
Saat hari sudah mulai malam, William pun menjadi kalang kabut saat dirinya menyadari bahwa Aliya tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa pemberitahuan.
Meskipun sudah di hubungi oleh William berulang kali dan dicari ke tempat-tempat yang mungkin saja di datangi oleh wanita itu, namun hasilnya Aliya tetap tak bisa ditemukan.
William yang menjadi semakin tidak sabaran, mulai menarik-narik rambut dengan kedua tangannya sekuat tenaga. Dan dengan brutal, pria itu mulai menghancurkan satu persatu barang yang ada dalam kamar miliknya.
"Dimana kamu Aliya! Kenapa kamu tiba-tiba menghilang lagi, sama seperti dulu?" ujar William sedih, sambil merosot jatuh terduduk di lantai.
Dering ponsel yang berbunyi, membuat diri William bersemangat dan segera menerima telepon tersebut, karna mengira Aliya lah yang menelpon.
Namun ternyata bukan Aliya yang menelpon, tapi orang suruhan William yang baru saja di pekerjakan oleh pria itu, untuk membantunya mencari dimana keberadaan Aliya.
"Halo, ada apa? Apa kalian sudah berhasil menemukan Aliya?" tanya William dengan nada ketus.
"Maaf bos, tapi kami belum bisa menemukan non Aliya, seperti yang bos suruh"
"Lalu, untuk apa kalian menelponku kalau belum bisa menemukannya?! Cepat cari dia sampai ketemu!"
"Sebenarnya, kami menemukan siapa orang terakhir yang bersama dengan non Aliya bos" jelas pria di ujung sana cepat, sebelum William menutup telpon.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?! Cepat katakan padaku siapa orang itu, apakah aku juga mengenalnya?"
"Bos juga mengenalnya. Kalau tidak salah, dia adalah wanita yang pernah hampir menikah dengan bos beberapa waktu lalu"
"Apa maksudmu wanita itu adalah Zenith?" tanya William ragu.
"Benar bos, aku baru bisa mengingat nama wanita itu saat bos menyebutkannya"
"Apa kamu yakin, itu adalah Zenith?"
"Aku yakin bos. Karna itu adalah Aku wanita yang sama, yang pernah bos suruh untuk diawasi dulu"
"Dari mana kamu tahu kalau Aliya terakhir kali bersama dengan Zenith?" tanya William lagi, seolah masih belum bisa percaya.
"Aku mendapatkan informasinya dari tetangga yang tinggal disekitar rumah non Aliya, bos. Mereka bilang, melihat Aliya terakhir kali keluar rumah dengan seorang wanita yang seumuran dengannya. Aku ingat kalau wanita muda yang tidak menyukai non Aliya, hanyalah non Kana dan juga non Zenith. Saat aku menunjukkan foto keduanya, mereka bilang non Zenith lah wanita itu"
"Kurang ajar kamu Zenith! Awas saja kalau dia berani melakukan sesuatu yang jahat pada Aliya, akan aku habisi wanita itu! Kalian teruslah mencari keberadaan Aliya, dan kabari aku jika ada sesuatu!"
"Baik bos" jawab pria itu, kemudian menutup sambungan telepon.
Setelah itu, William langsung mencoba untuk menghubungi Zenith. Namun seperti halnya dengan Aliya, wanita itu juga sama tidak bisa dihubungi.
Merasa usahanya tak membuahkan hasil, William pun menyambar kunci mobilnya dan bergegas untuk mencari sendiri dimana keberadaan Zenith.
William pergi ke rumah Zenith, pergi ke hotel yang biasa menjadi tempat wanita itu untuk mengadakan pesta bersama teman-temannya dan terakhir William juga pergi ke perusahaan milik keluarga Zenith. Namun, ia sama sekali tidak bisa bertemu dengannya.
Dengan kesal William akhirnya mendatangi rumah Kana dan Haykal, untuk menanyakan keberadaan Zenith pada Kana. Karna setahu William, kakak iparnya itu sangatlah dekat dengan Zenith.
Tok...Tok... Tok... Tok...
Dengan tidak sabaran, William mengetuk pintu rumah kakaknya itu, bahkan hampir bisa dibilang mengedornya.
"William, ada apa kamu datang selarut ini ke rumah kami? Atau, kamu ingin bertemu dengan Haykal?" tanya Kana, yang membuka pintu untuk William.
"Cepat katakan padaku dimana Zenith saat ini, Kana?!" tanya William tanpa basa-basi.
"Zenith? Kenapa kamu menanyakan Zenith padaku, memangnya ada apa?"
"Dia telah menculik Aliya! Aku harus cepat menemukannya malam ini juga, sebelum dia melakukan hal yang jahat pada Aliya!"
"Me_menculik? Zenith menculik Aliya? Apa maksudmu, William? Aku tidak mengerti, memangnya saat ini Aliya hilang?" tanya Kana berpura-pura tidak tahu apa pun.
"Iya, Aliya tiba-tiba hilang tanpa kabar begitu saja! Dan saat aku cari tahu, semua tetangga Aliya mengatakan kalau dia terakhir kali keluar dari rumah bersama dengan Zenith!"
"Astaga, apa yang ingin dilakukan Zenith sampai membawa Aliya pergi?! Bukannya dia bilang kalau sudah merelakan kamu bersama dengan Aliya, kenapa dia tiba-tiba bertingkah seperti ini?"
"Kamu percaya padanya? Aku bahkan tidak bisa mempercayainya sama sekali, bahkan dengan dirimu juga aku tidak bisa percaya!"
Dengan tatapan sinis penuh permusuhan, William menatap wajah Kana. Membuat wanita itu hanya bisa menelan ludah dengan susah payah, karna ketakutan.
__ADS_1
Untung saja sosok Haykal muncul tepat waktu ditengah kedua orang itu. Seketika William mengendurkan ekspresi wajahnya itu.
"Kamu tidak perlu mencurigau Kana, Will. Dia seharian ini bersama denganku dalam rumah, dan tidak keluar apalagi untuk bertemu dengan Zenith" ucap Haykal menolong Kana.
"Baiklah, aku akan percaya karna kakak yang mengatakannya. Tapi, dimana Zenith sekarang, itulah yang aku ingin tahu, kak!"
"Kamu tidak perlu bersusah-susah mencari dirinya,William. Karna sebentar lagi, dia sendiri yang akan mendatangi rumah ini. Jadi kamu tunggu saja"
"Maksud kakak?"
"Apa kamu sudah dengar tentang berkas yang dimasukkan Asyifa untuk perceraian kalian ditolak?"
"Aku suda mendengarnya dari Aliya, sebelum dia menghilang kak. Memangnya apa hubungannya Zenith dengan semua itu?" tanya William bingung.
"Aku yakin dia sengaja menyembunyikan Aliya untuk memberi peluang bagi dirinya sendiri, karna mengira kamu akan segera bercerai dengan Asyifa. Tapi ternyata berkasnya malah ditolak, dan kamu pikir saja siapa yang akan di datangi Zenith untuk curhat?"
"Apa maksud kakak, itu adalah Kana?"
"Betul sekali!"
Benar saja, setelah beberapa menit Haykal mengatakan pemikirannya, bel pintu depan pun berbunyi nyaring. Dengan cepat, William bergegas untuk membukanya dan disana berdirilah sosok Zenith dengan wajah kesal.
"William? Kenapa kamu bisa ada di rumah Kana selarut ini?" tanya Zenith berubah gugup saat melihat William.
"Kenapa kamu sekaget itu, memangnya salah kalau aku berkunjung atau pun menginap di rumah kakakku sendiri?"
"T_tidak salah"
"Apa yang ingin kamu lakukan selarut ini bertamu di rumah kakakku?"
"Ah, i_itu... Itu, besok saja. Ada hal yang harus aku bahas dengan Kana, tapi biarlah aku akan datang lagi besok saja" jawan Zenith panik hendak pergi dari sana.
Namun langkahnya dicegah oleh William. Pria itu tidak akan membiarkan Zenith pergi begitu saja sebelum ia mengatakan dimana Aliya berada saat ini.
Dengan kasar, William mendorong tubuh Zenith hingga jatuh tersungkur di atas tanah. Tak hanya sampai disitu, ia juga menjambak rambut Zenith sekuat tenaga hingga wanita itu meringis kesakitan.
Zenith yang mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu, menjadi sangat terkejut hingga tidak bisa melawan. Sedang Kana yang berdiri disamping Haykal, hanya bisa menyaksikan kejadian itu dengan tatapan ngeri.
"Jangan berpura-pura bodoh kamu, Zenith! Aku tahu kalau kamu yang sudah menculik Aliya dan menyembunyikannya dariku! Cepaf katakan dimana kekasihku"
"Siapa yang menculik Aliya, kamu pasti salah paham! Aku berpisah dengannya di cafe dekat kantor pengadilan pusat, tidak mungkin dia diculik"
"Kalau dia tidak diculik, lalu kenapa sampai saat ini dia tidak muncul di rumahnya dan juga tidak bisa dihubungi sama sekali?!" tanya William terlihat semakin murka.
"Mana aku tahu! Mungkin saja, Aliya telah dijemput pergi oleh suaminya!"
Dibawah tekanan William, Zenith pun tidak bisa menahan lagi untuk tidak mengatakan yang sebenarnya tentang Aliya. William yang mendengar berita itu, hanya tersenyum mengejek.
"Suami? Jangan bercanda kamu Zenith, Aliya mana mungkin punya suami. Berhenti bicara yang aneh-aneh, dan katakan saja dimana Aliya sekarang!"
"Aku tidak tahu, dan juga yang baru saja aku katakan, bukan candaan. Aliya memang sudah memiliki suami selama ini, dan kalau kamu tidak percaya, tanyakan saja langsung pada kakak dan kakak iparmu itu. Mereka juga tahu akan hal itu!"
Seketika tangan William yang ada diatas rambut Zenith pun terlepas, dan secara pelan tubuhnya pun mundur beberapa langkah ke belakang. Ditatapnya wajah kedua kakaknya itu untuk mencari jawaban.
Kana dan Haykal, hanya bisa membalas tatapan pria itu dengan tatapan sedih sebagai jawaban bahwa yang dikatakan oleh Zenith adalah fakta yang sebenarnya.
"Ti_tidak! Tidak mungkin Aliya sudah memiliki suami, dia sudah berjanji untuk menikah denganku secepatnya, kalian semua tidak bisa membohongi diriku!" teriak William tak mau percaya.
"William, kakak tahu ini semia pasti berat untukmu. Tapi itulah kenyataan yang harus kamu terima, bahwa kamu dan Aliya tidak bisa bersama. Dia bahkan sudah mempunyai seoranh putra dengan suaminya itu"
"Tidak mungkin! Sekali pun semua itu benar, pasti Aliya tidak merasa bahagia hidup bersama dengan suaminya, makanya dia kembali mendatangiku!"
"William, i_itu, itu adalah rencana kami untuk mendatangkan Aliya kembali ke kehidupanmu demi memisahkanmu dengan Asyifa" jelas Kana dengan takut.
"Tidak mungkin, itu semua tidak mungkin terjadi seperti yang kalian katakan! Aku tahu kalau Aliya benar- benar ingin kembali padaku dan kami bahagia bersama, kalian tidak akan bisa memisahkan kami! Akan aku cari Aliya sampai ketemu, dan membuktikan pada kalian bahwa kami bisa bersama selamanya!"
Setelah berkata panjang lebar seperti itu, William pun berjalan dengan buru-buru untuk pergi menjauh dari ketiga orang itu. Namun karna tidak memperhatikan jalan sekitar lagi, William ditabrak oleh truk yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.
Seketika tubuh pria itu membentur bagian depan mobil, dan melayang sesaat di udara, lalu jatuh tak bergerak lagi diatas jalan. Membuat Zenith, Kana, serta Haykal berteriak kencang dan segera menghampirinya.
__ADS_1
*****
Keesokam harinya berita tentang kecelakaan yang dialami oleh William semalam, mulai tersebar tanpa henti hingga ke perusahaan Zidan. Bahkan Mira juga tanpa sengaja bisa mengetahuinya dari para cewek yang bergosip di toilet.
"Asyifa!"
"Ada apa, Mira? Kenapa kamu lari-lari seperti itu, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Asyifa bingung.
"Apa kamu sudah tahu berita terbaru hari ini, tentang William?"
"Untuk apa aku tahu berita tentangnya, Mira? Sebentar lagi dia akan resmi menjadi mantan suamiku, jadi aku hanya akan menutup mata saat melihat semua tentangnya"
"Aku rasa kali ini kamu tidak akan melakukan hal itu, karna semalam William baru saja mengalami kecelakaan yang membuatnya harus terbaring koma di rumah sakit"
"Ko_koma? Apa maksudmu, Mira? Dari mana kamu mendapatkan berita itu?"
"Aku tidak sengaja mendengar obrolan para wanita di toilet, dan mereka mengatakan itu adalah suamimu sambil menunjukan fotonya. Makanya aku mendatangimu untuk memberi tahu kamu, karna sepertinya kamu belum tahu" jelas Mira panjang lebar.
Asyifa memang terlihat sedih dan juga cemas karna mendengar berita itu, namun dengan cepat ia menghempaskan perasaannya. Karna mau sesedih apa pun dia saat ini, pria itu sudah memiliki Aliya sebagai tempatnya bersandar.
"Bukan urusanku. Mulai saat ini, jangan pernah menyebut namanya dihadapanku, aku mohon". pinta Asyifa.
"Baiklah. Tapi apa kamu akan tetap lanjutkan perceraian dirimu dengan William, disaat dia sedang dalam kondisi seperti itu?"
"Entahlah"
Tiba-tiba dari arah luar ruangan Asyifa, suara lari seseorang nyaring terdengar. Setelah itu, muncullah sosok Angel dengan nafas yang tidak teratur.
"Ada apa Angel, apa kamu baru saja berlari untuk datang ke ruanganku?"
"Ah, iya. Apa kamu sudah mendengar berita terbaru tentang William?"
"Berita tentang dia tertabrak dan sampai koma di rumah sakit, aku baru saja tahu dari Mira. Tapi karna sebentar lagi kami akan bercerai, jadi aku memutuskan untuk tidak peduli akan segala hal tentangnya"
"Bukan hanya itu, Asyifa! William menjadi seperti itu, karna Aliya tiba-tiba menghilang begitu saja dari hidupnya"
"Menghilang? Bagaimana bisa, mungkin saja dia diculik dan bukannya menghilang kan?" tanya Asyifa terlihat cemas.
"Entahlah. Tapi sepertinya hal itu sudah membuat William tidak bisa lagi memaafkan Aliya, bagaimana pun juga ini adalah kali kedua wanita itu menghilang"
Asyifa mendengar berita yang Angel katakan, dengan tatapan menerawang seolah ada hal yang ia coba ingat kembali. Sedetik kemudian Asyifa mulai sibuk membongkar semua laci yang ada di ruangannya dan juga isi tasnya, untuk mencari sesuatu.
"Ada apa, Asyifa? Apa yang sedang kamu cari sampai terburu-buru seperti itu?"
"Aku mencari surat, Ra"
"Surat? Surat apa, dan dari siapa?"
"Surat dari Aliya, yang ku dapatkan kemarin malam di dalam kotak surat kita. Disana tertulis namaku sebagai penerima"
"Aliya menulis surat untukmu? Tapi buat apa, kenapa dia harus susah paya menuliskan surat untuk mantan istri kekasihnya?"
"Aku juga tidak tahu, Mira. Tapi jika kita bisa menemukan surat itu, mungkin kita akan tahu alasan Aliya menghilang dari hidup William dan dimana sekarang wanita itu"
"Benar juga! Kalau begitu, ayo kita cari saja bersama-sama biar cepat ketemu!"
Ketiga sahabat itu pun mulai sibuk mencari kesana kemari untuk menemukan sepotong surat itu. Dan setelah beberapa saat, akhirnya mereka menemukannya juga.
"Dapat!" teriak Asyifa senang.
"Dapat dimana Fa, apa benar itu suratnya yang dari Aliya?"
"Aku dapat di saku tasku. Lihatlah, ini adalah inisial penulis yang bertuliskan inisial nama dari Aliya. Sedang di bawah, adalah namaku sebagai penerima"
"Kalau begitu, cepat buka dan baca isinya Fa! Aku sudah tidak sabar"
"Baiklah"
Asyifa pun menuruti perkataan Mira dan mulai mengeluarkan surat yang dimasukkan dalam amplop itu, untuk dibaca. Dan betapa terkejut ketiganya, saat mengetahui rencana apa yang sebenarnya terjadi selama ini.
__ADS_1
Bersambung....