The Ugly Wife

The Ugly Wife
Keputusan Akhir


__ADS_3

Asyifa menggigit ujung bibirnya demi menahan rasa perih, saat petugas medis berusaha mengobati luka di lehernya.


Ia bersama dengan Lia, yang ternyata juga ikut tertusuk pisau milik Safira saat terjatuh di tangga, segera diantar ke rumah sakit terdekat untuk diobati.


"Sudah selesai bu, silakan beristirahat"


"Terima kasih dok"


"Sama-sama, saya permisi dulu"


Asyifa menyentuh perban yang membalut lukanya setelah mendapatkan beberapa jahitan, dengan perasaan sedih.


"Asyifa, gimana keadaanmu? Apa kata dokter, apa lukanya parah? Udah diobati?"


Asyifa tersenyum senang melihat kedua sahabatnya sudah berada kembali di dekatnya.


"Aku baik-baik aja kok, Ngel. Lukaku tidak terlalu parah dan hanya mendapat beberapa kali jahitan, jadi tidak usah khawatir"


"Syukurlah kalau begitu. Kami minta maaf sama kamu yah, Asyifa"


"Minta maaf untuk apa? Jangan bilang untuk tidak bisa menemaniku disini? Ya ampun Angel, aku juga tau kenapa kalian berdua tidak bisa menemaniku karna diminta menjadi saksi atas kejadian tadi"


"Bukan cuman untuk itu aja, Fa. Tapi maaf untuk membiarkan dan tidak segera menyusul kamu ke toilet saat itu juga" jelas Mira dengan perasaan bersalah.


"Iya, aku juga nyesal banget. Seandainya kita menemani kamu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Maaf, Fa"


"Hei, it's okay guys. Aku sungguh baik-baik saja, malah aku lebih mengkhawatirkan keadaan Lia yang tertusuk lumanyan dalam pada bagian pinggangnya!" ucap Asyifa sambil menatap sosok Karin yang diam sedari tadi.


Karin memohon kepada polisi untuk diizinkan pergi melihat keadaan Lia dengan bantuan Angel serta Mira sebagai penjaminnya.


Lia adalah sepupu Karin, oleh karena itu ia memohon dengan sangat kepada polisi dan karna kasihan, Angel serta Mira turut membantunya sebagai penjamin ia akan kembali ke kantor polisi lagi.


Itulah sebabnya ia bisa berada di hadapan Asyifa sekarang.


"A, apa.... Apa keadaannya parah?"


"Maaf Karin, tapi aku juga belum tau bagaimana keadaan Lia. Bagaimana kalau sekarang, kita sama-sama pergi untuk menjenguknya?"


"Tapi bukannya kamu harus banyak beristirahat, Fa? Kamu itu, pasien loh!"


"Aku baik-baik saja Angel, ayo kita pergi melihat Lia. Ayo Mira, Karin!"


Keempat gadis itu menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang rawat inap yang ditempati oleh Lia sesuai dengan arahan suster yang berjaga di meja resepsionis.


"Masih ada dokter di dalam, kita tunggu saja dulu diluar" saran Angel saat melihat seorang pria berpakaian dokter sedang sibuk memeriksa keadaan Lia.


Tidak lama kemudian sang dokter keluar dan Karin segera menghampirinya "Bagaimana keadaan sepupu saya dok? Dia baik-baik saja kan dok, lukanya tidak parah bukan?"


"Pasien baik-baik saja. Meskipun sempat kehilangan banyak darah akibat tusukan, tapi untungnya tidak mengenai daerah berbahaya pasien. Sekarang pasien sudah boleh di jenguk, silakan"


"Syukurlah, terima kasih banyak dok" ucap Mira berterima kasih, menggantikan Karin yang sudah menyerobot masuk begitu saja ke dalam ruangan setelah mendengar ucapan sang dokter.


"Sama-sama"


Saat ketiganya masuk, tampak Karin sedang memeluk tubuh sepupunya yang terbaring lemas di ranjang sambil menangis.


"Syukurlah kamu baik-baik saja. Apa kamu tau betapa kagetnya diriku saat tau pisau itu menancap pada di tubuhmu?!"

__ADS_1


"Maafkan aku karna sudah membuatmu cemas, Karin. Tapi bagaimana dengan keadaan Safira, dia baik-baik saja kan?"


"Untuk apa kamu menanyakan keadaan wanita gila itu! Dialah yang sudah membuatmu hingga menjadi seperti ini, jadi lupakan saja dia!"


"Jangan seperti itu Karin. Bagaimana pun juga dia adalah sahabat kita"


"Dia bukan sahabatku! Aku terpaksa bersahabat dengannya hanya karna kamu sudah menjadikannya sahabatmu sejak SMP!"


"Ayolah Karin, jangan seperti itu. Bagaimana pun juga, ini adalah kesalahan kita bersama"


"Tidak, ini adalah kesalahanku berdua dengan Safira! Dengarkan aku Lia, apa pun yang akan ditanyakan oleh polisi nantinya, jawab saja dengan menyalahkan aku atau Safira agar kamu bisa terbebas dari hukuman! Kamu mengerti?"


Karin seolah lupa kalau ia tadinya datang bersama dengan Asyifa dan kedua sahabat Asyifa, bahkan kehadiran ketiganya dalam ruangan itu sama sekali tidak disadari oleh dirinya.


"Meskipun aku melakukan apa yang kamu katakan, tapi ketiga orang lain itu tau fakta sebenarnya"


Saat itulah Karin baru kembali tersadar akan keadaan sekitarnya. Ia berjalan ke arah Asyifa dan berlutut dihadapannya, membuat semua orang terkejut.


"Aku tau diriku sekarang akan terlihat sangat tidak tahu malu setelah segala hal yang aku lakukan padamu bersama dengan Safira dan juga Lia. Tapi aku mohon dengan sangat padamu Asyifa, tolong bebaskan Lia. Aku mohon, aku siap melakukan apa saja supaya kamu mau mengabulkan permohonanku"


"Bangunlah Karin, jangan seperti itu hanya demi diriku" isak Lia yang berusaha menahan sakit di pinggangnya untuk bangun.


Plok... Plok... Plok...


"Ya ampun, sekarang drama apa lagi yang sedang kalian berdua mainkan? Apa tidak cukup sahabat kalian Safira saja yang masuk rumah sakit jiwa karna kegilaannya, apa kalian berdua juga ingin mengikutinya?"


Dengan marah Mira menarik tubuh Karin untuk kembali berdiri tegap dan tanpa ampun, ia memberikan tamparan pada kedua pipi gadis itu.


Plak... Plak..


"KARIN!" teriak Lia histeris.


"Cukup Mira"


"Cukup? Apa kamu tidak merasa sedih sama sekali saat melihat sahabatmu gemetar ketakutan setiap saat? Berapa kali kita menemukan Asyifa yang ketakutan karena hal-hal kecil, Angel? Dadaku sesak setiap kali melihatnya seperti itu, tapi mereka bahkan tidak menyesali perbuatannya sama sekali!"


"Aku juga merasakan hal yang kamu rasakan Mira, aku juga merasa sedih dan marah sekali terhadap mereka! Tapi biarkan Asyifa yang memutuskannya, karna ia yang paling berhak untuk hal itu"


"Oke! Oke kalau begitu! Katakan keputusanmu agar kami semua mendengarkannya, Fa!"


Asyifa menghela nafasnya perlahan sebelum berbicara "Aku tidak akan memasukkan Karin dan juga Lia ke dalam penjara!"


"APA? Kamu sedang bercanda kan, Asyifa? Bagaimana bisa kamu membiarkan mereka begitu saja!"


"Maaf Mira, maaf Angel. Aku tau kalian berdua sekarang pasti merasa sangat kecewa terhadap keputusanku, tapi aku harap kalian berdua mau mencoba untuk mengerti"


"Aku tidak bisa mengerti dengan jalan pikiranmu sama sekali! Aku bingung, apa kamu begini hanya karena kamu itu kelewat baik, atau bego! Yang jelas, aku kecewa banget sama kamu, Fa!"


Mira meninggalkan ruangan itu dengan membanting pintu sekeras mungkin sebagai pelampiasan amarahnya.


Angel hanya bisa mengelus pundak Asyifa pelan "Sabar yah, Fa"


"Apa, yang kamu katakan tadi benaran? Kamu tidak akan memasukkan aku dan juga Lia ke dalam penjara?"


"Iya"


"Terima kasih, terima kasih banyak Asyifa. Aku benar-benar menyesal atas semua yang telah kami lakukan padamu. Aku sungguh minta maaf Asyifa"

__ADS_1


"Aku juga minta maaf, Asyifa. Dan terima kasih untuk kebaikanmu kepada aku dan juga Karin"


"Bisakah kalian menyimpan ucapan terima kasih dan juga permintaan maaf kalian kepadaku? Setidaknya sampai hatiku siap untuk bisa menerima semua ini dengan iklas, entah itu kapan?"


"Tapi Asyifa, kami berdua benar-benar..."


"Aku tau, tapi tidak untuk sekarang, Karin. Berikan aku waktu! Dan untuk Safira, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Ia sudah dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, karena kejiwaannya terganggu dan akan menjalankan masa hukumannya disana"


"Astaga Safira! Karin, kenapa bisa Safira mengalami hal itu?" ucap Lia terkejut.


"Sebaiknya kita pulang ke apartemen kita sekarang, Fa. Kamu pasti capek dan butuh banyak istirahat"


"Boleh tidak, aku pulang sendiri saja, Ngel? Aku butuh waktu untuk sendiri, aku janji akan pulang secepatnya"


"Baiklah, hubungi aku jika terjadi apa-apa"


Asyifa mengangguk setuju dan berlalu dari sana.


*****


Sudah satu jam lebih Asyifa berjalan tanpa arah dan tujuan.


Masih dengan kemeja kantor berwarna putih yang terkena noda darah yang telah berubah menjadi hitam dan dengan perban besar di lehernya, ia terus saja berjalan tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang disekitarnya.


Drrrtt... Drrrtt...


Entah sudah berapa banyak getaran ponsel dalam tasnya yang ia abaikan.


Dengan berat hati, Asyifa mengeluarkan ponsel itu. Ia mengira Angel lah yang menelpon untuk menanyakan keberadaannya, dan tanpa melihat lagi nama sang penelpon Asyifa langsung menggeser menu jawab.


"Aku baik-baik saja, Ngel. Aku minta maaf karena untuk malam ini, aku tidak bisa pulang ke apartemen. Aku akan menginap di hotel dekat perusahaan"


"Kenapa tidak bisa pulang?" tanya suara pria di ujung sana.


Segera Asyifa memeriksa nama sang penelpon di ponselnya dan ternyata itu adalah nomor tanpa nama.


"Maaf, tapi ini siapa yah?"


"Ini William, Asyifa. Maaf baru menghubungimu sekarang, apa kamu sedang sibuk? Aku ingin menangih utangmu padaku, kamu tidak lupa bukan?"


"Ah, iyah aku ingat. Tapi maaf William, sekarang aku sedang sibuk sekali dan tidak bisa diganggu. Bagaimana kalau lain kali saja aku membayarnya?"


"Oh ya? Aku penasaran, pekerjaan seperti apa yang harus kamu lakukan ditepi jalan saat malam hari seperti itu?"


"Maksudmu? Ba, bagaimana kamu bisa tau apa yang aku lakukan sekarang?"


"Tentu saja bisa. Coba lihat ke sampingmu deh, sekarang!"


Menuruti perkataan William, betapa terkejutnya ia saat melihat sosok William yang berdiri tak jauh dari sana.


"Tu, tunggu William! Jangan mendekat ke sini, ku mohon!" ucap Asyifa panik.


Ia tidak ingin memperlihatkan keadaan dirinya yang sangat mengenaskan saat ini kepada William.


Namun terlambat. William malah mematikan sambungan telepon dan berjalan mendekati Asyifa dengan senyuman andalannya.


"Arrgghh, betapa sempurnanya penderitaanku! Masa muda dan percintaanku berakhir sudah! Malaikat maut, cabut saja nyawaku sekarang!" teriak Asyifa frustrasi dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2