
Zidan dan Kemal terlihat sedang melangkah masuk ke dalam kantor polisi, setelah mengantarkan Asyifa ke rumah sakit terdekat. Segera pria itu mengedarkan pandangannya, untuk mencari keberadaan Laras dan polisi yang bertugas menangani wanita itu.
"Pak Zidan!" panggil polisi yang dicari Zidan, sambil melambaikan tangannya.
Melihat polisi itu, Zidan dan Kemal pun dengan cepat menghampiri. Sosok Laras yang kedua tangannya masih terborgol erat dan berada dalam salah satu sel, pun terlihat di dekat polisi itu.
"Maaf karna membuat anda menunggu pak, dan terima kasih karna sudah bersedia menangani kasus ini" sapa Zidan.
"Tidak masalah pak Zidan. Tapi kalau boleh tau, sekarang bagaimana keadaan korban?"
"Korban kini sedang mendapatkan perawatan dari para dokter yang menanganinya, di rumah sakit"
"Syukurlah. Saya berharap semoga korban bisa secepatnya pulih, dan bisa secepatnya memberikan kesaksian atas peristiwa yang menimpa dirinya"
"Terima kasih pak. Oh iya, kenalkan ini adalah pak Kemal, ayah dari korban dan sekaligus suami dari pelaku"
Kemal yang raut wajahnya masih terlihat sangat cemas, dengan canggung menerima uluran tangan dari sang polisi.
"Bapak tidak perlu terlalu cemas seperti itu. Kami dari pihak kepolisian, akan segera mengurus kasus ini supaya cepat selesai" hibur polisi itu, seolah bisa membaca jalan pikiran Kemal.
Pria yang setiap geraknya penuh kesopanan itu, hanya bisa memberikan seulas senyum dengan terpaksa untik menimpali ucapan sang polisi. Namun dalam hatinya, ia sedang merasakan dilema yang besar.
Ia bingung, apakah keputusannya mengikuti usulan Zidan untuk memasukkan Laras ke balik jeruji penjara adalah tindakan yang tepat, atau malah sebaliknya?
Meski bagaimana pun juga, semua peristiwa buruk yang terjadi hari ini, bermula dari kesalahan Kemal sendiri yang tetap menjalin hubungan dengan wanita lain meski telah sah menikahi Laras.
"Zidan, apa ibunya Asyifa benar-benar akan dimasukkan ke dalam penjara?" tanya Kemal khawatir.
"Kenapa om Kemal bertanya tentang sesuatu yang telah om ketahui jawaban pastinya? Apa jangan-jangan, sekarang om telah berubah pikiran, dan tidak lagi ingin memasukkan istri om sendiri ke dalam penjara?"
"Om hanya merasa, kalau peristiwa yang terjadi hari ini, sepenuhnya bukan kesalahan dari Laras saja, tapi juga kesalahan om"
"Om, memang benar om telah melakukan suatu kesalahan besar di masa lalu. Tapi semua kesalahan itu tidak akan mungkin bisa terjadi kalau saja seandainya, bu Laras tidak memisahkan ibu kandung Asyifa dari om"
"Tapi Zidan____"
"Apa om mau kejadian hari ini dan kejadian di masa lalu, kembali terjadi lagi di dalam hidup Asyifa? Apa om tidak kasihan dan merasa bersalah sama sekali, pada putri om yang hidupnya sudah menderita sejak kecil?" ucap Zidan memotong ucapan Kemal.
"Maaf, om minta maaf Zidan. Sepertinya sesaat tadi om telah kehilangan akal sehat, karna lebih peduli terhadap keadaan istri dari pada anak sendiri"
"Zidan tidak menyalahkan om sedikit pun, karna telah merasa kasihan pada bu Laras, biar bagaimana pun juga kalian telah hidup bersama selama bertahun-tahun, jadi semua itu adalah hal yang wajar. Tapi Zidan rasa, sudah saatnya om mengambil keputusan yang tegas sebagai ayah Asyifa"
"Terima kasih banyak Zidan. Om merasa sangat berterima kasih padamu, yang telah membuat om sadar. Sekali lagi maaf"
"Sama-sama om. Rasanya kini Zidan sudah mengetahui, dari mana Asyifa mendapat kebaikan hatinya. Itu semua dari om"
Setelah Zidan memastikan bahwa perasaan Kemal dan keteguhan dalam hati pria tua itu telah kembali, mereka pun bersama segera menemui Laras.
Laras yang melihat kedatangan ketiga orang itu, dengan cepat segera bangkit berdiri dari duduknya, dan berjalan mendekat ke arah Kemal. Tatapan dan raut wajah yang nampak frustrasi, dapat terlihat dengan jelas dari kedua mata wanita itu.
"Akhirnya kamu datang juga Kemal, kenapa lama sekali? Apa kamu tahu kalau aku sudah menunggumu sedari tadi? sekarang cepat, tolong bebaskan aku dari tempat ini!" pinta Laras dengan nada memerintah.
"Maaf Laras, tapi sekarang aku tidak bisa lagi menuruti semua keinginanmu"
"Apa maksudmu tidak bisa? Apa kamu tega membiarkan aku berada di balik jeruji ini dan tidak lagi bisa melihat dunia luar? Tidak! Aku tidak mau berada lebih lama lagi di tempat ini, jadi kamu cepat keluarkan aku dari sini!"
"Meskipun ibu berusaha memohon sekuat tenaga dan selama mungkin kepada pak Kemal, tetap saja tidak akan bisa membuat ibu bebas. Karna apa yang ibu lakukan kepada korban, adalah tindakan kriminal yang harus mendapat sangsi hukum secara tegas" jelas pak Polisi pada Laras.
"Diam! Aku tidak peduli dengan apa pun yang kamu ucapkan, intinya cepat keluarkan aku dari tempat ini!"
"Maaf, tidak bisa bu"
"Aku bilang keluarkan! Keluarkan aku dari tempat ini! Keluarkaaaaannnn!" teriak Laras histeris, sambil memukul jeruji besi.
Zidan yang melihat tingkah Laras menjadi semakin menggila, dan tak ada sedikit pun rasa bersalah atas apa yang telah dilakukan olehnya, seketika menjadi emosi.
Brak!
__ADS_1
Tanpa diduga, Zidan menghantam jeruji besi di depan Laras hingga menimbulkan bunyi besar, yang membuat semua orang disana terkejut dan menatap ke arah mereka penasaran.
"Dengarkan ucapanku baik-baik ibu Laras yang terhormat. Akan aku pastikan bahwa ibu membayar semua perbuatan ibu kepada Asyifa selama ini, dengan berada di dalam penjara, selama yang diinginkan oleh Asyifa! Apa ibu mengerti?"
"Beraninya kamu mengancam orang tua sepertiku! Apa kamu pikir setelah semua perbuatanmu padaku, aku akan menyetujui keinginanmu menjadi kekasih Asyifa? Jangan mimpi kamu!"
"Asyifa bukanlah anak tante! Jangan tante lupa akan fakta yang tak bisa diubah sampai kapan pun, dan itu berarti aku juga tidak akan membutuhkan restu dari tante!"
"Aku memang bukan ibu kandung Asyifa, tapi apa kamu pikir Asyifa bisa mengabaikan aku begitu saja? Aku yang paling mengenal siapa Asyifa, dan seperti apa sifat anak itu. Lihat saja nanti setelah dia sadar, dia sendiri yang akan memohon padamu untuk membebaskan aku dari tempat ini!"
"Percaya diri sekali tante. Tapi bagaimana jika semua harapan tante tidak akan terjadi?"
"Apa maksudmu?!"
"Sekarang Asyifa telah memiliki keluarganya sendiri yang sangat menyayangi dirinya, meskipuk tidak sedarah. Dan aku yakin sekali, jika kami yang membujuk Asyifa untuk tetap memenjarakan tante, Asyifa pasti akan setuju" ucap Zidan sambil tersenyum, dan seketika kepercayaan diri Laras pun langsung menghilang.
"Kemal, tolong kamu bujuk Asyifa untuk mau membebaskan aku dari sini. Kamu pasti bisa kan melakukannya? Dia kan anakmu, pasti dia akan lebih mendengarkanmu dari pada pria yang baru dikenalnya ini"
"Maaf Laras, aku tidak bisa. Seperti yang aku katakan tadi, bahwa aku sudah tidak bisa lagi menuruti semua keinginanmu mulai saat ini" jawab Kemal pelan.
"Kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba bertingkah seperti ini? Apa kamu sudah gila?!"
"Aku tidak gila Laras. Hanya saja setelah semua kejadian hari ini, aku telah mengambil keputusan. Bahwa mulai saat ini, hidupku hanya akan menjadi milik anakku dan bukan milik orang lain atau milikmu lagi"
"Astaga, jangan membuatku tertawa Kemal Kenapa sekarang kamu tiba-tiba berlagak seolah menjadi ayah yang baik bagi Asyifa? Bukannya kamu juga salah satu pelaku kejahatan, karna menutup mata akan semua tindakan yang aku lakukan pada Asyifa selama ini?"
"Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak ada kaitannya atau aku tidak bersalah sama sekali. Aku tahu benar apa kesalahanku, dan jika Asyifa ingin aku menebusnya, maka akan aku lakukan dengan senang hati. Bahkan jika aku harus berada di dalam penjara yang sama seperti dirimu, akan aku lakukan"
"Dasar gila! Karna sifatmu yang sok baik dan penuh kasih sayang, yang kamu turunkan pada Asyifa itulah, yang membuatku benci pada anak itu. Karna setiap melihatnya, aku seolah melihat Sarah!"
Kemal yang mendengar ucapan jahat Laras, hanya bisa menahan amarah yang mulai timbul dalam hatinya. Bukannya selama ini Kemal tak pernah marah, tapi pria itu hanya selalu berusaha menahannya saja.
Ia tidak ingin jika perasaan sesaat itu sampai menguasai dirinya, dan dirinya menjadi terbiasa dengan perasaan itu. Kemal selalu mengingat perkataan Sarah, yang meminta dirinya untuk selalu menghadapi segala sesuatu dengan kasih sayang.
Karna hanya dengan kasih sayang lah semua orang dapat kita sentuh hatinya. Sebaliknya jika selalu menggunakan amarah, kita hanya akan menambah luka batin pada seseorang dan juga permusuhan.
"Sampai kapan pun aku tidak akan menyesali perbuatanku pada Asyifa atau pun Sarah, karena mereka berdua pantas mendapatkan semua itu! Bahkan sampai aku mati tidak akan ada penyesalan sedikitpun, ingat itu!" balas Laras dengan penuh emosi.
"Sudahlah om, pecuma kita mengajak bicara orang seperti itu! Lebih baik sekarang kita pergi untuk memberikan kesaksian atas apa yang terjadi pada Asyifa"
"Baik, Zidan"
Polisi pun membawa Zidan dan Kemal ke dala sebuah ruangan untuk bisa dimintai keterangan lebih detail tentang apa yang telah terjadi.
Sedang Laras yang telah kehilangan harapan untuk bisa segera bebas dari penjara, hanya bisa kembali berteriak histeris berulang kali untuk meluapkan emosinya.
*****
Ketika jarum jam telah menunjukan pukul 9 malam, barulah tubuh Asyifa yang terbaring tak sadarkan diri sedari tadi, membuka kedua matanya secara perlahan.
Asyifa yang merasakan cahaya menyilaukan menyambut dirinya, hanya bisa mengerjap berulang kali supaya merasa terbiasa. Wanita malang itu, segera mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Tak jauh dari ranjangnya, Asyifa mendapati sosok Zidan yang hanya seorang diri, sedang tertidur lelap diatas sofa dengan posisi duduk. Melihat wajah pria itu yang nampak begitu kelelahan, membuat Asyifa tak tega membangunkannya, meskipun saat ini Asyifa tegah dilanda rasa haus yang teramat sangat.
Dengan susah payah dan sambil menahan rasa perih yang menjalar ke seluruh tubuhnya, Asyifa menjulurkan sebelah tangannya untuk meraih gelas berisi Air minum yang berada diatas meja.
Pranggg...
Karna tidak hati-hati, dan karna kekuatannya yang terlalu lemah, malah membuat Asyifa tanpa sengaja menjatuhkan gelas itu hingga pecah berantakan.
"Asyifa? Kamu sudah sadar? Apa yang terjadi, kenapa gelasnya pecah seperti ini?" tanya Zidan, yang terbangun karna suara pecahan gelas.
"Ah, maaf. Aku baru saja tersadar tadi, dan langsung merasa haus, jadi ingin mengambil air sendiri. Tapi karna masih lemas dan tidak berhati-hati, aku dengan ceroboh malah menjatuhkan gelasnya"
"Kenapa tidak membangunkan aku saja tadi, untuk mengambilkanmu air?" tanya Zidan, sambil memunguti pecahan gelas satu persatu dengan hati-hati.
"Aku hanya tidak ingin mengganggu tidurmu. Karna tadi aku lihat, kamu seperti sangat kecapaian. Sekali lagi aku minta maaf"
__ADS_1
"Kenapa kamu terus meminta maaf, Asyifa? Kamu tidak harus seperti itu, lagian ini hanya sebuah gelas dan bukannya berlian. Cobalah untuk santai saja"
"Baiklah. Tapi, apa kamu sendiri yang berjaga untuk menemaniku? Dimana yang lain?"
"Iya, aku sendirian saja. Mira, Angel, dan juga Ayahmu, aku suruh pulang untuk beristirahat. Tadi ada bunda juga yang datang melihat keadaanmu, tapi karna kamu belum sadarkan diri, jadi aku suruh pulang juga"
"Ah, sepertinya aku sudah membuat banyak orang kerepotan dengan masalahku yah? Aku jadinya merasa tidak enak" ucap Asyifa sambil tersenyum kecut.
"Mereka tidak kerepotan Asyifa, tapi merasa mengkhawatirkan dirimu. Kamu jangan merasa tidak enak seperti itu, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau mereka semua adalah keluargamu?"
Mendengar ucapan Zidan, Asyifa merasa terharu hingga meneteskan air mata. Ia hanya bisa menundukkan, untuk menyembunyikan tangisnya dari Zidan.
Zidan yang melihat hal itu, dengan lembut meraih dagu Asyifa untuk membuat wanita itu, menatap wajahnya. Dengan penuh kasih sayang, Zidan menghapus air mata dari kedua pipi Asyifa.
"Aku merasa sangat malu, karna keluargaku tidak sebaik keluarga kalian. Aku juga malu karna ternyata aku adalah anak haram, yang lahir dari hubungan terlarang"
"Asyifa, itu semua bukan salahmu. Karna tidak ada seorang pun dari kita, yang bisa memilih dengan sesuka hati untuk dilahirkan oleh siapa, atau di keluarga seperti apa. Jangan kamu menyalahkan dirimu, atas apa yang sudah digariskan tuhan untuk hidupmu"
Meskipun ucapan Zidan ada benarnya, tapi Asyifa masih saja tetap merasa sedih. Air mata wanita itu pun tidak bisa berhenti begitu saja, hingga membuat Zidan mau tidak mau harus menarik Asyifa ke dalam pelukannya.
Plok.... Plok...
Ketika keduanya masih dalam keadaan saling berpelukan, tiba-tiba sosok William tanpa terduga masuk ke dalam ruang inap Asyifa, dan melihat interaksi keduanya.
Asyifa dan Zidan pun melepaskan pelukan mereka, dan memandangi William dengan tatapan bingung. Entah bagaimana pria itu bisa tahu tentang keberadaan Asyifa saat ini.
"William?"
"Iya, ini aku. Kenapa? Apa kamu terkejut karna telah kedapatan olehku sedang bermesraan dengan pria lain?"
"Kenapa Asyifa harus merasa terkejut hanya karna kamu melihatnya sedang berpelukan denganku?" tanya Zidan dengan ekspresi menantang.
"Hah, apa kamu lupa, aku ini masih menjadi suami Asyifa! Jadi sudah seharusnya Asyifa merasa takut ketika dirinya kedapatan sedang bermesraan dengan pria lain olehku!"
"Dan jangan lupa kalau aku akan segera bercerai darimu, karna kamu berselingkuh! Persidangan perceraian kita bahkan akan diadakan besok di pengadilan, aku harap kamu tidak lupa untuk datang"
"Asyifa! Jangan kurang ajar kamu, aku ini masih suamimu. Apa kamu tidak takut dosa karna berlaku kurang ajar padaku?"
"Tidak usah mengajariku tentang dosa Will, karna yang harusnya belajar tentang semua itu adalah kamu sendiri!"
"Lihat saja, aku akan membuat perceraian yang sangat kamu inginkan itu, supaya tidak akan pernah terwujud! Karna sampai kapan pun, kamu hanya boleh menjadi istriku!"
"Dasar brengsek!"
Zidan yang tak terima dengan ancaman William, berjalan maju untuk segera memberi pelajaran kepada pria tak tahu malu itu. Tapi dengan cepat, dihentikan oleh Asyifa.
"Tidak seharusnya kamu menghabiskan tenagamu, hanya untuk mengusir seekor serangga keluar dari ruangan ini Zidan" sindir Asyifa, sambil menatap William tajam.
Ucapan Asyifa itu, bukan hanya membuat William saja yang terkejut, tapi juga Zidan. Kedua pria itu tidak menyangka, Asyifa bisa mengatakan perkataan seperti itu.
"Sepertinya karna sudah lama tinggal jauh dariku, kamu menjadi semakin berani dan kurang ajar, yah? Tapi aku tidak perlu cemas, karna sebentar lagi kamu akan segera kembali tinggal bersama denganku. Dan saat itu, aku akan membuatmu kembali menjadi wanita yang penurut, seperti Asyifa yang dulu. Silakan gunakan waktumu sebanyak mungkin untuk bersenang-senanglah saat ini" ucap William, kemudian berjalan keluar dari sana.
Asyifa yang beberapa hari ini merasa tenang karna perceraiannya telah berada di depan mata, seketika menjadi takut jika semua itu tidak akan berjalan sesuai keinginannya.
Zidan yang seolah bisa turut merasakan kecemasan wanita itu, segera menggenggam erat tangan Asyifa untuk menguatkannya.
"Kamu tidak perlu cemas, Asyifa. Semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang kamu inginkan, percayalah padaku"
"Aku takut Zidan. Lihat saja, dia bahkan bisa tahu kalau aku sedang berada di rumah sakit saat ini. Bagaimana jika dia juga bisa dengan mudah, menggagalkan perceraian kami?"
"Aku rasa, William dengan sengaja menyewa orang untuk mengawasi setiap gerak-gerik dan keseharianmu, Asyifa"
"Apa?! Kenapa dia bisa melakukan hal gila seperti itu? Ya tuhan, aku tidak percaya kalau aku bisa sampai menikah dan hidup bersama dengan pria seperti itu"
"Kamu tidak perlu takut, Asyifa. Aku janji, akan mencari tahu siapa orang suruhan William itu, dan aku pastikan dia tidak bisa lagi mengikuti dirimu"
"Terima kasih, Zidan"
__ADS_1
Bersambung....