
Asyifa dan William tersenyum bahagia saat melihat ke arah monitor yang menampilkan anak mereka yang sudah memasuki bulan ke empat dalam kandungan Asyifa.
"Bayi dalam kandungan ibu Asyifa terlihat sehat sekali. Tapi, saya harap ibu tetap bisa menjaga untuk tidak mengerjakan aktifitas yang berat" jelas dokter setelah selesai memeriksa Asyifa.
"Baik dok"
"Apa ibu Asyifa atau pak William ada keluhan lain, perihal kehamilan atau semacamnya?"
"Tidak ada dok" jawab William dan Asyifa bersamaan.
"Kalau begitu, pemeriksaan untuk hari ini sampai disini saja. Ibu Asyifa harus terus meminum susu dan vitamin ibu hamilnya yah, supaya bayinya sehat selalu"
"Baik dok"
"Terima kasih untuk waktunya, saya dan istri saya permisi dulu dok"
"Sama-sama pak William"
Asyifa dan William yang baru saja keluar dari ruangan dokter, tak sengaja terlihat oleh Ratih dan Kana yang ternyata juga sedang berada di rumah sakit.
Hari ini adalah hari dimana Ratih harus menjalani pengobatan mentalnya, sedangkan Kana sengaja datang untuk menemani mertuanya itu.
Tapi tujuan Kana bukan hanya sekadar hanya menemani Ratih, melainkan juga untuk membuat dokter yang dicarikan oleh Rizal supaya mau bekerjasama dengannya.
Yah, Kana telah berhasil melancarkan rencananya untuk menghentikan pengobatan yang diterima oleh Ratih.
"Kamu dengarkan kata dokter tadi, bayi kita sehat tapi kamu harus tetap menghindari aktifitas berat"
"Iya sayang, aku tahu. Aku hanya tidak sabar untuk membeli semua keperluan bayi, apa tidak bisa kita membelinya sekarang saja?"
"Tidak bisa, sayang. Kita harus tahu dulu apa jenis kelamin anak kita, supaya tidak salah pilih. Kalau misalkan belanjanya sekarang pakaian cewek, tapi nanti yang lahir ternyata anak cowok, bagaimana?"
"Benar juga sih. Kalau begitu aku harus menunggu tiga bulan lagi, supaya bisa tahu jenis kelamin anak kita. Lama sekali!" gerutu Asyifa cemberut.
"Jangan sedih sayang. Tiga bulan jika kamu lewatkan sambil melakukan kegiatan lainnya, pasti tidak akan terasa lamanya"
"Humm iya"
Kaduanya pun berlalu pergi dari rumah sakit untuk kembali ke kantor masing-masing.
"Ternyata disini rumah sakit yang biasa di datangi oleh William dan juga Asyifa, untuk memeriksa kandungan Asyifa. Kenapa aku tidak pernah bertemu dengan mereka yah?" gumam Ratih pelan.
"Bukan itu yang penting sekarang mom. Aku rasa, aku tiba-tiba punya rencana yang sangat bagus"
"Rencana apa Kana?"
"Sepertinya aku harus membayar seorang dokter lagi untuk berada di pihak kita, supaya semuanya menjadi sempurna mom"
"Mommy tidak mengerti maksudmu Kana. Dokter mana lagi yang ingin kamu beli, selain dokter mommy?"
"Dokter yang menangani Asyifa" jawab Kana sambil tersenyum jahat.
Wanita itu mengeluarkan sebuah kantung obat yang sebelumnya telah diberikan Zenith padanya. Rencananya obat itu akan mereka berikan untuk diminum oleh Asyifa melalui Ratih. Tapi kini, Kana mempunyai jalan yang lebih bagus.
"Apa itu?"
"Ini adalah obat pemberian Zenith, yang bisa membuat kandungan Asyifa melemah dan berisiko keguguran. Awalnya aku berencana untuk meminta mommy yang memberikannya tapi dibandingkan mommy, pastinya Asyifa lebih mempercayai dokternya, bukan?"
"Apa kamu yakin obat itu bisa membuat Asyifa keguguran? Berapa lama waktu yang dibutuhkan?"
"Tentu saja aku yakin, karna Zenith pasti memilih obat dengan efek yang kuat. Untuk waktunya, tergantung seberapa banyak Asyifa mengkonsumsinya"
"Baguslah kalau begitu. Ayo cepat masuk ke dalam, dan bicara dengan dokternya"
Kedua wanita itu berjalan memasuki ruangan dokter yang bernama dokter winata dengan semangat. Saat melihat kedatangan tamu yang tidak ada dalam daftar, tentu saja dokter menjadi keheranan.
"Maaf, anda sekalian ini siapa yah? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Tentu saja dokter bisa membantu kami, dan hanya dokter yang bisa. Perkenalkan, nama saya adalah Kana, dan ini ibu mertua saya yang bernama Ratih"
"Baik, ibu Kana dan ibu Ratih, silakan duduk. Kalau boleh tau, apa yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Tadi kami tidak sengaja melihat anak dan menantu saya, baru saja keluar dari ruangan dokter. Apa saya boleh mengetahui tentang keadaan cucu saya?" tanya Ratih setelah duduk di kursi yang ada di depan meja dokter Winata.
"Pasien yang baru saja keluar? Apakah yang ibu maksudkan itu, adalah pak William dan juga ibu Asyifa?"
"Iya, betul. Saya adalah ibu kandung dari William, dan Asyifa itu adalah menantu saya. Sekarang, apa saya bisa mendapatkan yang saya inginkan?"
"Atau, dokter perlu bukti kalau mertua saya ini adalah benar ibu dari William?" sambung Kana, saat melihat keraguan di wajah dokter Winata.
"Tidak perlu, saya percaya dengan ucapan ibu Ratih. Saya bisa melihat adanya kemiripan antara wajah bu Ratih dan wajah pak William, jadi akan saya berikan hasil pemeriksaannya"
Dokter Winata pun bangkit dan berjalan menuju rak yang berisikan data-data hasil pemeriksaan para pasiennya. Ia kemudian kembali dengan sebuah map hijau yang bertuliskan nama Asyifa diatasnya.
"Ini adalah hasil pemeriksaan kandungan ibu Asyifa, dari bulan pertama hingga bulan keempat. Hasilnya sangat bagus sekali, bayi sehat dan bertumbuh dengan sempurna dalam kandungan" jelas dokter Winata, sambil memberikan map itu untuk dilihat oleh Ratih dan juga Kana.
Keduanya membaca hasil pemeriksaan dengan saksama serta melihat fofo hasil usg yang disertakan dalam map. Seketika wajah mereka menjadi tak senang.
"Apakah tidak ada kemungkinan yang bisa membuat menantu saya keguguran?"
"Tentu saja tidak ada bu, selama ibu Asyifa rajin menjaga kandungannya dengan selalu mengikuti saran yang saya berikan"
"Kalau Asyifa meminum obat ini, apakah dia bisa mengalami keguguran?" tanya Kana sambil memperlihatkan obat yang dibawanya sejak tadi.
"Obat apa itu? Boleh saya lihat?"
Kana memberikan obat itu pada dokter Winata untuk diamati. Dan setelah beberapa saat melihatnya, wajah dokter menjadi sangat terkejut.
"Obat apa ini bu Kana, saya baru pertama kali melihatnya. Tapi dari bungkusnya, ini seperti obat yang dibuat khusus atas permintaan seseorang"
"Dibuat khusus? Bagaimana dokter bisa tahu kalau obat itu dibuat khusus?" tanya Kana penasaran.
"Lihat tulisan ini. Ini adalah kode yang biasa digunakan laboratorium pembuat obat terbesar di kota kita, untuk menandai sebuah obat sebagai pesanan dari seorang yang penting. Seperti pemerintah, pejabat penting dan keluarga berada"
"Benarkah? Bagaimana dokter bisa tahu akan hal tersebut?"
"Maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan bu Ratih karna itu adalah privasi"
"Kalau begitu, kami juga sama seperti dokter Winata. Tidak bisa mengatakan obat ini dibuat untuk apa, kecuali dokter mau berkerja sama dengan kami"
"Bekerjasama untuk memberikan obat ini kepada Asyifa yang merupakan pasien dokter. Apa dokter bisa melakukannya?" jawab Ratih tanpa rasa takut.
"Tenang saja, saya dan ibu mertua saya pasti akan memberikan imbalan untuk apa yang dokter lakukan. Bagaimana kalau imbalannya, uang sebanyak yang dokter inginkan?"
"Berapa pun jumlahnya?"
"Tentu saja. Dokter tinggal katakan jumlah yang dokter inginkan, dan saya akan langsung mengirimnya ke rekening dokter. Tugasnya juga sangat mudah, dokter hanya perlu meresepkan obat ini untuk diminum oleh Asyifa sebanyak tiga kapsul sehari"
Dokter Winata yang mendengar tawaran menggiurkan dari Kana, tampak berpikir sejenak. Memang gajinya sebagai seorang dokter kandungan juga sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi jika ada kesempatan untuknya bisa memperkaya diri tanpa bekerja keras, kenapa harus ia dilewatkan begit saja?
"Saya mau bekerjasama. Tapi dengan syarat, semua hal yang akan terjadi kepada ibu Asyifa nantinya, tidak akan disangkutpautkan dengan saya. Apa kalian bisa menjaminnya?" tanya dokter Winata mulai berbicara santai.
"Kalau untuk itu, dokter tidak perlu cemas, akan saya jamin itu tidak akan terjadi. Kalau begitu, apa kita sepakat sekarang?"
"Sepakat" jawab dokter Winata, menjabat tangan Kana lalu berganti menjabat tangan Ratih.
"Tapi, apa dokter sudah tidak penasaran lagi dengan obat yang dibawa menantu saya?" tanya Ratih dengan sengaja memancing dokter Winata.
"Tidak. Tapi dari kesimpulan yang bisa saya ambil, itu pastinya bukan obat baik untuk ibu Asyifa dan anak dalam kandungannya"
"Dokter ternyata cepat mengerti yah. Baiklah, silakan sebutkan jumlah uang yang dokter inginkan"
Dokter Winata pun mengatakan jumlah uang yang diinginkannya dan Ratih langsung mengirimkannya. Kana pun memberikan obat tersebut sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu dengan wajah penuh senyuman.
*****
Aliya menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan sendu, ia kembali merasa sedih karna teringat akan sosok suami dan putra yang ditinggalkannya.
Sudah hampir sebulan Aliya berada di kota yang menjadi tempat kelahirannya, ia kini tinggal di sebuah rumah sederhana yang disiapkan oleh Kana dan juga Zenith sebagai tempat tinggalnya.
Namun selama itu ia tidak pernah diijinkan untuk keluar rumah. Alasan yang diberikan Zenith padanya, ialah karna mereka masih harus menyelesaikan rencana lain.
Dengan terpaksa, Aliya hanya bisa menuruti semua perintah yang diberikan padanya. Semua kebutuhan wanita itu juga telah disiapkan oleh Zenith dalam jumlah yang banyak, hingga bisa dipakai untuk beberapa bulan kedepan.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
Ketukan di pintu depan mengalihkan fokus Aliya, dengan berat hati ia berjalan untuk membukakannya. Ternyata Zenith lah yang datang.
"Kenapa lama sekali?" tanya Zenith angkuh, dan langsung berjalan masuk begitu saja ke dalam rumah tanpa memperdulikan Aliya.
"Maaf, aku sedang tiduran tadi. Tapi ada perlu apa kamu datang jam segini? Biasanya kamu datang saat malam hari saja, karna takut dilihat oleh tetangga lain"
"Seharusnya seperti itu. Tapi karna mendapat kabar baik dari kak Kana, membuatku menjadi sangat bersemangat untuk datang menemui dirimu"
"Kabar baik? Memangnya ada apa?" tanya Aliya penasaran. Entah mengapa firasatnya mengatakan itu adalah kabar baik hanya dari sudut pandang Zenith, dan bukan dirinya.
"Untuk apa kamu tahu? Yang perlu kamu lakukan itu hanya mengikuti semua perintah dariku, jika kamu masih ingin bertemu dengan suami dan anakmu! Paham kamu?!"
"Iya, aku paham"
"Bagus. Sekarang yang harus kamu lakukan, adalah menghafal semua yang telah aku siapkan dalam map ini" perintah Zenith sambil melemparkan sebuah map ke atas meja.
Dengan wajah bingung dan penasaran, Aliya mengambil map itu dan memeriksa isinya. Di dalamnya ada tumpukan kertas yang menuliskan tentang segala informasi tentang kehidupan Asyifa dan juga William yang tidak diketahui oleh dirinya, secara mendetail.
Selain itu ada juga rincian informasi palsu yang telah disiapkan untuk Aliya, seperti apa yang terjadi pada dirinya selama ini hingga menghilang dari kehidupan William. Yang nantinya harus Aliya katakan sebagai alasan pada William ketika keduanya bertemu.
"Apa kamu yakin ingin melakukan semua ini, Zenith? Seingatku kamu dulu adalah sosok yang sangat tulus berada disamping William, dan mendukungnya dalam segala hal. Aku mohon berhentilah, sebelum semuanya menjadi terlambat"
"Percuma saja kamu menasihatiku, karna sosok Zenith yang kamu kenal dulu sudah lama menghilang. Aku lelah terus menjadi pelarian William saat dirinya merasa sedih atau senang karna wanita lain, aku juga ingin menjadi alasan dirinya seperti itu!"
"Tapi dengan melakukan semua ini pasti akan membuat William sangat membencimu, dia tidak akan mencintaimu Zenith"
"Tahu apa kamu? Aku akan mendapatkan William menjadi milikku dengan cara apa pun, dan itu harus berhasil!"
"Tapi jika dia tahu___"
"DIAM! Aku tidak ingin mendengar semua nasihatmu itu, cukup hafalkan semua yang ada di kertas itu!" potong Zenith tegas kemudian keluar dari sana, meninggalkan Aliya seorang diri.
Aliya menatap pintu yang baru saja tertutup dengan tatapan dilema. Hati nuraninya seolah berteriak untuk tidak melakukan semua yang diperintahkan oleh Zenith, namun pikirannya terbang menuju anak dan juga suaminya.
Memang pilihan yang berat, namun Aliya tidak mungkin mengingkari janji yang telah ia ucapkan untuk berkumpul kembali bersama keluarganya.
"Maafkan aku William, maafkan aku Asyifa. Aku melakukan semua ini karna terpaksa, aku berharap semoga kalian bisa tetap bersama meskipun adanya kehadiran diriku ditengah hubungan kalian" bisik Aliya sedih.
*****
Angel memperhatikan setiap gerakan Asyifa dengan tatapan bingung. Sahabatnya itu kini sedang membuang beberapa botol vitamin hamil miliknya yang ia simpan dalam lemari di ruangannya, ke dalam tempat sampah.
Sejak hamil, Asyifa selalu menyetok segala kebutuhannya di rumah dan juga di kantor. Ia melakukannya, supaya tidak repot karna harus membawanya lagi dari rumah.
"Kenapa kamu membuang semua vitaminmu Asyifa? Apa itu sudah kadarluarsa?"
"Bukan Angel, semua obat ini masih baik dan masih bisa diminum. Tapi aku terpaksa harus membuangnya karna mendapatkan vitamin baru dari dokterku"
"Vitamin baru? Kenapa tidak memberikannya sedari awal, supaya kamu tidak membuang uang untuk membeli stok vitamin lamamu?"
"Aku juga tidak tahu. Tapi kata dokterku, dia selalu lupa untuk mengatakannya. Ini saja dia harus sampai mengatarkannya langsung ke perusahaan kita"
"Astaga, doktermu pastilah mempunyai kebiasaan pelupa seperti sahabat kita Mira." ucap Angel dengan nada prihatin, sambil menatap ke arah Mira yang sedang sibuk mengunyah makan siangnya.
"Kenapa dengan diriku? Apa kalian tidak ingin memakan makan siang kalian?"
"Tentu saja aku akan makan, kamu Asyifa? Tidak makan siang lagi?"
"Tidak. Aku masih saja mual jika makan siang menggunakan nasi, jadinya aku makan siang salad saja" jawab Asyifa sambil menunjukkan tempat bekal yang dibawanya dari rumah.
Setelah memakan bekalnya hingga habis, Asyifa kemudian meminum vitamin yang di berikan oleh dokter Winata. Meskipun aroma dan rasanya sangat kuat hingga hampir membuat Asyifa ingin muntah, namun wanita itu tetap memaksakan untuk minum.
"Setidak enak itu, Fa? Mukamu sampai merah menahannya" tanya Mira dengan ekspresi cemas sekaligus jijik bersamaan.
"Iya, Ra. Rasanya sangat mengerikan, tapi aku harus tetap meminumnya demi kebaikan anakku, bantu doakan saja semoga aku kuat melakukannya hingga tiba waktunya melahirkan"
"Amin" jawab Angel dan Mira bersamaan.
Bersambung...
__ADS_1