The Ugly Wife

The Ugly Wife
Pertunangan


__ADS_3

"Asyifa"


Asyifa yang baru saja sampai di tempat parkir perusahaan bersama Mira dan juga Angel, menoleh saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang.


"Selamat pagi pak Zidan. Ada yang bisa saya bantu pak?"


Ternyata Zidan lah yang memanggil nama Asyifa barusan. Pria itu terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun terlihat ragu-ragu karna kehadiran Mira dan juga Angel.


"Fa, aku sama Mira masuk duluan yah? Soalnya ada berkas penting yang harus aku kerjakan pagi ini" ucap Angel, seolah mengerti akan kondisi bosnya.


"Kalau begitu, sampai ketemu nanti pas jam makan siang yah"


Setelah kepergian Angel dan juga Mira, Zidan secara tidak terduga melangkah maju dan menyentuh wajah Asyifa.


"Wajahmu kenapa jadi seperti ini? Kamu baik-baik saja kan? " tanya Zidan sambil mengusap wajah Asyifa yang terlihat bengkak, seperti orang yang habis menangis dalam waktu yang lama.


Asyifa yang mendapat perlakuan seperti itu dari Zidan hanya bisa terdiam saking terjepitnya. Namun sedetik kemudian, ia segera tersadar dan menarik wajahnya untuk lepas dari jangkauan tangan sang bos.


"Saya baik-baik saja kok pak. Wajah saya seperti ini, karena tadi saya mengupas bawang pas masak sarapan dan airnya mengenai mata saya"


"Kamu tidak berbohong kan?"


"Tidak pak. Untuk apa saya berbohong sama bapak?" ucap Asyifa sambil tersenyum canggung.


Setelah itu, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Zidan dan Asyifa. Keduanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa, suasana diantara kedua terasa sangat aneh dan canggung.


"Eh iya, saya baru ingat. Ada yang harus saya kerjakan, kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya permisi yah pak" ucap Asyifa pada akhirnya. Ia segaja mencari alasan untuk segera pergi dari hadapan bosnya itu.


Zidan yang masih berdiri seorang diri disana tiba-tiba menarik rambutnya kesal.


"Apa yang sudah saya lakukan tadi? Bisa-bisanya saya menyentuh wajah seorang wanita tanpa permisi. Hancurlah sudah semuanya, dasar bodoh!"


****


William dengan gelisah menatap layar hpnya, berharap ada panggilan atau pesan masuk dari Asyifa.


Ia tahu perkataan dan sikapnya kemarin sudah keterlaluan terhadap gadis itu. Namun dirinya tidak bisa meminta maaf terlebih dulu, sebelum Asyifa meminta maaf karena sudah menuduh keluarganya.


"Sedang menunggu sesuatu yang penting?" tanya seorang gadis berwajah cantik dengan penampilan seksi, yang tiba-tiba muncul dihadapan William.

__ADS_1


"Apa tanganmu tidak bisa digunakan untuk mengentuk pintu dulu sebelum masuk ke ruanganku? Cobalah untuk sedikit bersikap sopan santun!"


"Kenapa aku harus mengetuk pintu dulu, jika ruangan yang kumasukki adalah ruangan calon tunanganku sendiri?"


"Calon tunangan? Jangan bermimpi, Zenith! Bukannya kamu sendiri sudah tahu, bahwa sekarang aku sudah punya gadis pilihanku sendiri?"


"Ah, apa maskudmu gadis jelek yang ada di dalam foto ini?" tanya gadis bernama Zenith itu, sambil memperlihatkan foto Asyifa yang ada dilayar hpnya.


"Dari mana kamu mendapatkan foto itu? Apa kamu menyuruh orang untuk menyelidiki siapa Asyifa?"


Zenith tersenyum senang saat melihat wajah William yang berubah menjadi sangat marah. Itu menandakan, rencananya untuk membuat William waspada terhadapnya telah berhasil.


"Tenang William sayang, aku tidak akan melakukan apa-apa terhadap gadis kecilmu yang jelek itu. Aku hanya penasaran saja, seperti apa rupa gadis yang telah berhasil merebut calon tunanganku"


"Aku mencintainya Asyifa dan berniat untuk menikahinya. Jadi jangan macam-macam padanya, karna aku tidak akan segan untuk membalas perbuatanmu!"


"Aku tidak takut sedikitpun dengan ancamanmu William. Aku hanya ingin mengambil kembali milikku, meskipun harus menggunakan segala cara!"


"Aku bukan barang milikmu, Zenith!"


"Kamu milikku William, dan akan selamanya seperti itu! Apa kamu lupa, ke pelukan wanita mana pun dirimu pergi, pada akhirnya kamu akan kembali padaku dengan keinginanmu sendiri"


"Aku bosan menjadi tempatmu untuk berkeluh kesah tentang masalah percintaanmu dengan gadis lain, sedangkan aku juga mencintaimu! Cobalah untuk tidak egois William, dan terima saja diriku. Aku lebih baik segalanya dari semua gadis yang pernah hadir dihidupmu"


Zenith duduk disamping William, dan mulai memainkan jarinya yang nakal pada dada bidang pria itu yang tertutup kemeja kantor.


Ia mencoba untuk membuat William jatuh pada pesonanya yang menggoda. Dan saat memajukan wajahnya untuk mencium bibir William, dengan cepat William memalingkan wajahnya.


"Hentikan Zenith! Jangan membuat dirimu terlihat murahan seperti itu" ucap William sambil mendorong pelan tubuh Zenith menjauh darinya.


"Aku sama sekali tidak terlihat murahan, karna aku melakukannya hanya dengan calon tunanganku. Baiklah jika kamu tidak mau melakukannya hari ini, aku akan menunggu sampai kamu mau melakukannya denganku. Kita masih punya banyak waktu lain, bukan begitu?"


"Itu tidak akan pernah terjadi Zenith, jadi ku mohon berhentilah untuk selalu terobsesi pada diriku"


Mendengar ucapan William yang mengatakan dirinya terobsesi pada pria itu, membuat Zenith merasa sangat kesal.


"Aku mencintaimu secara tulus, sangat mencintaimu sedari dulu! Bagaimana bisa kamu mengatakan itu adalah sebuah obsesi William?" tanya Zenith dengan marah.


Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, dan disana muncul sosok Ratih dan juga Kana dengan wajah cemas.

__ADS_1


"Ada apa ini? Apa kalian bertengkar? Suara kalian terdengar hingga luar"


Zenith yang melihat sosok Ratih muncul, langsung berlari ke arah wanita itu dan memeluknya erat sambil mulai menangis.


"Apa yang sudah terjadi William? Kenapa Zenith sampai menangis seperti ini?"


"Tanyakan saja padanya apa yang sudah dia lakukan mom, William pusing!"


"William memarahi Zenith karna mencari tahu tentang gadis yang bernama Asyifa itu, mommy. Padahal Zenith hanya penasaran dengan wajah gadis itu, tidak lebih. Tapi William menuduh Zenith akan melakukan hal-hal buruk pada gadis itu. Zenith sangat kesal, mommy"


"Kenapa kamu berlebihan sekali William, apa kamu tidak kasihan pada Zenith? Kamu secara sepihak membatalkan untuk bertunangan dengannya, dan dia berlapang dada demi keinginanmu itu. Sekarang kamu menuduhnya yang bukan-bukan hanya karena seorang gadis baru dalam hidupmu, apa bagusnya Asyifa itu?"


"Baiklah, William minta maaf pada Zenith karna sudah menuduhnya. Mommy juga harus tau, Asyifa sangat berarti bagi William, karma William mencintai Asyifa!"


"Kamu masih bisa mencintai gadis yang sudah seenaknya menuduh keluargamu sendiri, Will?" tanya Kana tiba-tiba.


"Apa maksudmu Kana?"


"Semalam Kana tidak sengaja mendengar pembicaraan antara William dengan Haykal, mommy. William bertanya kepada Haykal, apakah kita semua hanya berpura-pura menerima Asyifa tempo hari? Karna Asyifa mengatakan pada William, bahwa dia tahu kita hanya bersandiwara saja melakukan semua itu"


"Apa benar Asyifa berbicara seperti itu padamu, William? Katakan dengan jujur kepada mommy!"


"William yakin Asyifa hanya salah paham, hingga berbicara seperti itu. Mommy tidak perlu khawatir, William akan menjelaskannya pada Asyifa kalau apa yang terjadi tidak seperti yang dia pikirkan"


"Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi padanya, dan kamu juga tidak usah berhubungan lagi dengan gadis seperti itu! Bagaimana bisa dia mengatakan semua yang mommy siapakan untuknya hanyalah sandiwara saja, mommy sangat kecewa!"


"Asyifa hanya salah paham mom, mommy tidak perlu seperti itu"


"Mommy tidak mau mendengar penjelasan apa pun lagi, kamu harus akhiri hubungannya dengannya! Lalu, pertunangan antara kamu dan Zenith akan tetap terjadi, seperti apa yang sudah kami rencanakan"


"William tidak ingin bertunangan dengan Zenith mommy, Wiliam sama sekali tidak mencintai Zenith!"


"Mommy tidak membutuhkan pendapatmu. Mommy sudah memberikanmu kesempatan untuk memperkenalkan gadis pilihanmu, tapi ternyata gadis itu malah menuduh keluarga kita yang bukan-bukan! Jadi tidak ada lagi alasanmu untuk tidak bertunangan dengan Zenith!"


"Terima kasih mommy, karna tetap mendukung Zenith menjadi tunangan William" ucap Zenith tersenyum senang.


"Sama-sama sayang. Ayo kita pergi ke rumah mommy, mommy akan masakan banyak makanan enak untukmu dan Kana"


Ketiga wanita itu berjalan keluar tanpa menghiraukan William yang sudah terduduk lemas, memikirkan nasib hubungannya dengan Asyifa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2