Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bagian Dua : Sudah Diketahui Pelakunya


__ADS_3

Prangg!


Gelas di tangan Awan langsung merosot jatuh ke lantai usai sekilas kejadian lewat di dalam kepala.


"Bego." Ia lari terbirit-birit ke Jefri yang ada di kamar Mira sambil bertanya panik. "Apa tadi? Gue kebayang sesuatu barusan."


Jefri termenung lumayan lama memikirkan semua hal dari awal hingga terakhir.


Tanpa sengaja Awan lihat Sanjaya di kaca. "Hah? Sanjaya balik kapan?" Sejenak ia merasa Sanjaya tambah rupawan.


Mira mondar-mandir gelisah. "Jadi, selama ini- Maksudnya, pas kita masuk sekolah dia- Kok bisa ..."


Sanjaya berkata, "Seperti yang kalian lihat. Roni bersekutu dengan iblis."


Awan membelalak tak percaya. "Roni? Pak Roni guru bahasa itu!?"


"Dari awal dia yang nolong Zafran kesurupan." Mira menarik lengan Jefri. "Yakin dia tega tumbalin teman kita?"


Secara dari gestur tubuh dan pola perilaku Pak Roni biasa saja, tidak ada yang perlu dicurigai. Sikap yang baik hati dan gemar menolong siswa membuat mereka ragu beliau ternyata musuh dalam sekolah.


Sanjaya perhatikan energi Awan membesar, dia bahkan tertular melihat dari jarak jauh.


Jefri duduk di kursi memegang kepala yang berdenyut. Jadi, Pak Roni pelakunya. Lantas ia bertanya pada Awan. "Tempo hari lo bilang ada sekte di sekolah. Siapa yang pertama kali kasih tau?"


Awan sedikit blank ditanya Jefri. "Temen sekelas, Putri."


Mira maju mendekati Awan. "Putri yang pernah lo sebut waktu itu? Kata lo, gue salah denger!" Dia mengomel merasa dibohongi.


Jefri saling pandang dengan Sanjaya.


Tap! Tap! Tap!


Mereka serentak nengok ke pintu mendengar bunyi langkah kaki.


Juan datang dengan raut bingung sekaligus nafas terengah-engah habis maraton.


"Juan." Alis Awan naik sebelah bertanya-tanya kenapa dia lari ngos-ngosan. "Oh iya makan siang lo belum dianter." Awan hendak ke luar tapi didorong masuk lagi oleh Juan. Kurang ajar.


Bisa-bisanya masih ingat makan siang, batin Juan.


"Siapa yang kasih liat barusan?" Tubuhnya membungkuk terlalu lelah.


Sanjaya sedikit menjauh dari cermin mendapati kehadiran Juan. Ia tak mengetahui tempat tinggal Juan sekarang tepat di samping rumah Jefri.


Begitu lihat Sanjaya amarah Juan teredam tidak seperti biasanya meledak. "Lo baru datang sekarang?"


Rupanya energi Juan lebih besar dari bayangan Sanjaya. Mengagumkan sekali rumah mereka berdampingan dan Juan masih bisa merasakan.


"Kenapa Pak Roni ngelakuin hal itu?" lirih Mira menangis saat itu juga.


"Kalian tidak bisa melihat karena energinya berlapis. Jika terlalu jauh, kalian lah yang terluka. Tujuan awal Roni mendekati kalian saat itu untuk mendapat kekuatan, sayangnya tidak mudah. Oleh sebab itu, Roni menargetkan teman-teman kalian yang energinya tipis."


"Roni ..." Juan akan menghajar pria sialan itu walaupun orang tua.

__ADS_1


"Balasan apa yang setimpal buat dia?" tanya Mira. "Lo bisa balas dendam, Sanjaya. Dulu lo bahkan nyingkirin semua jin yang deketin gue."


"Mira." Jefri menoleh cepat sebagai bentuk teguran.


"Sanjaya bisa lakuin itu. Juan panggil dia buat ngelindungi Mirza." Mira berhenti menangis sadar akan sesuatu. "Apa kematian Mirza berkaitan sama Pak Roni?"


"Ya, benar. Energi Mirza saat itu sudah hilang dan akhirnya berbenturan."


Awan mengusap punggung Mira merasa kasihan. "Andai gue bisa bunuh dia. Bangsat."


"Bunuh dia terlalu mudah," pungkas Jefri.


"Lo mau siksa dia?" Jika begitu Juan setuju.


"Lakukan semau kalian. Saya hanya melihat dan datang jika kalian membutuhkan bantuan."


"Lo gak bantu kita?" Mira harap Sanjaya turut campur tangan.


"Bagaimanapun Roni urusan kalian. Saya pasti mencari cara melumpuhkan energi Roni."


"Melumpuhkan energi yang dia miliki pasti butuh waktu. Sementara biar Sanjaya ngelakuin tugasnya. Kita buat rencana."


"Cukup sulit memutus perjanjian dengan iblis. Saya tidak bisa memegang kendali penuh karena kami berbeda," ucap Sanjaya.


"Biar gue yang cari tempatnya," ucap Juan.


"Jangan cari sendirian. Awan biar ikut lo," pinta Mira.


"Lo dua tahun baru ngomong sekarang!" Juan memarahi Sanjaya lagi. Andai lebih cepat mereka pasti sudah mengubur Roni hidup-hidup.


"Ini semua karena perbedaan waktu."


"Sekali lagi hanya Jefri yang paham," timpal Sanjaya akan kembali nanti. "Selama saya di sisi kalian tidak ada utusan Roni yang berani datang. Rencanakan baik-baik."


Awan mencaci, "Roni bajingan, berengsek, bangsat, anjing, babi. Gue sumpahin masuk neraka jahanam!"


Jefri berdiri, "Kemungkinan dia ambil darah dari korban buat keberlangsungan sembahan. Juan, gue mau lo cari teliti dan langsung bakar semua perantara."


"Terus lo ngapain?" sahut Juan.


"Gue harus memulihkan diri dulu. Kita lawan satu orang yang bersekutu banyak iblis."


"Emang lo kenapa?" Juan menahan Jefri ke luar.


"Gapapa. Gue harus pikirin apa yang harus dia dapat atas perbuatannya selama ini."


Mira jawab, "Jangan kubur hidup-hidup. Itu gak sepadan sama kematian Mirza. Pikir baik-baik, Jef."


Jefri tersenyum paham. "Hm. Gue balik ke kamar dulu."


"Kenapa gue gak mikir kesitu?" Kegilaan Awan kumat lagi. "Lo liat ntar, Roni. Udah tua bukannya tobat malah nyembah iblis!"


"Ngomong sama orangnya langsung," cecar Mira yang telinganya penuh makian.

__ADS_1


Senyum Awan mengembang. "Tapi gue bersyukur kalian baikan, gabung lagi kayak dulu berkat Sanjaya ke sini."


Juan menunjuk saku celana Awan yang membentuk ponsel. "Lo sms si Putri. Kemarin dia cerita aneh, tanya di mana posisinya sekarang."


"Cerita apaan?" Awan bingung mulai dengan apa pesan yang mau dikirim.


Juan rebut ponsel Awan, menggantikan dia ketik pesan.


Put, lagi di rumah?


^^^Hm. Lagi belajar. Kenapa? ^^^


Hari ini di rumah aja jangan ke luar dulu. Pintu jendela ditutup semua sampai besok ke sekolah, gue jemput.


^^^Ada sesuatu ya? ^^^


Semacam itu.


^^^Bahaya? ^^^


Bukan bahaya, buat jaga-jaga. Lo tau tentang sekte sekolah. Gue konfirmasi itu beneran ada.


^^^Oh itu. Cuma lo yang percaya. Thanks. ^^^


**


"Sama lo bales cepet, ke gue lama?" Awan memprotes waktu Putri balas pesan berbeda padahal di ponsel yang sama.


"Lo banyak basa-basi." Juan berikan ponsel ke pemilik sah. "Mira?"


"Apa?"


"Gue gak bermaksud bikin keributan hari itu, maaf."


"Gapapa."


Dengan nada menyebalkan Awan merangkul leher Juan sambil berkata,  "Gapapa, Juan. Dugaan lo hampir bener kok. Besok mulai cari tempat yang dimaksud, tugas gue awasi biang keladi."


"Gak usah sok akrab. Omongan lo tentang gue kesebar satu sekolah. Lo ngatain gue gila, kan?" Juan singkirkan tangan Awan.


"Bukan gitu."


"Banyak alesan lo. Besok gue kasih PR seabrek biar ada kerjaan!"


"Yah elah! Jangan PR!" Malas banget di sekolah belajar, pulang belajar lagi.


Juan pamit pergi ke Mira. "Gue balik, Mir."


"Hm." Mira mengangguk pelan. "Gue bukan gak percaya lo juga."


"Siapa yang percaya sebelum ada saksi." Awan bicara tanpa diajak. "Tenang aja, kali ini sebisa mungkin gue berguna."


"Gue berharap itu kenyataan. Selama ini lo nyusahin gue," timpal Juan.

__ADS_1


__ADS_2