
Setelah tangis Asyifa secara perlahan mulai berangsur-angsur hilang, Rizal juga baru berani melepaskan pelukannya pada wanita muda itu.
"Kamu wanita yang kuat, Asyifa. Maaf karna daddy terlambat menerima dan menyayangi dirimu. Tapi percayalah, daddy bersyukur sekali bisa memiliki menantu sepertimu yang mempunyai hati sebaik malaikat" ucap Rizal berusaha menghibur Asyifa.
"Terima kasih daddy. Maaf jika selama ini, Asyifa masih sangat kurang dalam menjadi menantu daddy dan menjadi ipar bagi kak Haykal"
"Kamu sudah melakukan yang terbaik yang kamu bisa Asyifa, kak Haykal sangat bangga padamu" ucap Haykal sambil mengelus puncak kepala Asyifa dengan sayang.
"Terima kasih kak"
"Asyifa, apa daddy boleh menanyakan satu hal padamu, nak?"
"Tentu saja boleh daddy"
"Daddy dengar, Asyifa ingin mengajukan perceraian terhadap William, apa itu benar?"
Mendengar pertanyaan Rizal, membuat Asyifa menjadi ragu untuk menjawabnya. Ia takut jika jawabannya malah mengecewakan ayah mertuanya itu, karna Asyifa bisa merasakan betapa tulusnya kasih sayang yang selalu ditunjukkan oleh Rizal padanya selama ini.
"Jawab saja Asyifa, tidak perlu takut kalau jawabanmu bisa membuat daddy kecewa. Karna bagaimana pun, William memang pantas menerima hukuman atas segala perbuatannya, dan kamu juga berhak untuk bahagia dengan caramu sendiri" ucap Haykal, seolah bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Asyifa.
"Maafkan Asyifa daddy, karna semua yang daddy dengar itu adalah benar"
Meskipun kecewa mendengar jawaban dari Asyifa, namun Rizal berusaha untuk bisa menerimanya. Ia tidak ingin menjadi egois seperti Ratih, yang memaksa Asyifa untuk tidak bercerai karna mengetahui fakta bahwa wanita yang selama ini menjadi pilihanya untuk William, ternyata mandul.
"Tidak perlu minta maaf, nak. Daddy memang sedih mendengar keputusanmu, tapi daddy yakin kamu juga sudah memikirkannya baik-baik. Daddy dan Haykal, pasti akan selalu mendukungmu"
"Sekali lagi maafkan Asyifa, daddy" ucap Asyifa kembali menangis lagi.
"Tidak apa-apa, nak. Sudah sejauh mana kamu mempersiapkannya?"
"Beberapa hari yang lalu, Asyifa baru saja mengajukan berkas perceraian ke pengadilan namun ditolak. Aku rasa itu mungkin saja ulah dari istri om, maaf kalau aku menyela pembicaraan kalian" jelas Zidam tiba-tiba duduk disamping Asyifa.
"Siapa?"
"Perkenalkan namaku adalah Zidan. Aku adalah bos sekaligus tetangga yang membantu Asyifa, dalam mempersiapkan perceraiannya"
"Wajahmu sepertinya tidak asing, seolah aku sering melihatnya di suatu tempat"
"Mungkin yang sering om lihat itu adalah ayahku, karna wajahku dan ayahku terlihat sangat mirip."
"Ah benar! Apa kamu adalah anak dari Marcel, teman baikku?" tanya Rizal tampak terkejut.
"Benar om"
"Astaga, aku selalu ingin bertemu denganmu tapi tidak pernah kesampaian. Senang bisa berkenalan denganmu Zidan, namaku adalah Rizal"
"Senang berkenalan dengan om juga"
"Oh iya, ini adalah anak pertamaku. Namanya Haykal, dia adalah seorang pengacara"
Haykal dan Zidan pun saling bersalaman dengan canggung, karna meskipun mereka pernah bertemu sebelumnya, namun belum pernah sekali pun berkenalan secara resmi.
"Apa om dan kak Haykal tidak masalah jika aku membantu Asyifa dalam mempersiapkan perceraiannya denga William?"
__ADS_1
"Sebaliknya, aku dan daddy akan sangat berterima kasih padamu. Karna meskipun kami juga sangat ingin membantu Asyifa, tapi bagaimana pun kami adalah dari pihak William. Apa yang akan orang katakan jika tahu kami malah membanti Asyifa juga" jawab Haykal tampak tulus.
"Syukurlah kalau begitu. Rencananya, dua hari lagi kami akan mengajukan berkasnya ke pengadilan, tapi persidangannya akan tetap menunggu hingga William sadar dari koma dan sehat kembali"
"Terima kasih, atas pengertiannya Zidan. Tapi om ingin bertanya, apa benar perkataanmu bahwa istri om adalah orang yang membuat berkas Asyifa ditolak?"
"Itu semua masih hanya dugaanku saja om. Tapi aku berharap, om dan kak Haykal bisa membantuku mencari tahu dalang dibalik semua itu"
"Tentu saja om dan Haykal akan membantu mencari tahu. Kalian berdua fokus saja untuk mempersiapkan semuanya, om doakan semoga bisa berjalan dengan lancar"
"Terima kasih om"
"Terima kasih daddy"
*****
Disisi lain.
Zenith berjalan dengan langkah terburu-buru ke arah ruangan William dirawat. Dari wajah gadis itu, tampak terlihat jelas kalau dirinya dalam keadaan yang sangat marah.
Dengan kasar, ia mendobrak pintu kamar begitu saja sehingga membentur tembok dan mengeluarkan bunyi yang membuat Kana serta Ratih yang ada di dalam terkejut.
"Zenith? Apa-apaan kamu, kenapa bertingkah kasar seperti itu?" tanya Ratih kesal.
Namun bukannya menjawab, Zenith malah mengabaikan wanita itu dan berjalan ke arah Kana. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung memberikan sebuah tamparan ke arah Kana, yang membuat Kana terbelalak kaget.
"Ada apa denganmu Zenith? Kenapa tiba-tiba datang dan menamparku?"
"Jangan berpura-pura bodoh Kana, kamu juga pasti tahu alasan aku melakukannya. Apa kamu pikir aku bodoh dan tidak akan pernah mengetahui tentang semua yang kalian berdua lakukan dibelakangku?!"
"Iya, kenapa? Kamu dan menantumu itu memang sama-sama licik seperti ular yang berbisa! Setelah diawal mati-matian ingin mendukung diriku, sekarang kalian malah dengan santainya ingin mendorongku pergi?"
"Jangan kurang ajar kamu, Zenith! Apa yang sudah kami lakukan?"
"Kalian kan yang sudah membawa Aliya pergi tanpa sepengetahuanku, dan membantunya bersembuyi! Lalu kalian juga yang sudah membuat William mencurigai diriku, hingga dia menjadi sangat benci terhadapku"
"Apa yang kamu katakan memang benar, aku lah yang menyuruh Kana membawa pergi Aliya dan menyembunyikannya" jawab Ratih dengan santai.
"Tapi kenapa? Aku pikir kita ada di tim yang sama, tapi kenapa kalian berdua melakukan semua ini padaku?"
"Kita memang di tim yang sama, Zenith. Tapi itu sebelum aku mengetahui fakta yang kamu sembunyikan, bahwa kamu mandul! Kamu pikir aku mau membiarkan putraku menikah dengan gadis yang mandul sepertimu? Itu tidak akan mungkin terjadi!" jelas Ratih tanpa rasa bersalah.
Seketika Zenith menjadi terkejut, karna dia tidak pernah menyangka dokter yang telah dibelinya dengan uang untuk tidak memberi tahu yang sebenarnya pada Ratih, malah berkhianat.
Ditolak oleh Ratih sebagai anak mantunya, memang sudah diprediksi oleh Zenith setelah ia menerima fakta bahwa dirinya mandul dari dokter keluarganya. Itulah mengapa selama ini Zenith sangat menjaga rahasia tersebut.
"Kenapa kamu diam, Zenith? Jangan bilang kalau sedari awal kamu sudah tahu kalau dirimu mandul, dan memang dengan sengaja merahasiakannya dariku dan juga mommy?"
"Tentu saja dia akan menyembunyikannya, dia kan juga sama liciknya dengan kita. Kalau kamu tidak ingin fakta ini tersebar ke media, sebaiknya mulai saat ini kamu jauhi putraku dan jangan pernah muncul lagi di hadapan kami semua!"
"Hah! Jadi sekarang kalian sedang berusaha mengancamku? Apa kalian pikir aku akan diam saja, dan menuruti semua yang kalian katakan? Tida akan pernah!" teriak Zenith murka.
"Memangnya, apa yang bisa kamu lakukan? Apa kamu berani mengambil resiko jika berita kemandulanmu, tersebar ke seluruh negeri? Kalau itu sampai terjadi, maka tidak akan ada lagi pria yang mau menikah dengamu!"
__ADS_1
"Silakan saja kalau mommy ingin menyebar berita itu, tapi aku juga tidak akan tinggal diam. Akan aku beri tahu pada seluruh dunia kalau mommy adalah ibu mertua yang ingin melenyapkan menantu dan cucunya sendiri!"
"Memangnya akan ada yang percaya pada ucapanmu, yang tanpa bukti itu?"
"Hahahaha. Siapa bilang aku tidak punya buktinya? Akan aku kirimkan video dan foto yang bisa membuktikan ucapanku, pada ponsel kalian"
Setelah berkata seperti itu, Zenith pun terlihat sibuk dengan ponselnya. Dan tak lama, bunyi dari ponsel Ratih dan Kana, membuat gadis itu tersenyum licik.
Ratih dan Kana yang tampak bingung, hanya bisa membuka video dan foto yang dikirim oleh Zenith. Alangkah terkejut keduanya saat melihat dalam video itu terlihat seorang wanita muda, yang adalah asisten pribadi Ratih, sedang memesan obat yang mereka berikan pada Asyifa.
Tak hanya sampai situ, mereka juga dibuat terkejut saat melihat asisten itu memberikan obat tersebut pada Ratih. Namun yang aneh adalah, Ratih dan asistennya tidak pernah melakukan semua itu.
Ternyata, Zenith memang dengan sengaja memesan obat itu menggunakan nama Ratih dan membeli asisten wanita itu untuk mau bekerja sama dengannya.
Awalnya Zenith melakukan semua itu hanya karna dirinya takut masuk penjara, jika suatu hari nanti rencana mereka terbongkar. Tapi siapa sangka tindakannya saat itu, bisa berguna untuknya dalam hal lainnya juga.
"Mommy, apa benar yang di dalam video itu adalah mommy dan asisten mommy? Aku pikir, Zenith lah yang mendapatkan obat itu dan bukannya mommy" ucap Kana bingung.
"Itu bukan mommy Kana! Kamu kan juga tahu kalau mommy pertama kali melihat obatnya, saat kamu membawanya ke rumah sakit pada hari kita membeli dokter Asyifa"
"Lalu bagaimana mommy bisa ada dalam foto itu, mommy?"
"Ini semua pasti adalah ulah kamu bukan, ini semua pasti palsu kan? Aku dan asistenku sebenarnya tidak pernah ada dalam foto dan video itu, tapi semuanya pasti hanya lah karanganmu saja!"
"Memang benar, bagian dirimu muncul adalah karanganku saja. Tapi yang harus kalian tahu, asistenmu adalah asli bukan hanya karangan, dan dia akan menjadi saksi bahwa kamu lah yang menyuruhnya untuk mendapatkan obat berbahaya itu untuk Asyifa"
"Apa maksudmu, asistenku tidak mungkin berkhianat padaku!" bantah Ratih, sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi asistennya.
"Percuma saja menghubunginya, karna saat ini dia telah berada di tempat yang jauh untuk bersembunyi dari kalian berdua, atas perintah dariku. Bagaimana, apa kalian masih mau menjadi musuhku atau kembali menjadi satu tim lagi denganku?"
"Mommy, bagaimana ini?" tanya Kana cemas.
"Tenang saja, meskipun kita tidak menuruti keinginannya, dia tidak mungkin melaporkan kita ke media. Kalau dia sampai berbuat seperti itu, maka rahasianya juga tidak akan selamat"
"Astaga, apa mommy pikir aku takut jika bukti kalau aku mandul tersebar ke media? Tapi sayangnya, aku tidak takut sama sekali. Kalau memang ingin disebarkan, silakan saja"
"Tidak usah berpura-pura tidak takut kamu, karna nanti kamu yang akan menyesalinya!"
"Coba pikir, dibandingkan aku yang mandul dan kaliam yang melakukan tindak kriminal, siapa yang paling dirugikan? Tentu saja kalian berdua! Aku tinggal mengatakan kalau kalian memaksaku untuk ikut dalam rencana itu, tapi karna aku menolak, maka kemandulanku dengan sengaja disebarkan oleh kalian. Pintar kan aku?"
Plak.
Ratih yang sudah tidak tahan lagi mendengar setiap ucapan Zenith, yang membuktikan bahwa dirinya tidak bisa mengalahkan gadis muda itu, seketika langsung menamparnya.
Zenith yang tidak mau kalah, membalasnya dengan mendorong Ratih hingga terjatuh terduduk di lantai. Kana yang melihat hal itu, segera membantu mertuanya.
"Apa-apaan kamu Zenith, kenapa kamu berani mendorong orang yang lebih tua darimu?" marah Kana.
"Dengar, karna kalian yang telah duluan memulai permusuhan denganku, maka aku juga tidak akan segan-segan untuk memberi balasannya! Akan ku beri wakti seminggu untuk kalian berubah pikiran" ucap Zenith kemudian keluar dari ruangan William.
"Berani sekali dia mengancam dan meremehkanku, dasar gadis mandul gila!"
"Sabar mommy, percuma saja mommy marah kepadanya. Sekarang yang harus kita pikirkan, bagaimana caranya untuk menemukan asisten mommy dan membuatnya kembali berada di pihak kita, dalam waktu seminggu"
__ADS_1
"Benar juga katamu. Kita harus secepatnya menemukan asisten kurang ajar itu!"
Bersambung...