
"Aku gak bisa tenang, Mba. Mira ngomong persis sama almarhum ayahnya. Ini pasti ulah sosok yang sama."
Hana duduk bersama Ratih mengutarakan kekhawatirannya.
"Berdoa semua baik-baik aja."
Ratih menengok ke pintu kamar Mira yang tertutup rapat. Gadis itu tertidur lelap usai pingsan.
"Kayaknya Mira harus dibawa ke Bogor, Mba. Dia di sana lebih tenang. Aku gak tega setiap hari ada gangguan mengincar anakku."
Ratih mengerti Hana takut terjadi sesuatu pada anak satu-satunya.
"Coba nanti kita bawa ke sana supaya pikiran Mira lebih adem ya."
Hana mengangguk setuju.
Jefri tetap di sisi Mira. Dalam tidurnya dia tetap memegang erat tangan Jefri, tak mau berjauhan.
Nasib mereka tidak selalu baik. Jefri kira banyak perubahan sejak Mira bercerita ada satu sosok yang mengincarnya selama bertahun-tahun.
Sosok yang hanya menampakkan diri depan Mira. Jefri tak tahu bagaimana rupa sosok itu. Beberapa kali Mira menggila diteror.
***
Zafran menonton anime di televisi kamar sendirian. Harusnya dia tidur sudah lewat tengah malam.
Akibat insiden di sekolah matanya parno tertutup satu menit saja.
Hubungan Zafran dan Johan tidak begitu dekat, mereka cuma papasan saat pergantian jam olahraga. Hari rabu kelas Johan dulu, 11D, baru kelasnya 11B.
__ADS_1
Setahunya, Johan anak baik. Tak tahu baik tapi menghanyutkan atau memang benar baik. Pokoknya mereka tidak dekat. Sekadar tahu nama saja.
Zafran mana berani bengong di kamar. Televisi menyala volume kencang tetap takut.
Zafran chat teman-temannya yang mengalami insomnia juga antara lain Mak Gambreng alias Dewi, Surya Gendheng, dan Bapak Irlan.
Mereka ber-enam punya grup chat. Jefri sama Mira tidak ada niat muncul, mereka ber-empat saja ramai menyampahi grup.
"Tolong... "
"Huaa!" teriak Zafran melempar ponsel.
Masih mending kelempar di atas kasur, jatuh di tempat empuk.
Zafran nengok ke belakang. "Siapa?!" Lalu ke depan.
"Han?" bisiknya lirih.
Johan menembus tembok kamar Zafran. "Lo satu-satunya harapan gue, Zaf. Please, kasih tau semua orang."
Zafran masih cengo di atas tempat tidurnya. "Gue gak bisa, Jo. Kasih tau apa?" Suaranya bergetar mengambil posisi siap ambil langkah seribu.
"Anak baru di kelas lo juga bilang gak bisa. Kalian tinggal bilang gue gak bunuh diri!"
"Mira?" Zafran menelan ludah. "Dia gak bisa apalagi gue. Sana ah pergi ke akherat. Jangan ngedatengin orang gih ... Ngeri, Jo."
"Lo kenal cewek penari di sekolah kita? Tanya dia biar kalian percaya," kata Johan terus berusaha menyakinkan Zafran.
"Gue aja gak percaya omongan sesama manusia, Jo. Coba lo ikhlas, terima kenyataan pahit biar bisa pergi gak gentayangan gini... "
__ADS_1
"Enak banget lo ngomong! Nyokap bokap gue kecewa denger gue bunuh diri, Zaf!"
"Bawa-bawa ortu segala."
"Yakinin mereka aja, gak usah buktiin gapapa."
"Ribet gue hidup ikut campur urusan orang mati," lirih Zafran.
"Sedekah, Zaf."
"Matamu! Jangan netap di rumah gue, sana pergi." Zafran mengusir Johan.
Johan mau berbalik menembus dinding lagi, tapi dia ingat mau memberitahu Zafran sesuatu yang sedang booming dikalangan para hantu.
"Sebelum ke sini gue datengin Mira. Kondisi mentalnya gak terlalu baik," ujar Johan.
"Gak ada manusia yang mentalnya baik-baik aja didatengin demit, anjir."
"Gue denger bisik-bisik dari hantu lain. Mereka bilang Jefri bukan manusia baik, makanya lebih banyak yang datengin Mira. Gue salah satunya sih."
"Hem?" Cukup lama otak Zafran loading.
"Dia lumayan disegani sih, keren."
"Ohh, udah berteman sama hantu lokal ya lo sekarang. Mind blowing," ledek Zafran.
"Awas lo gak tepatin janji. Gue obrak-abrik ini rumah."
"Jangan dong... " Main ancam kan si Johan. "Hantu gak tau diri. Banyak modelan kayak lo. Kalau bukan satu sekolah gue bacain ayat kursi biar lo kepanasan."
__ADS_1
"Anjir."
Johan tahu sekarang, di mata mereka hantu sepertinya bukan apa-apa. Tidak ada harga dirinya.