
"Obat tidur? Apa maksudmu, Elina? Mana mungkin Eden bisa mengkonsumsi obat tidur sebanyak ini?! Dia bahkan tidak mengalami gangguan tidur sedikit pun" protes Asyifa tak percaya begitu saja.
"Aku juga tahu kalau Eden tidak memiliki gangguan tidur, tapi itu dulu Asyifa. Awalnya semua berjalan lancar dan kondisinya juga tak separah sekarang, tapi karna permintaan dariku, dia malah berakhir seperti itu"
"Permintaan? Memangnya apa yang kamu minta pada Eden, sampai bisa memperburuk kondisi kesehatannya dalam waktu yang sesingkat ini?" tanya Zidan penasaran.
"Aku memintanya untuk mengingat dan juga menceritakan tentang bagaimana dia dulu membantu ibunya melakukan perbuatan keji terhadap semua korban, dimulai dari korban yang paling pertama"
"Wanita gila! Apa kamu tidak mempunyai hati nurani sama sekali, sampai tega memintanya melakukan hal yang kamu tahu pasti akan membuatnya kembali terguncang?! Dia baru saja diselamatkan oleh dokter dari alam maut, dan berkat balas dendammu itu, dia harus masuk ke dalam alam maut lainnya!" gerutu Raka semakin marah.
"Sudah, tidak usah bertengkar lagi. Yang sekarang harus kita lakukan, adalah segera membawa Eden ke rumah sakit untuk bisa ditangani oleh dokter" ucap Zidan, menengahi
Bersamaan dengan itu, terlihat anggukan kepala dari Asyifa dan juga Adam yang setuju mendengar usulan Zidan. Oleh karenanya, Raka yang masih ingin memarahi Elina, mau tidak mau harus menyetujuinya juga.
Dengan sigap, pria itu menggantikan posisi Zidan untuk mengangkat tubuh Eden menuju ke arah mobil yang terparkir diluar rumah, bersama dengan Adam.
"Ka_kalian, kalian ingin membawa Eden ke rumah sakit? Ka_kalian, kalian pasti tidak akan melaporkan aku ke pihak berwajib kan?" tanya Elina masih cemas.
"Aku rasa, ini bukan saat yang tepat untukmu menanyakan perihal kami jadi atau tidak melaporkanmu. Seperti kata Raka barusan, kalau memang kamu masih mempunyai hati nurani di dalam dadamu itu, tolong pikirkan dulu keselamatan Eden sebelum memikirkan kebebasanmu!" ucap Asyifa, akhirnya merasa kesal juga pada Elina.
"Aku tahu kalau sekarang keselamatan Eden yang paling penting, Asyifa. Tapi aku juga punya hak untuk memastikan bahwa semua janji yang kamu katakan padaku, sungguh akan ditepati"
"Terserah apa katamu. Karna bagiku dan yang lainnya, prioritas kami yang paling utama saat ini, adalah keselamatan Eden. Jika kamu mau tahu tentang nasibmu akhirnya seperti apa, maka tunggulah sampai kondisi Eden telah membaik!"
"Apa maksudmu? Jadi kalau keadaan Eden tidak membaik juga, maka kamu berniat untuk berubah pikiran tentang janjimu padaku?"
"Tentu saja! Apa kamu pikir aku akan tetap membiarkanmu bebas setelah berbuat suatu kejahatan pada Eden? Tidak, aku tidak akan melakukannya seperti itu. Awalnya memang ingin membiarkan semuanya selesai dengan baik-baik, tapi melihatmu dengan mudahnya memberikan obat tidur kepada Eden, maka rasanya aku perlu untuk memikirkan ulang mengenai keputusan itu"
"Aku tidak pernah ingin memberikan obat itu padanya Asyifa, tapi dia sendiri yang terus memintanya tanpa henti"
"Jadi, jika setiap orang yang datang padamu untuk meminta obat tidur dengan dosis tinggi, maka akan kamu berikan dengan mudah? Apa kamu gila, bagaimana kalau semua orang itu mengalami ketergantungan?!" tanya Zidan sedikit twrkejut.
"Tentu saja tidak. Tapi kondisi Eden berbeda, jika aku tidak menuruti keinginannya untuk diberikan obat tidur, maka yang ada dia akan tetap terjaga sepanjang malam dengan suara teriakan yang bisa terdengar hingga rumah tetangga. Aku melakukannya karna terpaksa, tolong mengerti lah" mohon Elina memelas.
Penjelasan Elina, membuat Asyifa dan juga Zidan menjadi tersadar sepenuhnya, kalau ternyata Eden memang sudah menjadi salah satu orang yang ketergantungan dengan obat tidur dalam dosis tinggi.
Seketika itu juga, firasat buruk menghampiri hati Asyifa dan membuat dirinya merasa tak nyaman. Zidan yang juga bisa merasakan perubahan perasaan Asyifa, segera menuntun wanita itu keluar dari rumah.
"Sebaiknya kita segera pergi ke rumah sakit saja. Tidak ada gunanya juga kita berbicara terus dengan wanita itu, apalagi sekarang Eden membutuhkan pertolongan secepatnya" bujuk Zidan lembut.
"Kamu benar, semoga saja nanti setelah Eden ditangani dengan baik oleh dokter, kondisinya bisa segera pulih"
Elina yang melihat dirinya ditinggalkan begitu saja seorang diri oleh Asyifa dan juga yang lainnya, menjadi semakin gelisag dan tidak terkendali.
Seolah telah kehilangab akal sehatnya, Elina berlari menyusul Asyifa yang baru saja duduk di dalam mobil. Meksi tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Elina dari luar, tapi Asyifa tahu pasti kalau wanita itu tidak ingin ditinggalka seorang diri disana.
Tapi jika harus membawanya bersama, Asyifa malah takut jika nanti Eden sadar, akan ada kejadian berbahaya diantara keduanya, yang dapat membuat kondisi Ede kembali menjadi parah.
Karna pada dasarnya, Asyifa belum bisa percaya sepenuhnya pada cerita Elina tentang Eden yang mungkin terjatuh sendiri ke dalam bak penampungan air.
Mungkin Asyifa baru bisa mempercayainya setelah nanti mendengar cerita yang sama ikut keluar juga dari dalam mulut Eden, karna bagaimana pun juga, Asyifa adalah pihak pria tersebut apa pun yang terjadi.
"Apa kita perlu membukakan pintu dan juga membawanya bersama dengan kita, atau membiarkannya tinggal begitu saja?"
"Tinggalkan saja dia. Tidak ada untungnya juga kalau kita membawanya ikut bersama dengan kita. Yang ada, nanti kondisi Eden akan semakin buruk kalau melihat adanya kehadiran Elina disana" jawab Raka, sudah mendahului ucapan Asyifa.
"Apa kalian berdua juga setuju dengan apa yang baru saja Raka katakan?"
"Entahlah, dari Asyifa saja. Kalau untukku sendiri, merasa tidak masalah sama sekali kalau Elina juga ikut pergi bersama kita. Tapi yang penting, dia tidak boleh dibiarkan untuk bisa berduaan saja dengan Eden nantinya" jawab Zidan tegas.
__ADS_1
"Meski kamu mengatakan laranh seperti itu untuk Elina, entah mengapa aku tetap tidak bisa merelakannya ikut ke rumah sakit. Aku memilih untuk setuju dengan Raka, supaya Elina dibiarkan saja disini"
Keempat orang itu pun terdiam tanpa tahu harus berbuat apa, karna dari arah luar mobil, pukulan dan juga ketukan Elina di kaca tanpa terduga menjadi semakin kencang.
Yang lebih mengejutkan lagi, saat ia masuk kembali ke dalam rumah dan tak berapa lama berjalan keluar sambil memikul tongkat bisbol, yang sepertinya akan digunakan untuk memukul kaca mobil Zidan.
"Benar kan dugaanku, kalau wanita itu adalah seorang wanita gila? Lihat lah apa yang akan dilakukannya sekarang, aku juga semakin yakin sekarang kalau Eden menjadi seperti ini karna ulahnya" gerutu Raka kesal.
"Ayo Adam, sebaiknya kita segera pergi saja dari sini, sebelum Elina menjadi bertambah gila lagi dan menghancurkan mobilku"
Adam yang berada dibalik kemudi mobil, pun langsung menghidupkan mobil tersebut dan pergi dari sana sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Zidan.
*****
Ketiga orang itu berjalan mondar-mandir di depan sebuah ruangan yang disekitarnya didominasi dengan warna putih yang sangat familiar.
Yah benar, mereka kini telah berada di dalam rumah sakit, dan sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter mengenai keadaan Eden yang terlihat mengkhawatirkan.
Tanpa sadar, Asyifa, Raka dan juga Adam sama-sama menghembuskan nafas berat setelah menunggu hampir selama setegah jam lebih.
Sedang Zidan yang harus mengganti pakaian basahnya dengan pakaian baru, sedang berada di dalam ruangan dokter kenalannya untuk melakukan semua itu.
Tinggal Adam yang masih berdiri dengan keadaan basah, karna masih harus menanti gilirannya bergantian dengan Zidan.
Awalnya kedua orang itu tidak ingin bersusah payah mengurus ganti pakaian segala, tapi karna sudah menunggu cukup lama untuk bisa mengetahui kondisi Eden, mereka pun terpaksa menggantinya karna dipaksa oleh Asyifa secara terus-menerus.
"Adam" panggil Zidan, berjalan mendekat.
"Hei, apa kamu sudah selesai?"
"Iya, aku sudah selesai. Sekarang giliran kamu yang harus menggantikan pakaian basah itu dengan pakaian baru. Pakaian barunya juga sudah ada di dalam ruangan dokter, jadi kamu tinggal memakainya saja"
Setelah kepergian Adam, Zidan bergegas duduk disamping Asyifa, yang ekspresi wajah wanita itu semakin sedih dan juga cemas secara bersamaan.
"Apa kamu memasang ekspresi seperti itu, karna berpikir bahwa dokter yang sudah ahli bekerja dibidang ini selama bertahun-tahun, tidak bisa menyelamatkan Eden?"
"Ah, kamu sudah kembali ternyata. Maaf, tadi aku tidak terlalu memperhatikan" ucap Asyifa terkejut, menyadari kehadiran Eden yang ada disampingnya.
"Ternyata bernar kamu sedang cemas dan juga tidak bisa mempercayai keahlian dari dokter yang sedang menangani Eden"
"Hah? Sejak kapan aku bilang tidak percaya pada kemampuan dokter yang merawat Eden? Perasaan aku tidak mengatakan hal semacam itu sejak tadi" tangkis Asyida tak terima.
"Kamu memang tidak mengatakannya secara langsung, tapi siapa pun yang melihat seperti apa ekspresi wajahmu tadi, akan mengetahui dengan sendirinya arti dari semua itu"
"Entahlah. Mungkin apa yang kamu katakan itu ada benarnya, karna aku hatiku memang merasa seperti sempat merasakan hal yanh4 semacam itu"
Mendengar jawaban pasrah Asyifa, Zidan yang merasa prihatin dengan sang tunangan, hanya bisa mengelus lembut puncak kepala wanitanya untuk bisa menenangkannya.
Sedari dulu, Zidan tidak pernah bisa rela melihat wajah Asyifa yang disukainya sedikit saja berubah murung. Entah mengapa, hati Zidan sedikit merasa ikut terluka juga.
"Tenang lah Asyifa, aku yakin Eden pasti akan bisa baik-baik saja kondisinya, dan kita bisa segera membawanya keluar untuk tinggal bersama semua anak panti. Kalau dia tetap tidak membaik, aku akan membawanya pergi ke rumah sakit lain, sampai dia benar-benaa membaik! Kamu percaya kan padaku?"
"Emm. Aku percaya padamu Zidan, percaya sekali. Semoga di rumah sakit ini kondisi Eden bisa langsung membaik, supaya tidak perlu dibawa ke rumah sakit lainnya"
"Amin"
Setelah obrolan singkat Asyifa dan juga Zidan berakhir, sosok dokter yang bertugas untuk menangani kondisi Eden, berjalan keluar dari dalam ruangan inap.
Sontak saja itu membuat Asyifa, Zidan dan juga Raka yang menunggu dengan sigap bangun berdiri untuk bisa menyambut pria itu supaya bisa menanyakan kondisi Eden.
__ADS_1
"Dokter, bagaimana keadaan adikku?" tanya Zidan tanpa ragu laigi, memanggil Eden dengan sebutan adik.
"Ah, anda ternyata adalah saudara dari pasien tersebut yah? Kalau begitu, apa aku bisa membicarakan kondisi pasien berdua saja dengan anda pak?" tanya dokter tersebut dengan sopan.
"Tidak apa-apa dok, dokter bisa langsung saja mengatakan seperti apa kondisi adikku. Karna semua yang ada disini, adalah orang yang sudah dianggap oleh pasien seperti keluarganya sendiri"
"Baiklah kalau begitu"
Setelah mendapat ijin langsung dari Zidan, sang dokter pun mulai menjelaskan secara detail seperti apa kondisi sebenarnya Eden saat ini.
Kondisi pria itu, meskipun sekarang sudah berada dalam keadaan stabil, namun karna menemukan adanya ketergantungan pada obat tidur dalam dosis yang berlebihan, maka hal tersebut menjadi perhatian khusus.
Apalagi dari keterangan yang di dapat dari cerita Asyifa, tentang Eden yang terpaksa menggunakan obat tidur tersebut demi bisa menghilangkan traumanya, dokter menyuruh semuanya harus terus menjaga Eden secara lebih ketat.
Karna yang ditakutkan, ketika Eden telah sadar nantinya, pria itu akan kembali mencari obat tidur dan menjadi kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.
Dan lebih lanjut, sang dokter menjelaskan, selama Eden tidak lagi menggunakan obat tersebut, maka kondisinya masih bisa untuk diselamatkan.
"Aku akan berjaga dan menemani Eden disini untuk malam ini. Kalian berdua bersama dengan Asyifa pulang lah, dan datang lagi keesokan harinya" pinta Zidan, setelah dokter berjalan pergi dari sana.
"Kenapa jadi kamu yang harus berjaga? Eden kan adalah kenalanku, dan aku juga yang sudah memohon padamu untuk membawa dirinya ke kota supaya bisa dirawat. Maka yang harusnya berjaga disini, adalah aku" protes Asyifa.
"Yanh benar saja Asyifa. Kamu itu adalah seoranh wanita, mana bisa aku membiarkan dirimu untuk berjaga sendirian di dalam kamar Eden. Sebaiknya kamu pulang saja ke apertemen, nanti Raka dan Adam yang akan mengantarmu"
"Tidak, aku ingin ikut berjaga juga bersama denganmu disini. Kalau begitu tidak akan menjadi masalah bukan? Toh aku bukannya seoranh diri saja, tapi ditemani olehmu"
"Apa itu tidak masalah Zidan? Bukannya kalau kalian berdua yang berjaga, tempat untuk bisa berbaringnya cuman ada satu saja?" tanya Raka, mengingatkan.
Sedang Adam yang baru saja selesai dari mengganti pakaiannya dan berjalan kembali ke arah ketiga orang itu, hanya mendengar obrolan tersebut dengan kening berkerut.
Tapi dari yang bisa dilihatnya, sepertinya dokter yang tadi sempat memeriksa keadaan Eden sudah tidak ada lagi di dalam ruangan tersebut.
"Apa dokternya sudah pergi?" tanya Adam, merasa penasaran.
"Iya sudah. Dokter juga sudah menjelaskan secara detail mengenai keadaan Eden dan seberapa seriusnya itu kepada kami bertiga. Untuk saat ini, kondisi Eden sudah kembali menjadi stabil walaupun belum juga sadarkan diri lagi"
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya Raka, apa kamu tidak ingin mengganti pakaianmu juga dengan yanh baru? Aku lihat, pakaianmu itu sedikit basah"
"Ah iya, benar juga katamu. Tapi aku rasa akan lebih baik menggantinya di rumah saja, lagipula sebentar lagi kita akan segera pulang jadi tidak masalah kalau aku memakai pakaian yang basah ini sedikit lebih lama" ucap Raka menolak.
"Pulang? Bukannya kita berdua yang akan berjaga disini untuk menemani Eden?"
"Tentu saja bukan. Yang malam ini ingin berjaga menemani Eden, adalah Asyifa dan juga Zidan. Jadi kita berdua boleh pulang ke rumah untuk beristirahat, iyakan Asyifa?"
"Iya, tentu. Kalian berdua tidak perlu terlalu merepotkan diri dengan ururan menjaga Eden di rumah sakit, biar aku dan Zidan yang akan mengurusnya. Kalian boleh datang lagi kesini keesokan harinya"
Adam yang merasa perlu meminta tanda setuju dari Zidan, segera saja mengarahkan pandangannya ke arah pria itu.
Zidan yang tahu dirinya tidak akan bisa menahan keingin Asyida untuk ikut berjaga di rumah sakit, mau tidak mau menganggukan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu. Aku dan Raka akan pamit pulang dulu, dan akan datang lagi keesokan harinya, sesuai perintah Asyifa" ucap Adam setuju.
"Iya, pulannglah. Hati-hari di jalannya, jangan terlalu memaksakan diri untuk datang kalau sedang sibuk sekali"
"Siap Asyifa. Kalau begitu, kami berdua akan pergi sekarang. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi kami, oke?"
"Oke Adam"
Bersambung....
__ADS_1