
Laras semakin menatap benci wajah putrinya yang selalu menjawab setiap ucapan yang keluar dari mulutnya. Dengan kejam, Laras menarik tangan Asyifa sekuat tenaga menuju ke arah mobil yang disewanya untuk datang ke tempat ini.
"Apa yang mau ibu lakukan, kenapa tiba-tiba menarikku seperti ini?" tanya Asyifa dengan kebingungan, sambil mencoba menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.
"Tidak usah banyak tanya, cepat ikut saja! Akan ibu berikan pelajaran yang sering ibu berikan padamu dulu, saat kamu tidak bisa menjadi anak yang penurut!"
"Tidak. Asyifa tidak mau ibu, tolong lepaskan tangan Asyifa!" mohon Asyifa memberontak.
Melihat kepanikan Asyifa dan perubahan warna muka Asyifa yang menjadi pucat, Zidan dan kedua sahabat Asyifa itu memandang meraka dengan tatapan heran.
Meskipun Zidan tidak mengerti kenapa Asyifa bereaksi seperti itu, tapi firasatnya seolah mengatakan apa yang ingin dilakukan Laras pada Asyifa, bukanlah hal yang baik.
"Apa yang ingin tante lakukan?"
"Tidak usah ikut campur kamu!"
"Sayang, aku mohon jangan lakukan hal itu lagi pada Asyifa. Dia sudah bukan anak kecil yang bisa kamu perlakukan seenaknya, dia juga berkah untuk menentukan pilihan atas hidupnya" mohon Kemal.
Namun laki-laki yang badanya tampak sangat kurus dan tak berdaya itu, tanpa ampun malah di dorong hingga jatuh menyentuh tanah. Angel dan Mira yang melihat hal itu, segera membantu pria tua itu untuk bangkit.
Melihat kesempatan di saat tatapan semua orang berfokus pada Kemal, serta Asyifa yang menghentikan perlawanannya, Laras dengan cepat kembali menarik putrinya untuk segera mendorongnya masuk ke dalam mobil.
"Zidan, Asyifa!" teriak Angel.
Namun semuanya sudah terlambat. Karna ketika Zidan mencoba untuk membuka pintu mobil, pintu itu suda sepenuhnya terkunci dari dalam.
"Pintunya terkunci"
"Apa kamu bisa melihat ke dalam, apa yang sedang dilakukan tante Laras, pada Asyifa?" tanya Mira cemas.
"Tidak bisa. Kaca mobilnya semuanya hitam, aku tidak bisa melihat keadaan di dalam sama sekali"
"Kalian harus segera membuka pintunya dan mengeluarkan Asyifa dari dalam sana, kalau tidak Laras bisa saja melakukan hal terburuk pada Asyifa!" ucap Kemal panik.
"Memangnya, apa yang akan dilakukan tante Laras pada Asyifa?"
"Sejak kecil, Asyifa selalu mendapat pelajaran berupa penyiksaan fisik dari Laras, ketika dirinya tidak patuh terhadap perintah ibunya"
"Apa? Maksud om, sekarang tante Laras akan melakukan hal yang sama seperti dulu pada Asyifa?" tanya Angel tak percaya.
"Iya, dan bahkan mungkin lebih buruk dari itu. Saat akan datang kesini, om tidak sengaja melihatnya sudah menyiapkan beberapa alat untuk dibawa bersamanya"
"Alat? Alat apa maksud om?"
"Dulu Asyifa sering disiksa oleh Laras dengan cara dicambuk menggunakan kabel hingga seluruh bagian punggungnya penuh dengan bekas luka da berdarah. Tapi alat yang om lihat bukan cuman ada kabel, tapi juga tang dan alat kejut listrik" jelas Kemal sambil bergetar hebat, seolah ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada putrinya.
Tiba-tiba dari dalam mobil, suara teriakan milik Asyifa yang terdengar sangat kesakitan, membuat semua orang saling melempar tatapan cemas.
Zidan pun berubah menjadi menggila saat teriakan itu terus-terusan berbunyi tanpa henti. Tanpa pikir panjang lagi, Zidan segera mengambil sebongkah batu besar dan langsung mengarahkannya ke kaca mobil.
Tak hanya sampai disitu, Zidan bahkan menggunakan kedua tinjunya untuk memukul kaca mobil, karna batu yang diambilnya tidak bisa menghancurkannya.
Namun meskipun kedua tangannya telah memerah dan juga mengeluarkan darah, kaca itu tak juga hancur, bahkan retak sedikit saja pun tidak.
"Cukup, hentikan Zidan! Semua usahamu itu tidak ada gunanya, bahkan nanti hanya akan membuat tanganmu hancur" pinta Angel, yang tak tahan lagi melihatnya.
"Aku sudah menghubungi polisi, mereka akan secepatnya sampai di tempat ini. Jadi lebih baik kita tunggu saja, dan jangan melakukan hal yang gegabah" usul Mira.
Namun teriakan-teriakan Asyifa masih saja terus terdengar, membuat Zidan tidak bisa menyerah dan berhenti begitu saja. Pria itu sebaliknya malah menuju ke arah mobilnya, untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan olehnya untuk menolong Asyifa.
Setelah beberapa saat mencari, Zidan pun menemukan tas yang berisi perlengkapannya untuk memperbaiki mobil di belakang bagasi. Dengan cepat ia membawa semua itu, dan mencoba menggunakannya satu persatu.
Sekali lagi Zidan mencoba mengahacurkan kaca mobil menggunakan alat-alat besi itu, dan akhirnya usahanya membuahkan hasil. Kaca itu pun hancur berkeping-keping, dan dirinya bisa melihat dengan jelas ke dalam mobil.
Namun keadaan di dalam sana membuat Zidan menjadi tercengang, hatinya pun terasa begitu sakit saat melihat kondisi wanita yang dicintainya itu begitu sangat mengenaskan.
__ADS_1
Baju Asyifa hanya tersisa sehelai kain saja untuk menutupi bagian depannya yang sensitif, dan kondisi celananya pun tak jauh beda. Kain itu juga terobek hingga memperlihatkan bagian atas kedua paha wanita itu yang putih mulus.
Beberapa tetesan darah dan bekas cambukan terlihat dibagian belakang punggung Asyifa, dan kedua pipinya yang menjadi bengkak, serta ujung bibir Asyifa yang mengeluarkan darah.
"ASYIFA!" teriak Angel terkejut, yang baru saja ikut melihat keadaan di dalam dari samping tubuh Zidan.
"Apa tante sudah gila! Kenapa tante sampai tega melakukan semua ini pada Asyifa?"
"Bukan urusan kalian! Ini semua adalah harga yang harus ditanggung oleh Asyifa, karna tidak bisa mengikuti semua perkataanku!"
"Dan harga yang harus tante bayar adalah masuk dan membusuk di dalam penjara, karna aku sudah menghubungi polisi untuk melaporkan semua perbuatan tante! Tidak lama lagi mereka akan segera sampai di tempat ini, jadi tunggu saja!"
"Dasar wanita sialan! Kamu berani sekali melaporkan orang tua, apa kamu tidak takut menjadi durhaka?!"
"Yang durhaka itu tante, karna melakukan semua ini pada Asyifa!"
"Ah, begitu. Kalau memang aku durhaka dan akan masuk penjara sebentar lagi, kenapa tidak sekalian saja aku habisi anak ini?" ucap Laras sambil tersenyum jahat.
Setelah berkata seperti itu, Laras pun segera membuka sebotol air mineral besar dan dengan santai menuangkan seluruh isinya ke atas tubuh Asyifa. Tak hanya sampai disitu, ia juga mengeluarkan sebuah alat kejut listrik dari dalam tas dan mengarahkannya pada Asyifa.
"A_apa yang ingin tante lakukan?" tanya Zidan panik dan ingin membuka pintu.
"Berhenti disitu, atau akan aku letakkan benda ini ke atas tubuh Asyifa!"
"Tante, kenapa tante sejahat itu? Asyifa itu kan anak tante sendiri, seharusnya tante memperlakukannya dengan baik, bukannya malah menyiksanya seperti ini!"
"Aku juga bingung seperti dirimu, Angel. Apa yang sebenarnya terjadi hingga aku sebenci ini pada anakku sendiri? Menurutmu kenapa yah, Kemal?"
"Laras, semua yang kamu ketahui dan lihat di masa lalu, bukanlah yang sebenarnya. Asyifa adalah benar anak kandungmu sendiri, bukan anak kandung Sarah"
"Oh ya, tapi kenapa hasil tes DNA terbukti kalau akak sialan ini adalah anak dari saudara kembarku, dan bukannya anakku?"
"A_apa maksud ibu?" tanya Asyifa yang bergetar menahan sakit, dengan bingung.
"Apa kamu bodoh, hingga tidak bisa mengerti maksud dari ucapanku barusan? Kamu itu bukanlah anakku, tapi kamu adalah anak dari hasil hubungan gelap suamiku dan saudara kembarku sendiri!"
Mendengar kenyataan yang diucapkan oleh Laras, membuat jantunga Asyifa seketika berhenti berdetak. Tubuh wanita itu menjadi semakin lemas dan tak berdaya, karna kini ia seolah mengerti mengapa Laras tidak pernah sekali pun terlihat mencintai dan menyayangi dirinya.
Sedang Kemal, hanya bisa terduduk lemas dan mulai menangisi semua perbuatannya di masa lalu. Meskipun bertahun-tahun ia memcoba membohongi Laras, namun wanita itu tak pernah sekali pun mempercayai apa yang diucapkannya.
Memang benar Asyifa adalah anak dari saudara kembar Laras, yaitu Sarah. Di masa lalu, yang dicintai oleh Kemal adalah Sarah, dan bukannya Laras. Namun karna Laras juga menyukai Kemal, maka wanita itu menyusun rencana jahat untuk membuat Kemal menjadi miliknya.
Laras memfitnah Kemal telah melakukan hal tak senonoh padanya, hingga kedua orang tua Laras memaksa dirinya harus mau menikahi Laras dan bertanggungjawab atasnya.
Namun Kemal dan Sarah yang masih sangat saling mencintai, tanpa sepengetahuan Laras diam-diam tetap menjalin hubungan hingga hadirlah Asyifa dalam rahim Sarah. Dan berselang beberapa hari, Laras mengabarkan kalau dirinya juga tengah mengandung dengan usia kandungan yang sama dengan sarah.
Tetapi takdir berkata lain atas nasib kedua wanita itu. Sarah berhasil melahirkan bayi perempuan yang sehat, yang diberi nama Asyifa. Sedangkan Laras, harus kehilangan bayinya saat proses persalinan berlangsung.
Sebuah rencana pun muncul di pikiran Kemal dan Sarah, untuk menukarkan bayi milik Laras yang sudah tak bernyawa lagi, dengan bayi milik sarah yang sehat. Semua itu mereka lakukan, agar hubungan gelap keduanya tak diketahui oleh Laras dan juga keluarga mereka.
"Tidak. Semua itu pasti bohong, aku tidak mungkin anak kembaran ibu, aku pasti anak kandung ibu! Iyakan ayah?" ucap Asyifa yang tak bisa menerima jika dirinya adalah anak dari hasil perselingkuhan.
"Maaf. Maafkan ayah, Asyifa. Maafkan aku juga Laras, tapi aku mohon tolong lepaskan Asyifa"
"Hah, akhirnya kamu mau mengakui juga semua perbuatan bejatmu dengan wanita sialan itu! Apa kamu pikir aku sebodoh itu? Asal kamu tahu saja, selama ini aku tetap memelihara anakmu bersamanya, hanya karna supaya aku bisa melampiaskan semua amarah dan kebencianku pada kalian berdua melaluinya!"
"Aku mohon Laras, maafkan perbuatanku dan Larad di masa lalu. Asyifa tidak ada hubungan dengan semua ini, jadi lampiaskan saja semuanya padaku"
"Enak sekali kamu minta dimaafkan dengan segampang itu, setelah semua yang kamu lakukan padaku!"
"Sejak awal aku sudah mengatakan padamu, kalau aku tidak mencintai dirimu Laras, karna wanita yang aku cintai satu-satunya, hanyalah Sarah. Tapi kamu malah memaksa diriku hingga nekat memfitnah diriku, supaya bisa dinikahkan denganmu"
"Itu semua aku lakukan karna aku mencintai dirimu Kemal! Lagipula tidak peduli siapa yang akan kamu nikahi, bukannya sama saja? Karena aku dan Sarah kembar, maka wajah kami berdua pun kembar!"
"Kalian memang kembar, tapi yang aku sukai dari Sarah bukan hanya wajahnya saja, tapi juga sifatnya yang bagaikan malaikat. Dan kamu tidak akan pernah bisa menjadi sepeti dirinya!"
__ADS_1
"Karna rasa cintamu inilah yang membuatku terbakar api cemburu, hingga tanpa rasa bersalah membunuh saudara kembarku sendiri. Semua karna dirimu!"
Pengakuan dari mulut Laras, membuat Kemal menatapnya dengan tak percaya. Kini dirinya sadar, bahwa wanita yang selama ini ia nikahi adalah jelmaan iblis dan bukannya manusia.
"Ke_kenapa kamu melakukan semua itu? Aku dan Sarah mungkin melakukan dosa besar terhadapmu, tapi kamu juga bukannya tidak bersalah"
"Apa salahku? Apa salah jika aku ingin mendapatkan cinta dan ingin dinikahi oleh pria yang aku cintai? Apa semua itu salah?!"
"Semua itu salah, jika kamu memaksa pria itu untuk mencintaimu dan menjadikannya milikmu dengan segala cara! Apa kamu tidak pernah memikirkan betapa sakit hatinya Sarah, saat saudara kembarnya sendiri malah merebut calon suaminya?"
"Tidak! Aku tidak peduli sama sekali, karna dia hanyalah bayanganku, dan dia tidak seharusnya bermimpi melampaui diriku!"
"Terserah apa katamu, tapi sekarang tolong lepaskan Asyifa. Biarkan dia pergi mencari kebahagiaannya sendiri, tidak seharusnya kamu melakukan semua itu padanya"
"Tidak. Aku akan tetap menyiksanya hingga kamu bisa merasakan sesakit dan sehancur apa perasaanku, saat tahu pengkhianatan kalian berdua!"
Kemudian Laras pun menempelkan alat kejut listrik yang sedari tadi dipengangnya ke atas salah satu bekas luka dipunggung Asyifa, membuat tubuh Asyifa bergetar hebat dan ia pun terjatuh pingsan.
Semua yang melihat hal itu terpekik kaget, dan meneriakkan nama Asyifa. Kemal bahkan sampai terhuyung beberapa langkah ke belakang, karna saking terguncang melihat apa yang dilakukan Laras pada putrinya.
"ASYIFA!" teriak Zidan dan segera membuka pintu, untuk menyelamatkan Asyifa.
Sebelum itu, Zidan dengan cepat menendang alat kejut yang dipegang oleh Laras hingga terlempar mengenai bagian atas mobil. Zidan pun menangkapnya dan membuang alat itu keluar.
"Dasar kurang ajar! Jauhkan tanganmu dari atas tubuh anakku, atau tidak aku sendiri yang akan membunuhmu!" ancam Laras.
"Bukannya tante sendiri yang bilang kalau Asyifa bukanlah anak tante? Itu berarti, tante tidak punya hak sedikit pun atas Asyifa!" balas Zidan, sambil melepaskan jasnya dan menyelimuti tubuh Asyifa.
Tepat saat itu juga, mobil polisi terdengar mendekat bersama dengan mobil ambulance yang telah dihubungi oleh Mira. Laras pun menjadi panik seketika, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang.
"Disini pak! Ada seorang wanita pingsan yang terluka, dan pelakunya juga ada disini!" teriak Angel.
Dengan cepat dua orang polisi segera datang dan menangkap Laras dan dibawa masuk ke dalam mobil patroli. Sedang Zidan membawa Asyifa ke dalam ambulance dengan bantuan beberapa tenaga medis.
"Lepaskan aku! Kalian tidak seharusnya menangkap seorang ibu yang hanya ingin memberikan teguran kecil pada putrinya! Jadi cepat lepaskan aku!"
"Teguran kecil? Kami tidak melihat jika apa yang anda lakukan adalah hanya teguran kecil seperti apa yang anda ucapkan barusan!" jawab seorang polisi dengan tatapan kesal.
"Kamu tidak tahu apa-apa, karna kamu belum mempunyai seorang anak! Itulah yanh biasa dilakukan para orang tua jika anaknya melakukan kesalahan!"
"Aku memang belum berkeluarga dan juga belum mempunyai anak, tapi aku mempunyai orang tua. Orang tuaku tidak pernah memperlakukan aku seperti yang anda lakukan pada putri anda, ketika aku berbuat suatu kesalahan"
"Itu karna orang tuamu bodoh! Tidak usah banyak bicara lagi, cepat lepaskan saja aku!"
"Tidak akan kami lepaskan. Jika anda ingin melakukan pembelaan diri, silakan lakukan itu saat kita tiba di kantor polisi!"
"Dasar kalian semua sialan! Lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkan hidupku berakhir begitu saja di dalam penjara!"
Zidan yang telah mengantarkan Asyifa masuk ke dalam ambulance, segera menghampiri kedua polisi yang bertugas untuk menangkap Laras.
"Pak polisi, aku mohon bantuannya untuk menangani masalah ini"
"Tidak masalah pak Zidan. Ini memang adalah tugas kami, jadi pak Zidan tidak perlu khawatir"
"Terima kasih. Aku akan secepatnya menyusul ke kantor polisi setelah mengantar korban untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit terdekat"
"Baiklah pak Zidan"
Cuih!
Sebelum diseret pergi, Laras masih sempat meludahi wajah Zidan untuk melampiaskan amarah dihatinya. Zidan yang tak ingin ambil pusing, hanya mengelap wajahnya dengan santai menggunakan sapu tangan.
Ia kemudian meraih ponsel miliknya dari dalam saku, dan menghubungi sebuah nomor yang ternyata adalah pengacara pribadi keluarganya.
"Halo pak Stefan. Aku mempunyai sebuah kasus yang membutuhkan bantuan bapak. Apa bapak bisa membantuku untuk membuat hukuman penahanan bagi pelakunya, menjadi sangat lama?"
__ADS_1
Bersambung...