
Keesokan paginya, setelah Angel dan Mira sudah berangkat kerja, setegah jam kemudian baru lah Asyifa berjalan keluar dari kamarnya dengan penampilan yang terlihat rapi.
Wanita itu memakai setelan yang santai tapi juga nyaman, dan sambil menarik sebuah koper sedang berwarna biru laut, Asyifa pun berjalan menuju luar gedung apertemen.
Setelah semalaman Asyifa menghabiskan waktunya untuk melamun dan merenungkan segala sesuatu, ia akhirnya memutuskan untuk bepergian dan mencari suasana baru guna memperbaiki dirinya.
Tapi karna takut Angel dan Mira, serta yang lainnya akan menahan kepergiannya, Asyifa memilih untuk bepergian tanpa memberitahu siapa pun.
Sebuah panti asuhan kecil yang terletak di daerah terpencil, menjadi tujuan Asyifa. Pada awalnya Asyifa memiliki niatan untuk liburan di tempat yang indah.
Namun saat mencari referensi tempat yang mungkin disukai, ia tanpa sengaja melihat foto panti itu di internet. Entah mengapa, Asyifa seolah lebih tertarik untuk datang ke panti itu, dari pada tempat berlibur.
Tanpa pikir panjang, Asyifa segera mencari nomor telepon panti itu dan menghubunginya serta menjelaskan maksud dan tujuannya. Niat wanita itu langsung disambut dengan baik oleh pemilik panti, dan ia siap menerima kedatangan Asyifa disana kapan saja.
"Permisi, apa benar kamu adalah Asyifa?" tanya seorang pria tampan, yang kelihatannya seumuran dengan Asyifa.
"Iya benar, itu aku. Apa kamu adalah orang yang dimintai tolong oleh ibu pemilik panti untuk menjemputku?"
"Iya. Apa kamu sudah menunggu lama disini?
Aku tadi lambat sampai, karna ada perbaikan jalan di desa kami. Aku harap kamu bersedia untuk memaklumi dan memaafkanku"
"Tidak apa-apa, aku juga baru 5 menit yang lalu keluar dari gedung apertemenku dan menunggumu disini. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu"
"Ah, syukurlah kalau begitu. Oh iya, hampir saja aku lupa, silakan naik ke dalam mobilnya Asyifa" pinta pria itu canggung.
"Terima kasih. Tapi sepertinya dari tadi kita belum sempat berkenalan. Walaupun kamu sudah mengetahui namaku, tapi aku belum tahu siapa namamu"
"Astaga, benar juga. Perkenalkan namaku Eden, aku adalah seorang pekerja yang serba untuk membantu semua penghuni di panti asuhan. Semoga kita bisa berteman baik" Eden memperkenalkan dirinya, sambil turut mengulurkan tangan kanannya ke arah Asyifa.
Namun Asyifa bukannya membalas uluran tangan itu, ia malah hanya melihatnya saja dalam waktu yang lama, hingga Eden dengan canggung terpaksa harus menarik tangannya kembali.
"Senang bisa berkenalan denganmu, Eden. Tapi aku minta maaf, aku rasa kita tidak bisa memiliki sebuah hubungan yang baik, karna aku membenci hal itu"
Eden yang mendengar Asyifa mengumumkan tali pembatas diantara mereka berdua, hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil terus tersenyum canggung.
Bohong jika pria itu bilang tidak penasaran dengan perubahan sikap Asyifa yang tiba-tiba menjadi cuek, padahal sebelumnya bersikap cukup ramah.
"Karna kita sudah saling mengenal satu sama lain, bagaimana kalau sekarang kita langsung memulai perjalanan menuju panti?" Eden yang tidak tahu harus bicara apa lagi kepada Asyifa, mengusulkan untuk berangkat saja.
"Terserah kamu saja"
"Ah, baiklah"
Setelah percakapan singkat itu, Eden mulai menghidupkan mobilnya dan memulai perjalanan mereka. Sedang Asyifa yang ada di kursi penumpang sebelah Eden, perlahan mulai memejamkan kedua matanya.
Asyifa bukannya sengaja tidur untuk bisa menghindari berbicara dengan pria yang baru saja dikenalnya itu, tapi karna ia benar-benar merasa sangat mengantuk.
Rambut panjang Asyifa yang dibiarkan jatuh terurai begitu saja, mulai membuat tidur Asyifa menjadi terganggu, karna tertiup angin dan mengenai wajahnya.
Eden yang melihat Asyifa kesulitan, namun tampak serius menangani masalah yang mengganggunya, secara tanpa sadar malah terkekeh pelan.
"Apa kamu baru saja menertawaiku?"
"Maaf Asyifa, aku tidak sengaja tertawa karna melihat ekspresimu yang tampak serius berusaha merapikan rambutmu yang terus berterbangan"
"Memangnya itu sesuatu yang lucu? Aneh sekali selera humormu"
"Maaf. Tapi kalau kamu mau, aku bisa berikan sebuah ikat rambut adikku yang ada di dalam laci mobilku"
"Kenapa tidak dari tadi menawarkannya? Apa kamu dengan sengaja ingin melihatku lebih lama berada dalam kesulitan? Atau jangan bilang itu adalah balas dendammu karna tadi aku mengabaikan uluran tanganmu?!"
"Bukan seperti itu, Asyifa. Aku tidak sengaja tertawa tadi, karna benar-benar merasa lucu melihat ekspresimu"
"Hah, iyakan saja lah. Sekarang, apa kamu sudah bisa memberikan ikat rambutnya padaku?" tanya Asyifa, mengulurkan tangan yang terbuka lebar ke arah Eden.
Sambil melemparkan senyuman manis ke arah Asyifa, Eden lalu membuka laci mobilnya dan mulai mencari keberadaan ikat rambut yang telah ditawarkannya pada Asyifa.
"Ini ikat rambutnya. Kamu boleh memakainya sesuka hatimu, dan menyimpannya sebagai kenangan dariku" Eden meletakkan sebuah ikat rambut berwarna biru laut, dengan hiasan kepala beruang dibagian atasnya.
Karna dirinya adalah seorang pencinta warna biru laut, Asyifa pun menjadi sangat senang diberikan ikat rambut tersebut. Tanpa ragu, ia segera mengikat rambutnya menggunakan ikat rambut tersebut.
"Terima kasih untuk ikat rambutnya. Aku akan memakai dan menjaganya dengan baik"
__ADS_1
"Apa kamu sangat menyukainya? Wajahmu terlihat sangat berseri-seri sekarang"
"Iya, aku sangat senang. Itu semua karna warna ikat rambut ini sama dengan warna yang aku sukai, yaitu biru laut. Kamu lihat saja warna koper yang ku bawa"
"Baguslah kalau kamu menyukainya. Kalau boleh tahu, apa pekerjaanmu Asyifa? Dan apa yang membuatmu ingin datang ke panti yang letaknya terpencil?"
"Aku adalah seorang wanita pengangguran dan tidak memiliki pekerjaan, dan untuk bisa menghabiskan semua waktu luangku yang sering terbuang dengan percuma, aku pun memutuskan untuk pergi ke panti-panti yang letaknya cukup jauh dari kota, supaya bisa menjadi sukarelawan disana"
"Wah, mulia sekali niatmu itu. Kalau kamu pengangguran, lalu dari mana kamu bisa mendapatkan biaya untuk menghidupi dirimu selama ini?"
"Eden, ternyata kamu adalah pria yang cukup memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap kehidupan orang lain yah. Apa kamu sangat ingin tahu?"
"Sedikit, hehehe"
"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya, tapi karna kamu sudah baik hati memberikan ikat rambut untukku, maka akan aku beritahu. Sebelum menganggur, aku pernah bekerja sebegai seorang sekretaris bos di sebuah perusahaan besar dalam waktu yang lama. Itu lah mengapa aku memiliki uang yang cukup untuk aku gunakan, meskipun tidak sedang bekerja"
"Wah, kedengarannya sangat keren. Tapi, apa yang membuatmu berhenti bekerja disana? Apa bosnya jahat padamu?"
Mendengar pertanyaan spontan dari Eden, membuat Asyifa tiba-tiba teringat akan sosok Zidan yang dulu. Pria yang kini hangat dan sangat mencintainya itu, seketika memenuhi pikiran Asyifa.
Sekelebat perasaan bersalah pun hinggap dalam hati Asyifa, karna telah membiarkan perasaan Zidan tergantung terus-menerus tanpa mendapat balasan yang pasti dari dirinya.
Ditambah lagi, kini Asyifa tanpa satu pun kabar telah meninggalkan kota begitu saja dan juga meninggalkan semua orang yang telah senantiasa berada disampingnya selama ini.
"Iya, dia adalah bos yang galak dan juga gila kerja. Aku bahkan tidak pernah diberi waktu sehari saja untuk cuti, dan selalu diberikan tumpukan pekerjaan"
"Hmm, pantas saja kamu keluar dari sana. Kalau jadi kamu, aku juga akan melakukab hal yang sama"
Setelah pembicaraan yang cukuo panjang diantara keduanya, suasana pun menjadi hening kembali. Eden yang kehabisan bahan pembicaraan karna Asyifa tidak lagi memberi jawaban atas ucapannya, hanya bisa kembali memfokuskan dirinya ke arah jalanan yang ada di depannya.
Sedang Asyifa yang diam, rupanya sedang sibuk dengan semua pikiran dan kecemasan yang kini memenuhi pikirannya. Wanita itu takut jika saat Angel dan Mira tahu dia tidak ada di apertemen, kedua sahabatnya itu akan menjadi khawatir.
Atau yang lebih parahnya lagi, jika mereka memberitahukan hal itu pada Zidan, dan pria itu malah melaporkannya ke pihak berwajib, lalu mengeluarkan berita orang hilang.
Dengan cepat, Asyifa menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengenyahkan pikiran tersebut. Dengan cepat, Asyifa segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi salah satu dari mereka bertiga.
Namun ketika melihat tak ada jaringan yang terlihat di layar ponselnya, Asyifa menjadi terkejut.
"Iya. Tapi kenapa tidak ada sinyal?"
"Apa kamu tidak mencari tahu terlebih dulu? Daerah panti asuhan yang akan kita datangi ini, memang susah dengan sinyal. Ponselmu tidak memiliki sinyal, karna kita sudah sampai di gerbang masuk desa"
Dan benar saja, ternyata di depan jalan yang sedang mereka lewati saat ini, terdapat sebuah gerbang tinggi yang bertuliskan nama desa yang mereka tuju.
Asyifa yang memang tidak mencari tahu semuanya terlebih dulu, hanya bisa menghela nafas perlahan dengan ekspresi pasrah. Tapi selanjutnya, kejadian berikutnya kembali mengejutkan Asyifa.
Mobil yang dikendarai oleh Eden tiba-tiba berhenti berjalan seketika. Asyifa yang tidak tahu ada apa, segera melemparkan tatapan penuh tanya ke arah pria itu.
"Maaf Asyifa, tapi sepertinya mobilku kembali melakukan kegiatan lamanya yang jarang muncul selama beberapa waktu ini"
"Apa maksudnya itu?"
"Mobilku mogok, Asyifa"
"Hah? Mogok? Kalau begitu, bagaimana kita bisa melanjutkan perjalanan supaya bisa sampai di panti? Jangan bilang kalau kamu akan memaksaku untuk berjalan kaki?"
"Apa kamu kuat?"
"Bukan masalah kuat dan tidaknya, Eden. Tapi menurut yang aku ketahui, jarak dari gerbang desa hingga sampai di panti masih lumanyan jauh. Masa kamu tega membiarkanku jalan kaki, sambil membawa koperku?"
"Hahahaha, aku bercanda Asyifa. Tentu saja aku tidak akan tega melakukannya, tadi itu aku hanya sengaja ingin melihat bagaimana responmu saja"
"Dasar pria kurang ajar, berani sekali kamu melakukan itu padaku! Lalu, apa yang akan kita naiki untuk sampai di panti?"
"Apa kamu lihat pos jaga yang ada di dekat gerbang itu? Disana ada paman yang biasa menyewakan motornya, kita berdua akan memakai menyewanya dan memakai motor itu untuk melanjutkan perjalanan"
"Lalu bagaimana dengan mobilmu? Apa tidak berbahaya jika ditinggalkan begitu saja di tempat ini?"
"Tidak apa-apa. Nanti akan ku titipkan pada paman itu, supaya bisa menjaga mobilku. Lalu setelah selesai mengantarmu, aku akan kembali kesini untuk mengembalikan motor sekaligus mengambil mobilku"
"Baiklah kalau begitu"
Setelah sepakat, Eden dan Asyifa pun segera turun dari mobil dan berjalan ke arah pos jaga yang dimaksudkan oleh Eden. Keduanya pun bisa kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai di panti dengan selamat.
__ADS_1
*****
"Selamat datang di rumah, akhirnya kita bisa pulang juga setelah seharian menjadi budak perusahaan" seru Mira menghempaskan pantatnya ke atas sofa ruang tamu.
"Aku juga merasa sangat lelah seharian ini. Apa tidak sebaiknya kita memesan makanan diluar saja, dari pada memasaknya?"
"Setuju! Biar aku saja yang akan memesan semuanya, apa kamu ingin pesan makanan seperti yang biasa kita pesan saja?"
"Iya, yang itu saja. Supaya lebih cepat dan tidak memakana waktu terlalu lama untuk menyiapkannya"
"Baiklah, makanan akan segera dipesan!"
Setelah selesai memesan makanan, kedua gadis itu kemudian masuk ke dalam kamar masing-masing untuk membersihkan diri, sambil menunggu pesanannya datang.
Angel keluar pertama, kemudian disusul oleh Mira beberapa menit kemudian. Keduanya tampak sedang Asyik mencari drama korea apa yang akan mereka pilih untuk ditonton bersama, sambil menikmati makan malam nanti.
"Makanan!" seru keduanya kompak.
Setelah mendengar bel apertemen berbunyi, dengan secepat kilat Mira berlari ke arah pintu untuk segera menerima makanan yang mereka pesan, dan membawanya ke ruang tamu.
"Em, Mira. Apa tidak sebaiknya kita juga memanggil Asyifa, untuk menawarkannya makan bersama dengan kita disini?"
"Kenapa kita harus mengajaknya juga? Apa kamu lupa apa yang sudah dilakukannya pada kita berdua semalam?"
"Ayolah Mira, masa hanya karna hal itu kamu memusuhi Asyifa. Apa kamu lupa kalau dia masih dalam keadaan berkabung saat ini, jadi aku rasa sudah sewajarnya dia bertingkah seperti itu. Apa tidak bisa kamu memaklumi sikapnya semalam?"
"Aku tidak marah atau memusuhinya, aku hanya sedang ingin mendiaminya saja, agar dia sadar kalau tingkahnya yang seperti itu tidak akan memberikannya apa-apa. Malah sebaliknya, hanya akan merugikan dirinya sendiri"
"Aku setuju sih dengan rencanamu itu. Tapi, aku merasa tidak enak menikmati makanan berdua saja denganmu tanpa mengajaknya. Apalagi, kita bertiga kan tinggal dibawah satu atap" Angel memasang ekspresi tak nyaman.
"Ya sudah kalau memang itu maumu, aku akan mengikutinya saja. Tapi kamu yah yang memanggilnya, jangan suruh aku"
"Iya, iya, aku yang akan memanggilnya"
Angel pun bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar Asyifa, dan mulai mengetuknya beberapa kali sambil memanggil-manggil nama sang sahabat.
Namun tak ada jawaban sama sekali. Saat Angel berbalik menatap ke arah Mira meminta bantuan, gadis yang penampilannya agak sedikit tomboy itu malah membuang muka dan berpura-pura tidak melihat.
"Mira! Ayo kesini, dan bantu aku!"
"Aku sudah menduga kalau ujung-ujungnya, aku lah yang akan dipaksa olehmu!"
Dengan berat hati, Mira pun menuruti perintah Angel. Sambil memasang ekspresi enggan, ia mulai mengetuk pintu kamar Asyifa dengan sedikit keras.
Namun hasil yang didapat oleh keduanya masih tetap sama. Jangankan pintu dibuka, suara sahutan Asyifa dari dalam kamar pun tidak terdengar sama sekali.
"Sudah aku bilang kan, percuma saja kamu bersikeras untuk tetap mengajaknya makan bersama. Lebih baik kita melanjutkan makan tanpa dirinya saja"
"Sebentar Ra. Entah mengapa, aku tiba-tiba memiliki firasat aneh tentang keselamatan Asyifa. Bagaimana kalau ternyata dia sedang melakukan hal nekat seperti yang terakhir kali dilakukannya?"
"Yang benar saja! Aku rasa, dia pasti sedang berendam di dalam bak kamar mandinya sekarang, sambil bernyanyi-nyanyi seperti kemarin. Jadi kamu tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu, percayalah!"
"Tidak ada salahnya kan, kalau kita masuk ke dalam dan memastikannya langsung? Aku mohon, Ra"
"Hah, baiklah!"
Ketika Angel membuka kebar pintu kamar Asyifa, pemandangan yang pertama kali menyambut keduanya adalah keadaan yang gelap gulita tanpa satu pun cahaya.
Mira yang bingung, segera menekan tombol yang berada di dinding untuk menghidupkan lampu. Dengan cepat, keduanya berkeliling kamar untuk mencari keberadaan Asyifa.
Bahkan di dalam kamar mandi dan dalam lemari wanita itu pun, tak terlewatkan oleh keduanya. Tapi hasilnya mereka tetap tidak bisa menemukan keberadaan Asyifa.
"Angel, apa dari tadi selama mencari di dalama kamar, kamu ada melihat koper milik Asyifa?" tanya Mira, tiba-tiba memikirkan satu kemungkinan.
"Aku rasa tidak"
"Aku juga tidak. Dan yang anehnya lagi, saat aku memeriksa lemari pakaiannya, sebagian dari isi lemari itu kosong"
"Apa maksudmu, Asyifa pergi dari apertemen dengan membawa sebagian pakaiannya dan tanpa memberitahu kita?"
"Sepertinya begitu, Ngel"
Bersambung....
__ADS_1