Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Ketidakadilan


__ADS_3

Hari di mana tragedi terjadi, Zafran cuti sekolah. Ada kepentingan dengan orang tuanya sebelum perjalanan bisnis ke Balikpapan.


Mulanya tidak ada sesuatu yang spesial. Mereka berbelanja di mall besar Jakarta. Beli baju, sepatu, tas, kacamata, jam tangan, pergi ke salon, lalu pulang menjelang sore.


Ibunya, Gina, langsung masuk kamar kelelahan.


Zafran niatnya mau ke kamar juga, mandi habis itu tidur.


"Nak." Hardi memanggil putranya.


"Kenapa, Pah?"


"Teman kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Mereka harus dipertahankan," ucap Hardi.


Zafran yang kurang akhlak setelah sang ayah berkata serius dia justru nengok kanan-kiri mengira bukan dirinya yang diajak bicara.


"Siapa maksudnya?"


"Apa pun yang terjadi- "


Zafran keburu pening. "Papa bahas apaan sih? Siapa yang dimaksud? Apa yang terjadi emangnya?" Tumben bapaknya bersikap aneh, pikir dia.


"Papa tau kamu melewati banyak hal. Percayalah mereka lebih banyak mengalami kejadian di luar nalar. Kamu cuma harus bertahan di sisi mereka, apa pun yang terjadi."


"Hahh?" Zafran garuk-garuk kepala.


"Papa masuk duluan."


Ada apa dengan dunia ini? Makin tidak waras saja tiap pergantia hari.


Tak biasanya Hardi memberi nasihat panjang lebar selain tentang saham. Secara sudut pandang agama pun bapaknya bukan tipe sangat religius.


Hardi menaiki tangga. Mengusap setetes bulir air yang hendak jatuh dari sudut matanya.


Kaki Zafran yang hendak naik tangga tertahan mendapat isi pesan grup kelas.


' Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman semua.


Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Turut berduka cita atas meninggalnya Indri Fatmayanti dari kelas 11D jam 14.44 waktu setempat di Rumah Sakit Dwi Husada. Mari kita semua doakan almarhumah supaya diampuni segala dosa dan dilapangkan kuburnya. Al-Fatihah.. '


"Hah? Indri meninggal?" Bola matanya macam mau keluar.


Kemudian ada satu pesan tak terbaca di bawahnya dari Dewi.


' Minta doa kalian untuk kesembuhan Mira Fuadi ya semuanya. Mira sekarang ada di rumah sakit dan masih kritis '


"Mereka gimana sih ngasih berita gak ada yang bener."


Zafran menjatuhkan totebag berbagai barang kemudian menelepon siapa saja yang aktif.


"Ketua kelas! Itu berita gak salah? Bukan prank? Yang bener dong! Elah!"

__ADS_1


Irlan yang bisa dihubungi kala itu kedengaran habis menangis.


"Panjang ceritanya," kata Irlan.


"Kasih tau gue sekarang! Kok bisa Indri meninggal, Mira kritis gimana ceritanya!" bentak Zafran geram.


"Lo langsung ke rumah sakit aja. Kita semua di sini."


"Lah!"


Gina segera keluar mendengar anaknya menggertak.


"Ada apa kamu teriak-teriak gitu, Zafran?"


Zafran melihat punggung sang ayah yang beberapa menit lalu memberinya nasihat seolah terjadi sesuatu dan kini nyata.


Zafran datang ke rumah sakit diantar Pak Kim.


Seluruhnya Irlan yang cerita dari awal hingga ketiganya berakhir di rumah sakit.


Usai menyimak cerita keseluruhan pria itu pucat pasi. Memikirkan hal yang biasa dia rasakan, kerasukan, ternyata bisa berakibat fatal.


"Mirza gimana?"


"Dia dioperasi," jawab Irlan.


"Mira masih kritis?"


Zafran menoleh ke samping kiri. Tante Hana dan Ratih sesegukan ditenangkan oleh Jefri. Awan tidak terlihat.


"Awan, mana?"


"Solat."


Mereka pasti sangat gundah setelah mengalami semua ini.


Sekitar tiga jam kemudian situasi di lorong UGD berubah keos kedatangan Juan, tak lain sepupu mereka yang Zafran kenal.


Raut mukanya merah padam menghampiri Jefri dan langsung mencekik leher pria itu ke dinding.


Om Pras menurunkan Kayla kemudian melerai mereka berdua.


"Astagfirullahalazhim! Juan, lepasin Jefri!" Ibunya, Indah tidak mengira anaknya menyerang Jefri.


Dewi membujuk Kayla beli es krim supaya menjauh dari keributan.


"Kayla, ikut Dewi beli es krim ya."


Beruntung Kayla mudah dirayu.


"Sabar, Juan! Gak baik ini rumah sakit!" bentak Om Pras.

__ADS_1


Mereka di sana tak luput merasa tegang.


"Lu janji apa terakhir sama gue?"


Jefri tidak bisa berucap. Dia ingkar janji.


"Janji apa!" bentaknya lebih keras.


Surya undur diri dari hadapan mereka. "Anjrit gue gak ikut-ikutan ah, ngeri."


Zafran mengekori Surya. "Ikut."


"Lu terus-terusan bikin Mira gak aman." Intonasi suara Juan merendah.


"Jefri bantu semaksimal mungkin, Juan. Ini kejadian yang gak bisa diubah!" ucap Awan kembali usai melaksanakan solat.


"Tau apa lo dateng-dateng bentak Jefri?" Awan mendekat. "Kita berdua juga gak berdaya! Temen kita meninggal! Mira kritis! Mirza dioperasi!"


Jefri menyuruh Awan mundur saja ketimbang berhadapan dengan Juan yang tengah meluap.


"Cukup, Juan. Ibu malu ketemu Mba Hana, Mba Ratih, kalau kamu begini! Kamu pulang ke Bogor biar Ibu yang di sini!" ucap Indah ikut terisak tak tega kakak iparnya menangis.


Juan menghela napas. "Bu.. "


"Dia gak tau kita bisa bunuh diri ngalamin semua ini, Jef!" Awan sungguh lemah menyangkut nyawa orang lain. "Bisa-bisanya nyalahin lo gitu!"


"Dia emosi, Wan."


"Kita gak bisa emosi juga?!"


"Istigfar."


Juan menendang pot tanaman, mengerang kesal menjambak rambutnya sendiri dan pergi dari hadapan mereka.


Surya dan Zafran yang dilewati dan sempat adu lirik dengan Juan langsung merapatkan tubuh ke dinding.


"Serem njir."


"Kesurupan gak sih tuh anak?" tanya Surya.


"Sompral ... Digampar Juan bisa langsung masuk alam lain lo, Sur."


"Lah gue nanya anjrit."


Prasetyo memeluk Awan. Kasihan putranya harus melewati kesulitan menghadapi musuh-Nya hingga berderai air mata.


"Kamu baik-baik aja. Gak perlu menyesal. Gapapa, Wan!" Pras menguatkan anaknya. "Kamu berhasil memutus rantai mereka. Bisa terjadi hal yang lebih buruk, kalian berhasil mencegah itu terjadi!"


"Apa semua rantai yang terputus harus ada yang pergi, Om?" Jefri bertanya putus asa.


"Allah mengambil teman kamu supaya dia gak ngerasain sakit dan sengsara lebih lama. Kamu ragu sama ketentuan Allah, Jefri?"

__ADS_1


"Sama sekali. Cuma kurang adil semua kena imbas, Om."


__ADS_2