The Ugly Wife

The Ugly Wife
Membuka hati


__ADS_3

"Asyifa! Ya tuhan, syukurlah kamu sudah sadarkan diri sekarang" seru Zidan bahagia, saat melihat kedua mata wanita di depannya itu mulai terbuka.


Asyifa yang tak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya setelah pingsan, mengerjabkan matanya selama beberapa saat. Wanita itu terlihat seilah tak percaya, kalau ia bisa bebas dari siksaan ibu panti.


"Aku di rumah sakit?" tanya Asyifa, berusaha bangun secara perlahan. Namun selanjutnya, ia malah merintih kesakitan.


"Aww!"


"Jangan bergerak dulu Asyifa, tubuhmu itu masih penuh dengan luka bekas disiksa oleh wanita gila itu, jadi kalau kamu memaksakan diri untuk bergerak sedikit saja, pasti akan terasa sakit sekali"


"Benar yang kamu katakan, rasanya sakit dan juga perih. Rasanya seperti badanku remuk semuanya! Tapi Zidan, bagaimana dengan kasus Elisa?"


"Aku pasti akan menjawabnya. Tapi itu nanti, setelah aku memanggil dokter untuk datang kesini dan memeriksa kondisimu. Oke?"


"Baiklah"


Zidan pun segera keluar dari kamar rawat inap Asyifa, untuk segera memanggil dokter yang menangani wanita itu. Sedang Asyifa yang bertugas menunggu, mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.


Dari kamar rumah sakit yang mewah dan juga serba memiliki peralatan bagus, Asyifa bisa menduga kalau dirinya sekarang berada di salah satu rumah sakit yang ada di kota.


Meskipun begitu, ada hal yang membuat Asyifa merasa sedikit terkejut, yaitu saat ia melihat ke arah jam dinding. Jam itu sedang menunjukkan pukul 6 sore, padahal kalau Asyifa ingat-ingat lagi, daat dirinya disekap oleh ibu panti, itu waktunya sudah malam.


"Sebenarnya berapa lama aku tak sadarkan diri? Apa benar selama itu, tapi kalau pun aku bangun, masa aku tidak ingat? Aneh"


Ketika Asyifa tengah sibuk menduga-duga berapa lama dirinya pingsan, tiba-tiba dari arah luar terdengar suara Zidan dan juga pria lainnya sedang menuju ke kamar Asyifa.


"Halo ibu Asyifa, senang sekali melihat ibu sudah sadarkan diri sekarang. Kalau boleh tahu, bagaimana perasaan ibu saat ini?" sapa dokter, ketika memasuki kamar Asyifa.


"Halo juga dok. Rasanya sulit untuk bergerak, karna setiap kali bergerak pasti sekujur tubuh menjadi terasa sangat sakit"


"Itu wajar sekali ibu Asyifa, karna hampir semua permukaan kulit yang ada ditubuh ibu, dibingkai oleh luka yang cukup membuat ngeri seseorang jika melihatnya"


"Ah, iya dok. Tapi kalau boleh tahu, aku sudah berapa lama tak sadarkan diri di rumah sakit ini? Apa sehari atau dua hari?" tanya Asyifa penasaran.


"Sebenarnya, lebih dari itu bu Asyifa. Tapi ibu tidak perlu khawatir, karna hal itu tidak akan berbahaya untuk diri ibu sama sekali. Kalau begitu, ibu Asyifa diperiksa dulu yah"


"Ah, baik dok"


Dokter pun memeriksa kondisi Asyifa secara teliti. Setelah menjelaskan seperti apa kondisi Asyifa saat ini, dokter juga menjadwalkan pemeriksaan menyeluruh supaya tidak ada cedera tubuh bagian dalam yang terlewatkan.


"Dokternya sudah pergi, apa sekarang kamu sudah bisa menceritakan semuanya padaku? Bagaimana keadaan anak-anak panti, apa mereka baik-baik saja? Wanita itu! Apa wanita itu sudah berhasil ditangkap oleh polisi? Lalu Eden, bagaimana kondisinya?"


"Woah! Tanyanya pelan-pelan saja Asyifa, satu persatu. Aku pasti akan menjawabnya, jadi tanyakan dulu dari hal pertama yang paling ingin kamu ketahui"


"Bagaimana keadaan anak-anak panti saat ini, apa mereka semua baik-baik saja?" tanya Asyifa pelan, mengikuti arahan Zidan.


"Anak panti semuanya dalam keadaan yang baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu merasa sekhawatir itu"


"Syukur lah kalau begitu. Kalau dalang dari semua ini kejadian semalam, bagaimana? Apa polisi sudah mengamankannya, dan juga memasukkannya ke dalam penjara?"


"Sudah Asyifa. Tapi sebelum dibawa ke kota untuk dimasukkan ke dalam penjara, ada satu hal lagi yang menjadi rahasia wanita itu, yang dibongkar oleh para polisi"


"Apa maksudmu, itu adalah jasad para anak panti lainnya yang pernah menjadi korban kekejamannya?" tanya Asyifa takut-takut.


"Iya Asyifa. Jasad para anak panti itu hanya tinggal tulang belulang saat ditemukan, dan perkebunan yang berada di belakang pantilah yang menjadi kuburan mereka selama ini"


Deg!


Hati Asyifa seolah berhenti berdetak selama beberapa menit, dan sebuah rasa bersalah pun seketika menghampirinya. Bagaimana bisa Asyifa pernah berdiri dan tertawa riang diatas jasad anak-anak tak berdosa itu.


Sekali lagi pemikiran tentang dirinya adalah seorang pembawa sial, terlintas di pikiran Asyifa. Apa semua tragedi ini terjadi karna ia yang secara tiba-tiba mendatangi panti itu?


Lalu bagaimana jika seandainya Asyifa tidak pernah datang kesana, apakah semuanya akan berjalan seperti biasanya? Setidaknya Elisa akan tetap hidup, bukan?


Seolah mengerti akan apa yang kini ada di pikiran Asyifa, Zidan membawa kedua tangan miliknya untuk menggenggam erat tangan Asyifa, lalu mengusapnya lembut.


"Semua yang terjadi kali ini bukan salahmu Asyifa, bahkan kejadian-kejadian yang telah lewat dalam hidupmu, juga bukan kesalahan dirimu"

__ADS_1


Asyifa menatap wajah Zidan dengan bola mata yang sudah dipenuhi genangan air mata yang terlihat sebentar lagi akan mengalir jatuh ke atas pipinya.


Selalu Zidan, dan hanya dia pria yang ada di dekat Asyifa yang akan dengan senantiasa mengulangi perkataan yang sama, demi bisa membuat perasaan Asyifa menjadi lebih baik.


Asyifa terharu. Wanita itu pikir selama dirinya pergi dan berusaha menghilang dari semua orang, Zidan juga telah melupakan dan tak lagi ingin mendekati dirinya.


Namun ternyata permikiran itu sepenuhnya salah, pria dihadapannya masih tetap sama seperti kali terakhir Asyifa melihatnya. Hati Asyifa menghangat, ia segera berhambur ke dalam pelukan Zidan dan tak ingin pernah melepaskannya lagi.


"Terima kasih, terima kasih Zidan. Terima kasih karna kamu masih mau datang ke desa itu untuk menyelamatkanku, terima kasih karna kamu masih peduli dan juga sehangat itu padaku. Terima kasih karna tidak pernah meninggalkanku, sekalipun aku menjauhi dirimu"


"Sama-sama Asyifa. Aku juga merasa sangat berterima kasih padamu, karna kamu sudah mau menghubungiku sebagai orang pertama untuk dimintai tolong" jawab Zidan, sambil membalas pelukan Asyifa.


Waktu dalam kamar inap Asyifa pun seolah berhenti berputar, melihat kedua orang itu berbagi kehangatan dalam pelukan rindu yang menggunung, selama beberapa waktu mereka tak bertemu.


Tanpa Asyifa dan Zidan sadari, ada empat pasang mata yang juga turut menyaksikan keromantisan yang mengaharukan itu dari luar jendela. Mereka adalah Adam, Raka, Mira dan juga Angel.


Keempatnya tersenyum bahagia melihat apa yang diimpikan oleh mereka selama ini bersama dengan Zidan, akhirnya perlahan mulai terlihat hasilnya.


Yah, hati Asyifa telah terbuka sepenuhnya untuk Zidan seorang. Wanita itu kini tak ingin lagi melepaskan pria yang sudah berulang kali membuktikan keseriusan cintanya.


*****


Asyifa memandangi wajah pria yang belum lama ini baru dikenalnya, dengan pandangan sedih da perasaan yang bercampur aduk.


Eden, pria itu terlihat seolah sangat betah untuk berlama-lama berada dialam bawah sadarnya. Mungkin dengan begitu, ia bisa melupakan sejenak kenyataan pahit bahwa dirinya adalah anak dari seorang wanita psikopat.


Berbagai macam perlatan medis yang tak diketahui namanya oleh Asyifa, senantiasa melekat 24 jam penuh diatas tubuh Eden.


"Itu adalah alat bantu untuk menopang Eden supaya bisa tetap hidup" jelas dokter yamg menangani Eden, dari belakang tubuh Asyifa.


"Ternyata begitu. Lalu kalau semua alat itu sampai dicabut dari tubuhnya, apa yang akan terjadi nanti?" tanya Asyifa, tanpa berpaling dari wajah Eden.


Mendengar pertanyaan Asyifa yang tiba-tiba, membuat Zidan dan sang dokter tersebut menjadi sedikit terkejut. Mereka tidak bisa menebak apa yang kini sedang dipikirkan oleh Asyifa, sampai bisa bertanya seperti itu.


" Ka_kalau sampai dicabut, tentu saja akan membuat Eden pergi meninggalkan muka bumi ini untuk selamanya"


"Untuk hal itu, kemungkinannya sangat kecil sekali. Bahkan aku saja tidak berani untuk menjanjikannya, karna dia sudah bisa hidup setelah kehilang banyak darah dalam waktu yang lama saja, sudah bisa dikatakan sebagai sebuah keajaiban"


"Bagaimana jika dia tidak akan pernah sadar, tapi aki ingin tetap mempertahankannya untuk terus hidup dengan bantuan alat-alat itu, apakah diperbolehkan?"


Sekali lagi dokter dan Zida dibuat terkejut oleh pertanyaan Asyifa. Dokter bahkan tidak bisa menjawabnya dan terdiam selama beberapa menit.


"Lupakan saja pertanyaanku yang barusan. Ayo Zidan, kita juga sudah waktunya harus kembali ke kamarku" pinta Asyifa.


Zidan pun dengan patuh mulai mendorong kursi roda Asyifa untuk menuju ke kamar wanita itu. Entah mengapa, kali ini Zidan tak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Asyifa.


Tapi yang terjadi selanjutnya, ketika mereka baru saja memasuki kamar inap Asyifa, wanita itu malah langsung tertunduk lemas sambil kedua bahunya bergerar hebat.


Benar, Asyifa menangis dalam diam, tangis yang dengan sekuat tenaga telah ditahannya selama berada di dalam kamar Eden. Tangis yang meskipun tidak akan bisa dlihat oleh Eden, namun tetap tak ingin dilakukan Asyifa di depan pria itu.


"Dasar pria bodoh! Harusnya kamu ikuti saja perintah ibumu untuk membawaku padanya, karna dengan begitu, kamu pasti akan tetap baik-baik saja dan tidak akan pernah menjadi seperti sekarang!" marah Asyifa.


Ternyata meskipun Asyifa juga memiliki perasaan marah pada Eden, namun perasaan yang dimilikinya sebagai seorang teman, membuatnya mau tidak mau tetap merasa sedih melihat kondisi Eden yang terbaring tak berdaya.


"Asyifa, tenang lah. Aku yakin Eden pasti bisa dan kuat untuk melalui semua ini. Dia pasti bisa kembali berkumpul bersama dengan kita semua dan juga bersama anak-anak panti"


"Hentikan Zidan, aku bukanlah wanita bodoh yang bisa kamu tipu dengan ucapan seperti itu. Aku juga ada disana dan mendengarnya langsung, saat dokter mengatakan bahwa kemungkinan Eden untuk bisa sadar sangat kecil. Lebih baik dia berada di dalam penjara dalam keadaan sehat, dari pada harus berada dalam kondisi menyedihkan itu!"


"Maaf, maafkan aku karna sudah menipumu dengan sebuah harapan. Maaf Asyifa, tapi aku mohon padamu untuk tidak menangis lagi seperti ini" jawab Zidan, memeluk tubuh Asyifa erat.


Setelah beberapa waktu Asyifa telah mulai kembali tenang, Zidan pun juga baru berani melepaskan pelukannya.


"Apa kamu serius ingin membiarkan Eden hidup selama yang dia bisa dengaj bantuan alat-alat itu?"


"Entahlah, aku tidak tahu. Yang aku tahu pasti saat ini adalah, aku tidak ingin melihat orang yang ku kenal pergi selamanya" Asyifa terisak kembali.


"Asyifa, semua manusia yang hidup di dunia ini pasti akan kembali kepada penciptanya suatu saat nanti. Wntah bagaimana caranya masing-masing, tapi yang pasti itu sudah menjadi takdirnya. Sama seperti semua orang yang telah pergi dari hidupmu, dan mungkin juga Eden nantinya"

__ADS_1


"Aku tahu Zidan! Dan itu yang membuatku semakin benci pada diriku, karna aku tidak bisa melakukan apa pun untuk mencengah hal itu terjadi!"


"Kamu tidak bisa Asyifa, dan kamu tidak akan bisa sampai kapan pun mencengah apa yang sudah digariskan oleh tuhan. Tugasmu hanya lah untuk menerima dan juga melanjutkan kehidupanmu sendiri"


"Kenapa tuhan sangat tak adil itu padaku? Dia mengambil semua orang yang berharga di hidupku untuk kembali padanya, tapi bahkan satu saja kebahagian di hidupku tidak dia berikan sebagai pengganti dukaku. Kadang aku berpikir, apa masih ada orang lain yang bernasih semalang diriku?"


"Ada! Pasti ada yang hidupnya lebih malang dan menyedihkan dari hidupmu, Asyifa. Itu adalah anak-anak panti yang tidak pernah merasakan memiliki orang tua, memiliki suatu keluarga, dan masih banyak hal yanh tidak bisa mereka rasakan. Bagaimana menurutmu, apa kamu masih menganggap dirimu adalah yang termalang di dunia ini?"


Asyifa terdiam, perkataan Zidan nyatanya memang benar. Asyifa tidak semalang para anak panti itu, setidaknya Asyifa pernah dan bisa merasakan memiliki kedua orang tua di hidupnya.


Merasakan kehangatan keluarga yang meski tidak diingatnya karna masih kecil, dan juga sekarang hidupnya berkecukupan serta masih bisa hidup ditempat hangat seperti apertemen.


"Meskipun kini kamu sedikit banyak memiliki kesamaan dengan anak panti itu, karna juga tidak memiliki orang tua, tapi kamu masih memiliki orang-orang terdekatmu yang sangat menyayangimu dengan sepenuh hati. Seperti aku contohnya" ucap Zidan, sambil membuka kedua tangannya lebar-lebar.


"DAN JUGA KAMI!" seru Adam, Raka, Angel dan juga Mira yang tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam kamar inap Asyifa.


"Sejak kapan kalian datang? Tidak, aku ganti pertanyaannya. Kenapa kalian harus datang, mengganggu waktuku dengan Asyifa saja!"


"Astaga, lihatlah betapa sombong dirinya sekarang! Mentang-mentang sudah dipeluk oleh Asyifa lebih dulu, dia jadi bersikap sok tidak membutuhkan bantuan kita lagi!" gerutu Raka kesal.


"Yah, itu sih urusannya. Kalau aku da Angel kan datang kesini untuk menjenguk Asyifa, dan bukannya orang yang bernama Zidan!"


"Wah! Aku baru tahu kalau bicaramu bisa sepedas sambal terasi, Mira! Pantas saja Asyifa terpaksa harus langsung pergi dari apertemen, begitu mendapat ucapan pedis darimu" balas Zidan, sengaja mengungkit hal yang sudah berlalu.


Dengan kesal, Mira dan Angel kompak segera menginjak kedua kaki Zidan sekuat tenaga. Kedua wanita itu kemudian melototkan mata mereka ke arah Zidan.


Sedang Asyifa, berpura-pura tak mendengar pembicaraan mereka semua. Membuat Mira dan juga Angel menjadi semakin salah tingkah dibuatnya.


"A_Asyifa, aku dan Angel ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu. Apa kamu bisa memberikan waktumu untuk mendengarkan kami berdua?"


"Hmm, silakan saja" jawab Asyifa singkat dan juga terkesan cuek.


"Aku dan Angel ingin minta maaf untuk apa yang sudah kami berdua katakan padamu di malam itu, terlebih atas ucapanku. Maaf yah Asyifa, kami sangat menyesal"


"Iya Asyifa, kami sangat menyesal. Saat aku mendengar kamu sedang dalam bahaya, aku bahkan tidak bisa tidur dengan tenang malam itu" cerita Angel mulai terisak.


"Aku rasa aku tidak bisa memaafkan kalian berdua, aku juga tidak bisa kembali tinggal di apertemen kita lagi"


"APA?!"


"A_Asyifa, jangan seperti itu, aku mohon. Aku dan Angel berjanji akan memperlakukanmu dengan lebih baik lagi mulai dari sekarang, kami juga tidak akan mengatakan hal yang jahat padamu. Jadi aku mohon kamu tidak pergi dari apertemen"


"Iya Asyifa! Tidak apa kalau kamu tidak ingin memaafkan kamk berdua, yang penting kamu tetap tinggal bersama kami di apertemen. Kamu mau kan, Asyifa?"


"Hahahahahah! Hahahaha! Astaga, kalian berdua lucu sekali! Aku tidak tahan lagi untuk berpura-pura!" tawa Asyifa pun meledak pada akhirnya.


Angel dan Mira yang belum juga menyadari apa yang sedang terjadi, seketika itu juga saling melempar tatapan bingung. Tapi ketika melihat Zidan, Adam, dan juga Raka sedang memasang ekspresi menahan tawa, kedua wanita itu pun mengerti kalau keempatnya sedang bersandiwara.


"Dasar! Tega sekali kamu berpura-pura marah, padahal aku dan Angel sudah susah payah menyusun kata-kata untuk minta maaf padamu!"


"Hahaha, maaf Mira. Tapi saat aku menjawab tidak bisa memaafkan kalian berdua itu memang benar adanya"


"Kenapa?" tanya Angel bingung.


"Yah karna kalian berdua tidak memiliki salah apa pun padaku. Kalian mengatakan semua itu, karna aku yang lebih dulu memancing kekesalan kalian. Jadi sudah sewajarnya jika kalian menjadi semarah itu"


"Lalu, kalau tentang tidak bisa tinggal lagi di apertemen bersamaku dan juga Angel, itu apa maksudnya? Apa itu juga benar adanya?"


"Kalau untuk yang itu, karna aku masih harus dirawat di rumah sakit ini selama beberapa hari lagi. Setelah itu, aku juga ingin pergi ke panti untuk menjenguk keadaan anak-anak"


"Astaga, aku pikir benaran! Kalau begitu, aku dan Mira juga ingin ikut mengunjungi panti bersamamu. Apa boleh?"


"Tentu saja boleh. Kita semua akan pergi ke sana, saat Asyifa sudah benar-benar sehat" Zidan yang menjawab.


Akhirnya, senyum dan tawa bisa kembali menghiasi wajah Asyifa. Zidan yang melihat hal itu, menjadi senang dan sebisa mungkin ingin menjaganya tetap seperti itu dalam waktu yang lama.


Zidan pun bertekad untuk lebih membawa hubungan keduanya semakin serius, setelah semua keadaan menjadi lebih baik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2