Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Ada Kisah yang Belum Selesai


__ADS_3

Kemarin sesaat setelah Mira dan Dewi menjerit dan teriak memanggil Surya dan Jefri dari kamar mandi Om Hardi adalah orang yang beranjak pertama kali.


Kelebihan orang yang mata batinnya terbuka ialah bisa merasakan, melihat pula sesama mereka.


Bukan perasaan Jefri dari pertama Om Hardi terus mencuri pandang ke dia dan Mira.


Awalnya Jefri biasa saja. Namun setelah Mira dan Dewi lanjut makan bersama yang lain Om Hardi izin ke toilet.


Sengaja Jefri ikuti dan dia mendengar percakapan Om Hardi dengan sosok nenek dari luar.


**


"Terus dibiarin Zafran sering kesurupan gitu? Gak mungkin deh ... Tega banget."


"Zafran gak tau karena gak semua bisa liat."


"Terus gimana? Lo mau kasih tau Zafran?"


"Jadi urusan gue. Lo gak usah ikut pikirin."


"Gak ngerti lagi gue kalau gak ada lo, Jef."


Itu dapat dimengerti.


Mira kesulitan tidur. Pindah posisi menghadap kanan, kiri, atas, sampai bawah percuma.


Cklek'


"Whoaa, siapa tuh!"


Mira tarik selimut sampai lehernya lantaran kepala muncul dari balik pintu tengah malam.


Bukan hantu, dia Awan.


"Wan?" Hampir keluar umpatan kotor. "Ngapain tengah malem?"


Ada rasa curiga bujang ke kamar perawan malam hari.


Awan membuka pintu lebar-lebar. Dia berdiri di ambang memainkan jari-jarinya.


"Wan, lo gak kesurupan, kan?"


"Enggak.. "


"Terus ngapain?" Mira siap melayangkan bantal, guling, sampai botol minum jika anak itu kesurupan.


"Luka lo gak parah, kan?"


"Itu doang?"


"Gue gak bisa tidur takut lo gegar otak."

__ADS_1


Anjir memang. "Dibanding luka ini nih, mental gue sekarang berasa diuji. Tengah malem lo ke kamar gue mencurigakan tau gak."


"Lagian lo juga diemm aja dari sekolah sampe rumah. Gue gak berani ngomong duluan."


Lelaki tetaplah lelaki. Bila melihat anggota keluarga dekatnya terluka hatinya ikut terluka.


"Lain kali kalau mau masuk ketuk pintu dulu!"


"Biasanya juga nggak."


"Itu bertahun-tahun lalu. Kita udah remaja, bukan anak sd lagi."


"Dua hari yang lalu gue sama Jefri masuk kamar lo."


"Kapan? Ngapain?" selidiknya.


"Ngambil charger sama laptop. Seenggaknya abis pinjam tuh balikin... "


"Yah, namanya lupa." Mira tersenyum mengisyaratkan sesuatu. "Balik, gih."


Awan mundur lalu menutup pintu kembali.


"Udah kan."


Rupa-rupanya Awan disuruh oleh Jefri yang menunggu di sebelah kamar Mira.


"Lain kali inisiatif samperin Mira sendiri. Jangan tunggu disuruh baru nyamperin."


Awan menggerakkan tangan Jefri berjabat tangan dengan dia.


Jefri menarik tangannya. "Gak bakal gue biarin kalau kejadian lagi."


*


Tetap masuk sekolah seperti biasa, Mira mendapat pertanyaan beruntun dari teman terdekat.


"Jidat lo abis nyium aspal atau tembok, Mir?" usil Hadi menoel-noel dahi dekat lukanya.


Mira menyingkirkan tangan laknat itu. "Sakit, Di."


Dewi ikut menangkis tangan Hadi yang lewat depan wajahnya. "Mau nyobain biar tau rasanya? Gue bantu sini."


Mira mengibaskan tangan berkali-kali supaya Hadi pergi mengganggu.


"Kayaknya Awan mulai gila ngapalin jurus kuda lumpingnya sampe gak ngeh lo panggil," sungut Dewi.


"Bukan salah dia," bela Zafran sibuk membanggakan wajah di cermin kecil punya Dewi.


Dewi berdecak heran pria tampan selalu mengakui ketampanannya namun menyombongkan diri. Tidak salah dia pilih Surya yang biasa-biasa saja.


"Jefri gak ada harusnya dia tau peran gantinya jagain Mira."

__ADS_1


"Bukan kewajiban Awan juga," kekeh Zafran bersuara santai.


Dewi menoleh memberi tatapan sengit. Mengapa dia terus menjawab tanpa disuruh?


Zafran menyadari reaksi Dewi sudah mau menoyor atau menampar mukanya.


"Ya kan emang bukan kewajiban Awan. Betul dong bukan salahnya."


"Irlan, gimana pendapat lo?" Dewi tanpa sengaja mengusik ketenangan Irlan.


Irlan menyelesaikan tulisannya sedikit lagi. "Salah setannya."


"Nah!" Zafran mengedipkan mata sebelah sembari menunjuk Irlan sependapat. "Salah setannya tetiba nongol dan nyerang Mira."


Mira manggut-manggut tak peduli pendapat mereka tentang siapa yang salah dalam hal ini.


Kemudian Irlan melanjutkan ucapannya.


"Beda perkara kalau lo kesurupan, inget bukan salah setannya."


"Itu baru bener!" seru Dewi.


Mira cuma tertawa singkat. "Setuju. Hari ini jangan berulah! Gue gak mau nyungsep lagi."


"Nenek itu bikin lo nyungsep?" Zafran menyemburkan tawa.


"Mungkin. Gue agak lupa," alibinya malu.


"Kalau jaga Mira jadi kewajiban Jefri sama Awan, apa artinya kita juga?"


Pertanyaan Irlan sangat tidak terduga.


"Gimana cara jawabnya.. " pikir Dewi.


Menjaga diri sendiri sudah sulit. Bagaimana menjaga Mira? Dia tidak bisa mengusir jin dengan rumus matematika atau tumpukan uang. Sejujurnya, dua unsur tersebut perangkat penting Dewi hidup setelah bernapas.


"Kalian gak perlu susah payah jagain gue. Gue banyak nyusahin orang," jawab Mira.


"Syukur deh. Hidup gue cukup suram sekarang," gumam Zafran.


"Lo pikir apa yang terjadi di beribu tahun lalu sampe hidup lo masa kini suram, Zafran."


"Kalau gue bisa ngelintasin waktu udah gue lakuin buat nebus dosa."


Seperempat siswi berpaling ke pintu kelas mereka terdapat berdirinya seorang pria berwajah eropa memandang ke dalam bagaikan mencari sesuatu dari gerakan mata indahnya.


Irlan tidak kenal siapa dia, terlihat asing untuk murid dari sini.


"Ngapain tuh cowok sok kecakepan berdiri di situ?"


Dewi memutar tubuhnya ke depan refleks menabok Mira atas manusia yang dia lihat memancarkan daya tarik khusus.

__ADS_1


"Kenapa sih?" Mira menoleh baru berkedip sebanyak tiga kali mengetahui siapa itu.


"Gue bilang kita bakal ketemu lagi. Sekarang terbukti, kan."


__ADS_2