
Senyum penuh kebahagiaan karna apa yang telah diimpikannya sejak lama akhirnya bisa menjadi kenyataan, tak pernah sedetik pun hilang dari wajah cantik gadis itu.
Dengan langkah anggun dan penuh percaya diri, ia melangkahkan kedua kakinya menuju ke arah dimana sang calon suami telah siap menanti kedatangannya.
Suara ramai para tamu undangan yang berada disisi kanan dan juga kiri panggung, turut meramaikan acara dengan tak henti-hentinya meneriaki nama sang gadis, membuat dirinya seolah semakin melambung tinggi hingga menyentuh langit ketujuh.
Zenith, gadis itu akhirnya telah resmi menjadi istri William setelah keduanya selesai mengucap janji suci pernikahan, dan saling memasangkan cincin dijari manis satu sama lain.
"Pada akhirnya wanita licik itu bisa juga menjadi menantu mommy!" bisik Kana kesal, kepada Ratih yang ada disebelahnya.
"Dia mungkin bisa menjadi menantu dan juga bagian dari keluarga kita, tapi mommy akan pastikan, kalau semua itu tidak akan bertahan lama!" jawab Ratih turut berbisik.
"Memangnya apa yang akan mommy lakukan, apa mommy tidak takut kalau nanti Zenith akan mengancam kita lagi?"
"Kamu tidak perlu cemas, dan tonton saja apa yang akan mommy lakukan padanya. Lagipula setelah pesta pernikahan ini berakhir, Zenith juga tidak akan memiliki sesuatu lagi untuk bisa mengancam kamu dan juga mommy"
"Ya sudah, Kana percayakan saja semuanya kepada mommy. Dan kalau mommy butuh bantuan, jangan minta tolong pada Kana yah"
"Kenapa begitu?"
"Mommy, Kana sudah berjanji pada Haykal, kalau Kana tidak akan melakukan rencana jahat apa pun lagi, dan pada siapa pun itu. Kalau Kana ingkar janji, Haykal bilang akan langsung menceraikan Kana saat itu juga. Kana tidak mau kalau hubungan rumah tangga kami, harus berakhir begitu saja mommy"
"Kalau begitu, kamu bantunya jangan sampai ketahuan sama Haykal lah! Masa mommy sendiri yang mengerjakan semuanya, mana sanggup. Lagian apa kamu mau, kalau Zenith akan menjadi adik iparmu dalam waktu yang lama?"
"Baiklah, baiklah, Kana akan sesekali ikut membantu mommy tanpa sepengetahuan Haykal"
"Nah begitu dong, itu baru namanya anak mantu kesayangan mommy!" puji Ratih sambil tersenyum ke arah Kana.
Disisi lain, para tamu mulai terlihat maju satu persatu ke depan untuk memberikan selamat kepada Zenith dan juga William atas hari pernikahan keduanya.
Mau tidak mau, Ratih dan Kana pun harus turut ikut naik ke atas panggung dan berdiri disamping Zenith dan juga William, untuk menyambut tamu yang datang.
Saat Zenith melihat kedatangan kedua wanita itu, ia langsung melemparkan senyum penuh kemenangan, yang membuat Kana dan juga Ratih semakin kesal pada gadis itu.
"Astaga mommy, kenapa lama sekali datang untuk turut menemani aku dan juga William disini? Apa mommy sengaja melakukannya, aku merasa sedikit sakit hati" tanya Zenith dengan nada yang dibuat-buat sedih.
"Ah, tentu saja tidak seperti itu Zenith. Kami hanya sedang sibuk berbincang dengan tamu lainnya tadi, jadi tidak sempat datang cepat untuk menemani dirimu. Iyakan mom?"
"Iya, seperti itu ceritanya"
"Oh ya? Tapi kenapa aku tidak melihat kalian berbincang dengan siapa pun yah, sedari tadi? Malah aku melihat kalian berdua sibuk berbisik satu sama lain, apa aku salah lihat?"
"Berapa lama lagi kita harus berdiri seperti ini, Zenith? Kakiku sudah terasa sangat pegal!" gerutu William, yang sengaja memotong pembicaraan ketiga wanita itu.
"Maaf sayang, tapi masih banyak tamu yang akan datang untuk memberikan selamat pada kita. Apa kamu tidak bisa menahannya lagi, atau kamu duduk saja dulu sementara"
"Memangnya berapa banyak orang yang kamu undang ke pestamu?"
"Yah, lumanyan banyak kenalanku dan juga kenalanmu yang aku undang ke acara pesta pernikahan kita ini"
"Kenalanku? Seingatku, aku tidak pernah menyuruhmu untuk menggundang kenalanku juga di acara ini" ucap William, terlihat tidak senang.
"Memang kamu tidak pernah menyuruhku, tapi itu adalah inisiatif dari diriku sendiri. Kan tidak mungkin semua tamu adalah kenalanku saja, harus ada kenalanmu juga"
"Siapa saja yang kamu undang?"
"Yang aku undang, semua karyawan yang ada di perusahaan keluargamu, beberapa teman sekolah dan kuliahmu, dan ada beberapa orang lagi yang aku lupa"
"Semaumu saja!" ucap William pasrah.
Sebenarnya saat mendengar bahwa Zenith telah menggundang beberapa kenalannya, William menjadi sedikit cemas kalau ternyata yang diundang oleh gadis itu, ada nama Asyifa juga.
Bukannya William ingin menyembunyikan statusnya yang sudah resmi menjadi suami orang lain, tapi karna William takut pernikahan ini malah akan menyakiti perasaan mantan istrinya itu.
Karna dalam hati William, ia percaya bahwa Asyifa masih menyimpan perasaan cinta dan akan mau kembali padanya, jika ia berniat untuk mendekati wanita itu lagi.
Namun tiba-tiba, fokus William tertuju pada seorang wanita cantik yang tampak sangat mempesona dalam balutan gaun biru laut yang indah, dan dengan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai.
Asyifa, wanita itu kini tengah berdiri di depan pintu masuk acara seorang diri, membuat jantung William berdegup kencang. Namun saat William dengan percaya diri akan datang untuk menyapanya, sosok seorang pria muncul dan menghentikan niatnya.
Pria itu adalah Zidan, yang ikut berdiri di samping Asyifa dan langsung meraih tangan wanita itu untuk dikalungkan pada lengannya sendiri.
"Astaga! Itu adalah Asyifa, dan juga si pewaris tampan!" seru Kana tanpa sadar, dan sambil menunjuk ke arah dua orang itu.
Mendengar seruan Kana, semua mata para tamu undanganmu melihat ke arah Asyifa dan juga Zidan. Seketika mereka menjadi takjub akan ketampanan Zidan dan juga Asyifa yang tampak cantik.
__ADS_1
"Kak Kana, kenapa kakak teriak seperti itu? Lihat sekarang semuanya melihat ke arah mereka, bukan ke arahku dan William!" omel Zenith, yang merasa tidak senang.
"Aku kan terkejut. Oh iya, kenapa Asyifa bisa terlihat sangat cantik yah hari ini, bukannya dia memiliki wajah yang jelek?"
"Mana aku tahu! Kenapa tidak kakak tanyakan langsung saja padanya?"
"Benar juga katamu, aku pergi dulu yah" pamit Kana dan langsung berjalan menuju ke arah Asyifa, meninggalkan Zenith yang kesal.
"Hai Asyifa, lama tidak bertemu. Kamu apa kabar, dan siapa yang telah mengundangmu ke pesta ini?" sapa Kana.
"Hai juga kak Kana. Aku juga tidak tahu siapa yang mengundang, tapi aku dan juga Zidan dikirimi undangan langsung ke apertemen kami yang diantarkan oleh kurir"
"Pasti kerjaan si wanita gila itu, dia sengaja ingin memamerkan pernikahannya dengan William padamu. Tapi, kamu terlihat sangat cantik hari ini Asyifa"
"Ah, terima kasih kak"
"Sama-sama. Kalau aku boleh tahu, kamu pergi ke mana untuk mendapatkan perawatan dan juga make upmu itu?"
"Yang jelas ke tempat yang tidak akan bisa dimasuki oleh orang sepertimu, dan juga oleh keluargamu itu" jawab Zidan ketus.
"Zidan!"
"Kenapa, memang benar kan kataku? Sudah, ayo kita pergi untuk memberikan selamat kepada yang berbahagia"
"Maaf yah kak Kana, Zidan memang biasa bicara ketus seperti itu pada semua orang" ucap Asyifa merasa tidak enak.
"Ah, iya"
Setelah itu, Asyifa dan Zidan pun berjalan menghampiri William dan juga Zenith untuk memberikan ucapan selamat kepada mereka.
"Ya ampu Asyifa, aku pikir kamu tidak akan datang ke pesta pernikahan kami"
"Kenapa kamu berpikir seperti itu Zenith? Aku kan sudah diundang, tentu saja mau tidak mau aku harus datang"
"Aku berpikir begitu, secara kamu kan baru saja diceraikan oleh suamiku. Istilahnya kamu baru dicampakkan dan langsung digantikan oleh wanita yang lebih cantik sepertiku" ejek Zenith dengan suara keras.
Seketika itu juga, para tamu menjadi ribut berbisik satu dengan yang lain karna fakta mengejutkan yang dikatakan oleh Zenith. Melihat hal itu, Asyifa hanya bisa menunduk karna malu.
"Aku rasa kamu sudah salah paham, karna yang telah mengajukan gugatan cerai adalah Asyifa, itu berarti Asyifa lah yang sudah mencampakkan suamimu itu! Oh dan satu hal lagi, suamimu pernah ingin meminta rujuk kembali lewat pengacaranya, tapi ditolak oleh Asyifa" jelas Zidan panjang lebar, membuat wajah Zenith menjadi merah padam.
"Bukannya kamu sendiri yang mengirimkan udangan ke apertemenku, dan juga Asyifa? Entah dari mana kamu mendapatkan alamat kami"
"Siapa yang mengundang kalian, a_aku tidak pernah ingat mengirimkan kalian undangan! Kalian pasti sedang bohong kan?" tuduh Zenith panik, saat melihat tatapan marah William mengarah padanya.
"Ini buktinya aku memiliki undangan. Sedang milik Asyifa tidak sengaja dibakar oleh Mira dan juga Angel, oleh karna itulah Asyifa tidak bisa membawanya. Tapi saat dicek di bagian depan tadi, benar ada nama Asyifa dalam daftar tamu" jelas Zidan, sambil menunjukkan undangan yang dibawanya.
"Bu_bukan aku yang mengundang!"
"Yah terserah siapa yang telah mengundang, intinya kami berdua datang hanya untuk memberikan selamat kepada kalian berdua. Selamat yah atas pernikahan kalian, semoga rumah tangga kalian berjalan dengan bahagia dan dalam waktu yang sangat lama"
"Iya, terima kasih" jawab William singkat.
"Ayo kita pergi, Asyifa"
"Ah, iya" jawab Asyifa cepat, kemudian turut mengikuti langkah Zidan pergi dari sana.
*****
Kini Asyifa dan Zidan sudah berada dalam mobil pria itu, dan sedang dalam perjalanan untuk kembali pulang ke apertemen mereka. Namun tak ada seorang pun yang terlihat ingin memulai pembicaraan, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kamu baik-baik saja, Asyifa?" tanya Zidan khawatir, melihat Asyifa yang terus diam.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih yah Zidan, karna sudah mau menggantikanku berbicara dengan Zenith di depan banyak orang"
"Sama-sama. Lagipula itu memang sudah menjadi salah tujuanku untuk menemanimu datang kesana, yaitu untuk melindungimu dari orang-orang yang ingin berniat jahat padamu"
"Ternyata, ide Angel dan Mira untuk mengajak dirimu, ada benarnya juga yah. Aku jadinya punya pengawal gratisan"
"Apa? Pengawal? Masa kamu samakan aku dengan pengawal sih, apa tidak ada yang lebih bagus lagi?"
"Emmm, apa yah? Nanti deh, aku pikir-pikir lagi dulu" jawab Asyifa jahil.
"Awas yah kamu, akan aku balas!" ancam Zidan, sambil mulai mengulurkan tangannya untuk mengelitik pinggang Asyifa.
Tak menyangka akan mendapatkan serangan tiba-tiba dari Zidan, Asyifa pun menjadi tak siap. Wanita itu pun hanya bisa tertawa geli, sambil sesekali memohon pada Zidan untuk menghentikan aksinya.
__ADS_1
Awalnya Zidan tak ingin berhenti, namun karna mengingat dirinya sedang dalam keadaan menyetir, ia pun terpaksa harus mau berhenti. Supaya tak terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya seperti kecelakaan.
"Bagaimana, apa kamu masih berniat untuk menjahiliku lagi?" tanya Zidan terseyum mengejek.
"Tau ah, kamu orangnya curang!"
"Apanya yang curang?"
"Yah curang, masa aku belum siap sudah diserang saja, harusnya kan diberi peringatan dulu! Gimana sih"
Mendengar omelan Asyifa, Zidan hanya bisa tertawa. Tapi saat mobilnya tak sengaja melewati sebuah taman bermain, sebuah ide gila tiba-tiba saja terlintas di otak pria itu.
Dengan cepat, Zidan pun memutar mobilnya untuk masuk ke area parkiran taman bermain itu. Asyifa yang melihat hal itu, langsung melemparkan tatapan bingung ke arah Zidan.
"Kok kita masuk ke area parkir tamab hiburan, bukannya pulang ke apertemen? Kita mau ngapain disini, Zidan?"
"Kan tadi katamu, aku curang karna nyerang kamu tanpa pemberitahuan dlu, makanya sekarang aku bawa kamu ke taman bermain, biar bisa tanding langsung"
"Yang benar saja kamu ajak aku masuk taman hiburan dan bermain dengan penampilan seperti ini!" protes Asyifa, sambil menunjuk ke arah gaunnya.
"Tenang saja, di dalam banyak kok yang jual pakaian. Kita bisa beli dan ganti pakaian langsung disana. Ayo keluar!"
Meskipun sudah ditolak oleh Asyifa berulang kali, namun Zidan tetap bersikeras untuk menarik tangan wanita itu untuk mau masuk bersamanya ke dalam taman.
Setelah masuk, keduanya pun segera menuju ke tempat-tempat yang menjual pakaian orang dewasa untuk membelinya dan segera berganti pakaian.
"Zidan, mending kita langsung pulang saja yuk? Aku malu, disini banyak sekali orang yang datang untuk pacaran" bisik Asyifa malu, sambil menunjuk ke arah beberapa pasangan yang tampak sangat mesra.
"Untuk apa malu, kita kan datang kesini untuk bersenang-senang dengan uang kita sendiri. Abaikan saja mereka yang sedang pacaran, atau jangan-jangan kamu iri yah? Apa kamu mau punya pacar juga?"
"Apaan sih Zidan! Ingat umur, kita tuh sudah tidak zamannya lagi untuk pacaran, harusnya langsung menikah!"
"Astaga, apa sekarang kamu sedang melamar aku Asyifa? Wah, aku tidak menyangka kalau kamu ternyata seberani itu"
"Siapa yang sedang melamarmu?!"
"Itu barusan, katamu kita tidak perlu pacaran dan harusnya langsung menikah saja. Itu sama saja artinya, kamu sedang melamarku" goda Zidan, sambil tersenyum jahil.
"Sembarangan! Sudah, jangan bicara yang aneh-aneh lagi, lebih baik kita mulai bermain permainan yang ingin kamu mainkan saja!"
"Astaga, kenapa kamu terlihat malu-malu seperti itu? Wajahmu juga berubah menjadi semerah tomat masak"
"Diam, Zidan!" seru Asyifa, sambil berjalan menjauh dari pria itu.
"Tunggu aku Asyifa"
Tak butuh waktu lama, keduanya pun mulai terlihat bersemangat untuk terus mencoba berbagai macam permainan yang ada di taman bermain tersebut.
Tak hanya permainan saja yang mereka buru, tapi sampai ke segala jenis makanan dan minuman yang ada disana mereka cicipi satu persatu, karna mengingat keduanya tidak sempat mengisi perut di acara pesta tadi.
"Zidan, kita belum coba permainan yang satu itu deh. Bagaimana kalau selanjutnya, itu saja yang kita naiki?" usul Asyifa, menunjuk ke arah permainan terekstrem yang ada di taman yaitu roller coaster.
"Aduh Asyifa, apa tidak sebaiknya kita berdua istirahat dulu saja? Aku sangat cape, apa kamu tidak merasa cape?"
"Tidak, aku tidak merasa cape sedikitpun"
"Tapi aku cape Asyifa, bagaimana kalau kita naik wahana lain yang lebih tenang, supaya bisa sambil istirahat?"
"Ah, atau jangan-jangan, kamu takut yah sama ketinggian? Tapi kami sengaja menutupinya dengan bilang kalau kamu cape"
"Aku tidak takut Asyifa"
"Ya ampun, ternyata selain takut menonton film horor, kamu juga takut dengan ketinggian yah. Zidan kita rupanya adalah pria yang takut akan banyak hal yah"
"Bianglala! Iya bianglala, bagaimana kalau kita naik bianglala saja? Setahuku, kalian para wanita itu paling suka dengan wahana yang satu itu"
"Bianglala? Tidak, lebih baik kita jangan naik wahana itu Zidan"
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan. Turuti saja perkataanku, kalau tidak kamu akan menyesal!"
"Aku tidak akan menyesal, ayo kita pergi" ajak Zidan sambil menarik paksa tubuh Asyifa menuju wahana tersebut.
Bersambung...
__ADS_1