
Zenith duduk dengan gelisah di ruang tunggu, saat dirinya dibawa pergi oleh Ratih untuk mendatangi dokter seperti janji wanita itu. Ratih yang duduk disebelahnya, dapat melihat dengan jelas kalau gadis itu sedang mencemaskan sesuatu.
"Ada apa, Zenith? Kenapa kamu terlihat sangat gelisah, apa ada sesuatu yang kamu takuti jika mendatangi dokter?" tanya Ratih, menyelidiki.
"T_tidak, mommy. Hanya saja, Zenith sedikit takut untuk datang ke rumah sakit"
"Loh, memangnya kenapa kamu sampai takut sayang? Jangan bilang kamu takut disuntik?"
"Bukan begitu mommy. Zenith hanya pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan di rumah sakit" ucap Zenith beralasan, sambil memasang wajah sedih.
"Astaga, kenapa kamu tidak beritahu mommy, Zenith? Mommy juga ingin kamu merasa tenang, tapi memeriksa kesuburanmu juga sangat penting. Tolong tahan sebentar yah, sayang"
"Ah, i_iya mommy" jawab Zenith pasrah.
Keduanya pun kembali diam menunggu sambil melakukan kegiatan masing-masing. Hingga tiba saatnya giliran nama Zenith yang di panggil untuk memasuki ruangan dokter, baru lah keduanya segera bangkit.
Setelah melewati beberapa tes lisan yang sederhana, Zenith pun melakukan beberapa tes yang memerlukan hasil lab untuk benar mengetahui apakah dirinya subur atau tidak.
"Baiklah, semua tes yang harus dijalani oleh ibu Zenith, sudah selesai. Untuk hasilnya, akan keluar dalam 2-3 jam lagi. Apa ibu Ratih mau menunggu selama itu disini, atau biar saya saja yang akan mengantarkan langsung ke rumah ibu?" tanya dokter wanita, yang tampaknya kenal baik dengan Ratih.
"Sebenarnya saya dan calon anak mantu saya sangat ingin menunggu hasilnya langsung dok, tapi saya juga sudah punya janji penting di tempat lain. Kalau dokter tidak keberatan, saya akan sangat berterima kasih atas kebaikan dokter untuk mengantarkan hasilnya ke rumah saya"
"Dengan senang hati akan saya lakukan untuk ibu Ratih. Apalagi, ibu kan adalah salah satu donatur penting di rumah sakit kami" jawab dokter, sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih dok"
Zenith yang melihat adanya peluang untuk bisa mengambil hasil tes sebelum Ratih, tak ketinggalan untuk memutar otak. Entah mengapa, gadis itu tidak ingin Ratih melihat hasil tes yang dilakukan olehnya.
"Jangan mommy. Nanti kalau dokter yang mengantarkannya, kasian dokter pasti sudah lelah bekerja seharian, harus mengantar hasil tes lagi. Bagaimana kalau Zenith saja yang menunggu disini, sampai hasilnya keluar? Kebetulan, Zenith tidak ada janji lain setelah dari rumah sakit"
"Boleh juga kalau ibu Zenith maunya seperti itu. Nanti akan saya jelaskan langsung ke ibu Zenith tentang hasilnya, dan nanti ibu Zenith bisa meneruskannya ke ibu Ratih"
"Tidak, saya tidak setuju. Pokoknya, dokter harus menunjukkan hasil tesnya pertama kali kepada saya dan menjelaskannya langsung"
"Tapi mommy, Zenith tidak keberatan kok harus menunggu berjam-jam disini"
"Tidak sayang. Kamu kan tadi sudah bilang, kalau kamu punya pengalaman tidak enak di rumah sakit, bagaimana bisa mommy membiarkanmu sendirian menunggu disini"
Mendengar ucapan Ratih, Zenith mengutuk dirinya sendiri karna memberikan alasan seperti itu. Dengan terpaksa, ia hanya bisa menuruti keinginan dari Ratih untuk langsung pulang saja.
Beberapa jam pun berlalu, dan kini Ratih telah berada di rumahnya bersama dengan sang dokter yang membawakan hasil tes Zenith. Namun wajah dokter itu tidak nampak senang seperti saat terakhir kali mereka bertemu.
"Ada apa dok, kenapa wajah dokter seperti itu? Apa ada yang salah dengan hasil tes calon anak mantu saya?" tanya Ratih terlihat penasaran.
" Saya minta maaf bu Ratih, karna sepertinya hasil tesnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh ibu"
"Memangnya ada apa dengan hasil tesnya? Apa calon menantu saya, kurang subur dan kurang sehat untuk bisa memiliki keturunan?"
"Bisa dibilang seperti itu, bu" jawab dokter terlihat ragu-ragu.
"Tidak masalah, dok. Saya juga tidak berharap hasil tesnya sempurna, tapi selama menantu saya bisa memiliki anak, maka semuanya baik-baik saja untuk saya"
"Maaf bu, tapi keadaannya lebih buruk dari dari yang ibu pikirkan. Menantu bu Ratih, tidak bisa memiliki keturunan sampai kapan pun"
"A_apa_apa maksud dokter, menantu saya mandul, begitu?" tanya Ratih nampak tak percaya akan berita yang baru saja ia dengar.
"Benar bu"
Seketika Ratih bagai tersambar petir, tubuh wanita itu bergetar hebat. Ia mengutuk dirinya sendiri di dalam hati karna bisanya berencana menikahkan putra, William dengan seorang gadis yang mandul.
Jika William sampai jadi menikah dengan Zenith, itu berarti Ratih tidak akan pernah bisa mendapatkan seorang keturunan. Cukup sekali saja Ratih mengerti akan keinginan menantunya untuk menunda memiliki anak, tapi untuk kasus William, Ratih sangat ingin anaknya itu segera memberikan keturunan.
"Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan Zenith menikah dengan William! Sekarang, harapan yang aku miliki hanyalah Asyifa. Aku harus membuat Asyifa dan William, batal bercerai"
*****
__ADS_1
"APA? Zenith mandul?" tanya Kana terkejut, setelah mendapat berita tersebut dari Ratih.
"Iya!"
"Tapi bagaimana mungkin itu bisa terjadi, dan kenapa dia tidak memberitahukannya kepada kita mom? Atau jangan-jangan, hasil tesnya yang salah!"
"Tidak ada yang salah, Kana! Mommy sendiri yang mengantar dan menemaninya untuk melakukan semua tes dari awal hingga akhir. Memang benar kalau dia itu mandul!" jelas Ratih kesal.
"Baiklah, Kana percaya ucapan mommy kalau Zenith benar mandul. Lalu, apa mommy akan membatalkan rencana kita untuk membuat Zenith menjadi istri William?"
"Tentu saja! Mommy tidak akan mungkin mau mempunyai seorang menantu yang mandul, itu sama saja dia tidak berguna!"
Kana terlihat tidak suka dengan ucapan Ratih, namun dia juga tidak bisa membantah apa yang menjadi keinginan ibu mertuanya itu. Apalagi, sekarang hanya Ratih saja lah yang bisa Kana harapkan untuk bisa membujuk Haykal membatalkan niatnya menceraikan Kana.
"Tapi mommy, apa mommy lebih memilih jika William sampai jadi menikah dengan Aliya yang statusnya masih menjadi istri orang lain? Atau, mommy lebih memilih Asyifa yang gadis jelek dan sudah pernah mengalami keguguran?" tanya Kana, dengan nada menghina yang dibuat senatural mungkin.
"Setidaknya kedua wanita itu sudah berhasil dan pernah hamil bukan? Kalau begitu, mereka berdua lebih berguna dibandingkan dengan Zenith!"
"Astaga, mommy! Bagaimana bisa mommy memikirkan niatan gila seperti itu, mommy harus ingat kita ini keluarga terhormant dan mereka itu hanyalah wanita-wanita rendahan! Tidak ada wanita yang lebih layak dari pada Zenith untuk menjadi istri William!" ucap Kana marah.
Ratih yang mendengar ucapan menantunya itu, menjadi diam dan tampak sedang berpikir. Namun sekali lagi, rasa ingin memiliki cucu lebih penting bagi Ratih dibandingkan dengan kesempurnaan keluarganya.
"Mommy memang suka kesempurnaan Kana, tapi kalau kamu bersikeras untuk menjadikan Zenith sebagai istri William, berarti kamu harus siap berkorban"
"Maksud mommy?"
"Kalau Zenith tidak bisa hamil, bukannya masih ada kamu yang bisa mewujudkan hal itu untuk keluarga ini?" jelas Ratih tersenyum penuh kemenangan.
"Aku? Tidak bisa, mommy! Kana tidak bisa hamil, setidaknya untuk sekarang hingga dua tahun ke depan. Mommy kan juga tahu tentang kontrak model dengan brand terkenal yang sudah Kana tandatangani, Kana akan langsung kehilangan kontrak itu jika Kana hamil mommy" protes Kana tegas.
"Itu bukan urusan mommy, karna yang mommy inginkam adalah seorang cucu untuk menjadi penerus di keluarga ini. Kalau kamu tidak mau menjadi sasaran dan ingin tetap dibantu oleh mommy, maka kamu juga harus membantu mommy!"
"Kana harus membantu apa, mommy?" tanya Kana terlihat waspada.
Kana menatapa wajah Ratih dengan tatapan tak percaya, bagaimana bisa wanita itu lebih memilih Asyifa dibandingkan dengan Zenith dan juga Aliya.
Kalau Kana menjadi Ratih, ia pasti akan lebih memilih Aliya. Karna meskipun Aliya adalah yatim piatu dan masih berstatus sebagai istri dari pria lain, tapi bagaimana pun juga Aliya jauh lebih bisa dibanggakan dari pada Asyifa yang berwajah jelek.
"Kenapa tidak Aliya saja yang kita jadikan istri untuk William, mom?"
"Kana, mommy tidak ingin dibikin repot karna harus memisahkan Aliya dari suami dan anaknya. Lebih baik mommy memilih Asyifa yang statusnya masih menjadi istri William, karna itu jauh lebih mudah!"
"Terserah mommy saja lah. Tapi Kana akan beritahu, kalau menyingkirkan Zenith tidak akan mudah"
"Tanpa kamu beritahu, mommy juga tahu akan hal itu sayang. Untuk masalah Zenith, biar mommy sendiri yang akan mengatasinya. Kamu urus saja Aliya dan Asyifa"
"Memangnya, mommy punya rencana apa untuk Zenith?" tanya Kana penasaran.
"Kamu tidak perlu tahu, cukup lakukan saja apa yang telah mommy perintahkan padamu!" perintah Ratih sambil berlalu dari hadapan Kana.
Melihat tingkah Ratih, membuat wanita itu menjadi kesal. Ingin rasanya Kana menarik rambut ibu mertuanya itu, dan menolak semua perintah darinya.
Sedari dulu, selalu saja cuman Ratih yang bisa memberi perintah seenaknya pada Kana. Padahal, Kana adalah wanita yang tidak bisa diperbudak begitu saja, bahkan oleh kedua orang tuanya dan juga oleh Haykal.
"Harusnya aku tidak usah saja menghentikan pengobatan mentalnya. Sekarang lihatlah, betapa sok berkuasanya nenek tua itu, dasar menyebalkan!" gerutu Kana dalam hati.
*****
Di sebuah cafe yang berada tak jauh dari perusahaan Zidan, tampak Asyifa yang sedang duduk seorang diri sambil menikmati segelas minuman tanpa ekspresi.
Hari ini adalah hari pertama wanita itu mulai kembali bekerja lagi. Namun seharian ini, dibandingkan berkerja, Asyifa terlihat lebih banyak melamun dan tak fokus.
Zidan yang menyadari kondisi wanita yang ia cintai itu tak juga kunjung membaik, akhirnya memilih untuk mengajak Asyifa pergi ke cafe di jam istirahat, agar bisa berbicara berdua dengannya.
"Maaf lama. Tadi aku harus antri dulu, karna ini adalah makanan yang paling disukai di cafe ini" ucap Zidan membuka pembicaraan, sambil meletakkan sebuah kue berukuran mini dengan tampilan menarik di hadapan Asyifa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, pak" jawab Asyifa singkat, tanpa melihat wajah Zidan.
"Apa minumanmu enak? Tapi, minuman apa yang kamu pesan itu? Aku jadi penasaran"
"Espresso pak"
"Espresso? Bukannya kamu lebih suka yang manis-manis yah, kenapa malah pesan yang pahit? Atau kamu salah pesan, mau aku pesankan ulang?"
"Tidak usah pak. Aku memang sengaja pesan yang pahit, karna lagi pengen minum saja kok pak. Tapi kalau boleh tahu, ada apa pak Zidan mengajak aku ke cafe ini?" tanya Asyifa, tampak tak ingin berbasa-basi lagi.
"Itu, aku hanya ingin berbicara denganmu saja. Tidak ada hal yang khusus"
"Berbicara tentang apa, dan bapak sebagai siapa?"
"Berbicara tentang dirimu, Asyifa. Dan kalau boleh, aku ingin berbicara sebagai seorang teman, apa boleh?"
"Terserah pak Zidan saja!"
"Terima kasih, Asyifa"
Setelah Zidan mengucapkan terima kasih, keduanya malah saling berdiam diri dan tak lagi berbicara apa pun. Zidan nampaknya tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Sedangkan Asyifa, terlihat terlalu malas untuk berinisiatif melakukannya.
Dengan canggung, Zidan mulai menyibukkan diri meminum atau memakan makanan yang ada dihadapannya. Sesekali ia terlihat sibuk mengelap permukaan meja dengan sehelai tisu.
"Apa bapak akan terus bertingkah tidak jelas seperti itu? Kalau memang tidak ada yang akan bapak bicarakan, aku akan kembali duluan ke perusahaaan" ucap Asyifa yang muali terlihat bosan.
"Jangan Asyifa! Ba_baiklah, aku akan mulai berbicara. Tapi, tolong kamu duduk lah dulu"
Masih dengan tatapan datar namun sedikit kesal, Asyifa kemudian mengikuti perintah Zidan. Ia kemudian menatap wajah bosnya itu dengan tatapan serius dan tak berkedip sedikit pun.
"Cepat katakan lah, apa yang ingin bapak katakan pada saya"
"Ka_kapan, kapan kamu akan mengajukan sidang perceraian antaramu dengan William? Jika pertanyaanku kelewatan, kamu boleh memilih untuk tidak menjawabnya. Maaf"
"Secepatnya. Mungkin besok atau lusa, aku akan mengajukannya. Aku akan mengajukan sidang sialan itu, setelah aku mengunjungi tempat putraku"
"Ah, begitu" jawab Zidan kaku.
"Memangnya kenapa? Apa pak Zidan ingin membantu calon janda ini, dalam mengatasi masalah perceraiannya dan masalah anaknya yang meninggal?"
"Tentu saja, aku mau! Selama kamu yang meminta, aku pasti akan memberikan yang terbaik. Bahkan jika kamu menginginkan, aku bisa membuat suami dan selingkuhannya itu mendapatkan hukuman yang setimpal dari negara"
"Benarkah, apa aku bisa melakukannya? Kedengarannya cukup menyenangkan juga, masa cuman aku sendiri yang disiksa? Itu kan tidak adil!"
Meskipun Asyifa yang ada dihadapan Zidan nampak semakin aneh dan tak terkendali, namun Zidan tidak ingin mundur untuk memberikan bantuannya pada Wanita itu.
"Aku bisa membantumu mencari seorang pengacara handal. Aku yakin tanpa berulang kali sidang, kamu bisa langsung melihat mereka berdua menerima hukumannya"
"Aku hanya bercanda tadi, saat bilang ingin melakukannya. Aku tidak mungkin berani membalas kejahatan orang lain padaku, pak" ucap Asyifa sambil memaksakan seulas senyuman.
"Jadi, kali ini juga kamu akan membiarkan orang yang menyakitimu pergi begitu saja? Kali ini, apa alasanya?"
"Mungkin karna aku pernah merasakan hidup dalam kehidupan yang dipaksakan oleh orang lain, rasanya tidak nyaman sama sekali. Jika aku memaksa William untuk tetap bersama denganku, maka aku juga sama seperti ibuku yang suka memaksa"
"Kalian tidak sama, Asyifa! Kamu dan ibumu jelas adalah dua kasus yang berbeda!"
"Aku tahu, pak. Tapi dibandingkan semua itu, aku lebih membutuhkan pundak bapak dan pundak yang lainnya, untuk bisa menopang diriku dalam menghadapi semua itu"
"Kami semua pasti akan selalu mendukung kamu, Asyifa. Apa kamu mau aku temani pergi ke pengadilan besok?"
"Kalau bapak tidak keberatan, aku pasti akan sangat berterima kasih" jawab Asyifa sambil mulai tersenyum tulus.
"Besok dan seterusnya, aku akan selalu pergi bersama denganmu" ucap Zidan tegas, sambil menatap dalam ke arah wajah Asyifa.
Bersambung....
__ADS_1