The Ugly Wife

The Ugly Wife
Perkelahian 2


__ADS_3

Sudah selesai pak" ucap Asyifa setelah selesai mengobati luka di wajah Zidan.


"Terima kasih Asyifa"


"Sama-sama pak. Tapi kalau boleh tau, bapak lagi sakit yah?"


"Sakit? Tidak, saya baik-baik saja kok"


"Tapi saya perhatikan dari tadi muka bapak kelihatan merah banget, terus kayak kesulitan buat nafas juga. Bapak yakin baik-baik aja?"


"Oh, itu karna saya kepanasan! Kamu juga rasakan kalau disini panas banget?"


"Panas? bapak bercanda kan? Ini suhu ruangan bapak dingin banget loh pak, saya aja hampir kedinginan! Masa bapak kepanasan?"


"Dingin dari mana Asyifa, ini panas banget. Kamu mungkin yang lagi sakit!"


"Masa sih pak?"


Dengan polos Asyifa menyentuh keningnya sendiri, untuk memastikan ucapan Zidan yang mengatakan dirinya sakit.


Melihat hal itu, Zidan berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya supaya tidak lepas begitu saja.


Dirinya tidak menyangka respon Asyifa akan sepolos itu. Padahal dirinya sengaja bicara seperti itu, untuk menutupi perasaan gugupnya saat berada sangat dekat dengan Asyifa.


Kruyukkkk... Kruyukkk...


Tiba-tiba sebuah bunyi yang berasal dari perut Asyifa terdengar, membuat wajah gadis itu bersemu merah dan hanya bisa tertunduk malu.


"Hahahaha... Aduh Asyifa, suara perut kamu nyaring banget!"


"Maaf pak, saya tidak sengaja"


"Kamu belum sarapan yah? Padahal saya pikir kamu habis dari luar, karna sudah berpakaian rapi pagi-pagi saat sedang libur kerja"


"Sebenarnya saya lupa kalau hari ini hari minggu pak, makanya tampilan saya seperti sekarang"


"Hahahaha... Ya ampun Asyifa, kamu ternyata lucu banget yah"


Sebenarnya Zidan sudah mengetahui alasan Asyifa berpenampilan rapi, namun saat melihat tampang Asyifa saat menjelaskan alasannya dengan tatapan polos seperti seorang anak kecil, membuat Zidan merasa sangat ingin tertawa.


"Bapak ternyata bisa tertawa seperti itu juga yah? Saya pikir bisanya cuman marah dan cuek saja setiap saat"


Ucapan Asyifa membuat tawa Zidan berhenti seketika "Jadi kamu juga berpikir saya seperti kulkas dua pintu, seperti karyawan lainnya di perusahaan?"


"Bukannya memang kenyataannya seperti itu yah pak?"


"Wah, kamu mulai berani yah sama saya, sekretaris Asyifa yang terhormat?"


"Eh, bukan begitu kok pak! Cuman menurut saya bapak terlihat lebih baik seperti itu dan lebih tampan juga, percaya deh pak."


"Ta, tampan? Kamu barusan bilang saya tampan?" tanya Zidan tampak tak percaya dengan ucapan Asyifa.


"Kok kaget begitu sih pak? Yah walaupun bapak berekspresi seperti apa pun tetap ganteng, tapi menurut saya yang tadi lebih enak dilihat!"


"Kamu sedang merayu saya yah, supaya dikasih bonus?" tanya Zidan gugup, mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Tidak kok pak, saya serius! Saya cuman pengen memberikan saran aja buat pak Zidan, kalau diterima yah syukur"


"Iya deh, saya percaya. Oh iya, karna sekarang kamu lagi lapar, mau tidak sarapan bersama saya?"


"Sarapan sama pak Zidan? Tidak usah pak, saya tidak mau merepotkan bapak! Saya bisa sarapan sama Angel dan juga Mira"


"Jangan menolak rezeki, lagian sama sekali tidak repot karena saya sudah memasak sarapannya sebelum kamu datang"


"Bapak bisa masak?"


"Tentu saja bisa. Kebetulan hari ini saya masak sarapannya kebanyakan, jadi kamu tidak perlu cemas dan anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih, karna sudah bantu mengobati luka di wajah saya"


Zidan segera melangkah ke arah meja makan dan mulai sibuk menyiapkan sarapan, membuat Asyifa tidak bisa lagi menolak ajakan sang bos.


****


William mengendarai mobilnya menuju apartemen Asyifa dengan kecepatan tinggi.


Sungguh, saat ini dirinya sangat membutuhkan kehadiran Asyifa disampingnya. William selalu merasakan ketenangan setiap berada didekat Asyifa, membuatnya melupakan segala hal buruk yang terjadi dalam kesehariannya.


Ting... Tong... Ting... Tong...


Saat sampai didepan pintu apartemen kekasihnya, William menekan bel berulang kali dengan tak sabaran.


"Iya, iya, sabar!" sambut suara yang terdengar kesal dari dalam apartemen.


Mira membuka pintu dan langsung terkejut sekaligus panik, saat melihat sosok William disana.


"Eh, William! Hai!" sapa Mira dengan suara yang sengaja dibuat keras-keras supaya terdengar oleh Angel yang berada di ruang tamu.


"Hai Mira, hai Angel. Asyifanya ada?"


"Asyifa? Ada kok!" "Asyifa lagi keluar!"


Mira dan Angel yang karna panik, tanpa sengaja memberikan jawaban berbeda. Melihat hal itu, William merasa aneh dan menatap kedua gadis dihadapannya dengan kening berkerut.


"Yang benar yang mana sih? Asyifa ada, atau lagi keluar?"


"Asyifa keluar yah, Ngel? Aku pikir dia ada, karna ini kan hari libur!" tanya Mira mulai berpura-pura.


"Asyifa lagi keluar Mira, kamu kan dalam kamar terus dari tadi! Dia sempat pamitan sama aku kok, katanya mau keluar sebentar"


"Oh gitu. Maaf yah William, aku asal jawab aja padahal tidak tahu pasti!"


"It's ok lagi, Ra. Tapi, aku boleh tidak nunggu Asyifa di dalam?"


"Yah boleh dong, paling sebentar lagi juga dia pulang! Ayo masuk aja, Will"


William berjalan masuk melewati kedua gadis itu tanpa perasaan curiga sama sekali dan segera menuju ruang tamu.


"Ra, cepetan telepon Asyifa atau kirim pesan untuk pulang ke apartemen kita sekarang juga, karna ada William disini!"


"Ok, Ngel!"


Dengan cepat Mira mengambil ponsel dari saku bajunya dan mengetik pesan untuk Asyifa, sedangkan Angel memilih untuk menemani William duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Aduh, kok belum dibaca juga sih? Apa pakai telepon aja yah? Telepon aja deh!"


Mira menekan tombol panggil, namun betapa terkejut dirinya saat mendengar nada dering ponsel Asyifa dari arah ruang tamu.


"Asyifa tidak bawa ponselnya yah? Loh, kamu yang nelpon, Ra?"


William mengambil sebuah ponsel dari dalam laci meja yang berada dihadapannya saat mendengar bunyinya, dan langsung sadar kalau itu adalah ponsel milik Asyifa.


"Eh iya Will, aku sengaja telepon Asyifa biar cepat pulang karna kamu datang. Tapi kok bisa sih dia seceroboh itu, sampai tidak bawa ponselnya segala!"


"Mungkin dia lagi buru-buru, Ra! Makanya sampai lupa bawa ponselnya"


"Sudah, tidak apa-apa kalau aku harus tunggu, lagian kata Angel sebentar lagi dia pasti udah balik kan?"


"Ah, iya benar! Udah Mira, duduk aja sini!"


Dengan terpaksa Mira menuruti ucapan Angel untuk duduk bersama mereka, dan kedua gadis itu mulai mencari obrolan untuk mengalihkan perhatian William.


Hampir setegah jam berlalu, namun sosok Asyifa belum juga muncul, membuat William yang menunggu mulai gelisah.


"Kok lama banget yah, Asyifa? Memangnya dia kemana sih, Angel? Biar aku susulin aja langsung!"


"Sorry Will, aku juga tidak tahu Asyifa pergi kemana. Dia tidak kasih tahu, dan aku juga tidak sempat bertanya"


"Kalau begitu, biar aku cari ke tempat-tempat yang biasa kami pergi saja. Siapa tahu dia pergi kesana!"


"Hah, kamu yakin mau pergi? Bukannya bikin cape yah, mending nunggu disini aja!"


"Iya benar kata Mira, Will. Belum tentu Asyifa ada disana kan?"


"Tidak masalah kok, aku juga sekalian mau jalan-jalan sebentar. Misalkan Asyifa balik, nanti suruh hubungi aku aja, oke?"


"Ah, iya Will. Kamu hati-hati yah"


Mira dan Angel akhirnya hanya bisa setuju dengan perkataan William. Setidaknya jika William pergi, mereka bisa memanggil Asyifa yang sekarang sedang berada di apartemen Zidan untuk segera pulang.


Namun saat keduanya berpikir semuanya akan berjalan lancar, suatu yang tidak pernah mereka duga terjadi, membuat kedua gadis itu menahan nafas sejenak.


Bersamaan dengan keluarnya William, Asyifa juga keluar diantar Zidan dari apartemen sebelah.


"Terima kasih untuk sarapannya, masakan pak Zidan sangat enak!"


"Sama-sama, kamu boleh datang kapan saja jika ingin makan masakan saya lagi. Dan saya juga terima kasih, karna kamu sudah bantu obatin luka saya" ucap Zidan sambil mengelus puncak kepala Asyifa dengan lembut.


Asyifa yang polos, mendapat perlakuan seperti itu hanya tersenyum senang tanpa perasaan curiga sedikit pun.


Asyifa mengira sang bos mendengarkan sarannya untuk berubah menjadi pribadi yang tidak suka marah-marah dan juga cuek, oleh karena itu ia mengelus kepala Asyifa.


Melihat interaksi antara Zidan dan juga Asyifa yang terlihat bahagia, membuat William seketika terbakar api cemburu dan juga amarah.


Pria itu maju dan tanpa sepatah kata pun, langsung melayangkan sebuah pukulan ke wajah Zidan yang membuat Asyifa berteriak histeris.


"PAK ZIDAN!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2