
Pagi itu, Zidan yang baru saja tiba di parkiran kantor menggunakan mobilnya, tanpa segaja melihat Asyifa yang sedang dicium keningnya oleh seorang pria.
"Bukannya itu pria yang waktu itu mengajak Asyifa makan siang bersama saat aku datang menjemputnya? Kenapa dia mencium kucing Asyifa, memangnya mereka pacaran?" tanya Zidan pada dirinya sendiri.
Zidan masih saja memperhatikan kedua orang di depannya, sampai sang pria masuk kembali ke dalam mobilnya dan melaju pergi, barulah Zidan keluar dari mobilnya sendiri.
"Kamu datang ke perusahaan saya buat kerja atau bermesraan di tempat parkir?"
Asyifa menoleh untuk melihat sosok dibelakang tubuhnya, yang suaranya terasa sangat familiar di telinga.
"Pak Zidan? Jangan bilang bapak lihat...?"
"Yah jelas saya lihat! Bagaimana tidak lihat, kalian melakukannya di tempat terbuka dan umum seperti parkiran perusahaan saya!"
"Saya minta maaf pak"
"Lain kali kalau mau pacaran, cari tempat yang memang diperuntukkan bagi orang pacaran, jangan di perusahaan saya! Ini tempat buat kerja, bagaimana sih kamu?!"
"Iya pak, sekali lagi saya minta maaf"
"Sudah, cepat masuk, sebentar lagi kita ada rapat penting sama orang dari perusahaan T Grup!"
"Baik pak"
Asyifa mengikuti langkah Zidan dengan perasaan malu tak tertahankan, karna tertangkap basah oleh Zidan saat sedang berpacaran.
"Jam berapa orang dari perusahaan T Grup akan datang?"
"Jam 10 pak"
"Apa ruangan rapat sudah kamu siapkan?"
"Sudah pak, kemarin saya sengaja menyiapkannya memang sebelum pulang"
"Baguslah kalau begitu. Oh iya, berkas yang kemarin dikirimkan klien kepada kamu lewat email, apa sudah kamu periksa?"
"Belum pak, rencananya akan saya periksa mulai besok"
"Kenapa besok? Harusnya kalau kamu punya banyak waktu, dari pada pacaran mending kamu selesaikan pekerjaanmu! Kamu itu seorang sekretaris, pekerjaan kamu banyak jadi jangan menumpuk-numpuk pekerjaan begitu!'
"Tapi pak, jadwal menyerahkan berkas itu kan masih empat hari lagi"
"Asyifa, jangan bantah ucapan saya. Turuti saja semua yang saya katakan, mengerti?"
"Baik pak" ucap Asyifa pasrah.
"Bagus, sekarang masuk ke ruanganmu!"
Asyifa kembali menuruti perintah Zidan, karna memang mereka sudah tiba di depan ruangannya yang berhadapan langsung dengan ruangan Zidan.
__ADS_1
"Arrrgggghhh, pak Zidan kenapa resek banget sih jadi orang? Tapi aku juga sih yang salah, ngapain juga malah pacaran di parkiran kantor?Tapi masa aku nolak ciuman William sih, ini kan hari kedua kami pacaran! Ah.. tau deh" ngomel Asyifa ketika sudah berada di ruangannya seorang diri.
*****
Zidan membuang tas kerjanya dengan asal diatas sofa yang berada di ruangannya, kemudian menghempaskan tubuhnya di kursi dengan perasaan kesal.
"Hah....! Apa mereka pacaran? Tapi dari yang saya liat waktu itu, sepertinya mereka juga baru saja saling mengenal, masa sudah pacaran saja?"
Zidan mengambil ponselnya dan menekan tombol panggil pada nomor Angel. Dia tidak bisa merasa penasaran dan tak tenang seperti ini, ia harus memastikannya sendiri.
"Halo, selamat pagi pak Zidan, ada yang bisa saya bantu pak?" sapa wanita di seberang sana.
"Pagi juga Angel, saya ingin menanyakan sesuatu sama kamu. Ini bukan soal pekerjaan, tapi soal kehidupan pribadi Asyifa!"
"Asyifa? Memangnya apa yang ingin bapak ketahui?"
"Tapi kamu harus berjanji pada saya untuk tidak menceritakan kepada siapa pun, kalau saya pernah bertanya seperti ini kepada kamu, oke?"
"Oke pak, saya janji tidak akan menceritakannya kepada siapa pun bahkan kepada kedua sahabat saya sendiri!"
"Baiklah. Yang ingin saya tanyakan adalah, apa Asyifa sekarang sedang berpacaran dengan seseorang??"
"Bagaimana bapak bisa tau?"
"Saya tidak sengaja melihat mereka sedang bermesraan di parkiran perusahaan saya! Jadi benar, itu adalah pacarnya Asyifa?"
"Ah, begitu? Yah sudah, hanya itu yang mau saya tanyakan padamu. Silakan kembali bekerja lagi"
"Baik pak, selamat pagi" ucap Angel lalu memutuskan sambungan telepon.
"Ternyata benar itu pacarnya. Apa aku sudah tidak punya harapan lagi untuk mendekatinya? Apa dia tidak menyukaiku meski hanya sedikit?"
Yah, Zidan memang memiliki perasaan spesial kepada Asyifa dan dia sengaja menutupinya dengan bersikap tegas pada gadis itu.
Bukannya ia tidak ingin memiliki hubungan yang lebih dari sekadar bos dan sekretaris, tapi ia belum siap untuk mengutarakan perasaannya.
Zidan hanya masih menunggu hingga keadaan Asyifa benar-benar pulih, ia tidak ingin sampai harus menambah beban pikiran Asyifa dengan perasaan sukanya pada gadis itu.
Selama ini, Zidan memberi gadis itu banyak pekerjaan bukan tanpa alasan atau ingin menyiksanya. Tapi supaya ia bisa memberikan banyak uang bonus dan juga uang lembur kepada Asyifa, karna ia sendiri tau bagaimana keadaan keluarga Asyifa.
Sebenarnya, di masa lalu Zidan sudah mengenal dan bahkan sempat dekat dengan Asyifa, namun ternyata Asyifa telah melupakan dirinya.
"Apa aku harus mengajak adam minum-minum malam ini?"
Zidan kembali meraih ponselnya dan menekan tombol panggil pada nama Adam.
"Halo bro, ada apa? tumben banget, nelpon aku pagi-pagi?"
"Apa malam ini kamu punya janji?"
__ADS_1
"Aku punya janji kencan bersama adikku malam ini, karna dia berulang tahun kemarin!"
"Ah, Stevia berulah tahun yah, aku tidak ingat sama sekali"
"Dia pasti akan sangat kecewa jika mengetahui kamu lupa akan hari ulang tahunnya! Dia kan menyukaimu"
"Aku hanya menganggapnya sebagai adikku sendiri Adam, tidak lebih! Bagaimana kalau kita pergi minum-minum malam ini bersamanya? Aku juga akan membelikannya kado saat pulang kerja nanti"
"Heh? Apa aku tidak salah dengar? Biasanya kamu paling anti untuk pergi minum-minum, tapi kenapa bisa kali ini kamu yang mengajak? Apa ada hal buruk yang terjadi?"
"Kamu memang sahabatku, buktinya kamu benar-benar tau bagaimana diriku! Yah, anggap saja untuk merayakan hari patah hatiku karena kehilangan cinta pertama! Bagaimana?"
"Apa? Patah hati? Jangan bilang kamu sudah menyatakan perasaanmu pada gadis dari masa lalumu itu, yang biasa kamu ceritakan padaku dan ditolak olehnya?"
"Aku tidak menyatakan perasaanku, lebih tepatnya belum! Tapi dia sudah lebih dulu ditembak oleh pria lain kemarin, dan sekarang mereka sudah resmi berpacaran"
"Ya ampun, aku turut bersedih untukmu. Baiklah, kita pergi minum-minum malam ini, aku akan mengajak Stevia dan juga Raka untuk ikut bersama kita!"
Tok... Tok... Tok..
Tiba-tiba pintu ruangan Zidan diketuk dari luar.
"Thank's. Sudah dulu yah, aku ada rapat penting sekarang, sampai jumpa nanti malam"
Zidan memutuskan sambungan telepon dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas "Masuk!"
"Permisi pak"
"Ada apa? Apa orang dari perusahaan T Grup sudah datang?"
"Iya sudah pak, mereka baru saja tiba di parkiran perusahaan kita"
"Kalau begitu, ayo kita ke ruang rapat sekarang dan jangan lupa bawa berkas untuk rapat yang sudah saya periksa waktu itu!"
"Baik pak, sudah saya bawa" jawab Asyifa sambil memperlihatkan beberapa map yang kini berada di tangannya.
"Bagus! Ayo jalan, kamu duluan saja, saya akan mengikuti dari belakang"
"Eh tapi pak..."
"Sudah turuti saja perintah saya! Jangan sampai saat berada di belakang, kamu malah sibuk bermain ponsel untuk mengirim pesan pada pacarmu itu!"
"Baik pak" ucap Asyura pasrah.
Zidan yang berjalan di belakang Asyifa menatap punggung gadis itu dengan tatapan sedih.
Cintanya yang selama bertahun-tahun kepada gadis yang ia temui saat masih duduk di bangku sekolah itu, harus berakhir begitu saja bahkan sebelum ia sempat menyatakan perasaannya.
Bersambung...
__ADS_1