Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bagian Dua : Isi Hati Jefri


__ADS_3

"Jefri mau ke mana?" Ratih bertanya begitu Jefri lewat di depannya yang lagi nonton televisi.


"Kamar."


Ratih memiringkan kepala tidak mengerti lagi anaknya menganggap kamar Mira kamarnya juga. Jefri masuk ke sana.


Kamar Mira sangat berantakan. Segala jenis pakaian di atas kasur, ia sedang mengemasi barang-barangnya.


Besok Mira pergi ke Semarang. Rasanya waktu berlalu cepat. Jefri duduk di kursi menatap kekacauan di sana tanpa berniat membantu.


**


Awan baru balik buang air besar dari toilet. Langkahnya menuju kulkas mengambil satu buah apel. Digigitnya sambil jalan-jalan di dalam rumah.


Awan sengaja berhenti di depan televisi padahal Ratih lagi serius nonton sinetron.


"Awas, Awan."


Awan menoleh polos ke tontonan budenya. "Gak ada yang lebih layak diliat, Bun?"


Ratih langsung melirik Awan. "Gak ada."


"Oke." Awan menyingkir darinya. Ucapan orang tua tidak boleh dibantah. "Apa yang bagus coba. Alurnya suami istri, suami mabok-mabokan, istrinya selingkuh, salah satu kecelakaan, kena stroke, terus tobat nangis-nangis, end."


Pas lewat kamar Mira, ternyata ada Jefri bengong di sana. Awan langsung masuk membuat kehebohan.


"Hey yo! Ngapain nich? Buset. Berantakan banget kamar lo."


Mira mendelik. Harusnya lagi bebenah gini pintu kamar ia tutup terus kasih tulisan "Dilarang Masuk Selain Pemilik Kamar" , sekarang mereka berdua ada di sini. Jefri gabut Awan ribut.


"Geser, Jef."


Jefri mendesah malas menunjuk kursi di sudut lain. "Itu kursi kosong."


"Gue mau di sini biar bisa liat Mira."


Akhirnya demi kewarasan Jefri geser sedikit. Satu kursi diduduki dua orang.


"Numpang makan," tambahnya menggigit apel lagi.

__ADS_1


Mira menggeleng pelan. Biarkan mereka di sini asal diam dan tidak mengganggu. Namun bukan Awan kalau bisa anteng lima menit.


"Gue pikir lo bakal milih tinggal di sini bareng kita," ucap Awan.


Kalau bukan Mira yang dimaksud, orang lain pasti langsung melemparnya ke luar.


"Gapapa sih. Lagian mama yang pilih ikut Pak Rudi. Jujur gue gak ngerti kenapa mereka akhirnya putusin tinggal bareng. Gue pikir lagi, tetep gak nemu."


"Jangan bahas." Percuma diungkit jika keputusan mereka bulat. "Gue ikut mikir jadi pusing."


Ratih yang penasaran mereka bertiga di satu kamar pun menghampiri dan melontarkan pertanyaan, "Eh eh, kirain mau bantu. Malah duduk manis kayak raja ya."


"Aamiin." Awan mengusap wajah seperti didoakan.


"Bisa sendiri. Lagian yang mau pindah dia," ujar Jefri.


Ratih mengusap dada. "Astagfirullah gak ada perasaan sama sekali kamu, Jef."


Mira sebal, lagi melipat bra dia lempar sekalian ke mereka berdua. "Huuu!" soraknya lantas mengusir. "Sana ke kamar sendiri!"


Awan menyingkir dadanya kena bra Mira sementara Jefri dengan santainya melempar balik ke Mira.


"Menurut lo?" tukas Mira.


"Ke luar deh, jangan di sini. Haduhh pusing bunda liat kelakuan kalian berdua. Kalau udah nyampur berisik minta ampun."


"Pake headset, Bun." Awan sembunyi di belakang Jefri.


Jefri menarik baju anak itu. "Ke luar, Wan."


"Lo juga."


"Ayo bareng."


Setelah Jefri dan Awan meninggalkan kamar Mira. Ratih mengelus dada dan memegang kepalanya yang sakit lihat kelakuan anak-anaknya.


"Bunda?" Mira mau mengecek keadaannya.


"Kamu lanjut bebenah aja."

__ADS_1


Mira lantas duduk lagi. "Iya."


Ratih sebetulnya sedih Mira dan Hana mau pergi. "Kamu gapapa, Mira?"


"Gapapa, Bun. Bukan pertama kali Mira pindah rumah."


"Bukan itu. Kamu gapapa beradaptasi lagi sama Pak Rudi? Mama kamu memang belum ambil keputusan nikah lagi atau nggak. Tapi keliatannya sekarang mereka mau tinggal seatap, mereka bakal menikah."


"Urusan mereka, Bun. Mira gak keberatan."


"Kamu pasti kesusahan ambil keputusan. Mereka di depan kamu haha hihi tapi pas sendirian sering bengong. Kalau kamu pergi jujur bunda khawatir."


Lantas bagaimana, batin Mira. "Keputusan Mira bulat, Bun."


"Bunda." Jefri mau bawakan es susu untuk Mira malah mendengar omong kosong. "Dia yang mau pergi jangan ditahan."


Mira terus melihat Jefri hingga menaruh gelas susu di mejanya. "Lo pasti seneng gue gak ada. Selama ini gue nempel lo terus."


"Eh bukan begitu maksud Jefri," sangkal Ratih kalang kabut.


Jefri cuma menatap Mira. "Gue seneng selama ini lo terus di samping gue. Kita bahagia bareng sampai sekarang penyesalan kita pun sama. Keputusan lo betul ikut mereka. Gue udah memutuskan gak nahan lo di sini walaupun dari kecil hidup berdampingan. Itu pilihan yang berat. Maka dari itu sampai lo kembali atau gue yang nyusul lo ke sana, ayo sembuhin luka masing-masing. Gue gak mau ketika kita ketemu lo masih bawa kesedihan, kemarahan, penyesalan. Sebagai saudara gue mau lo bahagia, Mira."


Awan hampir tidak bisa mendatangi mereka kala mendengar Jefri bicara. Dia hanya berdiri di belakang tiang.


Ratih menunduk dalam memahami isi hati anaknya yang turut terluka. Mereka masih berduka dan kini harus rela Mira pergi.


Mira bimbang harus berkata apa. Tidak biasanya Jefri bicara mendalam. Pria itu lebih sering memarahi mereka dan di momen tertentu saja kepribadiannya bisa mengayomi.


Mira salah menilai ketenangan Jefri. Jefri manusia sama sepertinya. Dia bisa terluka fisik dan batin. Bukan berarti kuat dari luar, dalamnya sembuh cepat.


"Kalau lo mau denger gue jujur sekarang. Sialan." Jefri menyeringai miris dengan ucapannya yang plin-plan. "Jangan pergi. Kita bertiga bisa bawa lo ke mana pun tempatnya asal kita terus barengan."


"Iya, Mir. Gue gak mau lo minggat sekarang," lirih Awan.


"Lo gak bisa pulih sendirian di sana," lirih Jefri akhirnya mengakui pertahannya telah runtuh. "Bun, kita bertiga bisa ke mana aja, kan? Kita udah dewasa semua, Bun."


Ratih tak kuasa menahan tangis. "Boleh. Kalian udah dewasa. Bunda gak akan larang kalian mau ke mana asal saling menjaga."


"Jef .." Mira menghapus air mata yang turun ke pipinya. Ia bangun dan pergi memeluk Jefri yang menangis.

__ADS_1


"Jangan pergi .."


__ADS_2