The Ugly Wife

The Ugly Wife
Minuman


__ADS_3

Saat jam istirahat berlangsung, Zidan yang memang sudah terbiasa untuk makan siang di kantin kantor selama menjadi tunangan Asyifa, melakukan rutinitas itu seperti biasa.


Yang berbeda hanyalah tempat duduk dari pria itu yang berubah tak lagi disamping Asyifa. Sontak saja hal itu membuat Angel dan juga Mira menjadi bingung.


Apalagi ekspresi Zidan saat memasuki kantin terlihat sangat tidak ramah dan cuek, sama seperti ekspresi yang biasa ditampilkannya saat belum menyatakan cinta pada Asyifa.


"Fa, apa kamu sama pak bosa kita sedang bertengkar? Kenapa ekspresi wajahnya kayak yang mau nerkam orang hidup-hidup?" tanya Mira penasaran.


"Ah, sebenarnya itu, iya sih. Kami memang sempat bertengkar kecil sebelum berpisah kemarin, tapi nanti juga baik lagi kok"


"Memangnya kalian berdua bertengkar karna apa? Kalau memang hanya karna hal sepele saja, mendingan langsung dibicarakan dan juga diselesaikan secara baik-baik"


"Benar kata Angel. Tidak bagus kalau kamu dan Zidan, membiarkan masalah diantara kalian menjadi semakin lama. Apa kamu mau kalau ada cewek lain yang dengan sengaja mengambil kesempatan untuk mendekatinya, saat hubungan kalian sedang renggang seperti sekarang?"


"Hush! Kenapa sih kalau setiap kali kamu bicara tidak pernah diperhalus bahasanya? Asyifa dan Zidan itu hanya bertengkar kecil, mana bisa dibilang hubungannya renggang" tegur Angel tak terima.


"Loh, walaupun tidak renggang yang sampai hampir pisah, tapi tetap saja kan renggang namanya. Lihat saja tingkah mereka berdua yang tidak saling bertegur sapa seperti orang asing, dan juga duduk berjauhan"


"Iya juga sih. Tapi tetap saja kamu tidak boleh sampai bilang ada wanita lain dihubungan mereka, bagaimana kalau ucapanmu itu nanti malah jadi kenyataan? Kan setiap ucapan adalah doa!"


"Iya, iya, maaf"


"Aduh, kenapa jadi kalian berdua yang ribut sih soal pertengkaranku sama Zidan? Aku kan sudah bilang tadi, kalau nanti juga pasti kami akan baikan lagi kok. Jadi kalian berdua tenang saja, oke?" ucap Asyifa mencoba menengahi kedua sahabatnya.


"Iya, kita percaya sama ucapanmu. Cuman kamu kan juga tahu kalau yang selevel Zidan itu, banyak yang suka. Apalagi kalau cewek yang suka sama dia ketemunya malah di bar, bisa panjang urusannya!" ucap Mira, sengaja kembali memanas-manasi Asyifa.


"Kenapa bisa urusannya jadi panjang? Apa karna kebanyakan cewek yang biasa kesana itu, adalah cewek-cewek yang kurang baik yah pergaulannya?"


"Meski tadi aku tidak setuju sama Mira, tapi untuk yang masalah bar ini aku sangat setuju. Cewek yang datang kesana bukan hanya kebanyakan cewek dengan pergaulan kurang baik saja, tapi mereka juga orang yang nekat kalau sudah menargetkan sesuatu" timpal Angel yakin.


"Maksudnya target itu, Zidan? Astaga, mana mungkin pria seperti Zidan mau bersama mereka, kalian berdua kan juga tahu seperti apa sifat pria itu. Bahkan yang secantik artis juga tidak akan kelihatan dimatanya!"


"Iya sih, memang ada benarnya omonganmu itu Fa. Bahkan selevel Kinara juga tidak dilihat lagi oleh Zidan, dan dia lebih memilih untuk mengejar cintamu"


"Apaan sih Ra, kenapa jadi bawa-bawa nama si Kinara segala sih? Dia itu kan mantannya Zidan, tandanya dia juga pernah terlihat di mata Zidan. Cuman karna kebodohannya saja makanya dia kehilangan pria sebaik Zidan, jadi kamu jangan sampai seperti itu Fa" ucap Angel mengingatkan.


Namun sayangnya, Asyifa memang sedang dan mungkin sudah kehilangan sosok Zidan dalam hidupnya, karna pilihannya yang lebih ingin berfokus pada kesembuhan Eden.


Asyifa yakin, kalau sampai berita dirinya yang sudah berpisah diketahui oleh Angel atau pun Mira, pastinya kedua gadis itu tidak akan tinggal diam.


Dengan hanya membayangkannya saja, Asyifa sudah bisa menebak saran apa yang akan mereka berikan padanya. Dibandingkan dengan Eden yang baru dikenalnya beberapa waktu lalu, tentunya Zidan yang sudah lama dikenal dan banyak membantu Asyifa, akan menjadi pilihan keduanya.


Tapi meski begitu, pilihan Asyifa akan tetap jatuh pada kesembuhan Eden, karna tingginya rasa kemanusiaan dalam hatinya. Tapi alasan sebenarnya Asyifa tidak memberitahukannya adalah, karna tak ingin memghabiskan waktu untuk berdebat dengan keduanya.


"Asyifa? Hei, Asyifa!"


"Ah, iya Ra. Ada apa?"


"Astaga, bisa-bisanya kamu malah asyik melamun seorang diri, disaat aku dan Angel sebagai sahabat yang baik sedang memberi nasihati untuk masalah percintaanmu"


"Aku melamun yah tadi? Ya ampun, aku tidak sadar sama sekali kalau sudah melamun. Maafkan aku Ra, Ngel" ucap Asyifa meminta maaf, karna merasa bersalah.


"Memangnya apa yang sedang kamu pikiran tadi dalam otakmu itu, sampai tidak bisa fokus sama sekali dengan pembicaraan kami berdua, dan malah melamun?"


"Hanya sedang terpikirkan soal masalah pekerjaan saja kok Ra, jadi tidak perlu cemas. Oh iya, aku juga merasa berterima kasih sekali karna kalian berdua sudah menaruh perhatian terhadap hubunganku dan Zidan"


"Iya sama-sama. Tapi aku tiba-tiba saja merasa penasaran deh, kenapa bu Kinara sudah tidak pernah datang lagi ke kantor ini untuk mengganggu Zidan yah?"


"Mira, Mira. Kamu itu kadang aneh-aneh saja yah jalan pikirannya. Untuk apa kamu malah mencari orang yang kehadirannga jelas-jelas hanya membuat keributan, dan masalah? Bukannya akan jauh lebih baik kalau dia tidak muncul lagi seperti sekarang?" jawab Angel, terlihat sedikit kesal.


"Ya iya sih, kata-katamu ada benarnya. Tapi apa kamu tidak merasa penasaran sama sekali, tentang reaksi yang akan ditunjukkan olehnya saat mengetahui kalau Asyifa dan Zidan sudah bertunangan, sekaligus mereka berencana untuk menikah?"


Mendengar pertanyaan Mira, rasa penasaran pun ikut muncul di dalam hati Angel tanpa bisa dicegah. Secara spontan, kedua gadis itu malah langsung melempar tatapan penuh tanya ke arah Asyifa.


Seketika Asyifa menjadi terkejut, dan ingin menghindarinya saja, karna memang tidak ada yang bisa diceritakan olehnya. Selama dirinya menjadi tunangan Zidan dalam kurun waktu yang singkat itu, ia sama sekali tidak pernah bertemu Kinara.


Bahkan bertemu dengan Marcel yang adalah ayah Zidan pun tidak pernah. Asyifa hanya sempat bertemu dengan Lilian yang memberi selamat padanya dan juga Zidan, sebelum wanita itu pergi ke luar negeri untuk memulai bisnisnya sendiri.


Meskipun waktu itu Asyifa bisa saja bertanya pada Zidan tentang kabar Marcel dan juga Kinara, namun Asyifa memilih untuk tidak melakukannya, karna memang Zidan terlihat tidak terlalu ingin membicarakan keduanya.

__ADS_1


"Maaf guys, tapi aku tidak bisa mengatakan apa-apa tentang reaksi Kinara kepada kalian berdua, karna sebenarnya aku sendiri tidak pernah bertemu lagi dengannya"


"Masa sih? Apa Zidan tidak pernah sekali pun membawamu pergi menemui ayahnya dan juga Kinara, untuk mengabarkan tentang berita pertunangan kalian?" tanya Angel yang juga ikut penasaran


"Memang tidak pernah, itulah mengapa aku juga tidak lagi bertemu dengan Kinara. Zidan sendiri tidak membicarakan tentang ayahnya dan Kinara padaku, jadi aku juga tidak ingin memulai pembicaraan tentang hal itu"


"Astaga, betapa buruknya hubungan Zidan dengan ayahnya karna adanya Kinara. Jika di masa depan nanti kalian telah resmi menikah, kamu harus bisa menjadi pemersatu kedua pria itu Asyifa"


"Hahahah. Apa-apaan itu pemilihan katamu, pemersatu? Ya ampun Mira, aku jadinya geli sendiri mendengarnya" ejek Angel, tiba-tiba tertawa sendiri.


"Abaikan saja dia Fa, memang biasa begitu kalau jam kalemnya hilang dan sedang ganti sama jam erornya. Sekarang ada yang lebih penting, yang ingin aku bicarakan denganmu"


"Lagi? Kali ini tentang apa?"


"Tentang pernikahanmu dengan Zidan. Karna tadi tanpa sengaja membasah soal dirimu yang menikah dengan Zidan, aku jadinya ingin tahu sudah seberapa jauh persiapan kalian dalam melangsungkan berita baik itu?"


"Me_menikah?"


"Iya, menikah. Pastinya kamu dan Zidan sudah pernah membahasnya sesekali kan, dan menyiapkan beberapa hal paling penting untuk pernikahan kalian, bukan?"


"Ah, iya. Begitulah" jawab Asyifa seadanya.


Asyifa yang mendapay pertanyaan kapan akan menikah dengan Zidan, tanpa sadar memalingkan tatapannya ke samping untuk melihat pria itu.


Dan ternyata, Zidan juga sedang melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Asyifa. Dengan begitu, tatapan kedua orang yang baru saja mengakhiri hubungan mereka semalam, bertemu tanpa sengaja.


Melihat mata Zidan yang sayup dan juga sedikit memerah, Asyifa dapat menebak dengan pasti kalau semalam Zidan telah menenggelamkan dirinya dalam pengaruh alkohol yang kuat.


Karna meski tidak pernah menemani pria itu minum alkohol, tapi Asyifa selalu mendapati keadaan Zidan seperti itu setiap bangun di keesokan harinya setelah semalam minum alkohol dengan para klien.


"Astaga, apa tatapan Asyifa dan juga Zidan sedang bertemu sekarang tanpa sengaja?" ucap Angel, menyadarinya.


"Sepertinya begitu. Tapi lihatlah tatapan itu, sangat menyedihkan untuk bisa dibilang romantis seperti di film-film. Apa tidak ada cara yang bisa membuat keduanya bisa saling melempar senyuman?" jawab Mira, terlihat kesal.


"Entahlah. Aku tidak punya ide sama sekali untuk mengabulkan momen seperti katamu. Tapi kalau kamu punya, untuk kali ini akan aku dukung dengan sukarela"


"Baiklah, aku akan beraksi!"


Dan yang paling membuat Angel serta Mira kesal, adalah karna yang mengakhirinya adalah Asyifa, bukannya Zidan. Padahal pria malang itu masih tetap menatap Asyifa dengan pandagan sedih penuh luka.


"Asyifa! Apa yang sudah kamu lakukan tadi, kenapa malah memalingkan mukamu begitu saja saat Zidan masih memandangimu? Apa kamu ingin Zidan berpikir kalau kamu tidak ingin berbaikan dengannya?"


"Entahlah Mira. Aku juga tidak tahu kenapa malah melakukan hak sebodoh itu, padahal harusnya aku terseyum ke arahnya. Hanya saja, hatiku terasa aneh"


"Hatimu terasa aneh? Jangan bilang, kalau kamu melakukannya karna belum siap untuk berbaikan dengan Zidan?" tanya Angel.


"Yah, mungkin bisa dibilang begitu. Apa aku sekarang terlihat kekanakan yah, karna telah bertindak begitu?" tanya Asyifa sedih.


"Aku rasa tidak juga, tergantung dari masalah apa yang sudah terjadi diantara kalian berdua. Aku memang tidak ingin memaksamu untuk menceritakannya, tapi sebisa mungkin kalian menyelesaikannya saat sama-sama sudah siap dan berbesar hati saling memaafkan"


"Terima kasih nasehatnya Ngel"


"Iya, sama-sama"


*****


Dentuman musik yang memekakkan telinga, lampu kelap-kelip dengan berbagai warna yang bisa membuat pusing, bau alkohol yang kuat tercium, mengintari sosok Zidan dengan sangat sempurna.


Yah, sekali lagi Zidan menengelamkan dirinya di dalam alkohol dan juga suasana bar yang bisa membuat dirinya sedikit melupakan rasa sakit karna hubungan percintaannya yang telah diputuskan oleh Asyifa.


Raka dan juga Adam yang bersikeras untuk ikut bersama Zidan ke tempat itu, hanya bisa memperhatikan kondisi sahabatnya yang terlihat memprihatinkan dengan cemas.


Meskipun tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh Zidan karna pria itu menutup mulutnya rapat-rapat dan tak ingin menceritakannya, tapi Raka dan Adama dapat menebak kalau itu bukanlah hak yang sepele.


"Zidan, lebih baik kita pulang saja sekarang. Kamu sudah terlihat sangat mabuk, bahkan untuk berdiri tegap tanpa bantuan pun tidak bisa kamu lakukan" ajak Adam, sambil meraih sebelah tangan sahabatnya.


"Pulang? Masa baru beberapa jam ada disini, kaliam sudah mengajakku pulang! Aku kan masih ingin lebih lama menikmati suasana bar yang tidak pernah lagi aku rasakan" jawab Zidan, dengan suara khas orang mabuk.


"Sebenarnya apa sih yang sudah terjadi denganmu, kenapa kamu jadi sangat suka sekali datang ke bar untuk minum alkohol? Padahal dari dulu diantara kita bertiga, kamu yang paling membenci kegiatan ini" ucap Raka, mulai terlihat kesal.

__ADS_1


"Itu kan dulu Raka. Sekarang semuanya sudah jauh berbeda, dan aku menjadi sangat suka serta jatuh cinta dengan semua ini! Apa kalian berdua tidak memiliki niat sama sekali untuk bergabung juga bersama denganku?"


"Astaga, tolong jangan bicara yang aneh-aneh dan ikuti saja kami untuk pulang kambali ke apartemenmu! Apa kamu tahu apa yang aku dan Adam harus lakukan demi menemanimu datang ke tempat sialan ini?!"


"Memangnya aoa yang sudah kalian berdua lakukan, wahai sahabat-sahabatku?" tanya Zidan sambil mencubit kedua pipi milik Raka dengan keras.


"Aduh lepaskan! Kebiasaanmu itu tidak pernah berubah yah, selalu saja mencubit pipiku dengan seenaknya. Kalau tidak seperti itu, kamu akan melakukan hal yang labih gila lagi sebagai gantinya. Menyebalkan sekali!"


"Biar menyebalkan, tapi kalian sangat sayang padaku kan, makanya kalian sampai bersedia menemaniku datang kesini. Tapi aku menjadi penasaran, apa yang sudah kalian lakukan demi bisa mengikutiku?"


"Biar aku saja yang jelaskan, Raka. Beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang dengan sengaja mengikuti Angel dan juga Mira, saat malam hari. Meski tidak tahu siapa pelakunya dengan pasti, tapi aku sempat memfoto plat nomor mobilnya"


"Dan rencananya, hari ini aku dan Adam akan menemani mereka untuk mencari tahu siapa pemilik mobil tersebut. Tapi karna kamu yang ingin pergi ke bar dari sore hari, maka kami pun terpaksa harus membatalkannya!" lanjut Raka, menjadi semakin kesal.


"Ya ampun, cerita yang sangat menyeramkan untuk didengar saat sedang berada di dalam bar yah? Apa masih ada cerita yang lainnya lagi, karna aku masih ingin mendengarnya"


"Hah, kenapa juga aku dengan bodohnya malah mengajak orang yang sedang mabuk parah untuk bicara serius? Pastinya akan ditanggapi dengan sembarangan dan juga asal-asalan" gerutu Raka pelan.


Melihat kondisi Zidan yang tak bisa tertolong lagi, Raka dan juga Adam pun sepakat untuk membawa pria itu duduk di sebuah sofa yang ada di dalam bar.


Tapi saat di dudukkan disana dengan posisi bersandar ke belakang, Zidan malah lebih memilih untuk menelungkupkan wajahnya pada meja yang ada di depannya dan mulai menutup matanya rapat.


"Kamu tunggulah disini sebentar bersama Zidan, aku akan mengambil mobil untuk diparkirkan tepat didepan pintu keluar bar, lalu kembali lagi kesini" pinta Adam pada Raka.


"Baiklah. Tolong kamu cepat yah, kepalaku rasanya sudah mau pecah karna terlalu lama mendengar musik yang diputarkan dengan kencang seperti itu"


"Iya, tenang saja"


Setelah kepergian Adam, Raka yang juga merasa sedikit lelah karna seharina bekerja langsung menemani Zidan pergi ke bar, mulai mendudukkan bokongnya keatas sofa yang sama dengan Zidan.


"Hufhhh! Kenapa makin hari badanku makin cepat sekali lelah yah? Padahal umurku masih sangat muda, apa karna sudah lama aku tidak pernah berolahraga lagi?" gumam Raka pada dirinya sendiri.


"Atau mungkin, karna kamu tidak pernah menikmati hidup dengan bersenang-senang seperti yang orang lain lakukan?" seorang wanita tiba-tiba saja muncul dan mengajak ngobrol Raka.


"Maaf, kamu siapa yah? Apa aku pernah mengenalmu di suatu tempat, sehingga kamu mengajakku bicara saat ini?"


"Tidak, kita tidak pernah berkenalan di suatu tempat seperti katamu. Ini juga adalah yang pertama kalinya kita bertemu, aku seorang pelayan yang bekerja di bar ini"


"Begitu yah. Kalau boleh tahu, ada perlu apa kamu mengajakku bicara?"


"Sebenarnya tidak ada apa-apa sih. Hanya saja sesuai dengan pekerjaanku yang adalah seorang pelayan, maka aku harus berjalan dan mulai menawarkan minuman pada para pelanggan yang ada di dalam bar ini. Apakah kamu ingin memesan sesuatu?" tanya sang pelayan ramah.


"Aku memang sedang haus sekali sekarang, tapi aku tidak ingin memesan minuman yang mengadung alkohol sama sekali. Apa kamu bisa memberiku segelas minuman dengan rasa seperti itu?"


"Aku punya sesuatu. Meski rasanya hampir sama dengan alkohol, tapi sebenarnya dia tidak mengandung alkohol sama sekali. Kalau seseorang yang baru di dunia minuman, pasti tidak akan tahu tentang minuman ini"


"Minuman yang tidak mengandung alkohol sama sekali, tapi rasanya seperti alkohol? Memangnya ada minuman sepertu itu, aku baru dengar"


"Tentu saja ada, apa sih yang tidak ada di dunia ini pada zaman sekarang? Bahkan hal yang mustahil sekali pun pastu bisa terjadi, contohnya seperti minuman yang sedang aku tawarkan. Jadi bagaimana, apa kamu tertarik ingin mencobanya?"


"Kenapa tidak? Aku akan memesan satu gelas saja untuk ku minum. Kalau rasanya enak, aku mungkin akan memesan lagi untuk aku dan sekaligus untuk temanku"


"Baiklah. Mohon ditunggu, aku akan segera pergi dan membuatkannya untukmu" ucap pelayan tersebut, sambil berlalu pergi.


Raka yang menanti seorang diri, tak sadar sama sekali bahwa Adam yang pamit untuk mengambil mobil telah lama tak juga kunjung kembali ke dalam bar.


Ingatan Raka semakin terlupa tentang Adam, saat melihat sosok pelayan wanita yang menawarinya minuman, telah berjalan pelan menuju ke arahnya sambil terseyum.


Ditangan pelayan tersebut, terdapat sebuah nampan besar yang diatasnya ada minuman pesanan Raka. Tapi yang anehnya, bukan hanya segelas saja yang datang, melainkan ada beberapa gelas disana.


"Loh, kenapa kamu malah membawakanku beberapa gelas minuman? Bukannya tadi aku hanya memesan segelas saja?" tanya Raka, merasa kebingungan.


"Ini hanya inisiatif dariku saja. Aku membawa langsung beberapa gelas, karna yakin bahwa nantinya kamu pasti akan langsung memesan lagi saat selesai merasakannya"


"Wah, melihatmu yang kelihatan percaya diri sekali dengan aku yang akan memesan lagi minuman yang sama, sepertinya memang benar kalau rasa minuman ini sangat enak"


"Untuk lebih pastinya, silakan kamu sendiri yang menilainya nanti. Ini minumannya" ucap pelayan sambil meletakkan semua minuman diatas meja.


Melihat Raka yang mulai mengangkat gelas mendekat ke arah bibirnya, pelanyan itu mulai memamerkan sebuah senyuman licik yang terlihat menyeramkan, entah apa yang sedang direncanakan olehnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2