The Ugly Wife

The Ugly Wife
Kesedihan Asyifa


__ADS_3

Dengan langkah pelan dan tubuh yang masih lemas, Asyifa berjalan menaiki satu persatu tangga yang menuju ke atap rumah sakit.


Hari ini adalah hari ketiga Asyifa dirawat dirumah sakit seteleh mengalami keguguran. Dirinya yang masih merasa sangat terpukul akibat kehilangan sang calon buah hati, hanya bisa termenung setiap saat.


Asyifa tidak mengerti, kenapa hidupnya selalu penuh dengan musibah dan kemalangan, yang seolah tak pernah ada habisnya. Selain itu, tak adanya kehadiran William selama Asyifa dirawat, membuat wanita itu semakin terpuruk.


Entah kemana perginya dan apa yang sedang dilakukan pria itu, Asyifa tak tahu. Bahkan tak ada satu pun pesan atau telpon dari William yang menanyakan kabar serta keberadaan Asyifa.


"ASYIFA!" teriak Mira panik, saat melihat sosok Asyifa yang menyandarkan dirinya ke pembatas atap rumah sakit.


"Mira, ada apa?" tanya Asyifa lemas.


"Ada apa? Aku yang harus bertanya padamu, apa yang sedang kamu lakukan disini? Kamu jangan sampai melakukan hal bodoh, Asyifa!"


"Ah, maksudmu seperti melompat dari atas atap ini? Sebenarnya tadi sempat terpikirkan, tapi pasti akan terasa sakit sekali bukan? Aku penasaran, apa rasanya lebih sakit dari yang ku rasakan saat ini atau tidak yah?"


"Asyifa, jangan bicara seperti itu. Aku tahu memang tidaklah mudah untuk merelakan kepergian orang yang kita sayangi untuk selamanya, tapi sekalipun kamu melompat dari atas sini, bayimu tidak akan bisa kembali lagi Asyifa!"


"Aku tahu. Aku ingin melakukannya hanya untuk menghilangkan rasa sakit yang sangat menyakitkan ini, bukan untuk mengembalikan bayiku. Hidupku sudah berakhir, Mira"


"Siapa bilang hidupmu sudah berakhir Asyifa, sekalipun kamu kehilangan bayimu, tapi kami semua masih ada disini untukmu"


"Kalian masih ada, tapi keluargaku tidak ada. Suamiku bahkan tidak datang atau bahkan mencari kabar tentangku"


"Aku yakin, kalau kamu beritahu William tentang keadaanmu sekarang, dia pasti rela meninggalkan perjalanan bisnisnya hanya untul menemanimu disini" hibur Mira, sambil perlahan mendekat ke arah Asyifa.


"Dia tidak pernah pergi perjalanan bisnis, Ra. Hari aku mengalami keguguran, adalah hari dimana pertama kali dalam pernikahan kami, aku dan William bertengkar"


Yah, Asyifa memang beralasan jika tidak mau menghubungi William, karna pria itu sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Namun pada kenyataannya, pria itu masih di kota yang sama dengan mereka, namun Asyifa tidak tahu apa yang membuat William tidak ada kabar sama sekali.


Asyifa tidak menceritakan bahwa dirinya bertengkar dengan sang suami, hanya karna dia tidak ingin membuat Mira dan Angel menyalahkan William. Apalagi, itu hanyalah kesalahpahaman kecil yang disebabkan oleh dirinya sendiri.


"Be_bertengkar? Apa yang membuat kalian berdua bertengkar, Fa?" tanya Mira was-was, seolah takut jika Asyifa sudah mengetahui apa yang dilakukan William dibelakang wanita itu.


"Hanya karna kesalahpahaman kecil saja, Ra. Kamu pasti tahu betapa cemburuannya William kan? Dia cemburu melihat hubungan antata aku dan pak Zidan, karna terakhir kali yang menolongku adalah pak Zidan"


"Dia marah padamu, karna cemburu?"


"Iya. Sejak aku masuk rumah sakit, dia juga tidak pernah menghubungiku lagi. Aku mengerti mungkin dia memang masih marah, tapi yang paling aku butuhkan saat ini adalah dirinya" ucap Asyifa terduduk, dan mulai terisak.


Mira yang melihat hal itu, langsung mendekati Asyifa dan mulai memeluknya. Namun hati Mira, mempunyai firasat buruk setelah mendengar cerita sahabatnya itu. Mira seolah merasakan, kalau William sengaja mencari pertengkaran dengan Asyifa untuk menjauh darinya.


Firasat Mira mengatakan kalau saat ini, pasti William sedang bersama dengan wanita yang menjadi selingkuhannya. Tapi Mira tidak bisa mengatakan semua itu pada Asyifa, ia tidak ingin menambah luka lain dihati Asyifa setelah kehilangan bayinya.


"Apa yang harus aku lakukan, tuhan? Aku tidak bisa mengatakan semuanya pada Asyifa, tapi aku juga merasa bersalah jika harus menyembunyikannya" gumam Mira yang menjadi dilema, dalam hatinya.


Setelah beberapa saat, Asyifa yang sudah mulai berhenti menangis hanya bisa duduk termenung diatas atap sambil memandangi matahari berwarna merah jingga yang mulai terbenam di kejauhan.


"Hidupku sangat menyedihkan yah, Ra? Tak peduli seberapa kuat aku berusaha untuk bahagia, pada akhirnya aku akan tetap kembali ke posisi terendah" gumam Asyifa pada Mira, yang ikut duduk disebelahnya.


"Untungnya, aku memiliki William sebagai suami. Meski dia tidak didekatku saat ini, tapi aku yakin saat dia sudah tidak marah lagi, pasti tetap akan mencintaiku walaupun tidak ada lagi baby boy dalam rahimku" lanjutnya.


"Asyifa. Se_se_sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu tentang William" ucap Mira takut-takut.


"Ada apa dengan William? Kamu juga pasti setuju kan, dengan perkataanku barusan tentangnya. Dia adalah alasanku masih bisa bertahan sampai sekarang, dan tidak jadi melompat dari gedung ini"


"Ja_jadi, kalau William juga meninggalkanmu, apa kamu akan benar-benar bunuh diri?"


"Besar kemungkinannya. Aku memang punya kamu dan Angel, serta pak Zidan yang selalu ada untuk membantuku. Tapi suatu saat nanti kalian juga akan memiliki keluarga kalian sendiri, dan saat itu tiba, yang ada hanyalah William disampingku"


"Bagaimana jika aku dan Angel berjanji untuk tidak akan menikah dan memiliki keluarga sendiri? Apa kamu akan tetap bunuh diri jika kehilangan William?"


"Kenapa pertanyaanmu seperti itu, Ra? Apa kamu sebegitu tidak menyukai William? Dia sudah berjanji tidak akan mengecewakan aku lagi, Mira"


"Semua itu bohong, Asyifa! Buktinya saat ini, dia sedang berselingkuh dengan wanita lain dibelakangmu!" teriak Mira dalam hati.


"Astaga, aku tidak sadar jika hari sudah mulai malam. Udaranya juga dingin sekali, apa tidak sebaiknya kita segera kembali saja ke dalam kamarmu?" tanya Mira mengalihkan topik pembicaraan.


Mira merasa tidak sanggup jika harus terus mendengar betapa Asyifa mengelu-elukan William, tanpa mengetahui warna sebenarnya dari pria itu.

__ADS_1


Asyifa yang merasa tubuhnya juga mulai tidak enak dan sedikit menggigil terkena angin malam, hanya bisa menuruti perkataan Mira. Dengan perlahan, kedua sahabat itu berjalan turun kembali.


"Kalian dari mana saja?" tanya Angel yang tampaknya sudah mencari kedua wanita itu sedari tadi.


"Kami baru saja dari atap"


"Dari atap? Apa kamu gila, kenapa membawa Asyifa yang sedang sakit ke atas atap? Kalau terjadi apa-apa dengannya bagaimana?"


"Jangan memarahi Mira, Ngel. Aku sendiri lah yang pergi ke atap untuk mencari udara segar, dan Mira mengikutiku karna merasa cemas kalau-kalau aku melakukan tindakan yang membahayakan diriku" jelas Asyifa panjang lebar.


"Tapi kamu itu masih sakit, Fa. Kamu harus ada dalam ruanganmu sampai benar-benar pulih. Lihat sekarang, wajahmu menjadi jauh lebih pucat dari sebelumnya"


"Aku tidak apa-apa Angel, jadi tidak usah khawatir. Aku masuk ke dalam kamarku dulu yah, terima kasih karna sudah mencemaskan diriku" ucap Asyifa, kemudian berlalu dari hadapan Angel dan juga Mira.


"Sama-sama"


"Dimana Zidan?" tanya Mira setelah sadar tidak adanya sosok Zidan disana.


"Entahlah, dia dimana. Tadi kami berdua sama-sama menunggumu dan Asyifa disini, tapi tiba-tiba dia pamit pergi entah kemana"


"Kok, tumben. Biasanya dia akan tetap berada di dekat Asyifa, saat Asyifa sedang kesulitan seperti sekarang"


"Aku juga bingung. Tapi tadi aku tidak sengaja melihat, sepertinya Zidan sedang mengikuti sosok yang sepertinya adalah ayahnya dan juga Kinara"


"Apa? Mereka berdua sedang ada di rumah sakit ini juga, memangnya siapa yang dirawat disini?" tanya Mira penasaran.


"Itu juga yang membuatku penasaran. Tapi kayaknya, yang sakit adalah Kinara. Soalnya, tadi aku lihat dia menggunakan kursi roda yang didorong oleh ayahnya Zidan"


"Kursi roda? Apa dia baru saja mengalami kecelakaan, Ngel?"


"Bisa jadi juga, sih"


Sedang disisi lain, Zidan yang terlihat sedang mengikuti sosok Marcel dan juga Kinara, telah sampai di sebuah ruangan dokter yang bertuliskan dokter spesialis radiologi.


Kedua pasangan suami istri beda usia itu pun disambut hangat oleh sang dokter yang membukakan pintu. Ketika melihat wajah sang doktet, Zidan mengenalinya sebagai seorang teman lama ayahnya.


Pria tampan itu pun memutuskan untuk menunggu sampai keduanya keluar dari dalam ruangan dokter. Entah mengapa, dalam hati Zidan terbesit niat untuk mencari tahu lebih jauh.


Setelah beberapa lama, Marcel dan Kinara pun berjalan keluar diantar dokter. Zidan yang melihat hal itu, langsung masuk ke dalam ruangan dokter setelah memastikan mereka sudah benar-benar pergi.


"Zidan? Benar, kamu Zidan kan?"


"Iya dok, aku Zidan yang adalah anak dari pak Marcel yang baru saja keluar"


"Astaga, kamu sudah sebesar ini. Om agak lupa, karna terahir kali kita bertemu adalah saat kamu masih SMA. Tapi, ada apa kamu mendatangi ruangan om?"


"Begini om, aku ingin menanyakan sesuatu tapi aku harap om tidak memberti tahu ayaku jika aku pernah bertanya"


"Bertanya tentang apa? Silakan duduk terlebih dulu Zidan, biar lebih nyaman bicaranya"


"Baik. Jadi yang ingin aku tanyakan pada om, adalah mengenai alasan ayah dan juga ibu tiriku mendatangi om"


"Oh, soal itu. Itu karna Kinara mengalami kondisi yang memerlukan untuk di rontgen beberapa bagian tubuhnya"


"Rontgen? Memangnya apa yang sudah terjadi padanya, om?" tanya Zidan menjadi semakin penasaran.


"Kalau untuk itu, om tidak bisa mengatakan padamu Zidan. Bagaimana pun, om harus bisa menjaga hasil pemeriksaan pasien om. Tolong dimengerti, yah"


"Baiklah om, Zidan tidak akan memaksa. Kalau begitu Zidan pamit pergi, terima kasih untuk infonya dan maaf mengganggu waktu om"


"Sama-sama, Zidan"


*****


Sebuah mobil berwarna putih dengan tulisan Asyifa pada platnya, terlihat memasuki lahan parkir rumah sakit. Tak lama keluarlah sosok William yang menopang tubuh seorang wanita cantik yang adalah Aliya, menuju ke dalam rumah sakit.


Wanita itu terlihat lemas dan sangat pucat. Sesekali wanita itu juga terlihat sedang meringis kesakitan dan mengeluh kepada William, yang dengan penuh kasih sayang menghibur dirinya.


"Aku rasanya mau pingsan,Will"

__ADS_1


"Kamu yang sabar yah, sayang. Aku akan mendaftar ke resepsionis untuk membawa dirimu ke ruangan untuk dirawat"


Keduanya pun menuju ke meja resepsionis, setelah melakukan beberapa prosedur yang telah diwajbkan, Aliya pun dibawa ke ruangan khusus yang telah disiapkan.


Seolah takdir ingin mempertemukan mereka berdua dengan Asyifa, sehingga rumah sakit yang mereka masuki adalah rumah sakit yang sama dengan tempati oleh Asyifa. Bahkan kamar yang ditempati oleh Aliya, bersebelah dengan milik Asyifa.


Setelah William yang selesai menemani Aliya yang diperiksa oleh dokter, kemudian keluar dari ruangan untuk membeli beberapa barang yang sekiranya diperlukan oleh wanita yang ia cintai itu.


Tanpa terduga, William berpapasan dengan Zidan yang baru saja kembali dari ruangan dokter di depan kamar Asyifa. Keduanya pun menjadi sama-sama terkejut dan saling melempar tatapan permusuhan.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya William, mencoba menyembunyikan keterkejutannya.


"Bukannya aku yang harusnya bertanya seperti itu padamu? Apa yang kamu lakukan di depan kamar Asyifa, setelah menghilang tanpa kabar selama tiga hari dirinya di rawat di rumah sakit ini?!"


"Ka_ka_kamar Asyifa? Apa maksudmu dengan kamar Asyifa? Aku tidak mengerti" tanya William bingung.


"Kamu tidak tahu jika Asyifa dirawat di rumah sakit ini, lalu kenapa kamu ada disini sekarang? Apa kamu datang untuk menemui kenalanmu yang juga dirawat disini?"


"I_i_itu, itu, iya. Tapi dimana kamar Asyifa dirawat?"


"Di kamar ini"


William menjadi sangat gugup ketika tahu melihat jari Zidan mengarah ke pintu ruangan yang berada disamping ruangan Aliya. Pria itu seketika menjadi gelisa dan gugup.


Zidan yang menangkap gerakan dari William, menyadari akan ada sesuatu yang sedang disembunyikan olehnya. Zidan segera berjalan ke ruangan samping untuk melihat siapa yang berada di dalam sana.


"A_apa yang kamu lakukan?" tanya William, menghadang langkah Zidan.


"Aku hanya ingin mengecek pasien di kamar sebelah. Karna setahuku tadi dikamar itu belum terisi, dan sekarang sepertinya sudah terisi oleh seseorang"


"Untuk apa? Kamu kan tidak kenal dengan pasien di dalam, kenapa sampai ingin mengeceknya segala?"


"Memangnya kenapa? Minggir" pinta Zidan sambil mendorong tubuh William menjauh ke samping.


Ketika langkah Zidan sudah sampai di depan ruangan Aliya, tiba-tiba pintu ruangan Asyifa terbuka dan muncullah sosok Asyifa bersama kedua sahabatnya.


"William? Kamu datang untuk menjengukku? Kamu ternyata sudah tidak marah lagi dengan aku, yah. Terima kasih" ucap Asyifa segera memeluk tubuh suaminya.


"Ah, iya. Sama-sama"


William yang tidak tahu harus bagaimana, hanya bisa mengiyakan ucapan Asyifa tanpa ekspresi. Namun sedetik kemudian, William menyadari adanya perubahan pada tubuh Asyifa.


"Asyifa, apa yang sudah terjadi pada perutmu, kenapa bentuknya seperti itu?"


"I_itu, aku_aku_aku keguguran. Calon baby boy kita telah pergi untuk selemanya" jelas Asyifa mulai terisak, mengingat kembali hal yang beberapa lalu menimpa dirinya.


"Apa katamu? Kamu keguguran? Kenapa kamu bisa seceroboh itu, Asyifa? Ini semua karna keinginanmu yang bersikeras untuk tetap bekerja, lihatlah sekarang apa yang terjadi!" mara William.


Pria itu terlihat sedih mendengar kabar yang disampaikan oleh Asyifa, namun pikirannya tetap dipenuhi oleh Aliya. Ia memarahi Asyifa lebih banyaknya, karna ingin mencegah Zidan untuk membuka pintu ruangan Aliya.


Melihat Asyifa yang dimarahi, Mira menjadi tidak terima dan ingin maju untuk berhadapan dengan William. Namun dengan cepat, Angel menahan tangan Mira. Angel bisa memahami jika William menjadi marah dan juga sedih, namun ia memang menyayangkan amarah pria itu dilampiaskan pada Asyifa.


"Maaf William. Ini semua memang salahku, aku tidak akan menyangkal atau beralasan. Aku merasa bersalah padamu, tapi aku juga merasa sangat kehilangan, Will"


"Cukup! Tidak usah bicara apa pun lagi, aku muak melihat dan mendengar setiap ucapan darimu! Dengar Asyifa, aku menyesal sudah menikah denganmu!"


"William? Kenapa kamu tega bicara seperti itu padaku, aku ini istrimu" tanya Asyifa kaget, sambil berusaha menyetuh lengan suaminya namun ditepis dengan kasar.


"Apa-apaan kamu! Kenapa sekasar itu pada Asyifa?" teriak Zidan emosi.


Zidan yang tidak terima Asyifa diperlakukan seperti itu, pun menarik kerah William untuk menantang pria itu berkelahi. William yang juga mulai tersulut emosi segera meladeni tantangan William.


Aliya yang berada di ruangan sebelah dan mendengar suara ribut-ribut dari luar, menjadi penasaran. Wanita itu pun dengan susah payah berjalan ke arah pintu, untuk melihat apa yang sedang terjadi. Apalagi suara orang yang sedang ribut itu, salah satunya adalah milik William.


"William, sayang? Apa yang sedang terjadi, aku mendengar ada keributan" tanya Aliya sambil membuka pintu ruangan, membuat semua orang yang ada disana menatapnya terkejut.


"Si_siapa dia? Kenapa dia memanggilmu dengan sebutan sayang, Will?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2