
Kinara yang merasa canggung dan juga malu setelah mendengar perkataan tegas Zidan mengenai hubungan mereka berdua, dengan terpaksa harus memilih pergi ke toilet demi untuk menyembunyikan hal tersebut.
Meskipun para klien yang mendengar ucapan Zidan memberikan respon yang sewajarnya dan terkesan biasa-biasa saja, tapi nyatanya itu masih tetap mengganggu Kinara.
Dengan secepat kaki melangkah, Kinara membawa dirinya masuk ke dalam ruangan toilet khusus wanita. Disana, Kinara baru bisa mengeluarkan semua keluh kesahnya pada sang bayangan dirinya yang berada di dalam cermin wastafel.
"Ayolah Kinara, kenapa kamu tiba-tiba harus merasakan kedua perasaan itu? Yang Zidan katakan tadi kan memang benar, kalau kami hanya memiliki hubungan sebagai anak dan ibu tiri, sekalipun pada kenyataannya kami juga terlihat sangat serasi sebagai sepasang kekasih. Kamu benar-benar menyedihkan!" gumam Kinara pelan.
Kinara memang merasa dan sadar betul kalau apa yang sedang dirasakannya saat ini adalah suatu kesalahan, dan respon yang berlebihan. Tapi tetap saja, hati wanita itu tak akan bisa sejalan dengan pikirannya.
Hatinya masih merindu pada setiap momen yang dihabiskannya sebagai pacar Zidan. Kinara merasa usaha yang dilakukannya dan juga Marcel untuk menjauhi Zidan, serta tak menemui pria itu, menjadi sia-sia.
Faktanya, perasaan Kinara bukannya hilang begitu saja, tapi menjadi semakin besar saat dirinya kembali bertemu dengan Zidan tanpa disengaja.
"Kinara?" panggil sebuah suara terdengar ragu, dari arah pintu masuk toilet.
"Asyifa? Hai" jawab Kinara ramah, saat sadar bahwa yang memanggilnya adalah Asyifa.
"Ada apa denganmu Kinara?"
"Ada apa denganku? Apa maksudnya itu, aku baik-baik saja Asyifa. Sudah lama yah kita tidak bertemu, senang rasanya bisa bertemu lagi denganmu"
"Ah, iya benar. Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku yang tadi loh, soalnya sekarang kedua matamu dipenuhi dengan air mata" ucap Asyifa cemas, sambil sebelah tanganya menunjuk ke arah wajah Kinara.
"Air mata? Air mata apa yang sedang kamu bicarakan, aku tidak melihat ada air mata sama sekali di wajahku sejak tadi. Apa kamu tidak salah li____, oh!" ucapan Kinara terputus begitu saja saat tatapannya kembali ke arah cermin.
Dalam pantulan wajahnya di cermin, Kinara melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Asyifa barusan memang benar adanya. Wajah mulus itu terbingkai dengan banyak sekali tetesan air mata yang tengah mengalir turun.
Untuk beberapa saat, Kinara hanya bisa terpaku seolah tak tahu harus berbuat apa. Tapi detik berikutnya, ia segera mengeluarkan sehelai tisu dari dalam tas dan menghapus bersih semua air mata tersebut.
Kini Kinara menjadi semakin malu karna tanpa sadar malah menangisi hal sepele hingga seperti itu. Apalagi yang menyadari bahwa dirinya tengah menangis adalah sosok wanita yang paling tak ingin dia perlihatkan sisi lemahnya.
"Ada apa Kinara, apa Zidan telah melakukan suatu tindakan atau berucap sesuatu yang membuatmu sakit hati?" tanya Asyifa masih saja merasa cemas pada Kinara.
"Tidak kok. Zidan tidak melakukan satu pun dari yang kamu katakan barusan, sebaliknya dia memperlakukanku dengan sangat baik. Aku juga dikenalkan pada semua para klien yang datang ke acara malam ini"
"Kalau memang apa yang kamu katakan benar, lalu kenapa kamu malah menangis seperti orang yang sedang sedih di dalam ruang toilet?"
"Siapa bilang aku sedang sedih, aku hanya menangis karna merasa senang diperlakukan seperti itu oleh Zidan. Aku bahkan merasa bahwa Zidan sudah tidak membenciku lagi" jawab Kinara sambil tersenyum lebar.
"Ah, ternyata begitu. Maafkan aku karna sudah menebak sembarangan kalau kamu sedang sedih. Tapi aku hanya benar-benar mencemaskanmu tadi"
"Tidak apa-apa Asyifa, kamu kan memang tidak tahu apa yang terjadi padaku. Justru aku merasa sangat berterima kasih karna kamu sudah mencemaskanku, terima kasih Asyifa"
"Iya, sama-sama Kinara"
Setelah percakapan tersebut, Kinara dan Asyifa pun sama-sama terdiam. Merasa tidak tahu harus berbuat apa, Kinara memutuskan untuk merapikan make upnya.
Sedang Asyifa, kembali pada tujuan awalnya saat memasuki toilet. Yaitu untuk mencuci mukanya agar nampak kembali segar, seperti saat dirinya baru pertama kali datang.
Meski begitu, fokus Asyifa sesekali melihat ke arah Kinara yang berdandan dengan wajah penuh senyuman. Entah mengapa, perasaan Asyifa seketika menjadi aneh.
Wanita itu seolah merasa tak senang bahkan sedikit kesal saat melihat ekspresi bahagia di wajah Kinara, yang diketahuinya Zidan lah penyebab kebahagiaan tersebut.
"Asyifa, apa kamu masuk ke dalam toilet hanya untuk mencuci muka saja? Apa kamu tidak ingin memakai make up atau yang semacamnya?" tanya Kinara heran, melihat Asyifa seperti sudah ingin pergi dari sana.
__ADS_1
"Iya, aku hanya ingin mencuci muka saja, bukan untuk memakai make up sepertimu atau hal lainnya. Lagian, aku juga tidak tahu make up sama sekali"
"Kamu tidak tahu memakai make up, yang benar saja Asyifa? Di zaman sekarang, aku baru menemukan wanita yang sepertimu ini, yang tidak tahu make up. Lalu apa setiap saat kamu hanya berpenampilan seadanya seperti sekarang?"
"Aku tahu apa yang aku katakan barusan akan terdengar tidak masuk akal, karna kamu bukan orang pertama kok yang mengatakan seperti itu. Tapi memang begitu lah aku" ucap Asyifa terseyum hambar.
"Maaf Asyifa, aku bukannya dengan sengaja ingin membuatmu sedih atay berkecil hati. Aku hanya sangat terkejut, makanya secara spontam bereaksi begitu"
"Tidak apa-apa Kinara, itu sangat wajar kok. Kalau begitu, aku duluan keluar yah? Soalnya aku sudah selesai"
"Sebentar Asyifa! Kalau kamu merasa tidak keberatan, aku bersedia kok untuk memberi make up gratis untukmu. Kebetulan aku yang berprofesi sebagai model ini, juga tahu cara mendandani orang lain"
"Kamu ingin mendandaniku? Ta_tapi kenapa kamu ingin begitu padaku, apa karna tadi aku sudah mencemaskanmu? Kalau memang karena hal itu, maka kamu sama sekali tidak perlu melakukannya"
"Tidak kok. Aku menawarkannya karna tiba-tiba saja merasa ingin mendandani seseorang. Kamu mau kan aku dandani? Aku janji akan membuatmu secantik mungkin!" pinta Kinara penuh harap.
Meski masih merasa sedikit ragu untuk menerima tawaran Kinara karna mengingat sejelek apa tingkah laku dan perkataan wanita itu dulu, tapi pada akhirya Asyifa luluh juga.
Dengan berat hati, wanita yang masih baru sekali dalam dunia mempercantik diri, hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
"Keputusan yang tepat sekali Asyifa! Aku janji tidak akan membuatmu merasa menyesal sama sekali, karna sudah memilih menyetujui tawaranku" ucap Kinara yakin.
"Aku mohon bantuannya, Kinara. Dan maaf merepotkanmu" balas Asyifa canggung.
"Serahkan saja padaku!"
Perkataan terakhir yang keluar dari dalam mulut Kinara menjadi akhir dari pembicaraan keduanya, karna yang terjadi selanjutnya adalah suasana penuh dengan keheningan.
Kinara yang telah siap dengan semua alat make upnya yang telah dikeluarkan dari dalam tas dan diletakkan diatas pinggiran wastafel, dan Asyifa yang menanti dengan jantung berdebar.
Kinara secara hangat dan seolah sudah sedari dulu akrab dengan Asyifa, terlihat mulai membalikkan badan wanita itu untuk menghadap ke arah cermin.
"A_apa yang sudah terjadi? Apa benar ini wajahku, aku tidak sedang salah lihat bukan?" tanya Asyifa merasa tak percaya.
"Siapa yang bilang kamu salah lihat, itu kan memamg wajahmu sendiri. Bagaiamana, apa pendapapatmu tentang hasik make up yang aku ciptakan, cantik kan?"
"Bukan hanya cantik Kinara, tapi aku bahkan terlihat seperti orang yang berbeda dari diriku yang sebelumnya. Tapi bagaimana bisa aku berubah sedrastis ini, padahal make up yang kamu gunakan tidak tebal sama sekali?"
"Itulah yang dinamakan dengan kekuatan make up Asyifa. Kalau kamu mau, kamu bisa mulai belajar make up dari sekarang. Selain belajar make up, aku rasa kamu juga perlu pergi ke tempat kecantikan"
"Dulu aku beberapa kali pernah pergi dengan bunda, dan juga kedua sahabatku. Tapi untuk sekarang, aku belum memiliki waktu luang lagi untuk melakukannya"
"Kalau begitu, kapan-kapan ayo kita pergi ke tempat kecantikan bersama. Aku rasanya sudah rindu sekali untuk bisa pergi dengan seorang teman wanita lagi kesana" jawab Kinara antusias.
"Boleh. Tapi apa teman-teman modelmu tidak akan merasa marah atau kecewa kalau tahu ada seorang lain yang pergi dengan sahabat baik mereka?"
"Tenang saja, itu tidak akan mungkin bisa terjadi kok sekarang, karna aku sudah tidak punya satu pun teman model. Jadi kamu tidak perlu merasa tak enak seperti begitu"
"Ti_tidak punya satu pun teman model? Apa yang kamu bicarakan? Biar pun aku jarang membuka televisi, tapi aku tahu kalau kamu mempunyai banyak sekali teman model yang seumuran denganmu" jawab Asyifa yakin.
"Mereka sudah bukan temanku lagi kok. Beberapa hari yang lalu, mereka dengan sengaja malah harus mengetahui tentang cerita bagaimana aku menjadi seorang wanita pelakor dan malah merebut ayah pacarku sendiri dari bundanya, lalu menjadikan pria itu sebagai suamiku. Itulah mengapa mereka semua tiba-tiba saja menjauhi dan tak lagi ingin berada dekat denganku" jelas Kinara panjang lebar, tanpa menyebut nama Adam.
"Ma_maaf Kinara, aku tidak tahu. Aku merasa sangat bersalah sekarang, karna aku sudah seenaknya menanyakan hal sensitif tentang dunia pribadimu"
"Hahahaha. Santai Asyifa, aku sama sekali tidak merasa keberatan kok. Jadi kamu tidak perlu merasa beraalah atau sebagainya, lebih baik kita keluar untuk memperlihatkan wajah cantikmu ini ke semua orang. Bagaimana?"
__ADS_1
"Baiklah Kinara"
*****
Disisi lain, Zidan yang menyadari bahwa sosok Kinara telah cukup lama pergi dan tak juga kunjung kembali, merasa cemas serta ingin menyusulnya.
Dengan sopan, Zidan segera meminta ijin pergi sebentar kepada semua kliennya yang sedari tadi setia berada disampingnya dan berbicara dengannya.
Setelah mendapat ijin yang diinginkannya, Zidan segera membawa langkah kakinya pergi menuju ke arah toilet berada. Tapi saat tiba disana, Zidan menjadi kebingungan.
Pasalnya Kinara adalah seorang wanita, jadi sudah pasgi sekarang sedang berada dalam ruangan toilet khusus wanita. Lalu bagaimana caranya Zidan bisa memanggil Kinara?
Tok... Tok... Tok..
Zidan yang tak punya pilihan lain, hanya bisa mengetuk pintu toilet dengan wajah merah padam menahan malu
"Kinara? Apa kamu ada di dalam Kinara, tolong jawab aku!" panggil Zidan dengan suara yang cukup keras.
"Iya Zidan, aku ada di dalam. Aku mohon tunggu lah sebentar lagi, aku akam cepat keluarnya" jawab sebuah suara dari dalam ruang toilet, yang dikenal sebagai suara dari Kinara.
"Sebenarnya apa sih yang kamu lakukan sejak tadi di dalam sana, sampai lambat sekali kembalinya? Padahal para klien sudah sangat nyaman, dan masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbincang denganmu"
"Ah, maafkan aku Zidan. Aku akan keluar sekarang juga, dan mencoba untuk perbaiki suasana yang aku timbulkan"
"Yah, cepatlah keluar"
Dengan terburu-buru, Kinara segera saja merapikan kembali semua alat make upnya untuk masuk ke dalam tas. Setelah itu, dia dengan cepat berjalan ke arah pintu toilet.
Tapi belum lagi sempat memegang gagang pintu dan membukanya, Kinara berbalik dan menarik sebelah tangan milik Asyifa untuk mengikutinya pergi.
Saat pintu toilet dibuka, sontak saja apa yanh ada di depannya membuat Zidan terkejut. Ada Asyifa dengan penampilanh yang benar-benar berbeda dengan biasanya, membuat Zidan terdiam seribu kata.
Hanya tatapan terpesona dari Zidan yang terus saja membelai tiap inci wajah Asyifa yang kini telah berubah menjadi jauh lebih cantik, berkat bantuan Kinara.
"Maaf Zidan, tapi tadi aku lama karna masih ingin mendandani Asyifa dulu. Bagaimana menurutmu, bukankah Asyifa terlihat sangat cantik sekarang?" tanya Kinara to the point.
"Halo pak Zidan. Maaf karna tadi aku tidak sempat datang menghampiri pak Zidan untuk sekedar memberikan salam" ucap Asyifa, ikut menyapa Zidan seperti yang Kinara lakukan.
"Ah, iya. Tidak apa-apa Asyifa, tolong kamu awasi para pekerja lainnya agar acara malam ini bisa berjalan dengan baik hingga sampai saatnya selesai"
"Baik pak"
"Astaga Zidan, kenapa kamu sedatar itu sih bicaranya kepada Asyifa? Jangan bilang kalau kamu bertingkaj seperti ini hanya karna hubunganmu dengan Asyifa telah berakhir? Sungguh kekanakan sekali!"
"Tidak usah banyak bicara kamu, sebaiknya ayo segera ikuti aku untuk kembali ke tengah para klien yang sedang menunggu kita. Ayo cepat!" pinta Zidan sambil menarik sebelah tanggan Kinara.
"Aduh jangan main tarik-tarik saja dong, aku kan harus berpamitan terlebih dulu kepada Asyifa! Asyifa, aku pergi dulu yah, semoga nanti aku masih punya kesempatan lain untuk bisa mendandanimu lagi. Bye"
"Bye" jawab Asyifa singkat.
Wanita malang itu menatap punggung kedua orang yang berjalan menjauh darinya dengan tatapan sedih yang terlihat jelas di dalam kedua matanya.
Saat ini hatinya terasa hancur berantakan karna tak terlalu dianggap ada oleh Zidan, bahkan usahanya untuk memberanikan diri menerima tawaran dari Kinara pun tak sedikit pun menarik perhatian pria tersebut.
"Apa kini perasaan suka milikmu yang dulu terlihat sangat besar untukku sudah tak lagi bersisa, sampai setega itu kamu bersikap datar padaku Zidan?" tanya Asyifa sedih, dengan suara nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Bersambung...