
"Astaga, bu Zenith! Apa yang sudah terjadi kepada ibu? Kenapa ibu bisa terikat dalam keadaan seperti ini?" tanya salah seorang karyawan Zenith, yang tampak kaget melihat kondisi bosnya.
Dengan terburu-buru, karyawan itu berusaha untuk melepaskan ikatan di tubuh Zenith, agar bosnya bisa segera terbebas. Setelah bebas, Zenith dengan kesal membuang kain yang menyumpal mulutnya sedari tadi, ke lantai begitu saja.
"Dimana mereka?" tanya Zenith, mencari tahu keberadaan Kana dan juga Ratih.
"Maaf, tapi mereka yang ibu maksudkan itu, siapa yah bu? Saya tidak mengerti"
"Dua orang wanita yang menjadi tamuku beberapa menit yang lalu!"
"Oh calon mertua dan kakak ipar ibu, mereka baru saja keluar dari perusahaan kita diantar sama sekretaris ibu"
"Kenapa kalian membiarkan mereka berdua pergi begitu saja! Dan kenapa sekretarisku harus mengantar mereka segala?!"
"Loh, bukannya itu adalah perintah dari ibu sendiri? Ibu kan pernah mengatakan bahwa semua karyawan di perusahaan ini, harus berprilaku baik dan sopan kepada keluarga calon suami ibu"
"Memangnya aku pernah bilang seperti itu?" tanya Zenith, tak percaya.
"Iya bu Zenith, ibu sendiri yang bilang. Kalau tidak percaya, ibu bisa tanyakan juga pada karyawan lainnya"
"Ya sudah, kalau begitu. Lalu, ada perlu apa kamu masuk ke dalam ruanganku?"
"Benar juga, hampir saja saya lupa. Ini bu, ada beberapa dokumen yang harus ibu tanda tangan hari ini juga"
"Taruh saja di mejaku, nanti akan ku tanda tangani. Setelah itu, kamu juga langsung keluar dari sini"
"Tapi bu, dokumennya harus ditanda tangani saat ini juga, karna ini adalah____"
"Bisa tidak kamu turuti saja apa yang aku perintahkan barusan padamu? Kamu tidak usah, mengajariku segala!" ucap Zenith memotong ucapan karyawannya itu dengan tatapan kesal.
"Ah, maafkan saya bu Zenith. Kalau begitu, saya pamit permisi dulu"
Karyawan wanita itu pun berjalan keluar dengan wajah tertunduk takut, seolah ingin menghindari amarah sang bos yang bisa kapan saja diarahkan kembali pada dirinya.
Dengan hati-hati, Zenith memastikan lagi bahwa karyawannya itu benar telah kembali ke ruangannya sendiri, sebelum akhirnya meraih ponselnya untuk menghubungi orang yang selama ini disembunyikannya.
"Bersiaplah. Karna sekarang hanya kamu lah satu-satu orang, yang bisa membuat Ratih dan Kana berada dibalik dinginnya jeruji penjara!" perintah Kana pada orang diujung telepon.
"Apa yang sudah terjadi? Kamu sepertinya terdengar sangat marah sekarang"
"Dua perempuan sialan itu, baru saja datang ke perusahaanku, untuk merebut dan juga menghapus video yang sudah susah payah kita buat"
"Astaga, aku pikir ada apa sampai kamu menjadi semarah itu, ternyata hanya karna hal sepele saja"
"Hal sepele? Apa kamu sudah gila? Mereka baru saja menghilangkan bukti penting yang kita miliki, bagaimana bisa kamu mengatakan kalau itu adalah hal sepele!"
"Tentu saja aku bisa mengatakannya seperti itu, karna aku sudah menyiapkan cadangan videonya di hpku sendiri"
"Yang benar?! Kamu tidak sedang membual supaya aku merasa bangga padamu kan?"
"Tentu saja tidak. Dan aku rasa, kamu harus membuat perhitungan yang jauh lebih besar untuk membalas kedua wanita itu" usul wanita yang ada diujung telepon.
"Kalau itu, tidak usah kamu ajarkan lagi, karna setelah mendapatkan video itu darimu, aku akan langsung membawanya ke kantor polisi dan melaporkan mereka"
"Apa kamu yakin melakukan itu, Zenith?"
"Kenapa tidak?"
"Bagaimana jika karna ulahmu itu, kamu malah tidak bisa mewujudkan mimpimu untuk menikah dengan William? Lebih baik kamu gunakan semua itu, untuk membuat William dan juga keluarganya, supaya mau menuruti semua keinginanmu saja!"
"Maksudmu, aku membeberkan semua bukti ini di depan William dan juga keluarganya yang lain?"
"Iya Zenith. Setelah menunjukkan semua buktinya, kamu ancam mereka untuk mau menikahkanmu dengan William. Kalau tidak, kamu akan melaporkan Ibu William dan juga Kana, ke kantor polisi. Bagaimana, bukankah rencanaku sangat bagus?"
"Benar juga katamu! Kenapa aku tidak pernah terpikirkan rencana seperti itu?" jawab Zenith sambil tersenyum senang.
"Itu karna kamu terlalu fokus untuk hanya menakuti kedua wanita itu, dan juga membuat hidup Asyifa menjadi lebih hancur"
"Dan itu sangat melelahkan! Tapi, apa William akan mau menuruti keinginanku seperti yang kamu katakan? Dia kan sangat keras kepala untuk sesuatu yang tidak ingin dilakukannya"
"Dia pasti akan mau. Karna biar sebenci apa pun dia pada ibunya dan juga iparnya, tapi mereka tetaplah keluarganya. Dia tidak akan mungkin tega membiarkan mereka masuk penjara, jadi kamu tenang saja"
__ADS_1
"Ah, aku sangat senang sekali mendengarnya. Terima kasih karna sudah mau berpikir untuk mewujudkan mimpi masa depanku, kamu yang terbaik!" puji Zenith.
"Sama-sama. Kalau kamu membutuhkan bantuanku lagi, jangan merasa sungkan untuk langsung menghubungiku saja"
"Baiklah. Oh iya, tolong kirimkan videonya sekarang juga ke ponselku yah? Karna nanti malam, aku akan langsung melancarkan rencana kita"
"Akan aku kirimkan, dan semoga rencananya berjalan dengan lancar"
"Terima kasih. Sampai nanti, bye" pamit Zenith, lalu mengakhiri sambungan telepon.
Wajahnya yang tadi terlihat dipenuhi dengan perasaan kesal serta amarah, kini telah berganti dengan wajah cerah penuh suka cita. Sambil bersenandung riang, Zenith berjalan ke meja kerjanya dan duduk disana.
Gadis dengan wajah cantik dan tubuh seksi itu, mulai terlihat sibuk dengan beberapa dokumen yang sebelumnya dibawakan oleh karyawannya untuk segera ditanda tangani oleh dirinya.
Tapi tiba-tiba, kepala Zenith tertunduk menyentuh meja dan juga tubuhnya bergetar hebat, seolah ia sedang kemasukan sosok gaib. Setelah beberapa saat, wajah itu pun terangkat, dan terlihatlah wajah yang penuh dengan senyuman mengerikan, layaknya seorang psikopat.
"Astaga, kenapa setiap kali aku merasakan perasaan ini, terasa sangat menyenangkan? Rasanya seperti aku akan menyembelih para hewan peliharaanku, sampau tak ada satu pun bagian tubuh mereka yang tak terkena oleh senjata milikku" ucap Zenith, lalu mulai tertawa cekikikan.
Beberapa karyawan yang sedang berjalan melewati ruangannya, tanpa sengaja melihat tingkah aneh Zenith dari balik pintunya yang tak sepenuhnya tertutup rapat.
Mereka pun langsung begidik ngeri, dan mulai berbisik antara satu dan yang lain, saat melihat apa yang dilakukan oleh sang bos. Namun ada juga yang berekspresi seolah sudah terbiasa akan hal itu.
"Kamu kok tidak kaget melihat kelakuan bu Zenith, apa kamu sudah pernah melihat sebelumnya?" tanya seorang karyawan wanita kepada karyawan yang tidak kaget itu.
"Bukan sudah pernah saja, tapi bisa dibilang aku yang adalah sekretarisnya, sudah sangat sering melihat bu Zenith berprilaku aneh seperti barusan" jawab wanita yang ternyata adalah sekretaris Zenith.
"Kok bisa dia berprilaku seperti itu? Apa kamu tidak takut, jika sedang berduaan dengannya di dalam sebuah ruangan?"
"Dari yang aku dengar, katanya bu Zenith itu memiliki kepribadian ganda"
"Kepribadian ganda? Yang benar saja!" tanya yang lain tak percaya.
"Kalau kalian tidak percaya, juga tidak apa. Tapi semua yang aku katakan barusan, adalah hasil dari pengamatanku selama ini"
"Lalu, seperti apa sosok kepribadian lain bu Zenith yang seperti kamu bilang itu?"
"Yah, seperti yang kalian berdua lihat barusan. Sosok kepribadian psikopat!"
Kana dan Ratih yang baru saja pulang dari belanja di mall, menjadi terkejut saat melihat sosok Zenith yang kini tengah duduk di sofa dalam ruang tamu rumah mereka.
"Kamu? Masih berani juga yah, kamu datang dan menunjukkan diri di rumahku!" ucap Ratih tampak marah.
"Kamu itu, sudah baik mommy tidak langsung menunjukkan bukti chatmu itu pada semua orang, malah kamu sendiri yang datang untuk cari gara-gara"
"Siapa bilang aku datang untuk cari gara-gara sama kamu, dan juga mertuamu itu?"
"Lalu buat apa kamu datang ke rumahku! Dan siapa juga yang sudah mengizinkan kamu masuk seenaknya?"
"Daddy yang mempersilahkan Zenith masuk, mom. Lagian Zenith kan datang sebagai tamu, masa tidak di suruh masuk" jawab Rizal yang muncul bersama dengan Haykal dan juga pembantu mereka.
Pembantu itu meletakkan nampan berisi minuman yang dibawanya dihadapan Zenith dengan hati-hati, kemudian berlalu pergi kembali menuju dapur.
"Daddy, wanita ini tuh, sudah membohongi kita semua dengan sengaja menyembunyikan bahwa dirinya mandul! Bagaimana bisa daddy menerima pembohong untuk masuk ke dalam rumah kita?"
"Daddy juga sebenarnya tidak mau menerima Zenith masuk, mom. Tapi kata Zenith, ada hal penting yang harus dia beritahukan kepada kita sekeluarga" jelas Haykal, sebelum ibunya semakin marah dan kesal.
"Memangnya hal penting apa lagi yang ingin kamu sampaikan? Apa kamu mau, kalau aku menyebarkan bukti yang ada padaku kepada semua orang?"
"Mommy mau menyebarkannya? Kalau begitu sebarkan saja, aku tidak masalah kok"
"Oh, jadi kamu menantangku? Apa kamu pikir aku tidak bisa melakukannya?"
"Silakan saja. Tapi sebagai gantinya, aku akan membawa video ini ke kantor polisi" balas Zenith, sambil menunjukkan bagian depan video yang ada di layar ponselnya.
Melihat sampul video yang sangat familiar, membuat Ratih dan Kana seketika terbelalak kaget. Mereka tidak menyangka kalau video yang beberapa jam lalu telah mereka hapus, bisa kembali ada dalam ponsel Zenith.
"Ba_bagaimana bisa? Bukannya waktu itu, mommy sudah menghapus semuanya dari ponsel Zenith, kenapa sekarang ada lagi?"
Haykal dan juga Rizal yang tidak mengerti akan apa yang menjadi topik pembicaraan dari ketiga wanita di depan mereka, hanya bisa mengerutkan kening karna kebigungan.
Tiba-tiba dari tangga lantai dua, turunlah sosok William yang berjalan santai sambil membawa segelas minuman kesukaannya. Melihat kehadiran Zenith, pria itu langsung melemparkan tatapan tak sukanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu muncul lagi di rumahku? Kali ini apa lagi yang akan kamu lakukan atas hidupku?" tanya William sinis.
"Ya ampun William, karna sudah lama kita tidak bertemu, kamu menjadi lebih cuek yah. Tidak masalah, karna pasti sebentar lagi kamu akan memohon-mohon pada diriku"
"Kamu bicara apa sih, dasar gila!" umpat William sambil duduk di salah satu sofa yang berseberangan dengan Zenith.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan terbukti gila, setelah aku menunjukkan videonya ke kalian semua"
"Dari tadi kamu terus-terusan bicara tentang video, memangnya video apa sih?" tanya Haykal penasaran.
"Pertanyaan bagus, kak Haykal! Baiklah, karna aku tidak ingin membuat kalian semua jadi semakin penasaran, maka akan langsung aku kirim saja ke ponsel kalian masing-masing sekarang!"
Setelah berkata seperti itu, Zenith pun mulai sibuk berselancar di layar ponselnya, dan hal itu membuat Ratih dan juga Kana menjadi semakin keringat dingin.
Dengan panik dan tanpa bisa dicegah, Kana meraih gelas berisi minuman yang dibawa untuk Zenith, dan langsung siramkannya ke atas ponsel gadis itu.
"Astaga! Apa yang telah kamu lakukan Kana, kenapa tiba-tiba menyiram ponse Zenith seperti itu?!" tanya Rizal terkejut.
"A_aku, aku tidak sengaja daddy"
Ratih yanh melihat menantu perempuannya itu kesulitan untuk menghadapi situasi yang telah diciptakan oleh dirinya sendiri, dengan cepat turut membantu.
"Pasti tadi Kana ingin menawarkan minuman pada Zenith, tapi tanpa disengaja malah menumpahkannya hingga mengenai ponsel Zenith daddy. Iyakan Kana?"
"Ah, iya daddy. Yang dikatakan oleh mommy itu benar, maafkan aku yah Zenith. Sumpah, aku tidak segaja melakukannya"
"Tapi tadi itu jelas sekali kalau kamu memang dengan sengaja, ingin menyiram ponsel Zenith. Daddy dan yang lainnya juga lihat kok"
"Tidak apa-apa daddy. Sekalipun kak Kana melakukannya dengan sengaja, Zenith tidak marah kok. Karna sebenarnya ponsel yang terkena air tadi bukanlah ponsel Zenith, tapi cuman mirip saja. Ponsel Zenith masih ada di dalam tas kok" jelas Zenith, mengeluarkan ponselnya sembari tersenyum licik.
"Syukurlah kalau begitu. Daddy pikir itu benar ponsel kamu tadi"
"Aku memang sudah memprediksi kalau kejadian seperti ini akan terjadi, makanya aku membawa dua ponsel untuk berjaga-jaga. Kali ini, aku akan mengirimkan videonya ke kalian semua"
Menghadapi rencana licik Zenith, Ratih dan Kana pun menjadi buntu ide seketika. Mereka tidak mungkin melakukan cara yang sama lagi untuk menghentikan niat gadis itu.
Dengan berat hati dan dengan debar jantung yang semakin kencang berpacu, keduanya hanya bisa menanti ketiga pria di hadapan mereka, untuk segera melihat video yang mati-matian ingin mereka hilangkan.
"Sudah terkirim, silakan menikmati videonya dan semoga kalian semua terhibur!"
Haykal, Rizal dan juga William pun secara bersamaan memeriksa isi pesan yang masuk dari Zenith di ponsel mereka masing-masing. Tak berselang lama, raut wajah ketinganya pum berubah terkejut.
"A_apa, _apa maksud dari dua video ini? Apa yang sudah kalian berdua lakukan kepada Asyifa yang malang?"
"Dua video? Apa maksud daddy, videonya hanya ada satu. Dan lagi, itu hanyalah hasil rekayasa yang dibuat oleh wanita ini!"
"Apakah mommy masih bisa bilang kalau ini adalah video hasil rekayasa Zenith juga?" tanya William sambil menunjukkan sebuah video yang tidak pernah dilihat oleh Ratih atau pun Kana.
Dalam video tersebut, dapat terlihat jelas wajah dokter kandungan yang menangani Asyifa selaa masa kehamilan wanita itu, dan juga waja Ratih. Meskipun wajah Kana tak terlihat, namun suaranya dapat terdengar jelas di dalam.
Dalam video itu juga, percakapan bahwa keduanya membeli sang dokter supaya mau bekerja sama dengan mereka, untuk memberi obat penggugur kandungan yang telah mereka siapkan kepada Asyifa.
Namun yang anehnya, nama Zenith yang sempat disebutkan dalam percakapan itu, tak terdengar sekali pun. Hal itu membuat Ratih dan juga Kana tidak bisa melakukan apa-apa.
"Mommy dan kak Kana pasti sangat terkejut sekali kan sekarang? Dan kalian juga pasti bertanya-tanya, dari mana aku mendapatkan video ini. Benar kan?"
"Dasar wanita iblis!" teriak Ratih sambil maju ke depan, untuk memburu Zenith.
"Sebaiknya mommy tidak melakukan bentuk kekerasan apa pun terhadapku, kalau tidak ingin semua video ini sampai ke tangan pihak yang berwajib!"
"Kamu tidak serius akan melakukan hal itu kan, Zenith? Bagaimana pun juga, kamu ikut terlibat dalam hal ini" tanya Kana panik.
"Aku terlibat? Memangnya kak Kana punya bukti yang bisa membuktikan keterlibatanku? Jangan bilang kalian ingin menggunakan riwayat pesan itu? Ayolah, hukumanku tidak akan seberat kalian jika kita sama-sama menyerahkan bukti"
"Lalu apa yang kamu inginkan? Karna jika mendengar dari cara bicaramu serta melihat dari kedatanganmu ke sini dan bukannya langsung ke kantor polisi, tentu ada sesuatu yang kami inginkam dari kami bukan?"
"Memang seorang pengacara itu sangat pintar yah. Kak Haykal benar, aku memang datang karna ada yang aku inginkan"
"Apa yang kamu inginkan?" tanya William memiliki firasat buruk.
"Yang aku inginkan adalah kamu William! Aku ingin menikah denganmu!"
__ADS_1
Bersambung...