
William duduk di ruang tamu dengan wajah lesu. Ia nampak bosan memandangi ketiga wanita yang terlihat sedang sibuk, dengan setumpuk kertas dihadapannya.
Ketiga wanita itu adalah Ratih, Kana dan juga Zenith. Mereka sedang melihat-lihat beberapa contoh konsep pernikahan yang akan digunakan untuk pernikahan antara William dan juga Zenith.
"Sayang, menurut kamu konsep yang ini bagus tidak? Sebenarnya aku sukanya konsep di luar ruangan, tapi yang satu ini benar-benar gaya aku banget. Gimana menurutmu?"
"Bagus" jawab William asal sambil melirik sekilas kertas yang ditunjukkan oleh Zenith padanya.
"Lihat yang benar dong William, jangan asal seperti itu! Semuanya ini demi persiapan pernikahan kamu dan juga Zenith, jadi harus disiapkan dengan sebaik mungkin" protes Kana gemas, melihat sikap cuek sang adik iparnya itu.
"Benar yang dikatakan Kana. Pesta ini harus disiapkan sebaik mungkin, karna akan ada banyak orang-orang penting yang datang ke pernikahan kalian berdua" tambah Ratih.
William yang mendengar omelan dari kedua wanita itu, hanya bisa menarik nafas kesal sambil merebut kertas dari tangan Zenith secara kasar.
William terus memandangi kertas itu tanpa sepatah kata pun akan terucap dari bibirnya. Hingga beberapa menit berlalu William masih tetap diam, membuat ketiganya tak sabaran menunggu.
"Gimana sayang? Kok liatnya lama banget sih, kamu suka atau tidak?"
"Kamu bisa diam tidak? Aku sedang fokus melihat kertas ini supaya pernikahan kita bisa disiapkan sebaik mungkin. Tunggulah sampai beberapa jam lagi!"
"Lupakan. Biar mommy, Kana dan Zenith saja yang menentukan konsepnya!" ucap Ratih sambil merebut kembali kertas yang berada ditangan William.
Melihat Ratih yang terlihat kesal, membuat Kana dan juga Zenith segera menatap William marah. Pria itu malah makin bersikap masa bodoh.
Tiba-tiba dari luar rumah muncul sosok Haykal dan juga Rizal yang baru saja pulang kerja.
Ratih yang melihat kedatangan sang suami, segera menyambutnya dengan pelukan mesra.
"Wah, ternyata semuanya sedang berkumpul disini. Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Rizal senang melihat pemandangan di depannya.
"Hai daddy, selamat datang" ucap Zenith dan Kana kompak.
"Hai juga menantuku yang cantik, dan juga calon mempelai wanita kita yang sedang berbahagia"
"Daddy, apa daddy bisa membantu Zenith?" tanya Zenith dengan wajah memelas.
"Tentu. Memangnya, apa yang harus daddy bantu?" tanya Rizal sambil duduk disamping calon menantu keduanya itu.
"Zenith bersama mommy dan juga kak Kana, sedang melihat-lihat konsep pernikahan untuk pernikahan Zenith dan juga William. Karna kami bertiga semuanya wanita, jadi kami membutuhkan penilaian dari sudut pandang pria, tapi William sama sekali tidak bisa diharapkan daddy"
"Ah, jadi kamu ingin daddy menjadi penilai dari sudut pandang pria?"
"Betul daddy. Tolong bantu Zenith"
"Baiklah. Berikan semua kertas yang harus daddy nilai, daddy pasti akan melakukannya dengan sungguh-sungguh"
Mendengar ucapan Rizal, wajah Zenith nampak berbunga-bunga. Tanpa basa-basi lagi, dia segera mengambilkan Rizal setumpuk lain kertas yang sudah ia pisahkan menjadi pilihannya.
"Ehem, ehem. Apa tidak ada yang melihat kehadiranku? Apa tidak ada yang ingin meminta penilaianku juga, aku sangat bisa diandalkan loh!" ucap Haykal.
"Kalau kak Haykal juga ingin ikut membantu, aku pasti akan sangat berterima kasih. Mohon bantuannya kak"
"Tentu saja dia akan dengan senang hati membantumu, bukan begitu sayang?"
"Tentu saja!"
"Ayo duduk disampingku, dan kita lihat bersama" ajak Kana sambil menepuk tempat duduk disampingnya.
Melihat keakraban yang terjalin diantara keluarganya, bukannya merasa senang dan bahagia, William malah merasa sesak.
Entah kenapa ia merasa seperti sebuah boneka yang tak berdaya, dan hanya bisa mengikuti kemana ia dituntun.
Sedari kecil, William benci jika dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Ia memang tidak pernah membantah perintah orang tuanya, tapi kali ini ia merasa mereka sudah melewati batas.
Mereka menyuruhnya putus dengan Asyifa, lalu bersikeras agar dirinya melakukan pertunangan dengan Zenith, wanita yang tidak dicintainya sama sekali.
Bahkan sekarang, mereka mempersiapkan pernikahan untuk dirinya, tanpa menanyakan kesediaannya sama sekali.
"Karna sudah ada daddy dan juga Kak Haykal yang akan membantumu, berarti aku sudah tidak diperlukan lagi bukan? Kalau begitu aku akan keluar sebentar" ucap William, bangkit dari duduknya.
"Kamu mau kemana? Bukankah lebih baik jika kita memilihnya bersama-sama? Bagaimana pun juga, ini untuk pernikahan kita berdua William"
"Tidak perlu. Pilih saja yang mana yang kamu inginkan, aku akan mengikuti pilihanmu, jadi tidak usah meminta pendapatku"
Tanpa menunggu respon dari Zenith yang nampak masih ingin menahannya, William segera berjalan ke arah laci tempat kunci mobilnya biasa disimpan.
"Dimana kunci mobilku?" tanya William kesal saat mendapati kunci mobilnya tak berada disana.
"Apa kamu mencari ini?" tanya Ratih sambil mengayunkan sebuah kunci ditangannya.
"Itu kunci mobil William mom? Kenapa tidak ada gantungannya, mommy kemana kan gantungannya?"
"Maksudmu gantungan boneka beruang yang sudah jelek itu? Kalau itu, sudah mommy suruh ida membuangnya. Lagian buat apa kamu memakai gantungan kunci murahan seperti itu?"
"Kenapa mommy membuangnya tanpa seizin William? Itu kan barang milik William, tidak seharusnya mommy menyentuhnya sembarangan!" ucap William terlihat sangat marah.
Gantungan boneka beruang itu adalah pemberian dari Asyifa untuk William, sebagai hadiah peringatan hari jadian mereka berdua.
William sengaja masih memakainya, karna hanya itu satu-satunya barang yang bisa mengingatkannya pada sosok Asyifa yang masih sangat dicintainya.
__ADS_1
Sedangkan barang pemberian Asyifa atau pun barang yang dibelinya bersama dengan gadis itu, sudah disingkirkan atas paksaan mommy.
"Kenapa kamu semarah itu pada mommy, Will? Memangnya benda itu sepenting apa, siapa yang memberikannya padamu?"
"Tidak usah banyak bertanya. Ini bukan urusan Kak Haykal, jadi tidak usah ikut campur!"
"Pasti pemberian dari Asyifa yah? Dari terakhir kita bertemu dengannya, dia masih tampak sangat menyukaimu. Apa dia yang memaksamu untuk menyimpannya?"
"Apa katamu barusan, Zenith? Kamu pernah bertemu dengan Asyifa? Apa gadis tidak tahu diuntung itu, datang menemuimu untuk melakukan hal jahat padamu?" tanya Ratih nampak terkejut.
"Sebenarnya, William dan Asyifa yang bertemu berdua di sebuah cafe mom. Zenith tidak sengaja melihat mereka, jadi Zenith menghampiri untuk sekadar menyapa, karna Zenith pikir itu adalah teman William"
"Untuk apa kamu menemui gadis itu lagi William? Kamu itu sudah bertunangan dengan Zenith, tidak sepantasnya bertemu dengan wanita lain tanpa sepengetahuan pasanganmu" ucap Rizal tanpa diduga ikut mengeluarkan pendapatnya.
"Itu adalah pertemuan terakhir William dan Asyifa daddy. William hanya ingin menyelesaikan apa yang belum terselesaikan diantara kami berdua"
"Apa sekarang hubungan kalian benar-benar sudah berakhir?"
"Iya mom. Jadi aku minta, tolong kembalikan kunci mobilku. Ada urusan penting yang harus William selesaikan malam ini mengenai pekerjaan di perusahaan"
William sengaja tak ingin memperpanjang masalah, ia tiba-tiba teringat ada hal lain yang harus di lakukannya malam ini.
"Tapi kita sudah janji untuk makan malam bersama, apa kamu akan melewatkannya begitu saja?"
"Sudahlah Ratih, berikan saja kunci mobilnya. Apa kamu tidak dengar, dia bilang ada pekerjaan yang harus diselesaikannya malam ini juga"
"Baiklah"
Ratih menyerahkan kunci mobil ke arah William dengan terpaksa setelah mendapat perintah dari suaminya.
"William akan makan diluar, mommy dan yang lainnya silakan makan malam tanpa William" ucap William setelah mengambil kunci yang diberikan Ratih. Kemudian segera berjalan keluar dari sana.
*****
"Jadi apa maksud kedatanganmu bertamu malam-malam seperti ini dan mengganggu waktu istirahat orang lain?" tanya Zidan pada pria di depannya.
Zidan baru saja ingin bersantai diatas kasurnya yang empuk setelah menyelesaikan setumpuk pekerjaan, saat bunyi bel membatalkan niatnya.
Ia merasa semakin kesal saat menemukan sosok tamu yang mengganggu waktu istirahatnya itu, ternyata adalah pria yang paling dibenci oleh dirinya.
Namun karena William memohon untuk diizinkan masuk supaya bisa menjelaskan maksud kedatangannya, akhirnya terpaksa Zidan lah yang harus mengalah.
"Sekali lagi maaf karena sudah lancang datang malam-malam seperti ini. Tapi aku tidak punya pilihan lain, karna hanya kamu yang terpikirkan olehku"
"Apa maksdumu? Coba katakan dengan jelas, jangan menggunakan kata-kata mengelikan seperti itu padaku!" ucap Zidan memasang tampang jijik.
"Bantuan? Memangnya bantuan apa yang kamu inginkan dariku? Tapi jangan berharap banyak, karna aku tidak ada niat sedikit pun untuk membantumu, apa pun alasannya!"
"Aku sangat percaya diri kalau kamu akan bersedia membantuku"
"Kalau kamu hanya ingin berbicara tentang omong kosong, sebaiknya kamu dan rasa percaya dirimu itu silakan pergi saja dari apartemenku sekarang juga!"
Zidan bangkit dan segera menyeret tubuh William untuk keluar dari apartemennya. William yang tak bisa menandingi kekuatan Zidan pun, menendang tulang kering pria itu sekuat tenaga.
"Sialan! Apa yang kamu lakukan, beraninya menyerang tuan rumah tempatmu bertamu. Aku akan melaporkanmu ke kantor polisi, tunggu saja!"
Zidan mengeluarkan ponsel dari kantong celananya dan segera memencet beberapa angka untuk segera dihubungi, namun segera dicegah oleh William.
Ia mengambil ponsel dari tangan Zidan dan membuangnya ke atas sofa, jauh dari jangkauan pria itu.
"Aku datang ke sini karna Asyifa!" ucap William setengah teriak, saat melihat Zidan yang sudah siap dengan tinjunya.
"Ada apa dengan Asyifa? Apa kamu menemui Asyifa lagi bersama dengan tunanganmu yang sok cantik itu?"
"Bukan itu. Aku akan menjelaskannya, tapi bisakah kita duduk terlebih dahulu?"
"Kalau begitu cepat duduk sana, apa lagi yang kamu tunggu?"
Setelah duduk dengan tenang, William kemudian mengeluarkan sebuah map yang disimpan dalam jaket tebalnya. Ia kemudian meletakkannya dihadapan Zidan.
"Map apa ini?"
"Itu adalah map yang dikirimkan Asyifa pagi ini ke perusahaan keluargaku. Aku ingin kamu melihat dan membaca isinya"
Zidan menuruti perkataan William dan segera mengambil map yang diberikan. Selama beberapa saat, ia fokus membaca beberapa kertas yang ada di dalam map itu.
"Lalu, apa maksudmu membawa semua ini kepadaku?"
"Seperti yang kamu baca, Asyifa sudah mengganti nama kepemilikan apartemen tempat ia tinggal sekarang, menjadi namaku. Sedangkan ia bersama Angel dan Mira, akan segera pindah ke apartemen lain"
"Lalu, apa hubungannya denganku? Jangan bilang kamu ingin aku membeli apartemen itu darimu, agar Asyifa bersedia untuk tetap tinggal disana?"
"Aku rasa jika itu adalah milikmu, Asyifa pasti akan mau untuk tetap tinggal. Bukankah kamu juga ingin Asyifa tetap tinggal dekat denganmu?"
Mendengar ucapan William, Zidan nampak berpikir sebentar kemudian mengangguk untuk menyetujuinya.
"Tapi aku punya satu syarat yang harus kamu penuhi. Jika kamu tidak memenuhinya, aku tidak akan mau mengikuti rencanamu!"
"Apa syarat darimu?"
__ADS_1
"Syaratnya sangat gampang sekali. Yaitu, jangan pernah muncul lagi dihadapan Asyifa atau pun kedua sahabatnya!"
"Kalau untuk hal itu, kamu tenang saja. Aku juga tidak akan bisa melakukannya, meskipun sangat ingin bertemu dengannya. Kamu juga melihatnya bukan, betapa marah dan kecewanya Asyifa padaku"
"Baguslah kalau kamu tahu diri! Dan semoga hubunganmu dengan tunanganmu itu, berjalan dengan lancar selalu"
Mendengar ucapan Zidan, William hanya bisa tersenyum kecut. Ia kembali mengeluarkan map lain dari balik jaketnya untuk diberikan pada William.
"Sepertinya kita sudah sepakat. Aku sudah menyiapkan dokumennya, jadi kamu tinggal menandatanganinya saja"
"Berikan rekeningmu, aku akan mengirimkan uangnya sekarang juga"
"Simpan saja uangmu, aku tidak butuh. Aku hanya butuh tanda tanganmu sebagai pemilik apartemen menggantikanku"
"Kalau begitu, jangan bermimpi untuk mendapatkan tandatangan dariku sebelum kamu memberikan apa yang aku minta!"
"Kamu sepertinya tidak ingin memiliki sesuatu dengan gratis yah?"
"Tidak, terima kasih. Aku juga punya banyak uang, jadi aku sanggup membelinya sungguhan"
William menunjukkan nomor rekening yang ada di layar ponsel miliknya kepada Zidan. Dengan cepat, Zidan segera mengirimkan sejumlah uang ke sana.
Setelah itu, ia mengambil pena dari dalam laci, dan menandatangani dokumennya. Selain dokumen yang ditandatangani olehnya, yang lain ia serahkan kembali semuanya kepada William.
"Terima kasih atas bantuan dan waktunya. Karna tidak ada lagi yang harus dibicarakan, aku permisi duluan"
"Terima kasih juga karna sudah datang meminta bantuan dariku" ucap Zidan yang dibalas seulas senyum oleh William.
Saat sudah berada di luar apartemen Zidan, William menatap pintu disebelah apartemen Zidan yang tertutup rapat dengan tatapan sedih.
"Maaf Asyifa. Hanya ini yang bisa ku lakukan untukmu, sebagai penebusan atas semua kesakitan yang kuberikan dalam hidupmu" ucap William dalam hatinya, sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana.
*****
Ding... Dong..
Mendengar bel pintu yang berbunyi, membuat fokus ketiga gadis yang sedang asyik menonton film di layar televisi itu, sedikit terganggu.
"Aku aja yang bukain" ucap Asyifa bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
"Siapa sih lagian, malam-malam bertamu ke apartemen orang? Kayak tidak ada kerjaan lain saja" gerutu Mira kesal.
"Pak Zidan? Ada apa yah bapak ke sini, ini kan sudah malam banget" ucap Asyifa segaja mengencangkan volume suaranya.
Mendengar bahwa ternyata pak Zidan lah yang datang bertamu, Angel dan Mira segera merapikan semua barang-barang yang berserakan di bawah lantai dan diatas meja depan tv.
"Begini Asyifa, sebenarnya ada hal penting yang ingin saya bicarakan bersama kamu dan juga kedua sahabatmu"
"Memangnya apa yang ingin bapak bicarakan, apa tidak bisa besok saja pak?"
"Apa saya boleh masuk?" tanya Zidan.
"Tentu saja, silakan masuk pak Zidan" ucap Angel buru-buru menyuruh Zidan masuk sebelum pria itu diusir oleh Asyifa.
Setelah duduk berhadapan dengan ketiga gadis itu, Zidan menyerahkan secarik kertas untuk dibaca.
Setelah membaca isi dari kertas itu, wajah ketiganya berubah menjadi sangat terkejut dan juga keheranan.
"Sekarang, pemilik apartemen yang kami bertiga tinggali saat ini adalah pak Zidan? Kok bisa, bukannya William pemiliknya yah?" tanya Mira terkejut.
"Jangan bilang bapak sengaja membeli apartemen ini dari William, karna mendengar kabar kami akan segera pindah dari sini?"
"Untuk apa aku melakukannya? Aku hanya tidak sengaja melihat kalau ternyata pemilik gedung sedang menjual unit yang kalian tempati, jadi aku membelinya"
"Apa bapak datang ke sini, untuk menyuruh kami agar cepat keluar dari apartemen ini yah pak?" tanya Angel polos.
"Tenang saja pak, kami juga memang akan pindah secepatnya dari sini. Besok, kami akan menandatangani kontrak apartemen yang menjadi pilihan kami bertiga"
"Jangan pindah dan jangan tandatangan kontrak apa pun dengan pemilik apartemen mana pun, Asyifa! Kalian harus tetap tinggal di sini"
Mendengar ucapan Zidan membuat ketiganya menjadi semakin bingung.
"Memangnya kenapa kami harus tetap tinggal di sini, apartemen ini kan milik pak Zidan" tanya Asyifa penasaran.
"Yah karna untuk menghasilkan uang! Aku membeli apartemen ini, untuk menghasilkan uang, dan oleh karena itu aku membutuhkan orang yang mau menyewa tempat ini"
"Bapak ingin kami bertiga yang menjadi penyewanya? Tidak bisa pak! Kami sudah melihat harga sewa asli apartemen ini, dan itu sangat mahal. Kami lebih baik menyewa apartemen lain yang lebih murah tapi bagus, iyakan guys?"
"Benar yang dikatakan Angel pak!" ucap Mira dan Asyifa bersamaan.
"Kalian bisa membayar uang sewanya sesuai dengan apartemen baru yang akan kalian tempati itu. Aku malas harus mencari penyewa, itu sangat merepotkan!"
"Tapi itu sama saja bapak yang akan rugi. Bapak ini tau berbisnis tidak sih?" protes Asyifa.
"Tidak usah banyak protes, pokoknya kalian harus tetap tinggal di apartemen ini. Awas kalau berani pindah, aku pecat kalian semua! Sudah istirahat sana, aku mau kembali ke apartemenku. Selamat malam"
Asyifa dan kedua sahabatnya, hanya bisa diam memandangi kepergian Zidan dengan tatapan heran.
Bersambung...
__ADS_1