The Ugly Wife

The Ugly Wife
Pingsan


__ADS_3

Asyifa membuka pintu rumahnya dengan tubuh kelelahan. Ingin rasanya ia segera pergi membaringkan tubuhnya diatas kasur, namun setelah masuk Asyifa lebih memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Keadaan dirinya masih baik-baik saja, meski merasa sangat lelah. Asyifa bahkan masih bisa untuk memasak makan malam untuk dirinya dan juga suaminya.


Setelah selesai memasak dan membersihkan kembali dapur, serta menata semua makanan di meja, Asyifa kemudian beristirahat di ruang tamu sambil menunggu kepulangan William.


Untuk mengisi waktu luangnya, Asyifa membaca beberapa artikel di internet yang berisi tentang pengetahuan seputar ibu hamil. Tiba-tiba ia merasa perutnya terasa sangat sakit, meski hanya sebentar saja namun sakitnya mampu membuat Asyifa meringis.


"Aww! Kenapa perutku sakit sekali yah?" keluh Asyifa sambil memegangi perut dengan kedua tangannya.


Calon ibu muda itu tetap berusaha untuk tidak panik, dan sebisa mungkin mengatur nafasnya untuk tetap beraturan. Asyifa lalu menuju ke laci dimana tempat biasa ia menyimpan obat dan vitamin kehamilannya.


Dengan cepat Asyifa meraih sebutir vitamin dan segera menelannya langsung. Setelah beberapa menit, rasa sakit di perut Asyifa perlahan mulai hilang begitu saja.


"Apa aku terlalu kecapaian bekerja seharian yah, makanya perutku tiba-tiba sakit?" gumam Asyifa pada dirinya sendiri.


Ia kemudian mengelus permukaan perutnya yang terlihat semakin besar, dengan penuh kasih sayang, ada perasaan bersalah di hati Asyifa. Karna mungkin saja saat ini anak di dalam perutnya, juga merasakan apa yang dirasakannya dan itu semua adalah karna kesalahan Asyifa sendiri.


"Maaf yah sayang, kamu pasti merasa sakit juga kan di dalam sana? Bunda janji, tidak akan memaksakan diri lagi seperti hari ini. Kamu yang kuat yah" bisik Asyifa, seolah sedang berbicara dengan sang anak.


Saat sedang menikmati momen berbicara dengan sang anak, ponsel Asyifa kemudian berdering nyaring. Asyifa tersenyum senang saat melihat nama William disana.


"Halo sayang, kamu dimana? Apa sedang dalam perjalanan pulang?" sapa Asyifa riang.


"Halo juga sayang. Aku sedang bertemu dengan klien di restoran dekat perusahaanku sekarang. Aku sepertinya akan pulang agak terlambat, kamu tidak masalah kan?"


"Lagi?" tanya Asyifa dengan nada kecewa yang terdengar jelas.


Memang sudah beberapa hari ini William, sang suaminya sering sekali pulang agak terlambat bahkan hingga larut malam. Pernah juga ia pulang pada waktu subuh, dan alasan yang diberikan adalah adanya pekerjaan yang harus segera diselesaikan.


Sebagai seorang istri yang sangat ingin menaruh kepercayaan pada suami, Asyifa memilih untuk mempercayai setiap ucapan yang diberikan William.


Namun tidak bisa dibohongi juga kalau di dalam hati Asyifa, ada terselip perasaan kecewa, takut dan sedikit curiga pada pria itu bercampur menjadi satu.


"Iya sayang. Aku sebenarnya merasa sangat bersalah karna akhir-akhir ini sering meninggalkanmu di rumah seorang diri, tapi aku juga tidak bisa membiarkan pekerjaanku begitu saja"


"Ummm" jawab Asyifa singkat.


"Ayolah Asyifa, jangan seperti ini. Kalau aku bisa, aku juga sangat ingin cepat pulang dan menghabiskan setiap waktuku bersama denganmu. Apa kamu takut aku akan berbuat yang aneh-aneh dibelakangmu?"


"Mana mungkin aku bisa mempunyai pikiran seperti itu! Biar pun nanti aku menemukan dirimu dengan seorang wanita lain sedang berpelukan mesra, tapi jika kamu mengatakan itu adalah temanmu, pasti aku akan tetap mempercayai dirimu"


"Sebesar itu kah rasa percayami padaku, sayang? Astaga, aku sangat beruntung sekali mempunyai seorabg istri sepertimu" puji William mencoba membuat senang hati Asyifa.


"Tentu saja!" jawab Asyifa dengan nada jaim, namun juga tersenyum senang.


"Jadi, apa kamu masih marah padaku? Kalau kamu masih marah, aku akan meninggalkan pekerjaanku dan segera pulang sekarang"


"Jangan! Bagaimana bisa kamu pergi begitu saja, ditengah pertemuan dengan klien? Aku sudah tidak marah lagi kok, jadi lanjutkan saja pekerjaanmu" cegah Asyifa cepat.


"Terima kasih sayang. Aku berjanji akan menebus semua pengertianmu beberapa hari ini padaku, dengan suatu kejutan yang spesial nanti. Oke?"


"Baiklah, aku akan menantikannya. Rasanya sudah tidak sabar"


"Sabar yah sayang, tidak lama lagi kok. Kalau begitu, aku sudahi dulu telponnya yah. Aku harus segera kembali ke dalam ruangan"


"Iya. Kamu hati-hati"


"Kamu juga"


Asyifa meletakkan ponselnya diatas meja dan segera ingin menuju ke kamarnya di lantai dua. Namun saat mengingat perutnya belum terisi makanan apa pun malam ini, ia memilih untuk pergi ke dapur terlebih dulu.


Wanita itu menikmati makanannya seorang diri dengan suasana hening yang terasa sudah sangat akrab. Saat akan menyuapkan sendok kelima ke dalam mulutnya, Asyifa kembali merasakan sakit yang sama pada perutnya.


"Awww.... Kenapa perutku sakit lagi, bukannya aku sudah minum vitaminnya? Dan kenapa rasa sakitnya menjadi semakin parah dari yang sebelumnya?"


Dengan susah payah, Asyifa bangkit dari duduknya dan berjalan menaiki tangga sambil menahan sakit. Ia segera membaringkan tubuhnya yang sudah terasa semakin lemas dan tak bertenanga.

__ADS_1


Tak sedetikpun terlewatkan dengan suara rintihan kesakitan Asyifa. Keringat dengar ikut mengucur derasa dari seluruh badannya, membuat wanita itu semakin sulit bernafas.


"Apa yang terjadi padaku? Ya tuhan, tolong selamatka diriku dan anakku" setelah berucap seperti itu, Asyifa pun pingsan tak sadarkan diri.


Sedang disisi lain, William sedang tertawa bahagia sambil menghabiskan waktunya dengan mencoba berbagai wahana permainan di taman bermain, bersama Aliya.


Keduanya terlihat sangat bersemangat dan gembira menjelajahi setiap sudut yang ada. Tak lupa keduanya turut Memanjakan perut mereka, dengan berbagai macam makanan dan minuman yang dijual disana.


"Kenapa kamu tiba-tiba mengajakku ke taman bermain, Will?" tanya Aliya disela-sela kunyahannya.


"Aku kan sudah membuatmu kecewa siang tadi, jadi semua ini aku lakukan adalah untuk menebus kesalahanku itu. Apa kamu suka?"


"Tentu saja aku suka! Sejak kecil hingga sekarang, tempat yang sangat aku sukai yaitu adalah taman bermain. Apalagi taman bermain seperti ini, penuh dengan segala hal yang belum pernah aku cobai" jelas Aliya dengan antusias.


Meskipun Aliya tidak pernah menyukai waktu yang di habiskannya bersama William sejak mereka bertemu lagi, namun untuk kali ini adalah pengecualian.


Aliya tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia dan senangnya saat mengetahui tempat William membawa dirinya ke sebuah taman bermain.


Sejak kecil Wanita itu selalu dibuat kagum saat melihat taman bermain yang hanya bisa dilihatnya dalam foto yang ditunjukkan oleh teman-temannya. Karna dulu Aliya sangat miskin, sehingga tidaj bisa melihatnya secara langsung.


Meski begitu, Aliya tak pernah berkecil hati. Ia bahkan rela menjadi pesuruh yang bertugas membawa barang-barang milik temannya, hanya untuk bisa melihat taman bermain walaupun tidak bisa turut menikmati wahana yang ada.


"Aku ingat kamu dulu pernah bilang kalau kamu sangat suka dan ingin sekali pergi ke taman bermain. Oleh karna itu aku membawa dirimu kesini"


"Kamu masih mengingatnya? Tapi, itu kan sudah sangat lama Will" ucap Aliya terlihat sangat terkejut dan juga terharu.


"Tentu saja aku masih ingat. Kan sudah aku bilang, kalau aku sangat mencintaimu bahkan setelah menghilangnya dirimu dalam waktu yang sangat lama. Jadi kamu jangan heran jika semua tentang dirimu, masih teringat jelas di ingatanku"


"Baiklah, aku percaya pada ucapanmu itu pak William yang terhormat. Apa sekarang aku boleh mencoba satu lagi hal yang sangat ingin aku coba?"


"Tentu saja. Memangnya apa lagi yang ingin kamu coba lakukan?" tanya William terlihat penasaran.


"Aku ingin mencoba berfoto bersama dengan dirimu, di dalam sana! Apa boleh?" tanya Aliya


Tangan wanita cantik itu menunjuk ke arah sebuah ruangan kecil berada, yang tak jauh dari tempat keduanya sedang berdiri. William yang mengikuti arah tangan Aliya, hanya bisa melihat tempat itu sambil terseyum.


"Iya, ayo kita lakukan!" ajak Aliya langsung menarik tangan William masuk ke dalam sana.


Keduanya segera asyik bergaya dengan berbagai macam gaya yang mereka sepakati bersama. Setelah dirasa cukup, Aliya segera menyimpan hasil foto yang di dapatnya ke dalam tasnya.


"Apa kamu sesenang itu? Kita hany berfoto di photobox loh, kamu tidak ingin melakukan yang lebih dari ini?"


"Tidak. Ini lebih berharga dari hal lainnya, jadi jangan menganggapnya remeh seperti itu!" perintah Aliya sambil menunjukan tinjunya ke arah William.


"Hahaha,, baiklah. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Ayo kita pergi dari sini, dan cari temoat untuk makan malam"


"Tapi bukannya kita sudah makan jajanan cukup banyak tadi, masa mau makan lagi? Nanti aku bisa menjadi gendut, Will!"


"Kamu tidak akan jadi gendut hanya karna beberapa makanan saja, sayang. Kalau pun benar kamu menjadi gendut, aku pasti akan tetap menyukai dan mencintai dirimu"


"Dasar gombal!"


"Biar gombal tapi kamu suka kan?" goda William sambil memeluk pinggang Aliya mesra.


"Kepedean kamu!" cibir Aliya, sambil balas memeluk pinggang William dengan sama mesranya.


Entah mungkin karna Aliya terlena akan kehangatan dan kebahagiaan yang William berikan padanya, membuat wanita itu mulai bisa menikmati waktunya bersama William.


Bahkan sedari tadi, ia selalu mencoba untuk mengenyahkan bayangan wajah suami dan anaknya yang selalu muncul dalam pikirannya supaya tidak mengganggu kesenangannya.


Fakta bahwa William sudah memiliki seorang istri yang sedang hamil besar, juga tak membuat Aliya sadar akan apa yang sedang dilakukannya.


*****


Perasaan sakit dari area perut hingga ke bawah kakinya, membuat Asyifa yang dalam keadaan pingsan, perlahan mendapatkan kembali kesadarannya.


"Astaga, kenapa perutku sesakit ini? Apa yang harus aku lakukan, ya tuhan? Apa aku telepon William saja, mungkin dia sudah selesai rapatnya"

__ADS_1


Dengan cepat Asyifa berusaha mencoba mencari keberadaan ponselnya. Namun tak juga ia temukan, karna ponselnya ternyata ditingalkan diatas meja di lantai satu.


Untungnya, ada telepon rumah di dalam kamarnya. Asyifa akhirnya memilih untuk menelpon William menggunakan telepon rumah saja.


Namun meskipun sudah dihubungi berulang kali, William tak juga kunjung menjawab. Membuat Asyifa yang sudah merasa sangat kesakitan menjadi semakin panik.


"Dimana kamu, Will? Aku mohon jawab teleponnya, aku sangat membutuhkan dirimu saat ini. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada anak kita" mohon Asyifa mulai terisak, sambil terus mencoba menghubungi William.


Karna rasa sakit yang teramat sangat, tubuh Asyifa pun akhirnya ambruk jatuh ke lantai. Ketika Asyifa sudah merasa putus asa dan hanya berpasrah terhadap keadaan yang ada, tiba-tiba dari arah bawah terdengar bunyi bel ditekan oleh seseorang.


Merasa adanya peluang untuk diselamatkan, Asyifa dengan sekuat tenaga memaksa untuk menyeret tubuhnya menuju ke arah tangga.


"TOLONG! TOLONG AKU!" Teriak Asyifa sekuat yang ia bisa.


Zidan dan Angel yang ternyata adalah orang yang menekan bel, tampak terkejut saat mendengar suara teriakan minta tolong yang terdengar sangat kesakitan itu.


"Angel, bukan aku saja kan yang mendengar suara barusan? Kamu juga dengar kan kalau ada suara minta tolong dari dalam rumah Asyifa?" tanya Zidan mencoba untuk memastikan kalau dirinya tidak salah dengar.


"Iya, aku juga dengar. Tapi kenapa hanya sekali saja minta tolongnya, dan suara siapa Zidan?"


"Aku rasa itu Asyifa"


"Asyifa? Kenapa Asyifa teriak minta tolong seperti itu, apa dia sedang dalam bahaya?" tanya Angel cemas.


Mendengar ucapan Angel, perasaan Zidan langsung menjadi panik. Dengan segera, ia menempelkan telinganya ke daun pintu untuk bisa mendengar lebih jelas lagi suara di dalam sana.


"ASYIFA? APA KAMU DI DALAM, JAWAB AKU KALAU KAMU DI DALAM!" teriak Zidan sekuat tenaga.


Asyifa yang sudah berhasil mencapai di pertengahan tangga, tersenyum senang saat mendengat suara Zidan.


"PAK ZIDAN, SAY_ awwww...." teriakan Asyifa terhenti karna rasa sakit yang semakin menjadi di perutnya.


"ASYIFA, APA YANG TERJADI PADAMU?" teriak Zidan lagi, saat mendengar rintihan Asyifa.


Ingin rasanya Asyifa menjawab pertanyaan Zidan, namun tenaganya sudah tidak ada lagi. Dengan perlahan, ia sekali lagi kembali kehilangan kesadarannya.


"Zidan, apa tidak bisa kamu mendobrak saja pintunya supaya kita bisa segera mengecek keadaan Asyifa?"


"Baiklah, aku akan mendobrak pintunya. Kamu mundur lah dulu ke belakang"


Setelah beberapa kali berusaha mendobrak pintu yang terlihat sangat kokoh itu, Zidan pun akhirnya berhasil juga. Dan betapa menjadi terkejutnya Zidan dan Angel, saat keduanya mendapati tubuh Asyifa yang tergeletak tak sadarkan diri diatas tangga begitu saja.


"ASYIFA!" teriak Angel histeris segera belari ke arah sahabatnya, diikuti oleh Zidan.


"Asyifa, Asyifa bangun! Asyifa, aku mohon bangunlah. Apa yang sudah terjadi pada Asyifa, Zidan? Kenapa dia bisa jadi seperti ini? Tolong lakukanlah sesuatu!"


"Kamu tenang yah, Angel. Sebaiknya sekarang juga, kita bawa Asyifa ke rumah sakit terdekat menggunakan mobilku"


"Baiklah. Ayo cepat anggakt dia, biar aku yang akan membukakan pintu mobilnya"


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zidan segera menggendong Asyifa. Namun saat tubuh Asyifa diangkat, saat itu juga Angel melihat sesuatu di tubuh sahabatnya yang membuat dirinya jatuh terduduk karna syok.


"Angel, ada apa? Kenapa kamu terjatuh?" tanya Zidan bingung.


"I_i_itu__da__da__darah!" jawab Angel dengan suara tercekat.


Dan benar saja, saat Zidan menurunkan pandangannya untuk memeriksa apa yang dikatakan Angel, Ia melihat adanya tetesan berwarna merah yang mengalir jatuh dari tubuh Asyifa yang sedang digendong olehnya


"A_a_apa___apa artinya darah yang keluar ini, Angel?" tanya Zidan ikut cemas.


"Asyifa___Asyifa___ Asyifa mungkin saja telah mengalami keguguran"


Nyut. Perasaan seperti ditusuk oleh sebuah jarum langsung di dadanya, langsung dirasakan Zidan saat mendengar perkataan Angel.


Tanpa banyak bicara lagi, ia segera berlari ke arah mobil untuk membawa Asyifa ke rumah sakit. Ia tidak akan membiarkan anak dalam kandungan Asyifa hilang begitu saja, karna ia sangat tahu seberapa sangat berharganya anak itu bagi Asyifa.


Angel yang melihat apa yang dilakukan Zidan, hanya bisa mengikuti pria itu dari belakang meskipun tenaganya belum pukih setekah mengalami syok.

__ADS_1


"Aku mohon, bertahanlah Asyifa. Bertahanlah demi anak dalam kandunganmu" mohon Zidan dalam hatinya.


__ADS_2