The Ugly Wife

The Ugly Wife
Liburan dimulai


__ADS_3

Pagi ini adalah hari dimana semua karyawan Zidan akan pergi berlibur 3 hari lamanya.


Semua orang tiba tepat waktu dan berkumpul bersama, untuk melakukan prosedur awal sebelum menaiki kendaraan yang akan digunakan.


Melihat banyaknya kendaraan berjejer yang terparkir di depan perusahaan, membuat Angel dan juga Mira semakin tidak sabar untuk segera menaikinya.


Sedang Asyifa tengah sibuk mengarahkan para rekannya untuk mengisi daftar hadir satu per satu, di awasi oleh Zidan.


"Semuanya jangan berkumpul saja disitu, ayo maju satu-satu untuk mengisi daftar hadir terlebih dahulu" teriak Asyifa yang mulai kewalahan.


Mungkin karena ini adalah kali pertama mereka mengadakan acara perusahaan, jadi semua orang nampak sangat antusias dengan busana yang mereka kenakan.


Mereka juga mulai membahas rencana tentang apa yang akan mereka lakukan saat tiba di tempat yang akan mereka datangi.


Hanya beberapa orang saja yang tampak menuruti instruksi dari Asyifa.


Melihat tingkah para karyawan yang tak patuh, Zidan pun bergegas mengambil alih pengeras suara dari tangan Asyifa.


"Saya akan memberikan semua orang yang ada disini waktu setengah jam untuk mengisi daftar hadir. Bagi siapa yang tidak mengisi daftar hadir dalam kurun waktu yang saya berikan, maka dia tidak boleh ikut pergi berlibur!"


Mendengar ucapan sang bos, semuanya mulai menjadi panik. Mereka saling dorong untuk bisa berlomba maju ke barisan paling depan.


"Siapa yang menyerobot antrian dan tidak tertib, akan langsung saya usir pulang!" ucap Zidan kembali mengeluarkan aturannya.


Setelah Zidan turun tangan, pekerjaan Asyifa menjadi lebih mudah dan cepat terselesaikan. Para karyawan pun mulai menaiki kendaraan satu persatu berdasarkan nomor urut daftar hadir.


"Asyifa, sini!" panggil Mira yang duduk bersebelahan dengan Angel, saat melihat Asyifa menaiki bus.


"Bangkunya hanya muat untuk dua orang Mira, bagaimana aku bisa duduk bersama kalian berdua?"


"Tenang saja, kita bisa berdempetan. Lagian, bangku yang tersisa hanya di bagian paling depan, apa kamu ingin duduk sendiri disana?"


"Tapi bukannya tidak nyaman yah Ngel, kalau duduk berdempetan selama perjalanan? Kita akan berada dalam bus selama 2 jam loh"


Mendengar ucapan Asyifa, kedua gadis itu mulai mencari akal lagi agar mereka bisa tetap duduk bertiga.


"Asyifa, apa yang kamu lakukan disitu?" tanya Zidan yang baru saja naik ke atas bus.


"Pak Zidan, bapak sedang apa di dalam sini? Jangan bilang bapak juga akan ikut menaiki bus ini, bukannya bapak bisa pergi dengan mengendarai mobil?" tanya Asyifa keheranan melihat sang bos ada dalam bus mereka.


"Saya juga ingin bisa bersantai selama dalam perjalanan, memangnya kalian saja yang ingin bersantai?"


"Menurut saya juga begitu, bapak memang butuh lebih banyak waktu untuk bersantai" ucap Angel setuju dengan Zidan.


"Lalu, apa yang Asyifa lakukan di situ, semua bangku kan sudah penuh"


"Kami akan duduk bertiga disini pak"


"Jangan aneh-aneh kamu Mira, saya tahu kalau kalian bertiga itu adalah sahabat sejati yang tidak bisa terpisahkan. Tapi jangan juga membuat sengsara diri kalian selama perjalanan dengan duduk berdempetan seperti itu! Ayo Asyifa, duduk bersama saya di bangku depan"


"Ide bagus. Sana Asyifa, duduk bersama pak Zidan" ucap Angel mendorong tubuh Asyifa, dibantu oleh Mira.


Asyifa yang tidak punya pilihan lain, hanya bisa menuruti perintah ketiga orang itu.


Setelah Asyifa dan Zidan duduk di bangku mereka, bus pun langsung berangkat.


"Oh iya pak Zidan, apakah Kinara dan ayah pak Zidan juga akan datang ke tempat acara kita?" tanya Asyifa membuka pembicaraan.


"Aku tidak mengundang mereka, jadi mereka tidak akan datang"


"Lalu, kenapa Kinara menanyakan alamat tempat acara kita padaku? Mungkin mereka ingin memberikan kejutan untuk pak Zidan!"


"Apa kamu bilang, Kinara menanyakan alamat tempat acara kita padamu? Kamu tidak mengatakannya bukan?"


"Aku mengatakannya pak"


"Astaga Asyifa. Kamu kan juga melihatnya sendiri, kalau aku sangat membenci Kinara dan juga Ayahku!"


"Tapi dia kan keluarga pak Zidan, dan aku hanyalah seorang sekretaris yang digaji tiap bulannya, mana mungkin aku berani untuk menolak mengatakannya"


"Sudahlah. Biar aku sendiri saja yang akan mengusir dua orang itu, kalau benar mereka sampai datang"


"Jangan pak! Apa bapak tega melakukan hal seperti itu di depan semua karyawan bapak yang hadir? Setidaknya jagalah harga diri pak Marcel, sebagai seorang ayah"


"Asyifa, kamu itu terlalu ikut campur. Awas kalau kamu berani menghalangiku, aku akan langsung memecatmu saat itu juga!" ancam Zidan tanpa ampun.


Asyifa baru saja ingin memprotes ucapan bosnya itu, namun Zidan sudah lebih dulu memasangkan earphone ke telinganya untuk menghindari Asyifa.


Melihat tingkah Zidan yang seperti itu, membuat Asyifa menjadi sangat kesal. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain berdiam diri sambil memainkan ponsel ditangannya.


Setelah menempuh waktu 2 jam selama perjalanan, akhirnya bus yang Asyifa naiki dan bus lainnya sampai di tempat yang dituju.


Semua orang yang merasa penat selama perjalanan, seketika menjadi kembali bersemangat dan berlomba untuk segera turun.


Beberapa staf hotel yang sudah menanti kedatangan mereka, bergegas untuk menghampiri Asyifa.


Mereka menyerahkan sebuah kotak yang di dalamnya terdapat banyak kartu akses masuk ke dalam kamar hotel.


"Mohon perhatian semuanya. Aku akan membacakan nama kalian untuk pembagian kamar, dan setelah itu silakan maju untuk mengambil kartu akses"


Berbeda dengan saat pengisian daftar hadir, pembagian kamar berjalan dengan cepat. Mungkin karena semua orang ingin cepat beristirahat karna kecapaian.


"Setelah ini kalian boleh beristirahat. Tapi jam 7 nanti, kita semua harus berkumpul kembali di restoran hotel untuk makan malam bersama" ucap Zidan sebelum membubarkan semua orang.


"Akhirnya bisa istirahat juga" ucap Asyifa sambil menarik kopernya menuju kamar hotel diikuti oleh Angel dan juga Mira.

__ADS_1


"Untung saja kita bertiga mendapat kamar yang sama. Aku malas sekali jika harus sekamar dengan orang lain selain kalian berdua" ucap Mira gembira.


"Ini semua pasti berkat pak Zidan. Lihat saja, semua orang dibagi menjadi 5 orang setiap kamar, sedang kita hanya bertiga"


"Benar juga kata Angel! Wah, aku menjadi sangat setuju jika pak Zidan jadian dengan Asyifa. Aku pasti akan menjadi pendukung dukung nomor satunya!"


"Aku juga akan menjadi pendukungnya!"


"Apaan sih kalian. Dari kemarin bicaranya aneh-aneh saja" gerutu Asyifa sambil mempercepat langkahnya.


*****


Jam menunjukkan tepat pukul 7 malam saat Kinara dan Marcel tiba di tempat acara ulang tahun perusahaan Zidan diadakan.


Berkat informasi yang didapatnya dari Asyifa, Kinara pun memutuskan untuk datang saat waktu makan malam bersama.


Kedua pasangan suami istri yang jauh berbeda usianya itu, melangkah masuk ke dalam restoran mewah yang sudah dipenuhi oleh banyak orang.


Semua orang yang ada disana, memandangi keduanya dengan tatapan penuh tanya.


"Siapa mereka? Bukannya pak Zidan sudah memesan tempat ini khusus hanya untuk para karyawan perusahaan kita?" bisik salah seorang karyawan yang ada disana.


Zidan yang merasa penasaran dengan kegaduhan tersebut, kemudian menatap ke arah pandangan semua orang tertuju.


Betapa kaget dan marahnya Zidan saat mendapati sosok Kinara dan juga Marcel yang dengan santainya sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar.


"Apa yang sedang kalian berdua lakukan di acara perusahaanku?" tanya Zidan setelah berhadapan dengan kedua orang itu.


"Selamat untuk perayaan hari ulang tahun berdirinya perusahaanmu Zidan, semoga semakin sukses. Aku dan ayahmu sengaja datang ke sini, untuk memberikan ucapan selamat padamu"


"Selamat yah anakku, kamu benar-benar putra yang sangat membanggakan" ucap Marcel sambil maju memeluk tubuh Zidan.


Setelah Marcel melepaskan pelukannya, kini gantian Kinara yang ingin maju memeluk pria itu. Namun Zidan yang enggan dipeluk, dengan spontan mendorong tubuh Kinara menjauh.


Kinara yang tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu pun kehilangan keseimbangannya.


Tubuhnya mundur beberapa langkah ke belakang, dan tanpa sengaja menginjak ujung gaun panjangnya hingga sobek sampai memperlihatkan sebagian paha kirinya yang putih mulus.


Tak hanya sampai situ. Ia yang semula ingin meraih meja didekatnya untuk berpegangan, malah meraih taplak meja yang membuat semua minuman diatas jatuh membasahi tubuhnya.


"Astaga!" pekik semua orang yang ada disana terkejut.


Asyifa yang baru saja tiba pun ikut terkejut dan segera berlari ke arah Kinara untuk membantu wanita itu.


"Ibu Kinara!" panggil Asyifa sambil membantu Kinara bangkit.


Marcel yang terdiam sesaat karena saking terkejutnya, segera melepaskan jas yang melekat ditubuhnya kemudian memakaikannya pada tubuh istri mudanya itu.


"Kamu baik-baik saja kan, Kinara?" tanya Marcel khawatir.


"Kenapa kamu tega sekali melakukan itu kepada Kinara, Zidan? Kinara selalu mencoba untuk menebus kesalahannya padamu, apa tidak bisa kamu sedikit saja menghargai usahanya dan memaafkan dirinya?"


"Aku tidak butuh apa pun darinya, ayah. Kalau memang dia ingin menebus kesalahannya dan ingin aku memaafkannya, suruh dia untuk memutar kembali waktu supaya tidak hadir dalam hidupku. Baru lah akan aku berikan maafku untuknya!"


"Itu mustahil Zidan!"


"Jika itu mustahil, maka jangan berharap aku bisa memaafkannya. Karna itu juga sama mustahilnya untuk diriku!"


Marcel tampak ingin mengangkat tangannya untuk menampar Zidan, namun dihentikan oleh Kinara.


"Jangan sayang. Kamu sudah berjanji padaku untuk tidak memakai kekerasan terhadap Zidan. Lagipula, aku baik-baik saja"


"Ayah mendengarnya kan, wanita itu sendiri mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Jadi silakan ayah bawa istri muda ayah itu, untuk segera pergi dari sini!"


"Kamu lihat saja, ayah akan membuatmu menyesal karena sudah berani melakukan hal ini terhadap Kinara!" ucap Marcel sambil menuntun Kinara untuk segera pergi dari sana.


"Aku memang sudah menyesal, aku sangat menyesal karna mempunyai ayah sepertimu!" teriak Zidan sebelum dua orang itu hilang dari pandangannya.


Setelah kejadian itu, semua orang tampak diam dan tak tahu harus berbuat apa. Mereka seolah takut akan ikut terkena amukan amarah dari Zidan.


Hanya Asyifa yang dengan berani mulai membersihkan tempat yang terkena tumpahan minuman, tanpa memperdulikan sosok Zidan yang masih berdiri di tempatnya semula.


"Apa yang kalian lakukan, kenapa berdiri diam disitu? Apa kalian semua tidak ada yang lapar, sampai membiarkan makanan yang sudah tersedia dimakan oleh lalat?" tanya Asyifa mencoba mencairkan suasana.


Mendengar ucapan Asyifa, semua orang kemudian kembali melakukan aktivitas mereka seperti semula.


Angel dan Mira memilih untuk mengambil alih pekerjaan Asyifa, saat melihat isyarat yang diberikan gadis itu pada keduanya.


"Apa bapak akan berdiam diri terus seperti itu disini? Ayo ikut aku, bapak juga harus segera mengganti pakaian" ucap Asyifa sambil menarik tangan Zidan untuk mengikutinya.


"Memangnya, ada apa dengan pakaianku?" tanya Zidan bingung sambil menatap pakaian yang dipakainya.


Ternyata bagian bawah jas dan celananya, juga ikut terkena cipratan minuman yang tumpah, sehingga meninggalkan noda hitam yang berbekas disana.


"Jangan bilang kalau bapak akan tetap berada diacara makan malam dengan menggunakan pakaian penuh noda seperti itu?"


"Tentu saja tidak! Aku pasti akan segera pergi menggantinya tanpa kamu suruh, kalau saja aku menyadarinya lebih dulu"


"Baguslah. Silakan masuk dan ganti pakaian pak Zidan, aku akan menunggu di luar. Panggil saja aku, jika bapak membutuhkan sesuatu" ucap Asyifa setelah mereka sampai di depan kamar yang ditempati oleh bosnya itu.


Setelah Zidan selesai mengganti pakaiannya dengan yang baru, mereka pun kembali ke tempat acara, dan melanjutkan acara makan bersama seolah tak ada kejadian apa pun.


Semua orang seolah lupa sesaat akan hal itu, dan menikmati waktu dengan gembira hingga acara malam itu berakhir.


*****

__ADS_1


Asyifa terbangun dari tidurnya, saat merasakan sinar matahari yang menyilaukan mengenai wajahnya.


"Morning Asyifa" sapa Angel dan Mira bersamaan. Keduanya tampak sudah rapi dengan pakaian santai dan juga berdandan cantik.


"Jam berapa sekarang, kenapa kalian berdua sudah rapi saja?" tanya Asyifa masih dengan setengah mengantuk.


"Sekarang sudah jam 8 pagi, jamnya sarapan pagi. Ponselmu sudah berbunyi sebanyak 4 kali dari tadi, dan semuanya adalah panggilan dari bos kita" ucap Mira sambil melihat wajahnya sekali lagi di depan cermin.


"APA? Kenapa kalian tidak membangunkan ku dari tadi!" protes Asyifa sambil bangkit dari tidurnya dan segera berlari ke kamar mandi.


"Aku dan Mira sudah membangunkanmu berulang kali, tapi kamu tidak juga mau bangun. Jadi jangan salahkan kami berdua, tapi salahkan dirimu sendiri" ucap Angel balas memprotes pada Asyifa.


Asyifa yang mendengar ucapan Angel, hanya bisa menarik rambutnya kesal.


"Ini semuanya terjadi karna pak Zidan! Coba saja dia tidak memberikan banyak sekali tugas padaku, dan menyetujui untuk mengambil seorang sekretaris lagi. Aku pastinya tidak akan kecapaian dan ketiduran seperti ini!"


"Sabar Asyifa. Kan kalau cuma kamu yang jadi sekretaris pak Zidan, gajimu semakin besar dan banyak juga bonus yang akan kamu terima. Tidak akan lama lagi, kamu juga bisa menjadi orang kaya seperti pak Zidan!"


"Benar kata Mira, Fa! Jangan pikirkan yang tidak enaknya saja, pikirkan juga betapa beruntungny dirimu menjadi sekretaris pak Zidan"


"Benar juga kata kalian. Tapi sebelum aku menjadi kaya seperti pak Zidan, aku mungkin akan mati muda duluan karna kecapaian bekerja rodi setiap hari seperti ini!"


Angel dan Mira yang mendengar ucapan spontan Asyifa pun tertawa terbahak-bahak.


Asyifa keluar dari kamar mandi dengan wajah kesal, dan mulai bersiap secepat yang dia bisa tanpa mempedulikan kedua sahabatnya itu.


"Kalian tidak pergi sarapan?" tanya Asyifa pada Angel dan juga Mira, yang mulai sibuk berselfie ria di ponsel Angel.


"Kami kan bukan sekretaris bos, jadi kami tidak perlu terburu-buru untuk pergi sarapan tepat waktu. Bukan begitu Angel?"


"Betul sekali. Asyifa, ayo berfoto sekali bersama kami sebelum kamu pergi"


"Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin membuat pak Zidan menunggu lebih lama lagi"


"Yah sudah, kalau begitu kita berfotonya nanti saja saat Asyifa sudah tidak sibuk lagi" usul Mira pada Angel.


"Astaga, kalian tidak harus sampai seperti itu hanya karena diriku. Lakukan lah apa yang ingin kalian lakukan tanpa aku, guys. Karna aku juga tidak tahu, kapan bisa mempunyai waktu bersantai bersama kalian"


"Tidak bisa, kita kan sahabat. Jadi, kami akan menunggumu juga. Ayo kita pergi sarapan bersama" ajak Angel.


Saat sampai di restoran, Asyifa melihat Zidan yang sudah mulai sarapan bersama dengan Marcel dan juga Kinara dihadapannya.


"Apa mereka sudah berbaikan? Kenapa tadi malam pak Zidan semarah itu pada Kinara, Fa?" tanya Angel penasaran.


"Kamu kenal wanita itu, Ngel?"


"Iya. Maksudku, tidak sengaja kenal juga sih. Aku berkenalan dengannya, sewaktu aku membantu pekerjaan Asyifa di ruangan Asyifa"


"Apa kamu tahu alasan kenapa pak Zidan semarah itu padanya, Fa?" tanya Mira ikutan penasaran juga.


"Kalian berdua ini, kenapa malah sibuk dengan urusan orang lain sih? Mendingan, kita cari tempat duduk lain untuk sarapan saja" ajak Asyifa mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kamu tidak sarapan bersama pak Zidan?"


"Pak Zidan kan sudah sarapan ditemani sama keluarganya, Ra. Masa Asyifa seenaknya datang bergabung, kan tidak sopan"


"Memang betul ucapanmu Ngel, tapi kayanya pak Zidan tidak sependapat denganmu. Buktinya, sekarang dia menuju ke arah kita"


Mendengar ucapan Mira, Asyifa yang tidak percaya segera berbalik untuk memastikan. Benar saja, Zidan sedang berjalan dengan langkah cepat ke arahnya.


"Pak Zidan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Asyifa cepat, saat pria itu telah berada di depannya.


"Ayo sarapan bersamaku!"


"Tapi bukannya, pak Zidan sedang sarapan bersama ayah pak Zidan dan juga bu Kinara? Kenapa harus mengajak saya lagi?"


"Aku merasa tidak nyaman sarapan bersama mereka. Oleh karena itu, kamu harus ikut sarapan bersama kami. Atau kamu lebih ingin aku mengusir mereka seperti semalam?"


"Jangan! Baiklah, aku akan ikut sarapan bersama dengan bapak. Angel, Mira, tidak apa-apa kan kalau aku tidak sarapan bersama kalian?"


"Tentu saja tidak apa-apa. Aku dan Mira tidak masalah jika harus sarapan berdua saja kok" ucap Angel yang disetujui oleh Mira dengan anggukan kepala.


"Baguslah, kalau begitu aku pinjam sahabat kalian sebentar" ucap Zidan sambil menarik tangan Asyifa ke arah mejanya.


Sesampainya disana, Marcel menatap Asyifa dengan tatapan heran.


"Kamu bukannya gadis yang membantu istriku semalam? Siapa namamu?"


"Benar pak. Nama saya Asyifa, Saya adalah sekretaris pak Zidan"


"Terima kasih atas bantuanmu semalam, Asyifa. Tapi, apa yang ingin kamu lakukan di meja kami?"


"Dia akan sarapan bersama kita ayah. Aku hanya nyaman berada di dekat Asyifa, jadi aku harap kalian tidak keberatan jika Asyifa bergabung bersama kita"


Kinara yang mendengar ucapan Zidan, tanpa sadad menatap Asyifa dengan tatapan tidak suka. Namun ia segera menepis perasaan jeleknya itu, takut terlihat oleh Zidan.


"Tentu saja tidak masalah, Zidan. Aku juga merasa nyaman saat berada di dekat Asyifa, dia seperti menyalurkan energi positif pada orang disekitarnya" ucap Kinara sambil melemparkan senyum indahnya.


"Bukan cuma Asyifa yang seperti itu sayang, tapi kamu juga sama. Apa kamu tidak menyadarinya sama sekali?" tanya Marcel sambil mengusap puncak kepala Kinara dengan mesra.


"Asyifa, ayo duduk disebelahku dan nikmati sarapanmu" ucap Zidan, tidak menanggapi percakapan kedua suami istri itu.


Asyifa hanya bisa menuruti perintah Zidan dan duduk disana dengan patuh.


Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka sepanjang waktu sarapan, membuat Asyifa yang berada disana merasa seolah dicekik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2