The Ugly Wife

The Ugly Wife
Permintaan Maaf


__ADS_3

Asyifa keluar kamar dengan setelan baju kerja dan mata yang masih setengah bengkak karna menangis semalam.


Angel dan Mira yang melihat hal itu saling berpandangan dengan tatapan heran, namun sedetik kemudian ekspresi mereka berubah seolah menahan tawa.


"Mau kemana pagi-pagi udah rapi, Fa?"


"Jangan bilang kamu lupa kalau hari ini adalah hari minggu? Dan sekarang kamu sudah rapi seperti ini, mau pergi kerja?"


"Ini hari minggu, Ra?"


"Iya Asyifa sayang, ini hari minggu! Kan kemarin kamu pergi sama William ke rumahnya untuk bertemu sama keluarganya"


"Ah, iya juga. Aku lupa" ucap Asyifa yang mulai teringat kembali apa yang sudah terjadi kemarin di rumah William.


Melihat wajah Asyifa yang tiba-tiba berubah sedih, Angel dan Mira merasa bersalah karna sudah membuat gadis itu mengingat kejadian pahit yang dialaminya kemarin.


Asyifa mematung ditempatnya berdiri dan dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis, ia tersenyum ke arah kedua sahabatnya itu.


Angel maju dan memeluk tubuh Asyifa perlahan "Kalau kamu mau nangis lagi, nangis aja Fa, jangan di tahan!"


Mendapat perlakuan seperti itu, membuat pertahan diri Asyifa yang ia bangun dari semalam saat berada di apertemen Zidan untuk melupakan segalanya, runtuh begitu saja.


Gadis malang itu jatuh terduduk di lantai dan terisak dengan tangisan yang menyayat hati, membuat Angel dan Mira hanya bisa menatapnya dengan tatapan iba.


"Aku harus bagaimana Ngel? Keluarga William, satu pun tidak ada yang menyukaiku sebagai pacar William. Mereka membenciku, Angel!"


"Asyifa, itu semua tidak benar Fa! William sendiri yang bilang kalau ibu dan kakak laki-laki serta ayahnya menyukai dirimu, hanya kaka iparnya saja yang tidak setuju!"


"William berkata seperti itu, karna dia sendiri tidak tahu kenyataan yang sebenarnya terjadi Mira. Mereka semua bekerja sama untuk membuat sandiwara seolah menerimaku dengan tangan terbuka dihadapan William. Namun dibelakang, adalah kebalikannya!"


"APA?!" Angel dan Mira nampak terkejut mendengar cerita Asyifa.


"Bangun sekarang Asyifa, dan ceritakan semua yang terjadi kemarin dengan lengkap dan sejujurnya kepasa kami berdua!" pinta Mira yang mulai terlihat marah.


Mira dan Angel membantu Asyifa bangkit dan duduk di sofa ruang tamu.


"Aku tidak tahu apakah ayah William juga termasuk salah satu dari sandiwara itu atau tidak. Yang pasti, Ibu dan kak Haykal juga istrinya adalah bagian dari semuanya"


"Apa yang mereka lakukan padamu Asyifa? Apa mereka segaja menuangkan minuman ke atas tubuhmu, atau membuatmu terluka?"

__ADS_1


"Tidak Mira, tapi mereka menggunakan cara yang lebih halus sehingga tidak dicurigai oleh William"


"Ceritakan semuanya pada kami Asyifa!"


"Awalnya, aku mengira mereka menerimaku dengan tulus Angel, namun aku salah. Saat semua orang sedang makan, kakak ipar William yang bernama Kana segaja memberiku pertanyaan mengenai pekerjaan kedua orang tuaku dan kemudian dia mulai menghinaku dengan perkataan yang menyakitkan seolah prihatin namun wajahnya tidak seperti itu"


"Jahat sekali, dasar perempuan kurang ajar! Awas saja kalau bertemu denganku!"


"Apa kamu mau tau yang lebih jahatnya lagi, Ra? Saat aku dan William pergi ke toilet dan aku disuruh kembali ke meja makan duluan, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka tentang rencana yang mereka susun untuk membuat diriku sadar kalau aku tidak pantas menjadi pacar William"


"Dasar keluarga gila! Bagaimana bisa William yang baik hati itu bisa memiliki keluarga iblis seperti mereka?!"


"Kenapa kamu tidak menceritakan semua itu kepada William?"


"Bagaimana mungkin aku tega mengatakannya pada William, Ngel! Mereka tampak seperti keluarga yang sangat menyayangi satu sama lain, aku tidak ingin menghancurkan hubungan seperti itu"


"Lalu apa yang akan kamu lakukan jika tidak memberitahu William? Apa kamu tahu yang terjadi semalam, dia seperti orang bodoh yang membela keluarga iblisnya itu mati-matian sampai harus berkelahi dengan pak Zidan hingga babak belur!"


Mendengar ucapan Mira, Asyifa nampak sangat terkejut dan membuat semua kesedihannya terlupakan begitu saja.


"Pak Zidan dan William berkelahi hingga babak belur semalam? Kenapa tiba-tiba ada pak Zidan dalam masalahku?"


"Jangan bilang kamu juga lupa dimana kamu tertidur semalam sebelum dipindahkan paksa oleh pak Zidan ke sini?"


Plak.. Asyifa menepuk jidatnya sendiri.


"Astaga, aku pasti sudah gila Angel! Bagaimana bisa aku mengikuti pak Zidan ke apertemennya begitu saja dan malah tertidur disana?!"


"Yah, aku akui, kamu memang luar biasa sekali Asyifa! Setidaknya kamu sudah pernah menginap semalam dan merasakan kasur empuk bekas bos kita yang tampan itu! Bukan cuman itu, kamu juga sudah merasakan rasanya digendong oleh pak Zidan dua kali dalam semalam!"


Mendengar godaan Mira, membuat wajah Asyifa memerah seperti tomat masak.


"Hentikan Mira, itu bukan sesuatu yang bisa di jadikan candaan! Aku harus segera pergi ke apertemen pak Zidan untuk meminta maaf"


"Ya ampun, kamu ingin minta maaf atau ingin minta digendong lagi oleh pak Zidan, Fa?"


"Apaan sih Mira, jangan asal bicara!"


"Asyifa, apa tidak sebaiknya kamu membawa sekalian kotak obat bersamamu, untuk mengobati luka pak Zidan sebagai permintaan maaf darimu?"

__ADS_1


"Ide yang bagus sekali, Ngel!" ucap Asyifa sambil mengambil kotak P3K yang berada dalam laci meja ruang tamu mereka.


*****


Di tempat Zidan, pria itu nampak sedang sibuk merapikan segala penjuru ruangan apertemennya saat mendengar Asyifa akan segera berkunjung.


Biasanya Zidan sangat membenci kemampuan dirinya yang bisa mendengar suara sekecil apapun karna sangat menganggu tidur dan konsentrasinya saat bekerja.


Namun semenjak dirinya menjadi tetangga dengan Asyifa, ia malah bersyukur. Berkat itu semua, dirinya bisa mendengar dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada gadis yang dicintainya itu.


"Sepertinya aku harus ganti pakaian yang baru dicuci, ini sudah ku pakai semalaman pasti baunya sudah tidak wangi lagi!"


Zidan segera menuju ruang ganti untuk berganti pakaian. Saat menatap cermin, dirinya tidak lupa untuk melepaskan semua plester yang melekat di wajahnya.


"Ah, sakit juga. Harusnya aku lebih hati-hati menarik plesternya, ini semua karna si pria sok ganteng itu!"


Ting... Tong...


Bunyi bel membuat Zidan buru-buru membuang semua plester bekas ditangannya ke tong sampah dan berlari ke arah pintu.


"Asyifa? Ada perlu apa kesini?" tanya Zidan pura-pura terkejut saat membuka pintu dan melihat sosok Asyifa yang berdiri disana sambil menenteng kotak P3K.


"Ya ampun, wajah pak Zidan. Maaf pak"


"Loh, kenapa tiba-tiba minta maaf? Memangnya kamu yang sudah memukul wajah saya?"


"Memang bukan saya yang memukul wajah bapak, tapi saya merasa punya kewajiban untuk meminta maaf pada pak Zidan. Saya sudah mendengar semua ceritanya dari Angel dan juga Mira"


"Yang memukul wajah saya itu pacar kamu, bukan kamu! Dan kalau pun ada yang harus minta maaf kepada saya, itu harusnya pria sok ganteng itu!"


"Pria sok ganteng? Maksud bapak, William?"


"Iya dia, mau siapa lagi! Sudah, jangan bahas dia, saya jadi malas. Kamu buat apa bawa-bawa kotak obat segala?"


"Oh ini, saya mau bantu obatin luka bapak sebagai permintaan maaf dan ucapan terima kasih saya atas apa yang terjadi semalam"


"Begitu. Ya sudah kalau kamu memaksa, saya tidak akan menolak. Ayo masuk"


Mendengar perintah Zidan, Asyifa hanya bisa mengikuti langkah pria itu untuk masuk ke dalam apertemennya.

__ADS_1


Namun ada satu pertanyaan yang tergiang di kepala gadis itu "Kapan dirinya memaksa pak Zidan untuk mau di obati olehnya?"


Bersambung...


__ADS_2