
"Hai sayang. Tumben, anak momy sudah pulang? Ini baru jam 4 sore loh, biasanya juga kamu lembur di kantor sampai larut malam!"
Ratih, wanita paruh baya itu menghampiri sosok anak bungsunya yang baru saja turun dari dalam mobilnya.
"Hai juga mom" balas William sambil mencium punggung tangan ibunya.
Ratih menatap wajah anak lelakinya yang terlihat tak bersemangat dengan tatapan cemas "Kenapa lesu seperti itu? Apa ada masalah di kantor?"
"Tidak ada masalah sama sekali di kantor, mom. Hanya saja entah kenapa, pikiran William tidak bisa fokus untuk bekerja seharian ini"
"Kenapa bisa? Apa ada hal lain yang mengganggu pikiranmu? Coba ceritakan sama momy"
"Mungkin karena gadis itu?" gumam William lebih kepada dirinya sendiri.
"Gadis? Kamu punya pacar? Kenapa tidak kamu kenalkan sama momy dan anggota keluarga yang lainnya?"
"Bukan pacar mom, lebih tepatnya belum. Dari awal pertemuan kami, William sudah mulai tertarik padanya. Hari ini tanpa segaja kami kembali bertemu lagi dan rasa ketertarikan itu terasa semakin besar. Dia juga yang membuat William tidak bisa fokus bekerja seharian ini, mom" ucap William sambil melepaskan jas kantornya.
Ratih mendengarkan curhatan anaknya dengan penuh rasa minat "Idaaaaa, ke sini kamu!"
Seorang gadis berusia kira-kira 20 tahunan, muncul sambil setengah berlari menghampiri Ratih "Iya nyonya, ada yang bisa ida bantu?"
"Ambil jas dan tas kantor anak saya, dan taruh di kamarnya"
"Baik nyonya. Mari tuan, tas dan jasnya, biar Ida simpankan"
William segera menyerahkan barang-barangnya kepada Ida " Terima kasih yah, Da"
"Sama-sama tuan muda. Ida permisi dulu tuan, Nyonya" Ucap gadis itu kemudian berlalu dari sana.
"Lalu, apa yang kamu lakukan saat kalian bertemu lagi tadi? Apa kamu tidak mengajaknya pergi kencan atau meminta nomornya? Atau, sekalian saja kita langsung melamarnya menjadi istrimu! Kamu tau tidak di mana alamat rumahnya?"
"Momy, William bertemu dengannya baru dua kali pertemuan! Masa langsung mengajaknya nikah? William juga tidak tau dimana alamatnya, lagipula tadi dia sedang bersama bosnya"
Mendengar hal itu, Ratih terlihat kesal "Yah ampun William, lalu bagaimana caranya agar kalian bisa bertemu lagi?"
"Momy tenang saja. Untungnya, William sempat meminta nomor teleponnya tadi"
"Nah begitu dong, baru anak momy! Kamu segera hubungi dia dan buat dia menjadi pacarmu. Jangan lupa untuk mengenalkannya kepada momy dan anggota keluarga kita yang lain, kemudian kalian berdua segera menikah dan berikan momy cucu yang banyak!" ucap Ratih bersemangat. Wajahnya yang tadi kesal, sudah berubah menjadi ceria lagi.
__ADS_1
"Astaga momy, semuanya harus dilakukan secara perlahan-lahan. Bagaimana bisa momy sudah membahasnya sejauh itu?"
"Memangnya kenapa? Kamu kan tau sendiri, bagaimana inginnya momy untuk segera memiliki cucu! Kakakmu meskipun sudah menikah, tapi belum bisa memberikan momy cucu, karna terhalang karir kakak iparmu yang sedang berada dipuncaknya sebagai seorang model terkenal. Sekarang harapan momy, hanyalah padamu!"
"Iya, iya, William mengerti momy. William akan berusaha sebaik mungkin, untuk segera mengabulkan keinginan momy. Tapi momy harus selalu mendoakan William supaya apa yang kita berdua inginkan cepat terwujud, oke momyku?"
"Itu sudah pasti! Tapi kamu harus ingat, kalau momy hanya ingin gadis cantik dengan latar belakang yang sepadan dengan keluarga kita yang boleh menjadi menantu di keluarga ini! Mengerti?"
William tersenyum mendengar persyaratan yang diajukan oleh ibunya. Menurutnya Asyifa terlihat seperti gadis yang memiliki keluarga lengkap dan harmonis, karna sikapnya yang penuh sopan santun dan wajahnya selalu dihiasi dengan senyum bahagia.
Untuk masalah wajah, menurut William wajah Asyifa manis dan juga imut. Wajahnya membuat William tidak pernah merasa bosan untuk terus melihatnya, meskipun tidak secantik wajah sang kakak ipar.
"William mengerti momy, tenang saja"
"Setidaknya dia harus secantik kakak iparmu, atau tidak sedikit dibawah kakak iparmu itu!"
"Iya, momyku sayang. William ke kamar dulu, ingin segera istirahat" ucap William sambil mencium kedua pipi ibunya dengan sayang, kemudian berlari menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Sesampai di kamarnya, William kembali memikirkan perkataan ibunya yang mengharuskan Asyifa secantik Kana, sang kakak iparnya. Kalau seperti itu rasanya tidak akan mungkin, karna jika dibandingkan dengan Kana yang selalu tampil modis dengan wajah sempurnanya, Asyifa bahkan tidak bisa menandingi walaupun hanya setengahnya.
Meskipun begitu, Wiliam menyukainya karena di mata William, Asyifa adalah sosok gadis yang jarang bisa ia temukan di zaman sekarang. Gadis tanpa sapuan make up sama sekali di wajahnya, dan cara berpakaian yang sangat sopan menunjukkan bahwa dirinya adalah wanita terpelajar. Itulah yang membuat William tertarik padanya.
Sekarang yang harus menjadi fokusnya adalah, bagaimana caranya untuk memiliki gadis itu menjadi kekasihnya.
Namun William tidak tau, bahwa hal yang ia anggap sepele dan mampu ia atasi itu, malah menjadi malapetaka di masa depan bagi wanita yang dicintainya.
*****
Asyifa menatap layar laptop dihadapannya yang sedang menampilkan film korea dengan tatapan menerawang, seolah fokusnya berada di tempat lain.
Sesekali ia melirik benda pipih disampingnya sambil menghela nafas frustrasi.
"Ngel, kenapa tuh sahabatmu?" tanya Mira bingung melihat tingkah Asyifa
Ia baru saja keluar kamar sambil membawa beberapa camilan untuk bergabung bersama kedua sahabatnya yang sudah lebih dulu berada di ruang tamu apartemen mereka.
"Tidak tau kenapa, aku juga bingung melihatnya. Apa ada masalah lagi sama ibunya yah, Ra? Soalnya sudah seperti itu dari tadi, coba kamu tanya!"
"Masa sih? Kamu aja coba yang tanyain, aku takut kelewat ikut campur urusan pribadinya Asyifa, Ngel"
__ADS_1
"Barengan aja yuk, aku juga takut"
"Dasar cowok tukang PHP! Katanya aja mau menghubungi lah segala macam, tapi udah sampai jam segini belum juga dihubungi! Terus buat apa tadi sok-sokan mintain nomor hpku, masa buat disimpan sampai beranak gitu? Atau cuman buat nambahin penonton story Whatsappnya aja?"
Melihat Asyifa yang mulai mengomel tanpa henti sambil menarik-narik rambutnya, membuat Angel dan Mira saling bertatapan heran. Namun sedetik kemudian, keduanya sama-sama tersenyum seolah mengerti masalah apa yang tengah dihadapi sahabat mereka itu.
"Fa, kenapa sih? kok ngomel-ngomel sendiri?" tanya Angel pura-pura tak tahu.
Asyifa yang sedari tadi duduk di lantai ruang tamu, berbalik dan menatap wajah kedua sahabatnya yang duduk di atas sofa bergantian dengan ekspresi sedih.
"Aku mau tanya sama kalian! Memangnya, stok cowok yang sifatnya normal di dunia ini udah habis yah, Ra? Ngel?"
"Hah? Maksudnya gimana sih, Fa?"
"Maksud aku yah begitu, Ra! Kenapa sih, disekitar aku tuh cowoknya pada tidak ada yang beres sifatnya? Di perusahaan ketemu atasan sifatnya kayak tembok atau kulkas, dingin sama datar aja! Ketemu yang lain, eh ternyata tukang tipu, bisanya cuman kasih harapan palsu aja!"
"Hahahaha... Sedih amat sih cerita hidupmu Fa!Di tempat kerja dapatnya benda mati, tembok plus kulkas berjalan. Sekalinya ketemu yang di luaran, eh dapatnya tukang iklan, bisanya cuman PHP doang. Hahahaha... Yang sabar yah sahabatku, ini ujian!"
Asyifa menatap Mira yang sedang menertawakan dirinya dengan tatapan dongkol "Tertawa aja terus! Kayaknya enak banget yah, tertawa diatasi penderitaan sahabat sendiri? Nanti ku sumpahi yang jelek-jelak, tau rasa!"
"Hehehe... Jangan gitu dong, Fa. Maafin yah, habisnya lucu sih, jadi tidak tahan pengin ketawa. Maaf yah"
"Tau ah, gelap!"
"Asyifa.... Masa gitu aja ngambek sih. Senyum dong, maafin yah? Plisss...."
"Iyah! Puas?" jawab Asyifa setegah hati, masih dengan ekspresi kesalnya.
Mira berpindah duduk disamping Asyifa dan mulai mencubit-cubit pipinya yang sedikit chubby "Makasih Asyifa, sayang deh"
Angel yang melihat tingkah kedua sahabatnya itu, hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Memangnya, dia ngasih harapan apa sih ke kamu, Fa? Coba deh kamu ceritain dari awal, siapa tau aku bisa bantu masalahmu"
"Aaaaaaa, Angel! Memang cuma kamu sahabatku yang paling bisa ngertiin aku banget. Dari pada satu orang, yang bisanya cuma tertawa diatas penderitaan sahabatnya sendiri!" ucap Asyifa sambil memberikan pelukan manja pada Angel.
"Nyindir nih ceritanya? Kan tadi aku udah minta maaf juga, Fa! Ya udah, ceritain deh biar aku juga bisa ikutan bantu nyari solusi dari masalahmu. Bila perlu aku cari sampai ketemu tuh cowok terus ku hajar sampi babak belur, janji!"
Dan akhirnya malam itu mengalir lah menjadi malam curhatan Asyifa tentang kisahnya bersama William.
__ADS_1
Bersambung...