
Ditemani Dewi, Mira mengeringkan rambut di kamar mandi.
Dewi keheranan rambut Mira sangat basah. Kalau keringat pun dia tidak belajar di tengah lapangan yang panas.
"Lo demen sama Pak Adit sampe keringet dingin, Mir?"
"Gila lo. Masa gue demen om-om."
Dewi merebut hair dryer melihat Mira kesulitan menjangkau belakang kepala.
"Sini gue yang keringin."
Mira akhirnya membelakangi Dewi.
"Untung ada lo, Dewi."
Dewi cuma tersenyum menanggapi Mira begitu mengandalkannya.
"Kata Jefri kemarin lo main ke rumah Irlan."
"Cuma sebentar."
Dewi tahu lantaran Jefri mengadu sesudah Mira pulang dari sana.
"Terus kenapa kalian pas ketemu saling tanya 'lo gapapa?' gitu?"
"Ada hantu air di kolam rumahnya."
"Terus?"
"Gue tanya."
"Gimana?"
"Betah? Gak ganggu yang punya rumah? Dia gak jawab apa-apa, diem doang."
"Udah gitu doang?"
Mira tersenyum dari pantulan cermin toilet. "Gue balik badan, keburu ditarik ke kolam."
Dewi mematikan hair dryer. "Hah, serius? Lo gak bisa berenang."
"Efeknya gak terlalu parah kayak kesurupan. Sebelumnya Juan pernah hilang di sungai deket rumah tiga jam, pingsan tiga hari."
"Ih, Mira... " Bagi Dewi sangat tidak masuk akal. "Dua kali lipatnya itu."
"Irlan langsung tolongin gue. Gue gak bakal pingsan berhari-hari kok."
"Lo santai banget, anjir. Gue denger doang aja ngeri."
"Rambut gue basah karena kedinginan."
"Kudu berjemur dong?"
"Nanti jam istirahat temenin gue duduk di deket lapangan."
"Jefri tau?"
"Mungkin udah."
"Kok mungkin sih?"
"Gue belum bilang."
__ADS_1
Dewi mencabut kabel hair dryer miliknya lalu mereka balik ke kelas.
Dari salah satu pintu toilet yang tertutup, ada Indri yang mendengar pembicaraan mereka.
**
Sesuai permintaan Mira tadi, mereka menghabiskan waktu istirahat di luar kelas.
"Liat Awan perang angin lagi?"
Sorot mata Dewi ke tempat Mira memandang.
"Yakin, Awan di keluarga gue pasti langsung dibawa ambulans masuk rumah sakit jiwa."
Mira menjawab tenang. "Biarin aja dia ngelakuin apa aja di sini. Lagian gue yang agak maksa dia pindah."
Ditemani dua soda kaleng dan snack coklat, mereka melihat Awan setengah iri setengah cemas.
"Kita berdua pernah berantem." Mira mengaku.
"Gara-gara?"
"Dulu kita bertiga main bola bareng. Pas Awan tendang bola, bolanya mendarat di sungai itu. Kita bertiga berdiri di tepi kebingungan. Awan bilang gak perlu ambil karena ada sesuatu yang negatif, gue belum bisa liat apa-apa waktu itu dan naasnya kaki gue ditarik persis kejadian di rumah Irlan. Juan masuk ke sungai buat nolong gue. Juan berhasil... "
Mira ingat Awan tidak berhenti teriak menyuruh Juan segera ke darat.
"Juan ditarik dari bawah sama penunggu di sana. Hilang gitu aja."
Dewi bisa menggambarkan situasi mereka saat itu. Sepertinya keluarga mereka saja yang punya cucu umur berdekatan.
"Kita berdua pulang dan cerita ke semua orang di rumah. Selama Juan dicari Awan nyalahin gue. 'Awan udah bilang di sungai ada energi negatif, bolanya gak usah diambil' , gue kekeh jawab 'Kaki Mira ditarik sesuatu, Ayah. Juan mau tolongin Mira, tapi Juan yang tenggelam' . Mereka nyuruh kita di rumah dan tiga jam Juan ketemu."
Bernostalgia kenangan mereka diwaktu kecil lebih banyak kisah menyeramkan dan menegangkan di luar karakter humoris yang dilihat.
"Jefri ke mana?"
"Karena alasan itu Jefri gak mau lebih dalam tau dimensi lain.. " lanjut Dewi cukup paham.
"Reaksi Juan pas sadar gimana?"
"Dia marah Awan nyalahin gue terus."
Dewi baru ingat momen Juan menarik kerah Jefri di Bogor pas Mira kerasukan.
"Ohh, pantesan!"
"Juan mau punya adik perempuan tapi gak kesampaian. Makanya memperlakukan gue kayak adiknya."
"Lo sama Juan beda berapa tahun?"
"Empat."
"Umur lo waktu itu?"
"Tujuh tahun, Juan sebelas tahun, Awan enam tahun."
"Jefri! Bentar gue jelasin. Jefri!"
Suara Irlan menggema dari tangga bawah.
Dewi berdiri melihat Jefri jalan tergesa-gesa. "Kenapa sih?"
Jefri mendatangi Mira. "Lo ditarik hantu air di rumah Irlan?"
__ADS_1
Mira bangkit agak tercengang, pasalnya dia belum cerita.
"Lo berdua punya masalah sama gue?"
Dahi Dewi berlipat. "Masalah apanya? Kita baik-baik aja."
Irlan tiba dan berdiri di samping Jefri.
Mira melihat Irlan seolah mempertanyakan alasan dia dan Jefri tiba-tiba menghampiri mereka.
"Tentang kemarin di kolam renang... "
Sebelum Irlan melanjutkan perkataannya Mira tahu alasan mereka saling kejar.
"Gue mau kasih tau lo nanti, Jef."
Suara Mira melemah, Jefri memendam ego takut menekan Mira.
"Mira gak ada niatan sembunyiin apa-apa. Kita di sini karena Mira bilang kedinginan selama di kelas," ujar Dewi.
Irlan menyahut, "Lo kedinginan?"
Dewi menyuruh Irlan mengunci mulutnya sebelum dijahit dengan pelototan tajam.
"Coba gue pegang tangan lo," ucap Jefri.
Mira memberikan tangan kanannya. "Irlan yang bilang?"
"Gue kira lo udah kasih tau Jefri. Dia datengin gue di kelas langsung nyerocos nyari lo," ucap Irlan.
"Indri denger kalian berdua ngobrol di toilet," tukas Jefri.
Mira menarik tangannya begitu Jefri mau memastikan sedingin apa.
"Ada apa, kenapa?" tanya Dewi.
Jefri sedikit ragu dengan apa yang dia rasakan. "Mira, lo.. "
Mereka tak mengatakan apa-apa selain diam menatap satu sama lain.
Dewi memegang lengan Mira. "Kenapa?"
Jefri melihat ke atas, mencari keberadaan Awan mengetahui dia sering kelayapan di koridor lantai dua demi ribut dengan hantu.
"Awan! Woi!"
Telinga Awan sangat sensitif. Dimensi lain saja tembus, teriakan Jefri belum apa-apa.
"Apaan?" Rahang bawah Awan menengadah ke atas.
Kedua lengan Awan bersandar di pembatas koridor.
"Jaket lo bawa sini!"
"Jaket?"
"Yoi!"
Awan menginterupsi Jefri supaya menunggu.
Jefri menuju tepat di bawah gedung A untuk menangkap jaket Awan yang dijatuhkan dari atas.
Hap!
__ADS_1
Jefri segera berikan jaket tersebut kepada Mira.
Selagi melewati Irlan, Jefri berkata, "Pulang sekolah gue mampir ke rumah lo."