
Angel dan Mira duduk terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sesekali tatapan keduanya menoleh ke arah pintu kamar Asyifa, yang tertutup rapat.
Sudah tiga hari Asyifa mengurung diri dan tidak pernah sekali pun keluar dari kamarnya, sejak hari dimana wanita itu membaca surat Kemal, serta meminta waktu mempersiapkan dirinya.
Asyifa seolah tak ingin kembali lagi ke rumah sakit untuk menepati janjinya pada Kemal. Wanita itu berpikir jika dirinya tidak datang, maka sang ayah pun akan tetap hidup.
Ting.. Tong..
Tiba-tiba bel apertemen berbunyi, membuat Angel segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
"Ah, kamu sudah datang"
"Bagaimana keadaan Asyifa? Apa hari ini dia sudah keluar dari kamarnya?" tanya Zidan, yang ternyata membunyikan bel.
Mendengar pertanyaan pria itu, Angel hanya bisa menggelengkan kepalanya disertai ekspresi sedih. Membuat Zidan menghela nafas gusar.
"Apa tidak bisa kita melakukan sesuatu untuk bisa membujuknya keluar dari dalam sana? Ini sudah lewat tiga hari, namun tidak pernah sekalipun dia keluar bahkan hanya untuk mengisi perutnya yang kosong" tanya Mira ikut bergabung bersama percakapan Angel dan Zidan.
"Aku rasa tidak akan ada alasan yang bisa membuat Asyifa mau keluar, kecuali kabar bahwa ayahnya sudah membaik"
"Tapi tetap saja dia harus keluar Ngel, yah minimal untuk makan dan minum. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa Asyifa juga harus ikut dirawat di rumah sakit bersama ayahnya!"
"Apa yang dibilang Mira ada benarnya juga. Kalau begitu, biar aku saja yang coba bicara dengannya"
Zidan kemudian berjalan ke arah kamar Asyifa, tapi sebelum mengetuknya, pria itu terlebih dulu menempelkan sebelah telinga untuk mendengar apa yang sedang dilakukan oleh Asyifa di dalam.
"Apa kamu yang dengar?" tanya Mira terlihat penasaran.
"Tidak ada suara apa pun. Apa kalian berdua yakin kalau dia ada di dalam?"
"Tentu saja. Aku dan Angel sedari tadi terus berada di ruang tamu, dan tidak beranjak dari sana sedetik pun"
"Dari pada kaliam bedua terus berdebat, lebih baik diketuk langsung saja pintunya"
"Baiklah, akan ku ketuk"
Tok... Tok... Tok..
"Asyifa, ini aku Zidan. Apa yang sedang kamu lakukan dalam? Apa aku boleh masuk?"
Tak ada jawaban. Hanya keheningan panjang yang di dapat oleh Zidan, seolah tak ada siapa pun di dalam ruangan itu.
Namun karna sudah tak sabaran, Zidan pun memberanikan dirinya untuk memutar gagang pintu kamar Asyifa, yang ternyata tidak dikunci.
Angel dan Mira yang juga penasaran dengan keadaan Asyifa, turut mengekor di belakang Zidan. Ketiganya baru bisa bernafas lega saat melihat sosok Asyifa sedang tertidur lelap diatas tempat tidur.
"Untunglah, ternyata hanya sedang tidur. Bikin pikiranku sudah kemana-mana saja"
"Memangnya apa yang kamu pikirkan dalam otakmu itu, Ra? Apa kamu pikir Asyifa akan melakukan sesuatu yang nekat?"
"Bisa saja kan. Habisnya, kali ini keadaannya Asyifa jauh lebih buruk dari pada terakhir kali dia mengurung diri dalam kamar. Waktu itu dia masih mengizinkan kita untuk masuk ke kamarnya, dan berbagi tentang apa yang dirasakannya. Tapi kali ini, bahkan membalas panggilan kita saja dia tidak melakukannya. Itu membuatku sedikit takut"
"Takut? Apa yang kamu takutkan?"
"Entahlah. Aku takut semua yang terjadi pada om Kemal hanya akan membuat tumpukan luka yang belum sembuh dihati Asyifa, menjadi bertambah parah. Aku takut kalau dimasa depan nanti, Asyifa tidak bisa menjadi Asyifa seperti yang kita semua kenal" jelas Mira, mulai terisak.
Angel yang bisa mengerti dan turut ikut membayangkan semua rasa takut yang dijelaskan Mira barusan, hanya bisa memberi pelukan pada sahabatnya itu.
"Tenang saja, aku yakin semua itu tidak akan sampai terjadi. Kamu dan aku adalah saksi, bahwa Asyifa mampu menghadapi dan juga mengatasi semua masalah dan duka yang datang di hidupnya"
"Semoga"
"Kalau begitu, sebaiknya kita keluar sekarang. Biarkan saja Zidan yang menunggui Asyifa hingga di bangun, dan bicara padanya"
Angel dan Mira kemudian berjalan keluar meninggalkan Zidan bersama dengan sosok Asyifa yang masih tetap tertidur. Setelah pintu tertutup, Zidan menarik kursi kerja milik Asyifa, dan duduk di sebelah ranjang.
Dengan perlahan, Zidan merapikan beberapa helai rambuy lurus Asyifa yang jatuh ke atas muka wanita itu.
"Aku rasa sudah waktunya kamu membuka matamu, dan berhenti berpura-pura tidur lagi. Karna aku sudah tahu kalau kamu tidak sedang tidur benaran"
"Hebat juga kamu tidak tertipu dengan akting yang aku tunjukkan. Aku pikir kalau kalian melihat aku sedang tidur, maka kalian akan keluar begitu saja" jawab Asyifa dengan nada dingin, sambil membuka kedua matanya.
"Apa kamu lupa menguci pintumu hari ini? Karna kata Angel dan Mira, kamu mengunci pintu kamarmu sepanjang waktu sejak masuk ke dalamnya"
__ADS_1
"Lebih tepatnya aku memang dengan sengaja membiarkannya tidak terkunci"
"Kenapa?"
"Entahlah. Mungkin saja supaya bisa lebih memudahkanku keluar dari sini, jika niat yang aku kumpulkan sedari tadi telah mencapai targetnya"
"Niat? Niat apa yang kamu bicarakan? Apa itu adalah untuk bertemu dengan ayahmu?" tebak Zidan tepat sasaran.
"Sepertinya di kehidupan sebelumnya, kamu memiliki kemampuan untuk bisa mengetahui apa yang ada dipikiran seseorang. Karna kamu selalu bisa membaca apa yang aku pikirkan"
"Kamu tidak perlu bercanda seperti itu, untuk berusaha menunjukkan kalau dirimu sedang baik-baik saja, Asyifa"
"Apa kamu bisa sekali saja, tidak memakai kekuatanmu itu padaku? Karna aku benci saat apa yang aku lakukan dan pikirkan bisa dibaca semuanya olehmu" pinta Asyifa tak senang.
"Baiklah. Tapi jika kamu bersedia untuk pergi ke rumah sakit denganku, untuk menjenguk ayahmu"
"Apa ayahku sudah sadar? Jangan bilang kalau dia belum juga sadarkan diri"
Zidan yang melihat sebuah harapan dari tatapan dan pertanyaan Asyifa, merasa jahat jika harus mengatakan yang sebenarnya. Tapi Zida juga tidak ingin berbohong pada wanita yang dicintainya.
Dengan berat hati, sambil menundukkan kepalanya seolah telah melakukan suatu yang salah, Zidan menggeleng lemah.
Melihatnya, Asyifa berusaha untuk tidak menampilkan raut kecewa. Wanita itu hanya bisa mengepalkan kedya tangannya, hingga kuku-kukunya yang panjang tertancap disana.
"Kalau begitu, sekarang aku ingin bertanya satu hal lagi kepadamu. Tapi kamu harus berjanji untuk menjawabnya dengan jujur"
"Baiklah, aku janji. Memangnya, apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Waktu itu, aku berjanji pada ayahku untuk memberi waktu padaku mempersiapkan diri, supaya bisa melepaskannya pergi menemui ibu kandungku. Kalau sekarang aku datang lagi menemuinya, tapi hatiku belum siap, apa dia akan tetap hidup?"
"A_apa, apa alasanmu tidak datang selama tiga hari ini ke rumah sakit, karna berpikir dengan begitu bisa membuat om Kemal tetap bisa terus hidup?"
"Bisa dibilang begitu. Sekarang giliranmu untuk menjawab pertanyaanku"
"Aku tidak tahu Asyifa, karna aku bukan tuhan dan yang bisa mengetahui kapan ayahmu meninggal, hanyalah tuhan. Tapi ada satu hal yang aku ketahui, bahwa ayahmu kini sedang sangat kesakitan"
"Kesakitan? Apa maksudmu?"
"Awalnya dokter memang memperkirankan om Kemal akan hidup beberapa bulan lagi. Tapi karna ayahmu tak juga kunjung sadarkan diri, membuat kondisinya menjadi semakin parah. Lalu pagi ini, dokter menyarankan untuk mencabut semua alat bantu kehidupan di tubuh om Kemal, karna tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkannya"
Namun sedetik kemudian, tawa itu mereda dan hilang begitu saja, terganti dengan suara tangisan yang menyayat hati. Jiwa Asyifa seolah terguncang dan tak bisa menerima semuanya.
Zidan yang tak tega melihat Asyifa seperti itu, langsung meraih tubuh wanita itu masuk ke dalam pelukannya. Membiarkannya untuk menumpahkan semua perasaan yang telah dipendamnya.
Setelah beberapa saat menangis dalam pelukan Zidan, Asyifa akhirnya bisa kembali mendapatkan kontrol dirinya, dan berhenti menangis.
Ditatapnya wajah Zidan dengan penuh harap, seolah sedang meminta dukungan dari pria itu supaya bisa merubah keputusannya untuk tetap berada dalam kamar ini.
"Aku tahu kamu merasa sangat sedih dan juga putus asa sekarang. Tapi semuanya tidak akan berubah Asyifa, dan mau tidak mau, kamu harus bisa menghadapi kenyataan itu. Atau kamu lebih memilih membiarkan ayahmu, semakin lama berada dalam rasa sakit yang terus menyiksanya hingga kini?"
"Aku tidak ingin ayah merasakan semua itu Zidan. Tapi aku juga tidak ingin membiarkan ayahku pergi meninggalkanku, aku ingin dia tetap hidup. Apa seperti itu tidak bisa terjadi?"
"Asyifa, aku juga ingin om Kemal terus hidup sama sepertimu. Tapi garis takdir yang telah dituliskan tuhan untuk om Kemal, berbeda dari apa yang kita berdua inginkan. Karna itu, kita harus membiarkan apa yang menjadi rencana tuhan untuk bisa terjadi, sama halnya dengan apa yang telah dilakukan ayahmu"
"Aku tidak ingin merasakan kehilangan lagi Zidan, aku lelah dengan semuanya. Aku juga ingin bahagia, aku tidak ingin sendirian di dunia ini tanpa keluarga!"
"Kamu tidak sendirian Asyifa, ada aku dan kedua sahabatmu, ada Raka dan Adam, juga ada bunda yang selalu siap menjadi bagian dari keluargamu. Kamu cukup memberikan tanganmu untuk diraih, dan kami pasti akan melakukannya"
"Apa kamu bisa memberiku waktu sendiri untuk mempersiapkan diri? Aku janji kali ini tidak akan lama"
"Baiklah. Aku akab menunggumun diluar bersama dengan Mira dan Angel"
"Terima kasih, Zidan"
Zidan lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar, untuk membiarkan Asyifa seorang diri disana, dan bergulat dengan pikirannya.
*****
"Kenapa dia belum keluar juga? Apa kamu yakin kalau dia mau pergi ke rumah sakit hati ini, bersama dengan kita?" tanya Mira mulai merasa khawatir.
"Tentu saja aku yakin. Jadi aku mohon untuk memberikannya waktu sebanyak yang dia inginkan, karna semua ini tidaklah mudah bagi dirinya"
"Aku mengerti, tapi ini sudah hampir satu jam kita menunggunya Zidan. Dokter juga pasti sedang menunggu kedatangan kita di rumah sakit sekarang"
__ADS_1
"Diamlah Mira, dia sudah keluar" bisik Angel cepat, saat melihat pintu kamar Asyifa secara perlahan mulai terbuka.
"Asyifa, apa kamu sudah siap?" tanya Mira, bergegas menghampiri sahabatnya itu.
"Iya, aku sudah siap sekarang. Maaf karna harus membuat kalian semua menunggu lama, dan terima kasih sudah menyakinkanku untuk pergi Zidan"
"Sama-sama. Ayo"
Keempatnya pun bergegas pergi ke rumah sakit dengan mobil Zidan. Perjalanan kesana terasa begitu cepat bagi Asyifa, karna tanpa sadar, dirinya kini telah berada disamping ranjang sang ayah.
Entah berapa kali wanita itu menarik nafas dalam dan menghembuskannya lagi, seolah sulit untuk bernafas secara normal. Hanya air matanya, yang mulai mengalir turun tanpa bisa dicegah.
Baru saja mulut Asyifa akan terbuka untuk mengatakan sesuatu, saat matanya tanpa sengaja menangkap gerakan tangan sang ayah.
"Ta_tangan ayahku, ta_tangannya"
"Ada apa Asyifa? Ada apa dengan tangan ayahmu, apa ada yang salah?" tanya Angel cemas, melihat Asyifa tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Tangan ayahku barusan bergerak, Ngel! Aku melihatnya sendiri, kalau tangannya bergerak sekali!" seru Asyifa senang.
Angel yang tak percaya, mencoba untuk memperhatikannya tangan pria yang masih tak sadar diri itu secara lebih dekat lagi.
Namun ia tak bisa melihat gerakan seperti yang dilihat oleh Asyifa. Awalnya Angel mengira itu hanyalah halusinasi Asyifa saja, sampai sebuah teriakan mengejutkan dirinya.
"Ya tuhan! Om kemal sadar! Di_dia membuka matanya!" teriak Mira histeris.
Zidan yang juga melihat hal itu pun menatap dengan pandangan tak percaya, pada sebuah keajaiban yang sedang terjadi di depan kedua matanya.
Dengan cepat Zidan berlari keluar dari kamar itu untuk segera menemui dokter. Zidan ingin memberitahukan apa yang baru saja terjadi, dan ingin meminta dokter memeriksa Kemal kembali.
"A_Asyifa, putri ayah" panggil Kemal dengan suara lemas, nyaris tak terdengar.
"Iya ayah, ini Asyifa. Asyifa sudah menunggu ayah sadar dan berbicara pada Asyifa. Ayah baik-baik saja kan? Apa ada bagian tubuh ayah yang sakit sekarang, coba katakan pada Asyifa"
"Maafkan ayah karna sudah membuatmu menunggu lama, nak. Ayah pikir, ayah tidak akan bisa berpamitan untuk terakhir kalinya denganmu, tapi untungnya bisa"
"Berpamitan? A_apa maksud ayah? Ayah mau pergi kemana? Ayah tidak boleh pergi, ayah harus tetap bersama dengan Asyifa disini"
"Asyifa, ayah tahu ini berat untukmu nak. Kamu sudah pernah merasakan kehilangan seorang anak, tentunya kehilangan ayah akan menjadikan lukamu kembali terbuka"
"Tidak, Asyifa tidak ingin mendengar apa pun yang ayah katakan, jadi diamlah"
"Asyifa"
"Asyifa bilang diam ayah!" teriak Asyifa sambil bangkit dari duduknya.
Dengan marah, Asyifa mulai membuang semua barang yang ada di depannya ke atas lantai begitu saja. Bahkan barang pecah belah dan ponselnya sendiri, dibantingnya.
Meskipun sebuah pecahan kaca mengenai kakinya, Asyifa tak juga ingin berhenti. Kemal pun hanya bisa diam, dan membiarkan Asyifa melakukan aksinya hingga selesai.
Mira dan Angel juga tak berani melakukan apa-apa, keduanya takut akan memperparah emosi wanita itu. Setelah cape, tubuh Asyifa pun merosot jatuh dan tangisnya pun mulai pecah disana.
"Waktu ayah tak lama lagi Asyifa. Ayah mohon supaya kamu mau mendengar apa yang ingin ayah sampaikan untuk terakhir kalinya" pinta Kemal, mulai meneteskan air mata.
"Apa tidak bisa ayah tetap hidup dan terus berada disampingku saja?"
"Maafkan ayah Asyifa, karna ayah tidak bisa mengabulkan permintaanmu itu"
"Harusnya sejak awal ayah menghindari naik ke pesawat itu, tapi kenapa ayah tetap menaikinya meskipun tahu akan ada bencana yang menimpa ayah?! Jika semua itu ayah lakukan, pastinya ayah tidak akan menjadi seperti ini!"
"Ayah hanya tidak ingin merubah apa yang sudah tuhan gariskan untuk ayah, Asyifa. Sekalipun itu adalah kematian, ayah akan tetap menerimanya dengan iklas"
"Bagaimana kalau yang mendapat bencana dalam mimpi itu bukan ayah? Melainkan aku, apa ayah akan tetap membiarkanku naik ke pesawat itu?"
"Kamu adalah satu-satunya harta yang ayah miliki Asyifa, ayah bahkan rela menukar nyawa ayah demi bisa membuatmu bahagia. Kamu pasti tahu apa yang akan ayah lakukan, jika yang muncul dalam mimpi itu adalah dirimu"
"Aku juga sama seperti ayah! Jika aku tahu ayah akan menghadapi bencana dan berakhir seperti ini, aku juga ingin menukar nyawaku supaya ayah bisa selamat! Ayah adalah satu-satunya keluargaku saat ini, kalau ayah pergi, aku hanya tinggal seorang diri"
"Maafkan ayah Asyifa, maafkan ayah. Tolong sampaikan juga permohonan maaf ayah pada ibumu, ayah sungguh sangat menyayangi kalian berdua. Hiduplah dengan baik dan juga bahagia, meskipun tanpa kehadiran ayah. Sekali lagi ayah minta maaf, putriku"
Tiiiiiiiiittttttttttt.......
Bunyi panjang pada monitor disebelah ranjang Kemal, menjadi pertanda bahwa pria itu telah pergi untuk selamanya dari dunia ini.
__ADS_1
Bersambung...