The Ugly Wife

The Ugly Wife
Mengetahui kebenaran


__ADS_3

William menatap pantulan dirinya di depan cermin, yang terlihat gagah dan tampan dengan mengenakan setelan jas rapi.


Meskipun begitu, ia merasa tak bergairah sedikit pun untuk melalui harinya saat ini. Akhirnya mimpi buruknya selama ini menjadi kenyataan, ialah harus menikah dengan wanita yang tidak dicintainya, yaitu Zenith.


"Astaga, anak mommy tampan sekali! Kamu tampak gagah dengan pakaian itu sayang, mommy suka melihatnya" ucap Ratih heboh ketika memasuki ruang tunggu mempelai pria ditemani oleh Haykal.


"Terima kasih mom"


"Sama-sama sayang. Ayo kita keluar, sebentar lagi acara akan dimulai"


William dengan patuh hanya bisa mengikuti langkah mommynya untuk bergegas keluar. Saat berada diluar, mereka didatangi oleh salah seorang staf yang bertugas mengawasi jalannya acara.


"Pemisi bu Ratih, saya disuruh mengarahkan pak William untuk segera menuju panggung, karna sebentar lagi acara akan dimulai. Para tamu undangan juga sudah memenuhi tempat duduk yang tersedia"


"Baiklah. William, ayo sayang"


"Maaf mommy, apa William bisa minta waktu sebentar untuk mencari udara segar? William merasa belum siap"


"Astaga, apa kamu sedang gugup sekarang? Ya ampun, aku baru pertama kali melihatmu segugup ini! Lihatlah mommy, dia sampai keringatan" ucap Haykal terkejut.


"Pergilah sayang, tenangkan dirimu terlebih dahulu. Mommy akan minta para staf untuk mengulur waktu, tapi jangan terlalu lama yah?"


"Baik mom"


William berjalan keluar dan berdiri diatas balkon, tatapannya lurus menatap pemandangan kota yang terbentang luas di depannya.


Pikirannya masih dipenuhi oleh Asyifa. Nama gadis itu selalu memenuhi ruang dihatinya. William merasa tidak bisa untuk melalui seluruh sisa waktu hidupnya menjadi suami wanita lain, dan harus benar-benar menjauh dari Asyifa.


Sebuah pemikiran gila tiba-tiba terlintas di pikirannya. Ketika ia sedang dilema antara ingin menjatuhkan dirinya dari ketinggian atau tidak, beberapa suara mengalihkan fokus dirinya.


Langkah kakinya pun mengikuti arah sumber suara tersebut. Saat tiba di depan sebuah ruangan yang pintunya agak sedikit terbuka, ia mencoba mengitip untuk melihat keadaan di dalam sana.


Di dalam berdiri Zenith dalam balutan gaun pengantin sedang berbutar-putar dengan bahagia melihat sosok pantulannya di dalam cermin. Tak jauh dari sana, terlihat Lama dan juga bunda Zenith ikut tersenyum bahagia.


"Aku tidak menyangka, akhirnya aku bisa menikah dengan William! Apa kak Kana tahu, setiap malam dalam tidurku, aku selalu bermimpi untuk menikahi William" ucap Zenith bersemangat.


"Kamu harus percaya ucapannya Kana. Aku dan ayahnya, sudah bosan mendengar cerita dirinya yang menikah dengan William dalam mimpi setiap harinya"


"Benarkah? Berarti mimpimu sudah menjadi kenyataan, karna sebentar lagi kalian akan resmi menjadi sepasang suami istri. Selamat yah Zenith!"


"Terima kasih kak Kana. Semua ini juga berkat bantuan dari kak Kana dan mommy, yang sudah membuat wanita itu pergi dari hidup William!"


"Astaga, itu bukan apa-apa. Sebenarnya kami ingin bersandiwara lebih lama untuk menerimanya, dan perlahan kami akan menunjukkan kalau dirinya tidak layak untuk William agar ia mundur dengan sendirinya. Tapi berkat kebodohannya, ia malah semakin membantu kami untuk lebih cepat memisahkannya dari William" ucap Kana tertawa senang, yang kemudian diikuti oleh Zenith dan juga bundanya.


William yang mendengar semua itu, seketika tubuhnya menegang saking terkejutnya. Ia tak menyangka anggota keluarganya bisa melakukan hal sejahat itu pada gadis yang sangat ia cintai.


Haykal yang sedang mencari keberadaan William, tersenyum geli saat melihat adiknya sedang berada di depan ruangan mempelai wanita.


"Tertangkap kamu! Apa kamu begitu tak sabarannya hingga harus mengintip di depan ruangan calon istrimu bersiap, tuan William?" canda Haykal sambil menepuk kedua pundak William.


Saat mendengar suara Haykal, ketiga wanita yang berada dalam ruangan tersebut bergegas untuk keluar.


"William? Apa yang sedang kamu lakukan disini, harusnya kamu sudah berada diatasi panggung. Sudah berapa lama kamu berdiri di depan sini?" tanya Zenith gugup.


"William tadi meminta waktu untuk mencari udara segar karena gugup ingin menikah denganmu. Tapi ternyata, adikku ini sangat penasaran ingin melihat rupa calon istrinya. Bukan begitu William?" jawab Haykal masih tak memahami situasi.


"Apa itu benar?" tanya William kepada Kana tanpa mempedulikan pertanyaan sang kakak.


"Apa maksudmu, Will?" tanya Zenith mencoba menyentuh lengan calon suaminya itu.


William menepis tangan Zenith, dan dengan kasar mencengkram kedua bahu Kana hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Aku tanya, apa benar semua yang barusan ku dengar? Jawab aku Kana!"


"Memangnya, apa yang kamu dengar? Ada apa ini sebenarnya, kenapa kamu semarah itu pada Kana?" tanya Haykal, sambil mencoba membantu istrinya lepas dari cengkraman sang adik.


"Jangan berani membohongiku Kana, karna aku sudah mendengar semuanya!"


Melihat William yang makin mengencangkan cengkramannya ke pundak Kana hingga gadis itu mulai terisak, Haykal pun terpaksa melayangkan sebuah pukulan ke arah William untuk membuatnya jatuh.


"Memangnya apa yang kamu dengar, sampai kamu harus memperlakukan istriku seperti itu! Katakan padaku, William!"


"Yang aku dengar? Kamu bertanya apa yang aku dengar? Aku mendengar dengan kedua telingaku, bahwa istrimu dan mommy sengaja menjauhkan Asyifa dari hidupku kak!"


"Itu semua tidak benar. Apa yang kamu dengar tadi, tidak seperti yang kamu pikirkan William. Kamu salah paham!"


"Jangan bohong Kana. Kenapa kalian tega melakukan semua ini padaku? Padahal kalian tahu, sejak Aliya yang tanpa kabar pergi dari hidupku, aku tidak pernah jatuh cinta lagi pada gadis mana pun!"

__ADS_1


"William, mommy pasti punya alasan sendiri kenapa melakukan semua ini"


"Alasan apa kak? Apa karna Asyifa tidak secantik Kana? Meskipun dia tidak secantik istrimu, tapi aku mencintainya kak, setiap saat aku merasa bahagia berada di dekatnya"


Haykal tak tega melihat kondisi adiknya yang tak berdaya, hati nuraninya sedikit merasa bersalah. Meskipun ia menyayangi William, tapi ia tidak bisa menolak permintaan Ratih dan berpihak pada William.


"Untuk apa kamu mengingat wanita itu lagi, dia pergi begitu saja dari hidupmu setelah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan"


"Aku juga tahu akan hal itu kak, tapi apa salah Asyifa, sampai kalian memperlakukan dia seperti itu?"


Mendengar pertanyaan William, Haykal hanya bisa terdiam. Hingga tiba-tiba sosok Ratih bersama Rizal terlihat bergegas mendekat ke arah mereka.


"Apa yang sedang kalian lakukan, kenapa berkumpul disini? Acara sudah harus segera dimulai!" marah Rizal, tak memperhatikan sosok William yang terduduk lemas di bawah lantai.


"William, apa yang kamu lakukan nak? Kenapa kamu duduk disana? Astaga! Apa yang sudah terjadi, kenapa wajahnya luka seperti ini?" tanya Ratih dengan panik, segera bergegas menghampiri putranya.


Ratih berusaha membantu William berdiri dan membersihkan bagian bawah celananya yang kotor terkena debu di lantai. Namun William kembali merosot jatuh memeluk kedua kaki Ratih, lalu menangis terisak disana.


"Apa William bukan anak mommy dan daddy? Apa mommy tidak menyayangi dan mencintai William, seperti Kak Haykal? Kenapa hanya hidup William yang harus diatur oleh kalian semua?"


"Apa maksudmu sayang, kamu putra mommy dan daddy. Kami sangat menyayangimu, sama seperti kami menyayangi Haykal"


"Lalu kenapa kalian melakukan hal jahat kepada Asyifa yang William cintai, dan malah memaksa William untuk menikah dengan Zenith yang tidak William cintai?"


"Apa maksudmu William, apa Asyifa yang mengatakan itu padamu? Dasar wanita jahat, dia pasti sengaja ingin menghancurkan hari bahagiamu bersama Zenith!"


"Bukan Asyifa yang mengatakannya, tapi William mendengarnya sendiri. William sudah tahu semuanya mommy!" ucap William menelungkupkan wajahnya menyentuh lantai.


Ratih yang mendengar ucapan putranya itu, hanya bisa terdiam membeku. Ia tidak menyangka jika William akan mengetahui rahasia jahat mereka secepat ini.


Ia menjadi takut untuk mendekati William lagi. Takut jika anaknya itu akan melakukan hal nekat seperti yang pernah ia lakukan dulu.


Tapi ketakutannya itu tidak terjadi, karna William kemudian bangkit berdiri dan mulai merapikan pakaian dan penampilannya.


"Pernikahan ini batal, aku tidak akan menikah dengan Zenith" putus William tegas dan berjalan pergi.


"Kamu ingin pergi kemana, William? Kamu tidak bisa membatalkan pernikahan kita begitu saja! Mommy, daddy, tolong lakukan sesuatu!" teriak Zenith marah.


Namun tak seorang pun bisa membantunya untuk menahan William. Karna Rizal dengan tatapannya, melarang semua orang untuk menghentikan putranya itu.


*****


Dengan keadaan basah kuyup, mereka berusaha bersama untuk mengangkat tubuh Zidan dan Asyifa menuju laut.


Meskipun Zidan sudah mengancam akan memecat mereka semua dari perusahaan, tapi tak satu pun yang berhenti. Sedang Asyifa hanya bisa pasrah tanpa perlawanan apa pun, karna ia tahu akan percuma saja sekali pun ia berteriak histeris.


"Dasar karyawan kurang ajar! Lihat saja, aku akan menghabisi kalian semua!" teriak Zidan, sebelum akhirnya dijatuhkan ke dalam air laut bersama Asyifa disebelahnya.


Karyawan lain yang melihat keberanian rombongan itu, hanya bisa terdiam menahan nafas, menunggu reaksi dari sang bos dengan jatung bedebar kencang.


Sedang rombongan yang melakukan hal nekat itu, tertawa senang melihat Asyifa dan Zidan yang menjadi basah kuyup, sama seperti mereka semua.


"Tunggu kalian disitu, aku akan datang dan memberikan kalian semua pelajaran!" teriak Zidan segera bergegas menuju ke daratan.


Namun langkahnya terhenti saat merasakan siraman air dari arah belakang tubuhnya. Ternyata Asyifa sedang asyik melemparkan air ke arah Zidan.


"Bagaimana pak, apa bapak mau bertarung melawan saya?" tantang Asyifa dengan tatapan meremehkan.


"Kamu menantang saya? Berani juga yah kamu, awas saja kalau kamu menangis nanti karna kalah" ucap Zidan kemudian balas menyiramkan air ke arah Asyifa.


Kedua orang itu akhirnya asyik bermain siram air satu sama lain. Asyifa yang kalah cepat dari Zidan, hanya bisa berteriak minta tolong pada Angel dan juga Mira yang masih berada di darat.


"Ayo Angel, kita bantu sahabat kita. Asyifa, kami datang!" teriak Mira sambil menarik tangan Angel menuju laut.


"Wah, kamu mau bermain curang dengan memanggil bantuan? Baiklah, ayo kita bagi semua orang menjadi dua tim!"


"Bapak juga ingin memanggil bantuan?"


"Tentu saja, kenapa tidak? Bagi wanita yang sudah basah, bergabung ke tim Asyifa, dan yang laki-laki, bergabung ke tim saya!"


Mendengar perintah sang bos, semua karyawan dengan senang hati beramai-ramai menuju ke arah dua orang itu dan memulai pertarungan dalam air.


Perbandingan kekuatan yang sangat besar, membuat tim Asyifa kewalahan dan akhirnya berpencar tak tentu arah mencari aman. Melihat hal itu, para pria yang ada di tim Zidan kemudian ikut berlari mengejar dengan cepat.


Asyifa yang terlambat menyadari, berusaha untuk lari juga dari serangan Zidan. Namun dengan kedua tangannya yang besar, Zidan memeluk pinggang Asyifa untuk membuatnya tidak bisa bergerak.


"Pak Zidan lepaskan aku pak, aku mengaku kalah. Aku menyerah pak!" teriak Asyifa mencoba melepaskan diri.

__ADS_1


"Tidak akan ku lepaskan. Siapa suruh kamu mengajakku untuk bertarung, jadi rasakan akibatnya. Aku tidak akan membiarkan semua ini berakhir dengan mudah!" ucap Zidan sambil tersenyum licik.


Zidan lalu mengangkat Asyifa ke dalam gendongannya, kemudian bersiap untuk melepaskannya agar jatuh ke dalam air laut. Asyifa yang menyadari rencana Zidan, segera memeluk leher pria itu sekuat tenaga agar tidak mudah untuk dijatuhkan.


"Lepaskan Asyifa. Jangan sentuh leherku, itu membuatku merasa geli!" teriak Zidan sambil bergerak-gerak mencoba melepaskan tangan Asyifa dari lehernya.


"Tidak akan aku lepaskan, sebelum pak Zidan menurunkanku dari gendongan bapak!"


"Bagaimana aku bisa menurunkanmu, kalau tanganmu masih disitu!"


Saat keduanya masih sibuk berdebat, Mira yang sedang berlari terburu-buru karna dikejar oleh seseorang, tanpa sengaja menabrak tubuh Zidan. Mendapat tabrakan mendadak dalam keadaan tak siap, membuat kaki Zidan hilang keseimbangan dan akhirnya bersama Asyifa jatuh ke dalam air.


Asyifa yang melihat wajah kesal Zidan karna rencananya untuk memberikan pelajaran bagi gadis itu, malah gagal dan turut mengenai dirinya juga, membuat Asyifa tertawa terbahak-bahak.


"Senang kamu? Senang melihatku ikut masuk ke dalam air juga?"


"Berarti kita seri dong pak, karna tidak ada yang menang. Kita berdua sama-sama masuk ke dalam air pada akhirnya"


"Terserah kamu saja lah!" ucap Zidan sambil menyiramkan air ke arah Asyifa. Kemudian dengan jahil, Zidan mulai asyik mengacak rambut basah gadis itu dengan gemas.


"Apa yang bapak lakukan, rambutku kan tambah berantakan! Iseng banget sih, jadi orang!" gerutu Asyifa sambil memanyunkan bibirnya ke depan.


"Sudah, ayo keluar. Nanti kamu bisa sakit kalau kelamaan di dalam air" perintah Zidan sambil menarik tangan Asyifa menuju darat.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata lentik sedang mengamati keduanya dari kejauhan dengan perasaan yang terbakar api cemburu sedari tadi. Ia adalah Kinara, yang sedang bersama sang suami bersantai di salah satu pondok yang ada di pinggir pantai.


"Apa dia menyukai bosnya?" gumam Kinara pada dirinya sendiri.


"Apa? Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan, sayang" ucap Marcel yang mengira Kinara sedang berbicara padanya.


"Bukan apa-apa. Aku hanya sedang bicara sendiri, sayang"


*****


Asyifa sedang duduk berselimutkan handuk di pinggir pantai karna kedinginan, sehabis bermain air laut, saat seorang staf hotel menghampiri dirinya.


"Permisi bu Asyifa. Ada tamu yang sedang menunggu ibu di ruang tamu hotel"


"Tamu? Siapa yah mba?" tanya Asyifa bingung karna tidak merasa sedang menunggu kedatangan seseorang.


"Maaf bu, saya lupa menanyakan namanya. Tapi dia bilang perlu bertemu ibu secepatnya, karna ada hal penting yang ingin di bicarakan"


"Dia wanita atau pria?" tanya Zidan ikut merasa penasaran.


"Pria pak. Sepertinya dia baru saja habis berkelahi dengan seseorang, karna ada bekas luka yang terlihat masih baru di wajahnya"


"Siapa Fa? Ayah kamu?" tanya Angel ikut berpikir siapa kira-kira orang tersebut.


"Bukan bapak-bapak bu. Orangnya masih muda juga, sepertinya seumuran dengan pak Zidan"


"Jangan bilang itu William? Mau apa lagi cowok berengsek itu datang mencari Asyifa sampai ke sini?" terka Mira mulai emosi.


Mendengar ucapan Mira, Asyifa segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, yang ia letakkan tak jauh dari sana. Ia segera berselancar mencari media sosial milik William.


"Apa ini orangnya?" tanya Asyifa sambil menunjukkan foto Willjam yang ada di layar ponselnya pada staf hotel tersebut.


"Benar bu, itu orangnya"


"Dasar gila! Suruh saja dia pulang mba, katakan padanya kalau Asyifa tidak ingin bertemu dengannya meskipun hanya sedetik saja!"


"Benar kata Angel. Kamu tidak usah menemui dia Asyifa, palingan dia datang hanya untuk menyakiti dirimu lagi"


Asyifa nampak berpikir sesaat, ia tidak tahu harus menemui William atau tidak. Tiba-tiba, tangan Zidan menyentuh pundaknya.


"Kalau kamu ingin memenuhinya juga tidak masalah, asalkan kami harus turut ikut menemani"


"PAK ZIDAN!" teriak Angel dan juga Mira, tidak setuju dengan ucapan sang bos.


"Katakan padanya untuk menunggu sedikit lebih lama, karna aku harus membersihkan diri terlebih dahulu"


"Baik bu, akan saya sampaikan" ucap staf hotel patuh, kemudian berjalan kembali ke hotel.


"Aku akan kembali duluan ke kamar, untuk membersihkan diri. Apa kalian akan ikut?" tanya Asyifa sambil bangkit dari duduknya.


"Tentu saja kami ikut! Pak Zidan juga harus ikut, ini semua kan idenya bapak!" ucap Mira masih merasa kesal.


Mendengar hal itu, Asyifa segera beranjak pergi dari sana diikuti oleh kedua sahabatnya serta Zidan. Keempat orang itu berjalan menuju kamar masing-masing, untuk membersihkan diri sebelum pergi menemui William.

__ADS_1


Pikiran Asyifa penuh dengan berbagai hal yang mungkin saja menjadi alasan William datang. Apa pun itu, ia hanya bisa berharap tak akan lebih menyakitinya dari yang terakhir kali ia rasakan.


Bersambung...


__ADS_2