The Ugly Wife

The Ugly Wife
Bertengkar


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan dokter, Asyifa dan Zidan berjalan kembali ke kamar Eden dengan ekspresi wajah yang sulit untuk dijelaskan.


Pasangan itu seolah baru saja mendengar sebuah berita buruk yang bisa saja membuat kondisi Eden menjadi semakin memburuk dari sekarang.


"Tenanglah Asyifa. Aku harap kamu tidak membuat dirimu terbebani dengan pikiran yang belum tentu akan terjadi pada Eden di masa depan"


"Aku bingung Zidan. Entah mengapa hatiku merasa tidak tenang setelah mendengar kata dokter tadi. Aku bahkan menjadi sangat takut jika harus meninggalkan Eden, dan pada saat itu dia malah kambuh" ucap Asyifa gusar.


"Apa perlu aku memperkerjakan seseorang untuk menjadi penjaga Eden? Dengan begitu, dia tidak akan pernah sendirian karna selalu ditemani oleh penjaganya"


"Entahlah Zidan, aku tidak bisa berpikir sama sekali untuk saat ini. Apa aku bisa meminta untuk diantar pulang ke aperteman malam ini olehmu? Rasanya aku ingin sekali bermalam di dalam kamarku sendiri" pinta Asyifa.


"Tentu saja boleh. Kamu seharusnya tidak perlu memaksakan diri untuk menjaga Eden semalaman di rumah sakit, biar aku sendiri saja yang berjaga disini"


"Terima kasih Zidan"


"Sama-sama sayang"


Selama keduanya berada dalam perjalanan pulang ke apertemen, tak ada satu pun yang berniat untuk membuka percakapan, seolah sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.


Asyifa yang sibuk dengan pikirannya tentang kondisi Eden ke depannya, dan Zidan yang ternyata pikirannya dipenuhi oleh kelanjutan hubungannya dengan Asyifa.


Bukannya pria itu sangat ingin terburu-buru untuk menikah dengan Asyifa, melainkan bagi Zidan yang telah lama menyimpan perasaan pada wanita disampingnya itu, wajar saja jika ia ingin lebih memperjelas lagi niatnya.


Cukuplah sekali saja dirinya didahului oleh pria lain, yaitu William. Zidan tak ingin lagi pengalaman itu kembali terulang untuk yang kedua kalinya.


Namun entah mengapa, setiap kali dirinya ingin membahas hal itu bersama dengan Asyifa, selalu saja ada halangan yang bisa membuat niatnya itu tidak bisa terlaksanakan.


Contohnya saja seperti keadaan sekarang ini, pikiran Asyifa selalu dipenuhi akan perasaan khawatir terhadap keadaan Eden yang belum juga pulih dari sakitnya.


"Asyifa" panggil Zidan secara spontan, tanpa bisa dicegah oleh dirinya sendiri.


"Iya, ada apa?"


"Sebenarnya, ada sesuatu yang sudah selama beberapa hari ini, selalu ingin aku bicarakan denganmu. Apa aku bisa memintamu untuk mendengarkannya? Aku janji kalau ini hanya akan memakan waktu sebentar saja"


"Berbicara sesuatu? Sepertinya itu bukan tentang sesuatu yang sepele kan? Apalagi kalau dilihat dari ekspresi wajahmu yang serius dan juga cara bicaramu yang terdengar sangat kaku" tebak Asyifa tepat sasaran.


"Yah, mungkin bisa dibilang memang seperti itu niatku. Aku juga yakin, kalau kamu pasti bisa menebak dengan mudah apa yang ingin aku bicarakan"


"Apa aku salah kalau bilang itu adalah tentang kelanjutan hubungan kita berdua? Kalau aku salah, maafkan. Karna hanya itu yang saat ini terpikirkan olehku"


"Iya benar Asyifa. Sebenarnya aku bukan ingin memaksamu untuk terburu-buru menikah denganku, hanya saja perasaan takut akan didahului lagi oleh orang lain, itu selalu saja menghantuiku setiap saat"


Pada umumnya jika ada seorang wanita mendengar suatu pujian, gombalan, atau pun perkataan manis seperti yang diucapkan oleh Zidan barusan, mereka pasti akan memasang ekspresi bahagia atau pun terharu.


Tapi yang terjadi pada Asyifa justru berbeda dan malah sebaliknya. Bukannya merasa bahagia atau pun terharu, Asyifa justru hanya menghela nafas keras seolah terbebani.


Sontak saja kejadian yang baru saja dilihatnya itu, membuat Zidan sedikit terkejut. Sambil bertanya-tanya di dalam hatinya apa tanpa sadar sudah melakukan kesalahan, Zidan tak ingin melepaskan pandangannya pada Asyifa.


"Apa yang sedang kamu lakukan Zidan? Kenapa malah fokus melihatku, dan bukannya melihat jalanan yang ada di depanmu?" tegur Asyifa merasa risih.


"Ah, maaf"


"Aku bukannya tidak mengizinkanmu untuk melihat wajahku, tapi sekarang kita sedang berada di tengah jalan raya. Bagaimana kalau kamu malah membuat kita berdua celaka?"


"Iya, maafkan aku Asyifa. Hanya saja aku khawatir telah melakukan suatu kesalahan padamu tanpa sadar, karna tadi melihatmu menghembuskan nafas dengan kesal" ucap Zidan menjelaskan.


"Jujur saja aku memang merasa sedikit kesal dan juga kecewa, terhadap sikapmu yang membahas soal kelanjutan hubungan kita di waktu yang tidak tepat seperti ini"


"Waktu yang tidak tepat? Kenapa waktu ini menjadi waktu yang tidak tepat Asyifa, apa karna Eden masih berada di dalam rumah sakit, makanya kamu juga harus menunda untuk membahas rencana pernikahan kita?"


"Bukannya itu adalah sesuatu yang wajar untuk dilakukan saat teman kita sedang ada kesusahan? Kalau itu kamu, apa kamu tetap akan menggelar pesta pernikahan saat Adam atau Raka sedang terbaring di rumah sakit?" tanya Asyifa, terlihat semakin kesal.


"Aku pasti akan menundanya kalau saja Eden adalah salah satu sahabatmu yang selalu ada untukmu seperti Angel dan juga Mira. Tapi dia hanyalah seorang pria yang baru beberapa waktu dikenal olehmu. Bukannya sudah lebih dari cukup kita menolongnya selama ini?"


"Astaga, aku pikir aku telah sangat mengenal dirimu Zidan, tapi ternyata aku salah! Kamu bahkan memperhitungkan pertolonganmu pada Eden, hanya karna dia seorang asing di hidupmu. Apa kamu tidak memiliki hati nurani seperti Elina, Eden bahkan menganggapmu sebagai kakaknya sendiri!"


Mendengar ucapan marah dari Asyifa yang tiba-tiba saja menyamakan dirinya dengan Elina, seketika perasaan marah juga ikut muncul di dalam hati pria itu.


Bahkan untuk sesaat, Zidan sempat harus kehilangan fokus dirinya mengendarai mobil, dan hampir saja menabrak mobil lain yang berada di depannya.


Untungnya, Zidan dengan cepat membanting setir ke arah samping dan berakhir dengan keluar dari jalur jalan raya yang seharusnya mereka lewati.


Akibat kejadian itu, Asyifa yang tidak sedang memakai sabuk pengaman, mendapatkan luka pada dahinya karna kepalanya terbentur keras di bagian depan mobil.


"Ya tuhan Asyifa! Apa kamu baik-baik saja, tidak ada yang luka kan?" tanya Zidan panik.


"Aku baik-baik saja"


"Apanya yang baik-baik saja Asyifa? Dahimu sampai berdarah seperti itu, pasti sakit sekali bukan? Coba aku lihat!" pinta Zidan, sambil mengulurkan tangannya dan berusaha untuk memeriksa keadaan sang tunangan.


Namun dengan kasar, Asyifa malah segera menolak tangan Zidan untuk menjauh dari dirinya. Bahkan dengan sembarangan, Asyifa menghapus darah yang keluar dari dahinya menggunakan tisu kering.

__ADS_1


Mau tidak mau perasaan bersalah karna telah dengan ceroboh membuat Asyifa terluka, muncul di dalam hati Zidan. Perasaan kesal dan marah yang sesaat sempat dirasakannya pun menghilang entah kemana.


"Apa kamu marah padaku? Aku minta maaf Asyifa, karna kecerobohanku tadi makanya kamu sampai bisa terluka seperti ini. Aku janji tidak akan seperti ini lagi, jadi tolong maafkan aku yah?" pinta Zidan lembut.


"Bukan salahmu kok. Ini semua karna salahku yang terlalu memikirkan keadaan orang asing dibandingkan keadaan hubungan kita yang selanjutnya"


"Asyifa, apa salah kalau aku hanya ingin lebih memperjelas lagi hubungan kita ke jenjang yang berikutnya? Aku sudah melamarmu, dan kamu juga sudah menjawab iya atas lamaran itu, lalu apa tidak bisa kita melangsungkan pernikahan? Apakah permintaanku ini sangat berlebihan bagimu?"


"Aku tidak pernah bilang kalau permintaanmu itu berlebihan Zidan, hanya saja coba kamu lihat keadaannya sekarang!"


"Apa alasannya hanya karna Eden yang masih berada di rumah sakit? Asyifa, aku bahkan bisa mengeluarkan Eden dari sana saat ini juga dan memberikannya perawatan terbaik untuk penyembuhan mentalnya!"


"Ini bukan soal perawatan terbaik atau pun mewah yang bisa kamu berikan dengan uang dan juga hartamu yang berlimpah itu, tapi ini tentang penyembuhan yang dilakukan dengan kasih sayang dari orang-orang terdekat Eden!"


"Orang terdekatnya kan, berarti bukan kamu kan orang tersebut? Kamu bahkan baru saja mengenalnya, itu tandanya ini bukan bagian dari hal yang bisa kamu lakukan" ucap Zidan mengingatkan Asyifa kembali.


"Lalu, menurutmu siapa yanh bisa menjadi orang terdekat dihidupnya? Kamu sendiri juga tahu kalau dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi untuk berbagi penderitaannya. Kalau aku juga tidak membantunya, lalu siapa?"


Hening. Zidan yang mendapat pertanyaan dari Asyifa seketika menjadi terdiam, seolah ia adalah seorang bisu. Hanya ada bunyi deru nafas keduanya yang memburu, karna saking sibuknya berdebat.


Namun pada akhirnya, Zidan yang tidak bisa mendapatkan jawaban yang sangat ingin didengarnya dari Asyifa, hanya bisa menarik ujung rambutnya frustrasi.


"Kalau memang kamu saat ini sedang ingin terburu-buru menikah, maka jawaban yang bisa aku berikan padamu adalah aku tidak bisa mengabulkannya. Tapi tenang saja, aku juga tidak akan egois dengan menahanmu harus menungguku. Kamu boleh mengambil kembali cincinnya dari jari manisku" lanjut Asyifa yakin.


"Ahahaha. Ahahaha, Asyifa. Kenapa kamu bisa semudah itu melepaskanku setelah semua perjuangan yang aku lakukan hingga saat ini untukmu? Apa aku sama sekali tidak berharga dalam hidupmu?"


"Bukan Zidan, aku tidak bilang bahwa kamu tidak berharga dalam hidupku. Justru malah sebaliknya, kamu sangat-sangat berharga. Tapi aku sadar kalau aku tidak bisa menahan setiap hal yang aku inginkan, untuk tetap ada disampingku"


"Kenapa setiap kali aku membuka hatiku dan mencintai seorang wanita, akhirnya selalu kekecewaan dan juga peninggalan sepihak dari wanita tersebut? Apa karna aku memang tidak ditakdirkan oleh tuhan, untuk bersatu dengan orang yang ku cintai?" gumam Zidan pada dirinya sendiri.


"Zidan, aku bukannya ingin membuat hatimu terluka atau pun semacamnya, hanya saja aku ingin kamu tahu____"


"Hentikan Asyifa. Apa pun yang akan kamu katakan padaku, sebaiknya kamu simpan saja untuk dirimu sendiri. Aku sedang tidak ingin mendengar apa-apa lagi" potong Zidan cepat, sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya.


"Maaf Zidan"


"Lupakan Asyifa. Apa kamu bisa tolong keluar dari mobilku sekarang, karna aku sepertinya tidak bisa mengantarmu hingga sampai di apertemen. Ada suatu tempat lain yang ingin aku datangi malam ini"


"Kamu ingin pergi kemana? Apa tidak bisa kita sama-sama pulang ke aperteman saja?" tanya Asyifa, mau tidak mau merasa khawatir.


"Tolong keluarlah Asyifa"


"Baiklah"


Tak lupa sebelum benar-benar keluar, Asyifa juga melepaskan cincin tunangan yang telah Zidan berikan padanya, dan meletakkannya begitu saja diatas kursi penumpang.


Setelah itu, tanpa ada keraguan atau pun sosok Zidan yang turun untuk membujuk Asyifa, mobil itu kembali melaju kencang meninggalkan Asyifa seorang diri.


Asyifa yang tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa pulang, karna tidak membawa dompet atau pun uang tunai dalam tasnya, dengan terpaksa menghubungi Angel untuk menjemputnya.


"Asyifa, kenapa kamu bisa ada di pinggir jalan raya malam-malam begini? Dan lagi kenapa kamu cuman seorang diri, apa Zidan tidak bisa mengantarmu pulang?" tanya Mira, saat dirinya dan Angel telah sampai ditempat Asyifa menunggu.


"Emm, iya. Zidan sepertinya ada urusan lain yang mendadak, jadi dengan terpaksa harus menurunkan aku disini. Bodohnya lagi, aku baru ingat kalau tidak membawa dompet atau pun uang tunai dari kemarin"


"Ya ampun, kenapa bisa kamu seceroboh itu? Untung saja ada ponsel yang bisa digunakan untuk menghubungi kami, ayo masuk!"


"Hehehe, iya"


"Asyifa, apa tadi kamu dan Zidan baru saja mengalami sebuah insiden kecelakaan? Kenapa dahimu terluka dan berdarah seperti itu?" tanya Angel, yang cepat menyadarinya.


"Ah, iya benar. Tadi sebelum menurunkanku disini, Zidan sempat tidak fokus membawa mobil dan hampir menabrak mobil lain yang ada didepan. Tapi untungnya tidak sampai tertabrak, karna Zidan membanti setir ke samping"


"Ckckck. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan tunanganmu itu, tidak biasanya dia bertindak seceroboh itu. Atau jangan-jangan, kalian berdua habis bertengkar yah?" tanya Mira curiga.


"Yang benar saja ucapanmu itu Mira. Mereka itu kan pasangan baru, masa belum apa-apa sudah main bertengkar saja. Pasti Zidan hanya sedang banyak pikiran, jadinya sampai melakukan kesalahan. Iyakan Fa?"


"Iya, iya benar kata Angel. Mana mungkin aku dan Zidan bertengkar diumur pertunangan kami yang mash sumur jagung ini. Yang ada harusnya kami semakin lengket dan semakin romantis satu sama lain" jawab Asyifa, yang memang sengaja ingin berbohong.


"Huuu, iya deh. Kalian berdua pasangan yang paling romantis dan terlengket! Ayo pulang Ngel, sudah ngantuk sekali aku" ajak Mira, terlihat kesal mendengar jawaban Asyifa.


"Iya, siap bos"


Dengan begitu, Asyifa berhasil tiba di dalam kamarnya di dalam apertemen, dan mulai membersihkan diri sebelum akhirnya naik ke atas tempat tidur.


Asyifa yang pikirannya masih dipenuhi oleh sosok Zidan yang berlalu pergi begitu saja, segera meraih ponselnya untuk mengecek apakah ada telepon atau pun pesan masuk dari pria itu.


Namun nyatanya tidak ada satu pun harapan yang menjadi kenyataan. Meski media sosial Zidan aktif, tapi pria itu sama sekali tidak mengirimkan pesan padanya.


Hingga sebuah notif yang memberitahunya bahwa ada beberapa cerita baru yang Zidan posting di media sosialnya, masuk ke media sosial Asyifa.


Merasa sangat penasaran, Asyifa tanpa ragu menekan notif tersebut untuk bisa melihat cerita Zidan secara langsung, yang ternyata adalah video keadaan gegap gempita sebuah bar yang ramai.


"Asyifa! Apa maksudnya ini? Kamu bilang Zidan ada urusan penting dan terpaksa harus meninggalkanmu di pinggir jalan seorang diri, tapi kenapa sekarang dia malah sedang ada di sebuah bar?" tanya Angel, yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Asyifa.

__ADS_1


"Kamu lihat story di media sosial Zidan yah, Ra? Itu dia memang ada di bar kok, karna dia ada pertemuan dengan klien disana. Barusan juga dia mengirimkannya padaku di chat" jelas Asyifa, yang lagi-lagi berbohong.


"Yang benar aja sih, masa pertemuan sama kliennya harus di bar segala, kayak tidak ada tempat lain saja! Terus, kamu tidak masalah apa kalau Zidan pergi ke bar malam-malam seperti ini?"


"Dia kan pergi kesana karna kerja, masa harus aku larang sih? Meskipun tidak suka, tapi aku sebagai tunangannya harus mendukung apa yang menjadi pekerjaannya juga dong"


"Sudah aku bilang kan tadi, kalau Zidan pasti pergi kesana karna memang ada kepentingan dan bukannya buat main-main. Kamu sih, khawatirnya terlau berlebihan!" timpal Angel, yang ikutan masuk ke dalam kamar Asyifa.


"Aku kan hanya ingin memastikan kalau sahabatku tidak akan disakiti lagi oleh ciptaan tuhan yang bernama pria itu. Memangnya ada yang salah yah?"


"Hm, iya tidak salah kok. Oh iya, bagaimana kala kita tidur bertiga malam ini di ruang tamu sambil menonton drakor? Sudah lama sekali kita tidak melakukannya lagi"


"Aku setuju dengan Angel! Kamu juga setuju kan, Fa?" tanya Mira penuh harap.


"Apa sebaiknya aku terima saja tawaran Angel dan juga Mira? Dari pada aku sendirian di dalam kamar, yang ada nanti aku malah akan menangis seorang diri disini" batin Asyifa.


"Baiklah, ayo pergi!"


*****


Zidan yang perlahan-lahan mulai tersadar dari tidur dan membuka kedua matanya, segera merasakan sakit yang luar biasa pada seluruh kepala dan juga badannya.


Sebenarnya Zidan masih sangat ingin untuk kembali menutup mata dan terbang ke alam mimpi, tapi karna melihat cahaya matahari yang sudah bersinar terang diluar, Zidan pun harus membatalkan niatnya itu.


Baru saja bangkit dari posisi tidurnya untuk duduk diatas tempat tidur, Zidan dikejutkan oleh pemandangan ruangan yang sangat jauh berbeda dengan keadaan kamarnya.


Bahkan saat ini, penampilannya sedang tidak memakai baju dan juga celana, melainkan hanya menggunakan celana boxer berwarna hitam miliknya.


"Ternyata kamu sudah bangun, padahal baru saja kami berdua ingin membangunkanmu dengan cara kasar" cibir Raka, yang berjalan masuk ke dalam kamar.


Dibelakang Raka, ada sosok Adam yang juga ikut berjalan masuk ke dalam kamar sambil mendorong kereta kecil yang berisikan menu sarapan pagi untuk Zidan.


"Raka? Adam? Kenapa kalian berdua bisa ada disini, dan lagi sedang dimana aku sekarang? Pergi kemana semua pakaianku?" tanya Zidan kebingungan, masih juga tak mengingat apa yang sudah terjadi semalam.


"Haha! Hahaha! Jangan pura-pura lupa kamu, apa kamu tahu seberapa susah usahaku dan juga Adam untuk memisahkanmu dari wanita itu, lalu membawamu ke sini?!"


"Wanita? Apa lagi yang kamu maksudkan Raka, wanita yang mana? Aku bukan sedang pura-pura lupa, tapi aku benaran tidak bisa mengingat apa yang suda terjadi padaku"


"Semalam aku dan Raka menelponmu karna khawatir saat melihat storymu di media sosial yang berisikan video, kalau kamu sedang ada di dalam sebuah bar. Setelah dengan susah payah mencari tahu keberadaanmu, kami malah menemukanmu sedang bermesraan dengan seorang wanita yang bukan Asyifa"


"A_apa? Yang benar saja kamu Adam! Aku tidak mungkin berani melakukan perbuatan sebrengsek itu, disaat sudah memiliki Asyifa sebagai tunanganku!"


Dengan cepat, Zidan pergi mencari ke seluruh penjuru kamar untuk menemukan dimana ponselnya berada. Setelah menemukannya, Zidan tanpa ragu menekan tombol panggil.


Tapi baru sekali mendengar nada tunggu diujung telepon berbunyi, ingatan pria itu pun kembali teringat akan semua yang sudah terjadi semalam dengan jelas.


Sekali lagi hati Zidan bagai ditusuk sebilah pisau, karna teringat betapa mudahnya wanita yang ia cintai memutuskan hubungan yang dengan susah payah telah dibangun olehnya.


Tanpa berpikir dua kali, Zidan hanya bisa memutuskan telepon itu sebelum Asyifa sempat mengangkatnya. Zidan meletakkan kembali ponselnya ke atas kasur sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Loh, aku pikir tadinya dia ingin menelpon Asyifa, tapi kenapa malah tidak jadi?" tanya Raka bingung.


"Sepertinya, ada sesuatu yang sudah terjadi diantara Zidan dan juga Asyifa. Melihat Zidan yang menjadikan bar dan juga wanita sebagai pelariannya, pastinya bukan hanya masalah sepele" tebak Adam yakin.


"Yang benar saja? Mereka kan baru juga bertunangan beberapa saat lalu, masa sudah bertengkar hebat saja! Apa sebaiknya kita bantu mereka berdua untuk baikkan?"


"Aku rasa kalau bukan Zidan atau Asyifa yang memintanya, sebaiknya kita berdua juga tidak usah ikut campur. Aku takutnya, respon Zidan malah seperti masalah Kinara waktu itu"


"Ah, benar juga" jawab Raka lemas.


Tak berapa lama kemudian, Zidan yang sudah selesai mandi pun keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya berbalut handuk.


Dengan santai dan tak berbicara sepatah kata pun, Zidan meraih tas belanjaan yang dibawa oleh Adam bersama kereta makanan, dan mulai membukanya.


Ternyata di dalam tas itu berisi satu buah setelah baju kerja bersama jas baru untuk dipakai Zidan, sebagai ganti pakaiannya yang entah sudah berada dimana.


"Apa yang sedang kalian berdua lakukan lagi di dalam kamar ini, apa kalian tidak lihat kalau aku ingin memakai pakaian? Atau, kalian malah ingin menontonku berganti pakaian?" tanya Zidan sinis.


"Najis! Mendingan aku dan Adam keluar dari pada melihat sesama kami berganti pakaian, bikin dosa mata tahu! Ayo Dam"


"Kami akan menunggumu di lobby hotel, jangan lupa makan sarapanmu sebelum keluar" ucap Adam sebelum mengikuti Raka keluar dari kamar.


Zidan yang mendengar pesan sahabatnya itu, hanya menganggukan kepala pelan sebagai jawaban, dan mulai memakai pakaiannya begitu pintu tertutup.


Sebelum memakan sarapannya yang telah dibawakan oleh Adam, Zidan kembali meraih ponsel yang tadi sempat dibiarkannya begitu saja diatas kasur.


Dengan penuh harapan, pria itu mulai memeriksa riwayat panggilan dan juga pesan, karna mengira mungkin ada satu yang telah berasal dari Asyifa.


Namun hasilnya nihil. Tak ada telepon, tak ada juga pesan, hanya sebuah riwayat yang menyatakan Asyifa pernah menonton story di media sosialnya semalam.


Dengan perasaan sedih dan juga kecewa, Zidan memasukkan ponselnya ke dalam salah satu saku celana dan mulai memakan sarapannya dalam diam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2