Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Gilang Beristirahat Tenang


__ADS_3

Keadaan sekeliling senyap ketika semua mata tertuju pada Zafran dan Bu Yani. Tangisan Bu Yani makin lirih merasa dekapan ini tidak asing meski sudah lama.


Awan melangkah pindah posisiĀ  memastikan Gilang memberitahu ibunya jika tidak bisa disampaikan ke mereka. Mengingat banyak orang hadir, suara pelayat yang mengaji berhenti kebingungan lihat tingkah anak tak dikenal memeluk Bu Yani.


Bu Yani mengucek matanya. Anak lelaki yang ada di hadapannya sekarang tampak seperti Gilang, putranya, namun dia tahu tepat di sebelahnya sang anak sudah menjadi jasad.


Bu Yani menangkup wajah Gilang yang menangis.


"Gilang minta maaf, Bu."


Mereka berdua menangis bersama. Gilang meraung merasa menyesal belum bisa membahagiakan ibunya.


"Gapapa, nak. Ibu baik-baik aja."


Tangan Bu Yani berpindah ke sisi lengan Gilang. Bu Yani berhenti menangis meyakinkan anaknya semua baik-baik saja.


"Kamu temui ibu terakhir kali. Ibu berdoa supaya dengar suara kamu, doa ibu terkabul. Sekarang ... Hiks, ibu gapapa, Gilang. Kamu bisa pergi. Jangan di sini terlalu lama, hm?"


Gilang menunduk tidak mampu menatap wajah sang ibu. "Maafin Gilang, Ibu." Dia menumpahkan segala kesedihan agar bisa pergi dengan layak tanpa rasa bersalah.


Sungguh situasi seperti ini deja vu bagi Jefri, Mira, dan Awan. Beberapa tahun lalu mereka pernah menangis di samping jasad Alfian dan Yanto.


Ayah Mira dan Jefri sudah tiada. Tetap saja anak-anak itu masih menangis tatkala teringat.


Mira iri pada Gilang yang sempat bertemu ibunya sebelum betul-betul pergi.


Di waktu Alfian meninggal dunia, sejak di rumah sakit hingga sebelum pemakaman, Mira sama sekali tidak melihat ayahnya. Mira bahkan takut jauh-jauh dari Alfian berharap menemuinya, paling tidak lewat mimpi. Tapi nihil.


Dewi memandang wajah Jefri yang menahan air mata. "Nangis aja. Cuma kita yang liat."


Jefri kaget Dewi memergokinya. "Siapa yang nangis," alibinya menghapus ujung mata yang basah.


Dewi menepuk punggung pria itu. Surya sudah sesegukan terharu atas pemandangan seorang anak dan ibu sebelum berpisah.


Awan merenung jauh ke depan apabila di posisi mereka suatu saat nanti. Apakah dia bisa menemui orang tuanya sekadar meminta maaf atau tidak diberi kesempatan sama sekali?


Begitu pula Irlan yang merasakan hal serupa. Kesibukan orang tuanya memberi jarak kedekatan mereka. Jika nanti ... Irlan, ayah, atau ibunya tiada ... Apakah bisa menyampaikan satu dua kata sedangkan mereka tidak sedekat itu.


Hari ini banyak sekali pelajaran hidup yang patut dipertanyakan setiap detik.


**


Zafran membuka mata pelan-pelan menyesuaikan cahaya lampu. Posisinya saat ini terbaring dengan karpet sebagai alas dan bantal menyangga kepala.


"Udah bangun lo?" Dewi menampar pelan muka Zafran. "Minum teh dulu."


Awan mengibaskan tangan ke wajahnya. Kancing seragam bahkan dibuka semua menyisakan kaos oblong hitam lantaran hawa panas menyerang.


Zafran menabok tangan Dewi. "Sakit gila."

__ADS_1


"Oh, sorry." Dewi sengaja biar dia bangun.


Mereka masih di rumah Bu Yani. Zafran pingsan hampir tiga jam setelah Gilang keluar dari tubuhnya. Awan dan Surya tetap di rumah menunggu Zafran sadar, sementara yang lain ikut mengantar Gilang ke tempat peristirahatan terakhir.


Hitunglah dua jam. Awan mondar-mandir keluar rumah cari angin. Surya mana berani di rumah orang yang baru saja meninggal. Lantas ke mana? Menyicipi kudapan tamu sambil mengobrol dengan tetangga.


*


"Gilang sekolahnya gimana? Katanya bandel ya?" tanya Pak Yono.


"Iya tuh ayam saya pernah dilempar pake sapu sama dia," ujar Bu Tari.


"Gilang di sekolah? Ohh, dia mah gak femer, Pak. Tapi kepribadiannya lebih baik dari saya. Selama saya sekolah kenakalan yang parah ya ... Saya. Hehe."


Awan yang melihat Surya bersedia ditanya tetangga soal Gilang langsung menyeret dia masuk.


Kurang akhlak sekali Surya membicarakan orang yang tiada. Di depan rumahnya pula. Tetangganya juga bermuka dua. Dunia ini makin aneh.


"Gue gak gibah. Mereka yang mulai," kata Surya.


"Salah lo ikut nimbrung."


"Ditanya orang tua kudu jawab, Wan."


"Masalahnya yang ditanya udah gak ada, Surya. Lo jangan bikin gue emosi. Tungguin si Zafran!"


"Pantat lo bisulan, hah? Duduk anteng gak bisa. Seneng gibah."


*


Mira bertanya keadaan Zafran. "Lo gapapa? Ada yang sakit gak?"


Zafran gagal fokus ke mata sembab dan hidung merah Mira. Dia melihat semua menangis diam-diam dari tempat lain karena tubuhnya dipinjam Gilang.


Awalnya Zafran menunggu di luar sebab banyak entitas tak jelas berkeliaran. Kala matanya menangkap sosok Gilang di dalam rumah, Gilang menoleh dan meminta kesempatan.


Satu sisi Awan pasti tidak membolehkan. Takutnya Gilang di luar kendali. Tuhan berpihak padanya. Awan bilang mau beli es sebentar, waktu itulah Zafran mengizinkan Gilang meminjam tubuhnya dengan syarat tidak ada keributan.


Zafran bersyukur Gilang menepati janji. Dia menjawab pertanyaan Mira, "Gapapa."


Dewi menyodorkan gelas teh lagi. "Cepet minum. Lo mau nginep di sini?"


Surya lagi kipasan pakai buku langsung melotot. "Ngapain nginep? Gila lo. Gue punya rumah sendiri."


Irlan menyalang tajam. "Inget masih bertamu. Gak bisa jaga sikap seenggaknya jaga omongan."


"Quotes today," ujar Dewi.


Bulek Tini dan Bu Yani kembali menghampiri mereka selesai beres-beres.

__ADS_1


"Maaf kalian nunggu lama ya," ujar Bulek Tini.


"Lumayan," celetuk Zafran.


Dewi mencubit pahanya. Baru bangun sudah nyablak. "Nggak kok, Bu. Kita banyak waktu. Pulang dari sini juga dianterin ..."


Mereka semua menoleh ke Irlan. Memang benar bahwa dua sopir Irlan yang mengantar mereka ke rumah Gilang. Tentu saja mereka tidak risau pulang agak malam.


"Irlan dengan kerendahan hatinya," sambung Dewi.


Bu Yani mengangguk sebisa mungkin tersenyum tenang. "Syukurlah ada yang nganterin. Udah jam tujuh malam lebih, ibu khawatir kalian naik motor."


Irlan nyengir dipandang istimewa oleh Mira. Dari kemarin aneh sekali dia. Apa yang salah dengannya?


"Kita semua pamit pulang, Bu." Irlan menepuk punggung tangan Mira agar dia mengendalikan pikirannya.


Awan memerhatikan Mira juga. Benaknya bertanya, ini anak kurang obat kah?


**


Bu Yani dan Bulek Tini mengantar mereka sampai depan rumah.


Hampir seluruh naik mobil sesuai arah rumah. Surya, Dewi, dan Zafran naik mobil depan. Irlan bersama Jefri, Mira, dan Awan di mobil kedua.


Giliran Mira dan Awan naik. Awan sempat bertanya, "Tatapan apa nih? Gue curiga lo ada perasaan sama Irlan."


Jefri dan Irlan mendengar obrolan mereka cuma menyimak.


Mira memicingkan mata songong. "Emang." Tidak lupa dia hempas rambutnya ke wajah Awan.


Jefri lantas memeriksa reaksi Irlan mumpung dia dengar. Mendapati Irlan tepuk jidat, Jefri melihat luar sambil tersenyum. Memergoki Irlan salting adalah hal langka.


Terciduk senyum-senyum sendiri di dalam mobil, Mira mencari objek yang membuat sepupunya mesem.


"Ngetawain apaan lo?"


Senyum Jefri berubah hambar. "Gue? Nggak."


Awan segera naik tak melepas mata dari mereka berdua. Percikan cinta mulai terasa ... Apakah mereka saling suka?


Awan berbisik, "Gue percaya lo demen Irlan, tapi Irlan mustahil demen sama lo."


Mira menutup mulut Awan. "Stop komentar."


Tangan Awan menepis tangan Mira. "Anjir tangan lo bau kembang, ******. Gak cuci tangan?" omelnya tutup hidung.


"Udah ... Emang baunya susah ilang."


"Anjir." Semobil jadi bau kembang kuburan. Awan menutup hidung pakai slayer yang selalu dibawa.

__ADS_1


__ADS_2