
Setelah kepergian Asyifa dan Zidan, yang muncul di pikiran Zenith adalah pergi mencari keberadaan Kana. Tanpa berkata apa pun lagi, gadis itu segera berjalan keluar dari cafe dan meniggalkan Aliya begitu saja.
"Zenith, kamu mau kemana?" tanya Aliya yang bingung melihat Zenith masuk ke dalam mobil milik wanita itu, tanpa mengajak dirinya.
"Bukan urusanmu! Sebaiknya kamu segera menghubungi William, untuk memberitahu apa yang kamu dengar barusan. Kamu harus bisa membujuk William, untuk menangani hal tersebut! Kamu mengerti?"
"Aku mengerti"
"Ya sudah!"
Zenith pun mengendarai mobilnya keluar dari parkiran cafe. Sedang Aliya yang tinggal seorang diri disana, hanya bisa dengan patuh, langsug menuruti perintah Zenith untuk menghubungi William.
"Halo sayang, ada apa?" sapa William pada Aliya dari ujung telepon.
"William, kamu dimana sekarang?"
"Aku sedang di perusahaan. Kamu kan juga tahu, kalau jam segini aku pasti sedang kerja"
"Ah, begitu"
"Memangnya ada apa? Dari tadi kamu belum menjawab pertanyaanku sama sekali" ucap William dengan nada gemas.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu, tapi ini adalah pertanyaan tentang hubunganmu dan Asyifa. Apa kamu tidak keberatan?"
"Tentang hubunganku dengan Asyifa? Jangan bilang, kamu mau marah lagi karna aku tidak mengatakannya dari awal, kalau aku sudah mempunyai istri? Ayolah Aliya, kita kan sudah membahasnya waktu itu. Masa____"
"Bukan tentang itu, Will" potong Aliya cepat, saat mendengar ucapan William yang mulai salah paham.
"Ternyata bukan. Lalu apa yang ingin kamu tanyakan, sayang?"
"Apa kamu sudah mengurus perceraianmu dengan Asyifa? Misalnya, seperti mengajukan berkas ke pengadilan atau sebagainya?"
"Aku pikir, aku sudah memberitahumu, soal hal itu. Untuk urusan itu, Asyifa lah yang akan mengurus semuanya sayang. Jadi, aku da kamu tidak perlu memusingkan tentang hal itu lagi" jelas William.
"Aku rasa, kamu juga harus ikut turun tangan mengurusnya William. Supaya semuanya bisa semakin cepat selesai"
"Astaga, aku tidak tahu kalau kamu sebegitu tidak sabarnya untuk segera menikah dengan diriku Aliya" goda William dari ujung sana, sambil tertawa kecil.
"Aku serius, Will! Barusan aku mendengar kalau berkas yang diajukan oleh Asyifa, telah ditolak oleh pihak pengadilan. Dan yang lebih aneh adalah, mereka menolaknya tanpa ada alasan yang jelas"
"Apa? Kenapa bisa seperti itu? Kamu tidak salah dengar kan, Aliya?" tanya William mulai terdengar cemas.
"Tentu saja tidak, karna aku mendengarnya langsung dari mulut Asyifa"
"Kamu bertemu dengan Asyifa, untuk apa? Apa dia mengajakmu untuk bertemu dengan tujuan untuk memarahi dirimu?"
"Bukan. Aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya begitu saja, jadi kamu tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu"
Tiba-tiba, mata Aliya menangkap sosok pria yang sangat familiar baginya. Dengan cepat, ia berjalan menuju pria itu untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
Betapa menjadi terkejutnya Aliya, saat melihat Alex benar muncul di hadapannya saat ini. Tanpa menunggu lagi, wanita itu segera berhambur ke pelukan sang suami yang ia rindukan selama ini.
Dengan berlinang air mata, Aliya memeluk tubuh Alex erat, seolah tak ingin keduanya terpisahkan lagi. Alex pun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Aliya, memeluk erat tubuh wanita itu sambil terus menciumi puncak kepalanya.
__ADS_1
"Aliya, kamu masih disana? Aliya, halo?" suara William terdengar memanggil nama Aliya berulang kali, membuat keduanya melepas pelukan mereka sejenak.
"Iya, aku masih disini"
"Loh, ada apa dengan suaramu? Apa kamu baru saja menangis, apa yang terjadi Aliya? Dimana kamu sekarang, biar aku yang akan mendatangimu"
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Kita bicara lagi nanti yah William, aku harus melakukan sesuatu yang penting. Bye" ucap Aliya yang langsung mengakhiri sambungan telepon begitu saja.
"Apa kabarmu, Aliya?" sapa Alex terseny manis ke arah sang istri.
"Aku baik-baik saja"
"Benarkah? Tapi aku rasa, kamu tidak terlihat baik-baik saja, sayang"
Mendengar ucapan Alex, membuat Aliya kembali meneteskan air mata. Sesungguhnya ia memang tidak baik-baik saja selama ini, merasa menderita mengikuti semua perintah Kana dan juga Zenith.
Selain itu, Aliya merasa bingung dan tak bisa membedakan masa lalunya dengan William dan masa sekarang, saat mereka bertemu kembali. Kadang saat bersama William, Aliya tak ingin waktu cepat berlalu dan ia memiliki keinginan untuk selamanya bersama pria itu.
Tapi di dalam hatinya, ia selalu mengingat wajah Alex dan putranya. Namun perasaan itu membuatnya dari hari ke hari, semakin masuk ke lubang dosa dengan benar-benar jatuh cinta lagi pada William dan bersungguh untuk merebutnya dari Asyifa.
Tapi untunglah Alex segera muncul sekarang. Kalau tidak, Aliya mungkin tidak akan bisa menghentikan dirinya untuk setuju dengan ajakan William untuk segera menikah, begitu pria itu resmi bercerai dengan Asyifa.
"Hei, kenapa kamu menangis lagi, sayang? Apa mereka memperlakukanmu dengan sangat buruk? Aku mohon jangan menangis Aliya, aku merasa sangat bersalah karna tidak bisa membantumu disaat dirimu sangat membutuhkan bantuan"
"Tidak. Kamu tidak salah Alex, aku lah yang bersalah disini. Sedari awal, semua terjadi karna kesalahanku sendiri" jawab Asyifa semakin merasa bersalah.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Aliya. Bagaimana kalau kita segera pergi dari kota ini, dan mencari tempat tinggal baru? Kamu mau kan, sayang?"
"Apa maksudmu sayang? Memangnya, apa yang sudah kamu lakukan?"
"Aku sudah melakuan dosa dengan berbuat jahat padamu, Alex! A_aku_aku kembali jatuh cinta pada William, yang adalah cinta pertama diriku. Selama aku berada disini, aku sangat menikmati setiap waktu yang aku habiskan denganmu"
Mendengar penjelasan Aliya, Alex hanya diam membisu. Pria itu terlihat seperti sedang membiarkan Aliya menceritakan segala yang ingin diceritakan oleh wanita itu padanya.
"Aku merasa sangat bersalah dan tak tahu malu, karna melakukan semua itu padamu yang dengan susah payah, setiap harinya mengurus putra kita seorang diri. Aku tidak pantas untukmu, Alex!" lanjut Aliya.
"Apa sekarang rasa cintamu padaku juga sudah hilang, Aliya?"
"Tidak! Aku masiu mencintaimu, terlepas kamu adalah ayah dari putraku. Aku masih sama mencintaimu seperti sejak pertama kita bertemu"
"Lalu, apa saat aku mengajakmu untuk pergi bersamaku, apa kamu ingin pergi atau malah ingin menolaknya?"
"Tentu saja aku ingin pergi. Aku ingin pulang untuk berkumpul kembali bersama dirimu dan juga putra kita"
"Kalau begitu, kamu tidak perlu menangisi atau memikirkan hal lain sayang. Cukup ikut saja pergi bersamaku, dan memulai hidup yang baru. Lupakan saja semuanya, karna aku akan tetap menerima dirimu"
"A_Alex" panggil Asyifa terlihat tak percaya dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut suaminya, yang terdengar sangat tulus.
Alex membalas tatapan Aliya dengan tatapan yang selalu bisa menenangkan hati wanita itu. Ia pun mengulurkan tangannya untuk bisa disambut oleh Aliya dengan senang hati.
Keduanya pun tersenyum bahagia sambil bersama menciumi tangan milik pasangan masing-masing. Tak jauh dari sana, terlihat Kana yang senantiasa mengawasi dengan tatapan kesal.
"Dasar pria bodoh! Bisa-bisanya dia tetap menerima istrinya yang mengakui kalau ia jatuh cinta kembali dengan mantannya? Bikin kesal saja!" gerutu Kana.
__ADS_1
*****
Kana dengan teliti, menyiapkan segala yang dibutuhkan oleh Aliya dan Alex untuk segera meninggalkan kota ini. Semua sambungan yang bisa menghubungkan Aliya dengan Zenith atau pun William, sudah dibereskan oleh Kana tanpa satu pun yang tersisa.
Setelah itu, Kana memberikan sebuah tas yang sedari tadi ia bawa dari dalam mobilnya kepada Alex. Alex dengan penasaran segera memeriksa apa isi tas tersebut, menemukan sejumlah dokumen dan paspor untuk dirinya dan Aliya serta putra mereka.
"Untuk apa semua ini, Kana?" tanya Alex.
"Apa kamu bodoh? Kalau ada paspor, tentu saja kalian akan pergi keluar negeri!"
"Keluar negeri?"
"Iya. Jangan bilang, kalau kalian berdua akan mencari tempat lain di negara ini untuk dijadikan tempat kalian bersembunyi? Apa kalian tidak waras?!"
"Aku rasa, kami tetap bisa aman melakukan hal itu tanpa perlu pergi ke luar negeri" bantah Aliya, yang tak setuju dengan rencana Kana.
"Jangan naif, Aliya. Sebaiknya, kamu ikuti semua perkataan Kana"
Aliya terkejut saat melihat sosok Haykal yang tiba-tiba muncul dari sudut ruangan rumah, yang menjadi tempat mereka berkumpul. Ternyata, Haykal turut ikut membantu Aliya kabur setelah dirinya mengetahui rencana Kana dan Ratih.
Meskipun alasannya terdengar egois, namun Haykal merasa itu adalah jalan terbaik yang telah disiapkan tuhan, untuk bisa menyatukan kembali Asyifa dan William.
"Kak Haykal? Ja_jadi, selama ini kakak juga adalah dalang yang bekerja sama dengan mereka untuk membawaku ke tempat ini dan memisahkanku dari keluargaku?!"
"Haykal tidak tahu apa-apa, Aliya. Dia tidak termaksud dalam semua ini, bahkan dia juga tidak tahu jika selingkuhan William itu adalah kamu" jelas Kana sebelum Haykal.
"Lalu, kenapa kak Haykal ada disini sekarang? Apa keluar negeri, itu adalah ide kakak?"
"Benar, itu adalah ideku. Aku tanpa sengaja mengetahui kalau kamu lah selingkuhan William, dan saat mendengar Kana akan membantumu kabur dari pengawasan Zenith dan pergi dari hidup William, aku menawarkan diri untuk ikut membantu"
"Tapi kenapa harus luar negeri?" tanya Alex, mengulang pertanyaan sang istri.
"Itu karna Zenith adalah wanita yang cukup berbahaya untuk mencapai apa yang ia inginkan. Kalau kalian bersembunyi di dalam negera ini, dia pasti akan bisa dengan mudah kembali menemukan kalian dengan segala cara. Dan bukan hanya Zenith saja yang akan mencari istrimu, tapi juga adikku"
"Maksudmu, William?"
"Iya, William. Adikku sangat mencintai Aliya, dan jika ia sadar Aliya telah menghilang, aku yakin dia akan segera mencarinya. Itulah mengapa luar negeri, adalah tempat terbaik untuk keluargamu Alex"
"Kalau begitu, kapan kami akan pergi?"
"Secepatnya, kalau bisa malam ini juga. Putra kalian akan aku jemput dan antarkan kesini, jadi kalian tidak perlu cemas dan persiapkan diri kalian. Dan kamu Aliya, jangan melakukan tindakan ceroboh hanya karna terbawa perasaan sesaat"
"Ba_baik kak" jawab Aliya patuh.
Setelah itu, Haykal pun masuk ke dalam sebuah ruangan dan kembali bersama dua koper bersar, yang segera diberikannya kepada Aliya dan juga Alex.
"Kalau kalian sudah mengerti, aku dan Haykal akan pergi sekarang. Jangan lupa, jam 8 malam ini kalian akan berangkat! Kami akan datang lagi satu jam sebelum waktunya" ucap Kana mengingatkan.
"Baik"
Setelah itu, Kana dan juga Haykal pun pergi untuk menjemput putra Aliya dan Alex yang mereka titipkan kepada pengasuh di rumah yang Haykal belikan untuk keluarga itu.
Bersambung...
__ADS_1