The Ugly Wife

The Ugly Wife
Mencurigai Eden


__ADS_3

Zidan memandangi wajah kedua gadis yang ada di depannya dengan tatapan tak percaya, seolah baru saja mendapat sabaran petir di siang bolong.


Sedang Angel dan Mira yang dilihati seperti itu, menundukkan wajah mereka sedalam mungkin karna takut mendapat amukan dari Zidan. Hanya Raka dan Adam yang menghela nafas pelan, saat mendengar berita yang dibawa Angel dan Mira.


"Kenapa kalian berdua bisa mengabaikan dan berkata sekejam itu pada wanita yang baru saja kehilangan sosok ayah dihidupnya? Apa kalian berdua senang sekarang, setelah dia dengan sukarela pergi?"


"Ini semua salahku, bukan salah Angel. Aku lah yang sudah berkata kejam pada Asyifa, aku minta maaf. Harusnya aku bisa menahan amarahku"


"Tidak, ini juga adalah salahku. Meski tidak sekasar ucapan Mira, tetap saja kenyataannya aku juga ikut-ikutan mengatakan hal yang membuat hati Asyifa menjadi sedih"


"Sudahlah Zidan, tidak perlu lagi memarahi mereka berdua. Mau sebanyak dan selama apa pun kamu memarahi mereka, tetap saja tidak bisa membuat Asyifa kembali" Adam mencoba menengahi.


"Apa maksudmu?"


"Yah maksudku, kita lah yang harus mencari dimana Asyifa sekarang berada"


"Tapi bagaimana caranya kita bisa mencari keberadaan Asyifa, kalau tempat yang mrnjadi tujuannya pergi saja kita tidak tahu"


Jalan buntu. Keempat orang itu akhirnya terdiam cukup lama karna mendapati jalan buntu atas niat mereka mencari Asyifa.


Tiba-tiba Zidan memikirkan suatu cara yang sering dilakukannya bersama dengan Raka dan Adam sewaktu masih sekolah dulu. Yaitu masuk ke dalam aku media sosial seseorang, untuk mencari tahu apa saja yang mereka lakukan disana.


"Apa Asyifa mempunyai suatu akun media sosial, yang kalian tahu?" tanya Zidan cepat.


"Akun media sosial? Aku tidak pernah melihat atau mendengar Asyifa menggunakan akun media sosial, sepertinya dia tidak punya"


"Tidak, dia punya Ngel. Dia menggunakannya saat ingin membantuku mendapatkan tiket konser idol korea yang sangat ku sukai"


"Apa nama akunnya?"


"Kalau tidak salah, waktu itu namanya ada kabut atau badainya yah? Pokoknya akun itu semua isinya adalah foto pemandangan alam dengan caption menginspirasi, yang indah untuk dibaca"


"Apa akun yang kamu maksudkan itu adalah aku yang bernama kabut senja? Foto alam yang diambil semuanya berlatar belakang waktu senja kan?"


"Iya, itu namanya! Tapi bagaimana kamu bisa tahu nama akun Asyifa, Raka?"


"Sebenarnya, aku adalah salah satu pengikut dan penggemar akun tersebut. Pikiranku langsung menuju kesana, saat kamu bilang pemandangan alam disertai caption yang menginspirasi"


"Oke! Karna kita sudah tahu pasti nama akun media sosial Asyifa, sekarang waktunya kita akan masuk kesana sebagai sang pemilik akun" kata Zidan antusias.


"Maksudmu, kamu ingin membajak akun Asyifa seperti yang biasa kita lakukan saat sekolah dulu?"


"Benar sekali, Adam"


Tak butuh waktu lama, Zidan telah berhasil masuk ke dalam akun milik Asyifa dan siap menjelajahinya. Dibelakang pria itu, yang lain turun memperhatikan.


Tapi meskipun sudah memeriksa setiap sudut akun tersebut hingga satu jam lebih, mereka tetap tidak bisa menemukan satu pun petunjuk tentang Asyifa.


"Kenapa tidak ada satu pun petunjuk tentang Asyifa? Akunnya juga terlihat seperti sudah lama tidak digunakan lagi. Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Mira putus asa.


"Entahlah, aku juga bingung"


"Bagaimana kalau kita menggunakan laptop milik Asyifa saja untuk mencari petunjuk? Siapa tahu ada sesuatu di bagian riwayat pencariannya"


"Maksudmu Asyifa meninggalkan laptopnya? Kenapa tidak bilang dari tadi sih Angel! Jadi kita tidak perlu susah-susah untuk membajak akun milik Asyifa" gerutu Raka kesal.


"Hehehe, maaf. Aku juga baru saja teringat tentang laptop itu"


"Kalau begitu, aku minta tolong padamu untuk membawakannya kesini. Bisa kan?"


"Tentu saja bisa"


Angel pun bergegas pergi ke apertemennya untuk mengambil laptop milik Asyifa. Untung saja laptop Asyifa tidak dilengkapi dengan pasword untuk masuk ke dalamnya, jadi lebih memudahkan Zidan.


Setelah membuka satu persatu riwayat pencarian yang pernah ditelusuri oleh Asyifa, mereka akhirnya menemukan satu riwayat yang juga masih baru, yang cukup menarik untuk dilihat.


Dan benar saja, itu adalah riwayat pencarian tentang tempat liburan yang bagus. Di dalam ada beberapa pilihan bagus, yang mungkin saja menjadi tempat Asyifa berada sekarang.

__ADS_1


"Kalian bersiap-siaplah"


"Bersiap-siap? Sebentar, kamu tidak mungkin akan mengajak kita semua pergi mencari Asyifa di semua tempat itu, satu persatu kan? tanya Raka cemas.


"Kalau bukan ke semua tempat ini, lalu ke tempat yang mana lagi aku mengajak kalian mencarinya?"


"Astaga Zidan, mana mungkin kita akan bisa mengunjungi keenam tempat itu sekaligus, hanya untuk mencari seseorang. Lagipula, kita bukanlah seorang pengangguran yang punya banyak waktu luang" timpal Adam.


"Tentu saja bisa. Anggap saja kalian sedang bekerja padaku, dan aku pastikan kalian semua akan mendapatkan bayaran besar untuk semua itu"


"Memang yah, kalau jadi orang kaya itu bisa melakukan sesuatu sesuka hati. Mau cari pacar yang sedang berada entah dimana juga gampang saja, untung Asyifa tidak pergi ke luar negeri" sindir Mira pelan.


"Kalau Asyifa keluar negeri sekalipun, pasti akan Zidan cari sampai ketemu. Asyifa kan cinta matinya Zidan"


"Hah? Yang benar?"


"Percayalah, apa yang dikatakan oleh Raka barusan adalah kenyataan. Zidan selalu akan melakukan apa pun untuk orang terdekatnya, apalagi untuk wanita yang dicintainya"


"Berarti tidak salah usahaku dan Mira selama ini untuk mendekatkan Ashifa dengan Zidan, dan berharap mereka akan menjadi pasangan yang serasi di masa depan"


"Benar sekali!"


Ketika semuanya masih terlihat asyik bicara satu sama lain, Zidan memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan berada disana dalam waktu yang cukup lama.


Pria itu kembali keluar ke ruang tamu sambil menarik sebuah koper berukuran sedang, dan telah berpakaian rapi, seolah dirinya sudah siap untuk melakukan perjalanan jauh.


Mira dan Angel langsung memasang wajah bingung saat melihat tampilan Zidan. Sedang Raka dan Adam hanya bisa menarik rambut mereka sambil berteriak frustrasi.


"Yang benar saja Zidan, jangan bilang kalau maksudmu bersiap-siap pergi itu adalah sekarang juga?" Raka terlihat sangat kesal.


"Lalu, maunya kalian kapan? Bukannya lebih cepat kita pergi mencari Asyifa, maka lebih baik lagi yah? Siapa tahu saja Asyifa sedang mengalami kesulitan saat ini"


"Sekarang kalian sudah percaya kan, kalau pria gila ini akan melakukan segalanya untuk bisa mencapai tujuannya?"


"Ah, iya" jawab Mira dan Angel, tersenyum canggung.


Mendengar titah dari Zidan yang telah resmi menjadi bos mereka, mau tidak mau keempat orang itu hanya bisa bangkit dan melakukan apa yang disuruh dengan terpaksa.


*****


Disisi lain, Asyifa yang masih terlihat sibuk memanen hasil kebun bersama anak-anak panti, wajah dan lehernya dipenuhi dengan keringat yang terus mengalir turun tanpa henti karna terkena teriknya panas matahari.


"Ya ampun, wajah dan leher kak Asyifa penuh dengan keringat. Kenapa rambutnya tidak diikat saja dulu kak?"


"Ah, benar juga"


Asyifa pun segera mengeluarkan ikat rambut yang diberikan Eden padanya, dan bersiap untuk mengikat rambut panjangnya. Tapi anak panti disebelah Asyifa segera merebut ikat rambut tersebut dari tangan Asyifa.


Tentu saja hal itu membuat Asyifa terkejut. Dan bukannya segera mengembalikannya, anak itu malah terus memperhatikan ikat rambut milik Asyifa dengan wajah serius.


"Ada apa? Kenapa kamu merebut ikat rambut milik kakak Asyifa seperti itu?" tanya anak panti lainnya, yang juga sedang bersama dengan Asyifa.


"I_itu, aku hanya merasa penasaran saja dengan ikat rambut ini. Karna sepertinya, aku pernah melihatnya disuatu tempat"


"Ah iya, setelah diamati lebih lama, rasanya seperti familiar. Apa ini benar milik kak Asyifa, atau ada yang memberikannya pada kakak?"


"Itu, Eden yang memberikannta padaku saat dalam perjalanan kesini. Memangnya kenapa, apa ikat rambut ini adalah milik sala seorang dari kalian berdua?"


"Bukan milik kami kak, tapi lebih tepatnya milik salah satu teman kami yang pernah tinggal di panti ini"


"Yang pernah tinggal di panti ini? Jadi, teman kalian itu sudah diadopsi oleh orang lain, dan tidak tinggal lagi disini?"


"Akan lebih baik kalau saja dia benar-benar diadopsi oleh sebuah keluarga, tapi apa yang terjadi pada kenyataannya bukan seperti itu. Dia malah hilang begitu saja di hutan desa ini, saat sedang asyik bermain"


"Apa? Hilang? Astaga aku minta maaf, aku tidak tahu kalau pemilik dari ikat rambut ini mengalami kejadian seperti itu"


"Tidak apa-apa kak. Tapi yang membuatku penasaran, kenapa kak Eden bisa mempunyai ikat rambut itu? Bahkan sampai memberikan ke kak Asyifa"

__ADS_1


"Mungkin saja kak Eden tidak sengaja telah menemukan ikat rambut itu di hutan, kan kak Eden memang sering sekali masuk kesana untuk membantu warga mencari kayu bakar"


"Apa kak Eden bilang seperti itu pada kak Asyifa, saat memberikam ikat rambut ini?"


"Tidak. Saat memberikannya, Eden bilang kalau itu adalah ikat rambut milik adiknya. Dia juga dengan sukarela memberikannya pada kakak, untuk dipakai terus"


" Adik? Kak Eden kan tidak mempunyai adik, karna kak Eden juga adalah seorang yatim piatu seperti kami. Dia juga pernah tinggal di panti ini saat kecil, dan ketika sudah cukup dewasa, dia memutuskan keluar. Kemudian menghidupi dirinya sendiri, dan membangun sebuah rumah untuk ditinggali"


Seketika itu juga, firasat Asyifa menjadi tak enak. Entah mengapa, dirinya seperti ingin berpikiran yang tidak-tidak tentang pria yang baru saja dikenalnya kemarin.


Dirinya sadar bahwa ada sesuatu yang salah telah terjadi di panti ini, mulai dari gadis bisu yang tiba-tiba bertingkar aneh, lalu tentang pemilik asli dari ikat rambut yang diberikan Eden ternyata bukanlah adik pria itu, tapi seorang anak panti yang telah lama hilang.


Namun Asyifa tidak mungkin mengatakan semua itu kepada dua bocah yang kini tengah berdiri di depannya. Dengan cepat, Asyifa memutar otaknya untuk mencari alasan yang masuk akal supaya mereka tida menaruh curiga pada Eden lagi.


"Ah kakak tau, mungkin saja kak Eden bilang ini milik adiknya, karna memang kak Eden sudah menganggap semua anak yang ada di panti ini, sebagai adiknya. Bagaimana, itu terdengar sangat masuk akal bukan?"


"Sepertinya kak Asyifa sedang berusaha mencari alasan yang tepat, supaya membuat kami berdua tidak curiga lagi pada kak Eden yah?" tanya seorang, tepat sasaran.


"Ba_bagaimana kamu bisa tahu?"


"Apa kak Asyifa tidak sadar, kalau ekspresi wajah yang biasa kakak tunjukkan setelah sampai di panti ini, selalu mudah untuk dibaca?"


"Ah, kalau soal itu, kakak sudah sering sekali mendengarnya"


"Kakak tahu tidak, meskipun kakak mencari alasan yang masuk akal, tapi kami berdua akan tetap bersikeras untuk menaruh curiga pada kak Eden"


"Kenapa bisa?" tanya Asyifa bingung.


"Karna yang tahu tentang ikat rambut itu, hanya lah kami berdua. Kami lah memberikan ikat rambut itu pada hari teman kami itu, menghilang di hutan"


Deg.


Jantung Asyifa berdebar keras, dia semakin yakin ada yang tidak beres dari kepribadian Eden. Karna kini semua bukti mengarah pada pria itu, dan semakin memberatkannya.


Asyifa berbalik untuk mencari sosok dimana Eden berada saat ini, dan ketika pandangan keduanya bertemu, Eden dengan santainya langsung tersenyum manis.


Namun Asyifa yang sudah terlanjur merasa takut, tak bisa mengerakkan bibirnya untuk membalasnya. Sayangnya, Asyifa tidak pintar untuk menutupi apa yang sedang dirasakan olehnya.


"Kak Asyifa, senyum kak. Jangan sampai kak Eden menyadari kalau kak Asyifa sudah tahu tentang jati dirinya yang sebenarnya"


Dengan patuh, Asyifa pun menuruti saran yang diberikan padanya dan mulai tersenyum ke arah Eden. Tapi yang mereka bertiga tidak ketahui, Eden adalah pria yang sangat peka terhadap keadaan sekitarnya.


Melihat ekspresi Asyifa yang berusaha keras hanya untuk bisa membalas senyumannya, Eden bisa menduga bahwa ada sesuatu yang Asyifa tahu mengenai dirinya.


Senyuman itu pun hilang begitu saja, lalu berganti dengan tatapan dingin menebus hingga ketulang. Melihat tatapan itu, tubuh Asyifa seketika bergetar hebat.


Keringat yang mengalir turun, seketika hilang begitu saja, dan hawa panas yang dirasakan sedari tadi, tiba-tiba berganti dengan hawa dingin yang berhembus ke arahnya.


Tanpa pikir panjang lagi, Asyifa segera mengalihkan padangannya supaya bisa lepas dari Eden. Namun wajah panik kedua bocah dihadapannya, menyadarkan Asyifa bahwa ia baru saja melakukan suatu kesalahan fatal.


"Ba_bagaimana ini, sepertinya aku baru saja membuat kesalahan besar. Eden sepertinya bisa menebak, kalau aku sudah tahu tentang apa yang pernah dilakukannya"


"Tenanglah kak, selama kakak tidak berada berdua saja dengannya, kak Eden pasti tidak akan mungkin berani berbuat macam-macam pada kak Asyifa"


"Benar, kak Asyifa cukup menghindarinya selama seharian ini. Lalu besok, kakak harus segera pergi dari desa ini bagaimana pun caranya"


"Tapi bagaimana dengan kalian berdua, dan penghuni panti lainnya? Aku tidak mungkin bisa pergi meninggalkan kalian semua, saat tahu ada seorang yang jahat seperti Eden berada dekat dengan kalian. Dia bisa kapan saja melakukan hal jahat lainnya pada semua penghuni panti"


"Lalu, apa kakak akan tetap tinggal di desa ini? Mau sampai kapan kak?"


"Iya, kakak akan tetap tinggal. Kakak hanya akan pergi dari sini, ketika sudah berhasil mengungkapkan kejahatan apa saja yang telah dilakukan oleh Eden!"


Mendengar keputusan tegas dari Asyifa, kedua bocah itu segera berhambur memeluk tubuh Asyifa dengan perasaan terharu, seolah baru saja menemukan penolong mereka.


"Terima kasih kak, terima kasih"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2