
Berkat kekuatan dan namanya yang sudah terkenal luas di dunia bisnis, membuat semua proses yang harus dilakukan Zidan demi bisa memiliki sebuah bangunan panti untuk para anak panti, akhirnya selesai hanya dengan waktu yang cukup cepat.
Kini bangunan itu berdiri tegak dengan luas yang berkali-kali lipat dari rumah panti yang ditinggali sebelumnya oleh para anak-anak itu, membuat mereka menjadi antusias untuk segera masuk ke dalamnya.
"Anak-anak, jangan pada lari seperti itu, nanti kalian bisa jatuh! Jalannya pelan-pelan saja, Rora, Nana!" teriak Asyifa panik.
"Sudah biarkan saja mereka menikmati lari kesana kemari, kan memang sudah masanya mereka bertingkah seperti itu. Kalau jatuh kan nanti bisa diobati, tapi kenangan itu yang harus terus merek ukir"
"Ternyata kamu sudah datang? Apa semua hal sudah selesai diurus?" Asyifa menoleh ke arah Zidan yang kini berdiri disampingnya, lalu tersenyum manis.
"Iya, sudah. Apa kamu ingin melihatnya? Aku membawa dokumennya di mobil, kamu juga bisa sekalian melihat nama yang aku berikan untuk panti baru ini"
"Tentu saja, aku mau"
"Kalau begitu ayo" ajak Zidan, mengulurkan tangan kanannya ke arah Asyifa.
Asyifa yang melihat uluran tangan pria itu, segera menyambutnya dengan senang hati. Membuat keempat sahabat mereka mau tidak mau ikut mengembangkan senyuman di wajah masing-masing.
Demi bisa memberikan waktu sebanyak mungkin untuk Asyifa dan Zidan semakin mendekatkan diri lagi, keempat orang itu rela melakukan pekerjaan yang paling sulit dari pada bekerja kantoran.
Yaitu menjadi orang tua asuh untuk 15 orang anak dengan berbagai variasi umur, yang memang bukanlah peketjaan yang mudah. Apalagi bagi mereka yang berjiwa muda dan masih belum memiliki pengalaman tentang anak sama sekali.
"Ini dokumennya"
Zidan memberikan sebuah map coklat yang berisikan beberapa dokumen penting terkait panti asuhan yang pria itu bangun.
"Zi_zidan, i_ini benaran? Kamu pasti telah salah memberikan nama untuk panti asuhan ini, bukan? Masa namanya sama persisi dengan nama malaikat kecilku?" tanya Asyifa tak percaya, melihat nama panti yang tertera dalam dokumen tersebut.
Arcelio, itulah nama yang tertulis sebagai nama dari bangunan panti yang kini telah resmi menjadi milik Zidan.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka kalau aku memakai nama anakmu sebagai nama panti untuk anak-anak?"
"Tidak, bukan seperti itu. Aku malahan sangat senang, sekaligus juga berterima kasih. Tapi sebenarnya, apa alasanmu memilih nama malaikat kecilku sebagai nama panti ini? Apa dia sespesial itu dihatimu?"
"Iya, dia memiliki tempat yang sangat spesial dihatiku, sama seperti ibunya. Meskipun dia bukan anakku, tapi dia adalah anakmu, itulah yang menjadikannya spesial bagiku"
"Zidan, terima kasih. Aku tidak tahu harus berkata apa selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya padamu"
"Sebelum kamu berterima kasih, bagaimana kalau kamu juga melihat nama dari pemilik panti ini terlebih dulu? Karna aku rasa, itu juga adalah salah satu bagian terpentingnya"
"Melihat nama pemilik panti ini? Kenapa aku harus melihatnya lagi, kalau aku sudah tahu pasti siapa orangnya. Kamu kan pemiliknya?" tanya Asyifa yakin.
Namun keyakinan itu segera berganti dengan kebingungan, saat melihat Zidan menggeleng kan kepalanya beberapa kali, sebagai artian bahwa dugaan Asyifa sepenuhnya salah.
"Bukan? Lalu siapa pemilik pantinya? Apa itu adalah bunda, atau malah ayahmu? Ah aku tahu, pasti itu adalah anak-anak sendiri kaj yang menjadi pemiliknya?!"
"Bukan Asyifa, semua tebakanmu tadi tak ada satu pun yang benar. Jadi aku rasa kamu sebaiknya menyerah, dan melihatnya secara langsung saja"
"Hm, baiklah"
Melangkahi beberapa halaman dokumen, Asyifa pun sampai pada pada bagian akhir dimana ia bisa langsung melihat nama pemilik panti, tanpa harus membaca panjang lebar isi dokumennya.
Ekpresi wanita itu menjadi lebih terkejut lagi, karna bukan nama Zidan atau pun salah seorang yang dikenalinya yang berada disana, melainkan namanya sendiri.
Yah, nama panjang Asyifa tertulis disana sebagai pemilik yang sah dari bangunan panti yang beberapa menit lalu, baru saja dilihatnya berdiri dengan kokohnya.
"Tidak, aku tidak bisa menerima hal sebesar ini darimu Zidan. Aku tahu kalau kamu adalah seorang pria yang kaya dan juga mencintaiku, tapi tetap saja ini terlalu berlebihan untuk diberikan pada wanita, yang belum mengikat status apa pun denganmu"
"Kalau begitu, kita tinggal mengikat status saja diantara kita. Supaya apa pun yang akan aku berikan padamu, tidak terasa berlebihan lagi untukmu. Bagaimana?"
"Ma_maksudmu?"
"Hahahaha, aku hanya sedang bercanda tadi, Asyifa! Kenapa wajahmu terlihat sangat terkejut seperti itu?"
__ADS_1
"Bercanda? Kamu bilang yang barusan itu, adalah bercanda?" tanya Asyifa tak percaya.
"Iya Asyifa. Nama pemilik yang ada di dalam dokumen ini juga semuanya bohong, hanya namanya saja yang benar. Ternyata benar kata Mira, menyenangkan juga melihat wajah terkejutmu saat dijahili"
Plak...
Asyifa yang kesal karna merasa seperti sedang dipermainkak oleh Zidan, segera melayangkan tamparan ke atas pipi pria itu.
"Bagimu mungkin menyenangkan dan juga lucu, tapi bagiku ini sama saja dengan kamu sedang menghina diriku!
"Loh, memangnya kenapa Fa? Apa aku tidak boleh sesekali bercanda bersamamu, aku kan juga salah satu sahabatmu, sama seperti Mira dan Angel, atau pun Adam dan Raka" jawab Zidan kebingungan, sambil memegangi pipinya yang mendapat tamparan dari Asyifa.
"Aku pikir kamu adalah seorang pria yang pintar karna bisa membangun dan memimpin sebuah perusahaan besar, tanpa bantuan dari ayahmu, tapi ternyata aku salah. Kamu adalah pria yang sangat bodoh!"
"Ya ampun, kenapa kamu bicara sekasar itu padaku Asyifa? Aku kan hanya sekedar bercanda saja, kenapa kamu jadinya semarah itu. Oke, aku akan minta maaf"
"Tidak usah, aku tidak butuh permintaan maaf darimu! Tapi yang harus kamu ingat, jangan harap bisa bertemu denganku lagi, atau pun anak-anak panti lagi! Karna aku sendiri yang akan merawat mereka semua dengan kekuatan yang ku punya!"
Setelah menumpahkan kekesalannya pada Zidan, Asyifa pun bergegas keluar dari mobil dan berjalan nenuju bangunan panti untuk membawa pergi semua anak-anak dari sana.
"Dasar pria brengsek, bisa-bisanya dengan santai dia bercanda tentang perasaanku yang mahal ini! Ya ampun aku malu sekali, karna sudah mengira dia akan melamarku tadi!" gerutu Asyifa kesal, dengan suara yang pelan.
Sedang Zidan yang masih duduk di dalam mobilnya seorang diri, tersenyum senang. Karna sepertinya rencana yang sudah susah payah disusun olehnya dengan bantuan keempat sahabatnya, berjalan sesuai harapan mereka.
Zidan pun mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku dan langsung menghubungi Raka yang berada di dalam panti, untuk persiapan rencana selanjutnya.
"Halo Raka. Iya, Asyifa sudah berjalan masuk ke dalam panti dan sedang menuju ke arah kalian serta anak-anak. Aku akan menyusul beberapa menit lain, jadi tolong lakukan sesuai dengan apa yang sudah kita bahas sebelumnya"
Entah apa yang sedang dipersiapkan oleh Zidan dan yang lainnya untuk Asyifa, tapi jika dilihat dari wajah pria itu yang sedang berseri, sepertinya adalah hal baik.
Setelah menunggu beberapa menit, Zidan juga turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam panti mengikuti langkah Asyifa.
"Maafkan aku Asyifa, karna terpaksa harus membuatmu kesal terlebih dulu sebelum aku bisa memberikan kejutan utamanya" gumam Zidan pelan.
Disisi lain, Asyifa yang sedang berjalan hanya seorang diri dan dengan arahan dari Angel yang berbicara lewat telepon, malah tersesat karna saking besarnya panti itu.
Apalagi kondisinya yang masih kosong, serta beberapa sudut yang tertutup oleh terpal dan membuat sinar matahari sulit masuk ke dalam bangunan, malah membuat suasana menjadi sedikit gelap.
"Aduh Ngel, kayaknya aku tersesat deh. Apa tidak bisa kamu yang mendatangiku saja dan menuntuku langsung menuju ke tempat anak-anak sedang bermain?"
"Sepertinya tidak bisa Fa. Soalnya sekarang aku sedang memengangi tangga untuk Adam yang sedang ada diatas atap bangunan"
"Hah, Adam ada diatas atap? Memangnya dia sedang apa diatas sana Ngel? Perasaan aku, harusnya untuk ukuran bangunan yang baru beberapa minggu direnov, atapnya pasti tidak ada bocor sama sekali"
"Entahlah Fa, aku juga kurang faham apa yang dilakukan Adam diatas. Tapi aku benaran tidak bisa meninggalkannya seorang diri disini, bagaimana kalau kamu meminta bantuan sama Mira saja?"
"Aku juga sudah menelpon Raka dan Mira, tapi tidak ada satu pun dari mereka berdua yang mengangkat teleponku. Jadi bagaimana dong Ngel, masa aku harus tetap tersesat fi tempat ini?!"
"Kalau begitu, hubungi Zidan saja. Bukannya tadi kalian sedang bersama, kenapa tidak langsung meminta bantuan padanya?"
"Tidak mau, aku sedang marah padanya. Aku juga tidak mau bicara, atau pun bertemu lagi dengannya, dia menyebalkan sekali Ngel!" teriak Asyifa kesal.
"Ha_halo Ni_____sa, ha__"
"Halo Angel, kenapa suaramu terputus-putus seperti itu? Halo Angel? Angel, Angel tolong jangan matikan teleponnya, aku sangat takut sendirian disini!"
"A_ku, tidak____men_mendengarrrrrrrrr___su__ suaramu. Ha___halo, Fa?___"
Tut... Tut... Tut...
Sambungan telepon pun tersebut begitu saja setelah bunyi tut yang sangat panjang, dan juga memekikkan telinga.
Asyifa yang tidak tahu harus berbuat apa lagi selain mencari tempat untuk duduk disekitar sana, hanya bisa terus berdoa dalam hati semoga ada seseorang yang bisa bertemu dengannya.
__ADS_1
Hanya beberapa menit saja, doanya itu pun langsung terjawab oleh tuhan. Karna dari arah ujung pintu masuk ruangan, muncul sebuah bayangan yang sedang berjalan mendekat.
Meskipun Asyifa merasa sedikit trauma karna masih mengingat kejadian disekap dan juga disiksa oleh sang ibu panti psikopat, namun demi bisa keluar, Asyifa menahan rasa takut dalam dirinya.
"Akhirnya, aku bisa menemukanmu juga. Apa kamu baik-baik saja, kenapa tidak langsung menghubungiku saja kalau kamu sedang tersesat?"
"Untuk apa aku mrnghubungimu, aku juga bisa kok keluar dari tempat ini tanpa bantuan sama sekali darimu!" jawab Asyifa ketus, saat tahu yang datang adalah Zidan.
"Aku tahu kalau kamu masih marah padaku, tapi tolong jangan keras kepala dan ikuti saja aku. Karna kalau kamu bersikeras untuk bisa keluar dari sini seorang diri, maka aku yakin bahkan sampai malam pun kamu tidak akan bisa menemukan jalan keluar"
Asyifa yang mendengar penuturan Zidan, bahwa dirinya tidak akan bisa keluar bahkan bila sudah mencari hingga malam hari pun menjadi panik, dalam hatinya.
"Ya sudah kalau begitu, cepat tunjukkan sana jalannya padaku!" pinta Asyifa, mau tidak mau harus menyetujui saran Zidan.
"Baiklah, ayo ikuti aku"
Dengan berat hati, Asyifa pun melangkahkan kaki untuk mengikuti sosok Zidan yang dengan sengaja dibiarkan Asyifa berjalan lebih dulu dalam jarak yang lumanyan jauh.
Setelah beberapa saat berjalan, langkah Zidan tiba-tiba berhenti di sebuah pintu ruangan yang bertuliskan "ruang aula utama". Tanpa berkata apa-apa, Zidan menyingkir dari depan pintu itu untuk membiarkan Asyifa masuk lebih dulu ke dalam.
"A_ada apa? Apa kamu ingin menyuruhku untuk masuk duluan?"
"Kan yang ingin bertemu dengan anak-anak tadi kan kamu, masa aku yang masuk lebih dulu ke dalam? Harusnya kan kamu yang masuk duluan"
"Yah sudah kalau begitu! Tapi apa kamu yakin kalau ini benar adalah ruangan tempat para anak-anak panti berada, kenapa ruangannya terasa sangat hening?" tanya Asyifa curiga.
Karna memang ruangan itu tak terdengar adanya suara sama sekali dari dalam ruangan itu, apalagi suara anak-anak. Jelas saja hal itu membuat Asyifa sedikit khawatir.
"Itu karna ruangannya dilengkapi dengan alat peredam suara, jadi wajar saja kalau suara dari dalam sana tidak bisa terdengar hingga keluar"
"Ah, begitu. Tapi kenapa kamu tidak ikutan masuk saja bersama-sama denganku?"
"Aku pikir kamu sedang marah padaku, jadi aku sebaiknya sedikit menjaga jarak untuk sekarang, dan membiarkanmu masuk sendiri ke dalam"
"Yah memang benar aku sedang marah, tapi bukan berarti aku bisa melarangmu untuk masuk ke dalam salah satu ruangan yang menjadi milikmu kan?! Jadi kalau mau masuk, yah masuk saja!"
"Tidak, terima kasih. Aku bisa menunggu saja diluar sini, jadi kamu silakan masuk sendiri saja ke dalam"
"Astaga, ada apa sih denganmu? Kalau aku suruh masuk, yah masuk saja, kenapa terus saja menolak!"
"Apa kamu seingin itu masuk berasama-sama denganku? Atau jangan bilang, kalau kamu takut masuk seorang diri ke dalam, karna membuatmu teringat pada kejadian terakhir kali kamu disekap oleh wanita psikopat itu?" tebak Zidan, tepat sasaran.
"Ma_mana ada aku takut. Aku tidak takut sama sekali kok, kalau tidak mau masuk yah sudah, aku masuk sendiri!"
Selama beberapa detik sambil memegang gagang pintu, Asyifa menguatkan hatinya untuk membuka pintu tersebut.
Betapa kagetnya Asyifa saat mendapati ruangan tersebut dalam keadaan gelap gulita dan juga tanpa adanya keberadaan satu pun orang disana.
"Apa-apaan kamu, jangan bilang kalau ini juga adalah salah satu candaanmu saja?! Ini sama sekali tidak lucu Zidan!" seru Asyifa putus asa karna sangat kesal.
"Sebentar, ini bukan candaan dariku Asyifa. Aku juga tidak tahu kalau ruangannya gelap gulita, dan tidak ada seorang pun disini. Karna setahuku tadi, Raka bilang anak-anak dibawah kesini untuk bermain"
"Kamu yakin ini bukan hanya salah satu candaanmu?"
"Bukan Asyifa, percayalah"
Melihat wajah Zidan yang terlihat serius, mau tidak mau Asyifa menjadi percaya dengan perkataan pria itu. Tapi untuk memastikan sekali lagi kalau ruangan itu kosong, Asyifa dengan berani melangkah masuk.
Dan tiba-tiba saja, Klik. Bunyi tombol lampu ditekan, dan membuat semua lampu yang ada diruangan itu menyala seketika.
"SURPRISE!" teriak semua anak-anak panti dan juga keempat sahabat Asyifa, serta beberapa orang lainnya yang ikut hadir juga dalam ruangan itu.
Bersambung...
__ADS_1