dari senja.
Bisikan-bisikan halus tak digubris oleh gadis yang tengah duduk gundah di latar rumah memeluk kaki memandang bulan purnama.
"Mereka ngerasain energi buruk tapi sama sekali gak bertindak."
"Percuma dong punya mata batin?"
"Dia temen yang sering kesurupan itu?"
"Kasian. Cowok itu mati di depan matanya. Bersimpati sedikit dong!"
Berulang kali pertanyaan sama berputar di kepalanya.
Mengapa Hadi bisa jatuh dari atap? Apa dia punya masalah terpendam?
Sekilas mengingat mendiang Hadi. Hadi ialah pria periang, senang menghibur teman, dan hubungan dengan Mira juga sangat baik.
Jika ulangan materi pendidikan jasmani Mira menyontek Hadi. Saat ulangan matematika gantian Hadi menyontek Mira.
Di tengah tangisan Mira, Jefri menghubungi ambulans klinik sekolahnya supaya cepat bawa Hadi ke rumah sakit besar barangkali bisa diselamatkan barulah dia panggil satpam.
Kabar meninggalnya Hadi cepat merembet hingga para murid dan banyak foto beredar di media sosial ada sekolah angker memakan korban jiwa.
Kisah-kisah yang tak ada sebelumnya muncul mengiringi misteri kematian Johan dan Hadi dengan rentang waktu dua bulan.
Teori mistis bahwa sebelum dibangun sekolah merupakan makam besar, hutan belantara, dan lain-lain sangat mengganggu Jefri.
Seolah menjadi bersangkutan dan membuat banyak orang berpikir semua hal itu ada hubungannya dengan kemunculan beberapa penampakan yang terlihat orang lewat maupun orang sekolah.
Entah menjadi faktor pendukung atau rumitnya proses penyelesaian pihak sekolah selalu menyeret polisi setempat untuk mengkonfirmasi kematian dua siswa mereka disebabkan masalah psikis, bukan perkara mistis.
Maklum. Orang kota masih skeptis dengan hal ghaib dibanding orang pedalaman desa.
*
"Gue lagi cari cara nemuin akarnya. Kalau ada polisi yang tanya, bilang lo cuma nyamperin gue."
__ADS_1
"Lo gimana?"
"Gue ada alasan lain. Gak mungkin bilang cuma kebetulan apalagi ..." Jefri menggantungkan ucapan.
Mira paham. "Hm. Gue ngerti. Ada yang gak bener, Jef. Hadi gak mungkin tiba-tiba bunuh diri. Johan dirasuki, inget kan?"
Jefri bisa memahami perasaan takut yang menyeruak dalam tatapan Mira.
*
Jefri masih ditanyai oleh dua petugas yang datang ke rumah.
Ratih mendampingi putranya dan bantu menegaskan dia tidak dekat dengan Hadi.
Petugas ingin bertanya sedikit pada Mira namun dihalangi mereka dengan alibi masih syok dan pernyataannya bisa melenceng.
"Kamu gak masuk? Dingin tau."
Hana duduk di samping kanannya dan membelai rambut sang anak.
"Meskipun ada yang lain menyertai kematian teman kamu, itu takdir Allah."
"Sampai hari kiamat," lanjut Hana.
"Apa yang Allah siapkan buat Mira, Mah? Harus liat sesuatu yang mengerikan setiap hari. Mira takut ini semua cuma khayalan yang dibuat mereka dalam bentuk mimpi buruk. Entah kapan selesai."
"Mimpi buruk kamu pasti cepat berakhir."
"Kapan, Mah?" Tepat setelah Mira menoleh tak ada sosok ibunya yang duduk barusan.
"Masuk buruan," titah Jefri menggosok tangannya yang dingin supaya hangat.
Mira halusinasi kah?
"Jangan lama-lama di luar, ntar beku. Hehe." Ratih mengingatkan Mira.
Mira dan dua polisi sempat adu tatap cukup lama.
__ADS_1
Mereka harap Mira bisa berterus terang sementara Mira tak bisa lakukan apa-apa saat ini.
Dia masuk rumah tanpa ekspresi. Takut menjadi bahan yang bisa dicurigai. Polisi butuh bukti menyertai kesaksian.
Bukti itulah ada dalam rekaman mata Jefri dan Mira. Mereka tak mampu melihatnya.
Awan menunggu di sofa bak anak ditelantarkan.
"Tegang amat."
Mira berhenti lalu bicara dengan bocah tengik itu.
"Lo berantem sama hantu setiap hari gimana sih? Percuma temen gue jadi korban."
Awan memiringkan kepala. "Gue berantem buat hiburan. Bukan musnahin mereka. Lagian mereka udah mati gak bisa mati dua kali."
"Kalau bisa usir mereka kek," kata Mira.
"Jangan salahin setan melulu. Tanya temen lo kenapa gampang kehasut bisikan mereka."
"Lo suruh gue tanya orang mati?"
"Cuma itu yang bisa kita lakuin. Gue, lo, Jefri pun gak bisa bantu. Usir mereka? Bukan tugas kita, Mir."
Sesudah minum dari dapur Jefri melewati mereka mau masuk kamar.
"Gak heran. Zaman sekarang banyak orang solat tapi gak tau maknanya, masih buat maksiat."
Jefri balik lagi ke ruang tamu mengambil ponselnya di sela sofa.
"Lo bukan manusia tanpa dosa. Jangan kritik orang lain sembarangan," nasihat Jefri.
"Dengerin!" sungut Mira.
Jin dan iblis menghasut manusia lewat pikiran. Iman dan keyakinan lemah memudahkan mereka.
"Mama gue ke mana sih?"
__ADS_1
"Udah tidur lah bego. Abis kerja capek," jawab Awan.
Mira terkena tipu daya jin lagi.