
Zidan menatap sosok Asyifa yang sedang duduk diatas kursi roda, sambil memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Meskipun masih menjadi pasien, namun pakaian yang kini sedang dikenakan oleh Asyifa bukanlah pakaian rumah sakit, melainkan pakaian yang biasa ia pakai saat pergi bekerja.
Itu semua dilakukan oleh Asyifa karna hari ini adalah hari dimana persidangan perceraian antara dirinya dengan William, akan segera berlangsung.
Sebenarnya Zidan dan yang lainnya, sudah bersusah payah membujuk Asyifa untuk mau mengajukan penundaan persidangan dengan alasan kondisi kesehatannya yang belum membaik, namun wanita itu tetap bersikeras agar persidangan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Itulah sebabnya kini Asyifa berada diatas kursi roda, karna jika harus disuruh berjalan sendiri dengan kedua kakinya, Asyifa belum sanggup untuk melakukannya.
"Apa sampai detik ini juga, kamu masih belum mau merubah pendirianmu itu?" tanya Zidan, sekali lagi memastikan.
"Tidak pak Zidan yang terhormat, aku tidak akan merubah keputusan yang sudah aku buat. Apalagi semalam William sudah berani mengancam diriku secara terang-terangan"
"Bukankah aku sudah bilang, kamu tidak perlu cemas tentang ancamannya padamu, karna aku sendiri yang akan memastikan kalau semua itu tidak akan pernah terjadi"
"Memang kamu sudah mengatakannya padaku semalam, tapi apa salahnya kalau aku ingin supaya persidangan ini tetap berjalan?"
"Tidak ada yang salah, Asyifa. Aku hanya sedang merasa bahwa kamu tidak begitu mempercayai diriku"
"Astaga, itu tidak mungkin Zidan! Aku sangat mempercayai dirimu, satu-satunya pria yang kini bisa aku andalkan untuk dimintai bantuan adalah kamu, bagaimana bisa aku tidak mempercayai dirimu!"
"Benarkah?" tanya Zidan tak percaya.
"Benar, aku tidak mungkin bohong. Jadi dari pada kamu semakin memiliki pikiran yang aneh-aneh, lebih baik sekarang kamu segera menemaniku ke pengadilan saja"
"Siap tuan putri" jawab Zidan sambil bergaya seolah sedang memberikan penghormatan.
Melihat tingkah Zidan yang tak biasanya, membuat Asyifa seketika tertawa nyaring. Ia tidak menyangka bisa melihat sisi lain dari si bos gila kerja, yang dulu sangat ditakuti olehnya dan juga karyawan lain.
Zidan kemudian mendorong kursi roda yang dipakai oleh Asyifa untuk segera keluar dari dalam kamar rawat inap wanita itu, dan terus menuju ke parkiran dimana mobil Zidan berada.
Setelah beberapa saat perjalanan, mereka pun kini sudah sampai di depan pintu masuk gedung pengadilan. Disana telah hadir sosok Angel, Mira, Lialian, dan juga Kemal, yang sengaja datang untuk memberikan dukungan mereka kepada Asyifa.
"Apa kamu sudah siap, Asyifa?" tanya Angel, yang segera menghampiri sahabatnya itu.
"Siap atau tidak siap, aku harus siap Ngel. Karna hari ini, adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu. Hari dimana langkah awalku untuk terbebas dari William, akan segera dimulai" jawab Asyifa, tersenyum manis.
"Syukurlah kalau begitu. Kamu jangan gugup ataupun takut yah, karna kami semua akan selalu ada disini bersama denganmu"
"Iya Angel, aku tahu. Doakan yah, semoga persidangan pertamaku ini berjalan dengan lancar tanpa satu halangan pun"
"Amin. Aku dan yang lain pasti akan selalu mendoakan semua yang terbaik buat kamu. Sekarang kamu cepat masuk ke dalam, karna sebentar lagi persidangan akan segera dimulai"
Mendengar ucapan Angel, Asyifa pun segera menganggukkan kepala. Sebelum masuk ke dalam, Asyifa tak lupa untuk berpamitan kepada yang lainnya. Tak lupa dibelakang wanita itu, ada sosok Zidan yang senantiasa mengikuti.
"Ayo, kita semua sgera masuk juga" ajak Lilian pada Angel, Mira dan juga Kemal.
Sosok William dan Ratih yang sudah sejak tadi berada dalam ruangan, segera menatap Asyifa dengan tatapan tajam. Seolah kedua orang itu sedang memberitahu Asyifa, bahwa sidang hari ini tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh wanita itu.
"William? Kenapa kamu menatap Asyifa dengan tatapan seperti itu?" tanya Rizal, tak senang.
"Tentu saja karna William tidak terima Asyifa memperlakukannya seperti ini, daddy. Anak kita itu adalah seorang pria, bagaimana bisa wanita seperti Asyifa malah dengan berani mengungat cerai dirinya!"
"Wanita seperti Asyifa? Apa maksud dari ucapan mommy itu?"
"Wanita miskin, yang bahkan wajahnya pun tak cantik sama sekali. Apa dia tidak tahu kalau keluarga kita adalah keluarga kaya yang terpandang? Lihat saja, dia pastinya akan segera menyesal, karna telah menceraikan William begitu saja"
"Aku rasa ucapan mommy tidak akan pernah menjadi kenyataan. Asyifa tidak akan pernah menyesal karna telah menceraikan William, kalau disampingnya bahkan telah ada pria yang jauh lebih kaya dan sempurna" balas Haykal, tak mau kalah.
"Apa maksud kakak?" tanya William merasa tersinggung dengan ucapan Haykal.
"Kamu pastinya sudah mengenal pria yang duduk disamping Asyifa bukan?"
"Zidan? Tentu saja aku kenal, dia adalah bos di perusahaan tempat Asyifa bekerja. Ada apa dengannya?"
"Apa kamu juga tahu, kalau Zidan adalah anak dari pak Marcel yang merupakan pemilik dari perusahaan M?"
__ADS_1
"Perusahaan M? Apa maksudmu perusahaan terbesar yang ada di negara kita itu?" tanya Kana terkejut.
"Iya, perusahaan M yang itu. Aku juga tahu belum lama ini, saat aku dan daddy tanpa sengaja bertemu dengannya"
"Mustahil! Zidan tidak mungkin anak dari pemilik perusahaan M, karna aku suda pernah bertemu dengan ayahnya. Sedangkan pria yang datang untuk menghadiri rapat bersama dengan kita waktu itu, bukanlah ayah Zidan" bantah William cepat.
"Itu karna memang yang datang bukanlah Marcel yang adalah pemilik perusahaan, tapi orang kepercayaannya. Marcel tidak bisa datang, karna mempunyai urusan lain di luar negeri"
Mendengar penjelasan Rizal, membuat mulut William seketika tertutup rapat. Kini dirinya merasa sudah kalah telak dari Zidan, yang jika dibandingkan dengan dirinya, bagaikan langit dan bumi.
"Kalau memang benar pria disamping Asyifa itu adalah anak Marcel, kenapa aku tidak pernah melihatnya sekalipun? Dan kenapa Marcel tidak pernah mengenalkannya, atau pun mengajaknya untuk ikut ke acara-acara penting?" tanya Ratih, masih tidak percaya.
"Itu karna Marcel memiliki hubungan yang tidak baik dengan Zidan, karna Marcel telah berselingkuh dari istrinya dan menikah lagi dengan wanita lain, yang umurnya setara dengan Zidan. Itu juga yang menjadi alasan Zidan membangun perusahaannya sendiri, dan tidak ingin meneruskan perusahaan Marcel"
"Ya ampun, jika yang daddy katakan itu benar, berarti Asyifa adalah wanita yang paling beruntung! Karna dia bisa memiliki hubungan dengan putra orang terkaya di negara kita" puji Kana, dengan takjub.
"Itulah mengapa aku bilang, kalau Asyifa tidak akan menyesal telah bercerai dari William"
"Diamlah, suara kalian sangat mengganggu! Mau dia anak orang terkaya kek, anak sultan kek, atau anak raja sekalipun, tetap putraku yang terbaik!" marah Ratih, ketika melihat raut wajah William berubah menjadi kesal.
"Bagaimana mungkin William terbaik mom? William kan sudah berselingkuh dari Asyifa, itu berarti dia bukanlah pria terbaik untuk dijadikan pasangan" ucap Kana, yang dengan sengaja memancing emosi ibu mertuanya.
"Mommy bilang diam, Kana! Apa kamu tidak mengerti bahasa manusia, dan harus dengan bahasa binatang?"
"Aku kan hanya mengatakan fakta, kenapa mommy mrarah-marah?" gerutu Kana, dengan suara pelan.
Ratih baru saja akan kembali membuka mulutnya untuk memarahi Kana, namun sosok hakim yang telihat sedang memasuki ruang persidangan, menghentikan niat dari wanita itu.
Bersamaan dengan itu juga, persidangan perceraian antara Asyifa dan William pun dimulai.
*****
Asyifa dan rombongannya, berjalan keluar dari gedung pengadilan dengan wajah penuh senyuman. Bagaimana tidak, persidangan pertama itu berjalan dengan lancar tanpa ada kendala sedikitpun.
Meskipun prosesnya masih panjang dan masih beberapa kali persidangan, namun Asyifa merasa bersyukur, karna dari pihak William tak sedikitpun terlihat ingin mempersulit dirinya.
"Daddy. Maafkan Asyifa, karna tidak sempat menyapa daddy tadi"
"Tidak masalah, nak. Tapi, apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu dipenuhi luka, dan kamu juga harus menggunakan kursi roda?" tanya Haykal yang sejak tadi sudah dipenuhi oleh rasa penasaran.
Asyifa hanya bisa melirik ke sosok William yang ada di belakang Rizal. Rupanya pria itu tidak menceritakan apa pun, kepada anggota keluarganya tentang keadaan Asyifa.
"Ceritanya panjang daddy, nanti kalau ada waktu akan Asyifa ceritakan"
"Kenapa tidak menghubungi daddy, supaya daddy bisa datang menjengukmu di rumah sakit? Sekarang bagaimaa keadaanmu? Apa kamu tidak terlalu memaksakan diri untuk datang mengikuti persidangan?" tanya Rizal bertubi, yang terlihat cemas.
"Satu-satu dong tanyanya Rizal, Asyifa kan jadinya bingung harus menjawab yang mana duluan" tegur Lilian tiba-tiba.
"Lilian! Astaga, apa benar itu kamu?"
"Iya, ini aku"
"Ya ampun, long time no see you! Bagaimana kabarmu, sejak kapan kamu pulang dari luar negeri?" tanya Rizal sambil memeluk tubuh wanita yang pernah menjadi istri sahabatnya.
"Sudah lumayan lama. Saat ini aku lagi sibuk merintis usahaku sendiri dengan bantuan putraku. Oh, hai Ratih"
"Ah, hai juga Lilian" balas Ratih gugup.
"Apa suami Asyifa itu, adalah putra kalian? Aku baru menyadarinya, saat melihat kalian berdua duduk bersama dengannya dalam ruang persidangan tadi"
"I_iya, dia putra kami. Oh iya, kenapa kamu juga bisa ada di persidangan ini?" tanya Ratih mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Itu karna Asyifa adalah putri angkatku, dan juga karna putraku memiliki hubungan baik dengan Asyifa"
"Pu_putri angkat?"
__ADS_1
"Iya, putri angkat. Kenapa kamu terlihat sangat terkejut, Ratih? Apa selama Asyifa menjadi menantumu, kamu tidak pernah memperlakukannya dengan baik?"
"Mana mungkin! Tentu saja, aku selalu memperlakukan Asyifa dengan baik. Kalau tidak percaya, kamu bisa bertanya langsung padanya. Iyakan Asyifa?"
"Ah, i_iya bunda. Mommy tidak seperti itu, mommy selalu baik pada Asyifa" jawab Asyifa terpaksa.
"Kamu tidak perlu membantunya untuk menutupi semua perbuatan jahatnya padamu, Asyifa. Karna bunda sudah lebih dulu tahu, dari cerita Angel dan juga Mira"
Mendengar jawaban Lilian, Asyifa mau tak mau hanya bisa diam tanpa bisa membantah. Sedang Ratih yang semua kedoknya sudah terbongkar, dengan cepat memutar otak untuk mencari alasan lain.
"Mereka mungkin hanya salah paham saja, Lilian. Aku mana mungkin berlaku jahat pada menantuku sendiri, lagian merekan kan cuma bercerita dan tidak ada buktinya sama sekali. Bagaimana bisa kamu percayai?"
"Kami berdua tidak salah paham! Kami juga punya buktinya, yaitu surat dari Aliya!"
"Surat dari Aliya? Apa maksud ucapanmu, Mira?" tanya William cepat, saat mendengar nama Aliya.
"Maksudnya adalah, Aliya mengirimkan surat kepada Asyifa! Dan isi dari surat itu, adalah cerita mengenai alasan dari kehadiran dirinya sebagai orang ketiga dalam rumah tanggamu dengan Asyifa, ialah bukan atas kemauannya sendiri, melainkan ada orang lain yang memaksa dirinya!"
"Memaksa? Memangnya siapa yang sudah memaksa Aliya untuk menjadi orang ketiga diantara aku dan Asyifa?"
"Kalau untuk hal itu, silakan kamu tanyakan langsung saja kepada ibu dan iparmu itu! Ayo pergi, Asyifa!" ajak Zidan sambil mendorong kursi roda Asyifa.
Mendengar suruhan Zidan, William langsung melemparkan tatapan tajam ke arah Ratih dan juga Kana, yang membuat dua orang itu segera membuang muka untuk menghindar.
"Aku tidak menyangka kalau kamu adalah wanita yang licik dan juga jahat, Ratih. Kamu bahkan tega menghancurkan rumah tangga putramu sendiri, dan membuat menantumu kehilangan anaknya!"
"Asyifa kehilangan anaknya, itu semua bukan salahku Lilian! Asyifa saja yang tidak bisa menjaga kandungannya dengan baik"
"Sama saja! Jika kamu tidak membawa Aliya untuk merusak kehidupan rumah tangga Asyifa dan putramu, pastinya Asyifa tidak akan mengalami keguguran akibat kelelahan dan juga stress!" protes Lilian emosi.
Suara Lilian yang keras, membuat beberapa orang yang berada di sekitar sana, menatap ke arah mereka dengan tatapan penasaran. Bahkan ada juga yabg sengaja berhenti untuk bisa menyaksikan apa yang sedang terjadi.
"Sudah Lilian, aku minta maaf atas semua kesalahan yang telah dilakukan Ratih kepada Asyifa. Tapi sebanyak apa pun kamu marah padanya, semua yang telah terjadi tidak akan bisa diputar kembali"
"Aku juga tahu Rizal. Tapi apakah kamu tidak merasa kesal, jika kamu memiliki seorang putri, dan putrimu diperlakukan seperti itu?"
"Tentu saja aku kesal, Lilian. Oleh karna itu aku menyetujui perceraian ini"
"Apakah dengan anda menyetujuinya, bisa membuat semua luka dan penderitaan atas rasa kehilangan seorang anak, yang dialami oleh putriku bisa tersembuhkan begitu saja?" tanya sebuah suara yang tiba-tiba mendekat ke arah mereka.
"Pak kemal. Maaf karna aku tidak melihat kehadiran bapak, sedari tadi"
"Aku tahu jika putriku tidak cantik seperti menantu kalian yang lain, dan juga adalah seorang wanita yang hanya berasal dari keluarga miskin. Tapi putriku, seumur hidup tidak pernah berbuat jahat pada siapapun, melainkan jika ada yang jahat padanya, ia akan tetap bersikap baik pada orang itu. Lihat saja contohnya tadi saat dia tetap membela ibu Ratih. Tapi kenapa kalian memperlakukan dirinya sejahat itu?"
Mendapat pertanyaan menohok dari Kemal, tak ada satu pun orang yang berani menjawab dari pihak William. Bahkan William pun hanya bisa menundukkan kepalanya, dalam diam.
"Memang aku juga telah bersalah, karna dengan mudah merestui putriku untuk bisa menikah dengamu, William. Oleh karna itu, aku mohon untuk kamu dan keluargamu tidak mempersulit jalannya proses perceraian ini" lanjut Kemal.
"Kami berjanji tidak akan mempersulitnya pak Kemal, anda bisa memegang perkataanku"
"Terima kasih, pak Rizal. Terima kasih karna sudah bersedia mengembalikan putriku, kepadaku. Kalau begitu, aku pamit permisi"
Lilian dan Rizal menatap sedih kepergian sosok Kemal, yang wajahnya terlihat banyak menyimpan kesedihan atas apa yang telah dialami oleh Asyifa selama hidupnya.
Pria tua itu, bahkan tak berani mendekat ke arah Asyifa karna malu atas dirinya sendiri, yang tidak bisa berperan menjadi sosok ayah yang baik dan sempurna bagi putrinya.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan padamu, Ratih. Jika sekali lagi kamu berani mengganggu kehidupan Asyifa, maka saat itu juga aku sendiri yang akan memberikanmu pelajaran atas perbuatanmu itu! Apa kamu mengeri?"
"A_aku mengerti, Lilian"
"Bagus! Mungkin apa yang aku lakukan saat ini, terlihat tidak menyenangkan, tapi aku harus melakukannya demi masa depan putri angkatku. Aku harap kamu bisa mengerti, Rizal"
"Tentu saja. Aku tidak akan menyalahkan dirimu, Lilian"
"Terima kasih. Sampai jumpa lagi, di sidang berikutnya. Aku harap saat itu, hubungan diantara kita semua sudah jauh lebih baik"
__ADS_1
Bersambung...