
Zidan dan Asyifa kini berdiri berdampingan dengan gerakan yang canggung, sambil menatap sebuah gedung bioskop yang ada di depan mereka.
Yah, hari ini adalah hari dimana keduanya akan melanjutkan ajakan Asyifa untuk kencan dengan pergi menonton film, yang ingin ditonton oleh wanita itu.
"Tapi Asyifa, kalau boleh tahu, genre film apa yang kamu beli untuk kita nonton?"
"Horor pak!" jawab Asyifa tiba-tiba menjadi bersemangat.
"Horor? Apa kamu yakin ingin menonton film horor, bukannya itu sangat menyeramkan? Apa tidak mau diganti dengan genre lain saja, misalnya genre romantis?"
"Aku sebenarnya kurang suka film romantis pak, itulah sebabnya aku memilih film horor. Apa jangan-jangan, pak Zidan yang takut nonton film horor yah?" tanya Asyifa, dengan tatapan jahil.
"Mana mungkin! Asal kamu tahu saja, aku ini paling sering menonton film-film horor. Bahkan hampir semua film horor, mungkin sudah pernah aku tonton"
"Benarkah? Film apa saja yang sudah pak Zidan tonton, coba beritahu aku. Siapa tahu, aku juga pernah menontonnya"
Menghadapi keingintahuan Asyifa, membuat Zidan menjadi bingung harus menjawab apa. Pasalnya pria itu paling jarang menonton film, jangankan menonton film bahkan menonton berita saja tidak pernah.
Hidup Zidan hanya dipenuhi oleh pekerjaan dan pekerjaan sepanjang waktu, dan hal itu membuat dirinya hampir tidak mempunyai waktu untuk diri sendiri. Satu-satunya waktu luangnya adalah, saat sedang berkumpul bersama dengan kedua sahabatnya.
"Lupakan, nanti saja aku beritahunya. Lebih baik sekarang kita segera masuk ke dalam, karna filmnya akan segera dimulai"
"Astaga, pak Zidan benar!" seru Asyifa panik, saat melihat beberapa rombongan mulai sibuk memasuki ruangan bioskop yang juga menjadi tempat tujuan mereka.
"Jangan panggil aku pak Zidan terus Asyifa, panggil aku Zidan saja!"
"Iya, iya, Zidan. Ayo cepat, kita bisa terlambat" jawab Asyifa, sambil terus menarik tangan Zidan sekuat tenaga.
Ketika memasuki ruangan, keduanya pun segera menuju kursi sesuai dengan nomor yang ada di tiket masing-masing. Asyifa yang sudah menanti film ini sejak lama, terlihat sangat antusias.
Sedang Zidan, hanya bisa memasang wajah pasrah dan terus-terusan melap tetesan keringat yang jatuh membasahi wajahnya.
Pria itu menjadi semakin gelisah, saat film terlihat mulai diputar pada layar.
Suasana dalam ruangan seketika menjadi sangat tenang, tanpa seorang pun berani bersuara. Di saat semuanya sedang fokus menikmati film yang ada, tanpa sadar Zidan berteriak ketakutan.
"Arrggg!" teriak Zidan, saat melihat sosok hantunya muncul. Tingkahnya itu langsung membuat Asyifa menatapnya heran.
"Zidan, kamu baik-baik saja kan?"
"Te_tentu saja, aku baik-baik saja. Tadi aku tanpa sadar teriak, hanya karna terkejut saja. Tidak usah menatapku seperti itu, aku tidak takut sama sekali kok dengan film horor" jelas Zidan panjang lebar.
"Ummm, baiklah. Tapi kalau kamu takut, tidak masalah untuk mengatakannya padaku. Kita masih bisa menonton film yang lainnya"
"Tidak, aku baik-baik saja. Ayo fokus kembali menonton filmnya" ucap Zidan, kemudian berpura-pura fokus menonton.
Melihat Zidan yang fokus, membuat Asyifa pun tak ingin memperpanjang pembahasan. Wanita itu juga langsung kembali fokus dan menikmati film.
__ADS_1
Namun beberapa saat kemudian, kejadian Zidan yang berteriak ketakutan kembali terjadi lagi, dan alasan yang diberikannya sama seperti yang pertama, bahwa ia hanya terkejut saja.
Kejadian itu terus berulang hingga sebanyak 4 kali, dan membuat beberapa penonton yang ada disana merasa terganggu. Asyifa yang tidak enak, akhirnya terpaksa menarik tangan Zidan untuk segera keluar dari ruangan bioskop.
"Kenapa kamu tiba-tiba menarik tanganku keluar, filmnya kan belum selesai" protes Zidan merasa kesal.
"Apa kamu tidak melihat tatapan penonton lainnya barusan, akibat apa yang kamu telah lakukan di dalam?"
"Memangnya apa yang aku lakukan? Aku rasa sedari tadi, aku hanya terus fokus menonton film yang kamu pilih"
"Oh ya? Jangan bohong kamu Zidan, katakan saja kalau kamu itu pada kenyataannya takut menonton film horor!"
"Aku tidak_____"
"Kalau kamu masih terus saja berbohong, lebih baik kita sudahi sampai disini saja kencan kita hari ini!" ancam Asyifa tegas.
"Baiklah, maaf. Aku akan mengakui kalau memang benar aku takut menonton film horor"
"Bagus. Meskipun agak terlambat, setidaknya kamu mau mengakuinya. Tapi yang aku heran kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal?"
"Tentu saja untuk menjaga harga diri, mau untuk apa lagi? Nanti apa katamu kalau aku bilang takut menonton film horor?!" gerutu Zidan, sambil cemberut.
"Hahahaha, ya ampun. Ternyata harga diri seorang Zidan itu sangatlah tinggi sekali yah, bahkan sampai rela menonton hal yang ditakutinya"
"Itu semua kan, sengaja aku lakukan karna ingin memenuhi keinginanmu" ucap Zidan setegah berbisik.
"Apa pak Zidan? Aku tidak dengar tadi, suara bapak terlalu kecil"
"Yah, maaf. Kan belum terbiasa, jadi maklumi saja kenapa sih!"
"Yah sudah, jadinya kita mau kemana lagi sekarang? Apa mau nonton film yang lainnya saja, atau bagaimana?"
"Makan malam dulu deh, aku sudah lapar. Apa kamu tidak merasa lapar?"
"Lapar sih. Ya sudah, ayo cari makan"
Keduanya pun pergi menyusuri area disekitar gedung bioskop, yang memang dipenuhi dengan bangunan rumah makan dan juga beberapa cafe.
Setelah sepakat dengan makanan apa yang akan mereka makan, keduanya pun memilih memasuki rumah makan tradisional. Asyifa dan Zidan pun memesan makanan yang mereka inginkan dan menunggu.
"Asyifa"
"Iya, ada apa?"
"Aku minta maaf, karna sudah mengacaukan keinginanmu untuk menonton film horor yang sudah lama kamu tunggu-tunggu"
"Tidak masalah kok. Aku bisa datang lain kali dengan Angel dan juga Mira, untuk menonton lanjutannya. Kamu tidak perlu merasa bersalah, lagian itu hanyalah sebuah film"
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Tapi, apa kamu masih mau pergi kencan bersama denganku di lain waktu?" tanya Zidan penuh harap.
"Tentu saja, kenapa tidak"
"Terima kasih Asyifa, aku sangat senang bisa mendengarnya" ucap Zidan, tanpa sadar menyentuh punggung tangan Asyifa.
Asyifa yang terkejut, dengan cepat menarik tangannya menjauh dengan kikuk. Tingkah Asyifa, juga membuat Zidan menjdi salah tingakah karna merasa sudah lancang.
"Maaf, aku hanya___"
"Tidak masalah" jawab Asyifa cepat.
"Tapi Asyifa, aku rasa ada hal yang pelu kamu ketahui tentang diriku. Apa kamu mau mendengarkannya?"
"A__apa?"
"Aku, aku, aku sebenarnya_____. Sebenarnya aku suka padamu, Asyifa" ucap Zidan terbawa oleh suasana.
Mendengar pengakuan dari Zidan, membuat Asyifa tidak tahu harus bereaksi atau harus menjawab apa. Seketika isi pikirannya serasa menjadi kosong, begitu saja.
Dengan kikuk, Asyifa hanya bisa tersenyum canggung karna masih tidak percaya kalau Zidan akan mengakui cintanya secepat itu. Namun karna Zidan tidak membalas senyum yang diberikan Asyifa, wanita itu pun menjadi diam membisu.
"Kamu tidak perlu menjawab apa pun Asyifa, karna aku mengatakan perasaanku saat ini hanya supaya kamu mengetahuinya. Aku sama sekali tidak mengharapkan untuk mendapatkan jawaban, ataupun balasan dari dirimu"
"Tidak, aku akan menjawabnya" balas Asyifa tegas, yang membuat Zidan kaget.
"Kamu yakin ingin menjawabnya?"
"Iya. Aku rasa lebih baik untuk menjawabnya sekarang juga, supaya semuanya menjadi lebih jelas"
"Baiklah kalau begitu"
"Jujur aku sangat terkejut karna mendapatkan pengakuan cinta secara tiba-tiba dari kamu. Aku merasa seperti wanita berharga, dan aku juga ingin berterima kasih karna sudah mau mencintai diriku. Tapi maaf, aku tidak bisa dan tidak ingin memulai hubungan dengan siapa pun lagi"
Kecewa, itulah yang dirasakan saat ini oleh Zidan saat mendengar jawaban Asyifa. Tapj dibalik kecewanya, Zidan berusaha untuk bisa memahami keputusan yang dipilih Asyifa. Tentulah tidak mudah baginya untuk kembali membuka hati, setelah banyaknya kejadian buruk menimpa dirinya.
"Tidak masalah. Kalau begitu aku hanya perlu menunggu sampai hatimu bisa kembali menerima cinta yang datang, bukan?"
"Me_menunggu? Apa kamu yakin dengan ucapanmu ingin menunggu, karna aku bahkan tidak tahu kapan hatiku bisa kembali terbuka lagi. Bagaimana jika membutuhkan waktu yang sangat lama?"
"Tidak masalah, Asyifa. Karna aku sudah menunggu sejak lama, hingga bertahun-tahun bahkan. Jadi tidak masalah kan jika harus menunggu sedikit lebih lama lagi?"
"Ber_bertahun, tahun?" tanya Asyifa terlihat bingung dengan ucapan Zidan.
"Iya, aku sudah menunggu dan mencintai dirimu selama bertahun-tahun Asyifa"
"Mustahil. Kita saja berkenalan baru mau jalan tiga tahun, bagaimana bisa kamu sudah mencintaiku selama bertahun-tahun?"
__ADS_1
"Aku sudah menduga kalau kamu pasti sudah melupakan sosok diriku yang dulu pernah hadir dalam hidupmu. Tapi tidak masalah, jika kamu sudah resmi menjadi kekasihku, akan aku buat kamu mengingatnya"
Bersambung...