
Zidan dan Angel dengan wajah khawatir, terlihat berjalan mondar-mandir di depan sebuah ruangan yang ada di dalam rumah sakit. Dalam ruangan itu, terbaring tubuh Asyifa yang tengah dirawat dengan hati-hati oleh seorang dokter kandungan dan beberapa rekannya.
Setelah menunggu selama hampir beberapa jam, para tenaga medis itu pun akhirnya berjalan keluar dari dalam ruangan. Melihat hal itu, Zidan dan Angel segera menghampiri mereka dengan rasa ingin tahu.
"Bagaimana keadaan Asyifa, dok?" tanya Zidan cepat.
"Maaf, apa anda adalah suami atau keluarga dari pasien Asyifa?"
"Bu_bukan dok. Tapi aku adalah bos Asyifa di perusahaan, dan ini adalah sahabat yang telah dianggap seperti keluarganya sendiri oleh pasien"
"Apa anda berdua bisa menghubungi suami ibu Asyifa? Soalnya ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan suaminya. Saya minta bantuannya yah?" ucap sang dokter, sambil ingin berlalu dari sana.
Namun Angel yang sudah terlihat tidak sabar dan sedikit kesal, segera menahan tangan sang dokter dengan tag nama Renata yang tergantung di bajunya.
"Tunggu dulu dok. Apa tidak bisa kalau dokter mengatakannya pada kami berdua saja? Karna suami dari Asyifa, meskipun sudah di hubungi hingga ratusan kali dan berjam-jam, namun tak ada satu pun yang diresponnya!" jelas Angel panjang lebar.
"Maaf, saya tidak bisa mengatakannya pada orang yang bukan keluarga pasien. Yang bisa saya katakan sekarang, adalah kondisi ibu Asyifa saat ini, dalam keadaan yang sangat tidak baik"
"Keadaan Asyifa tidak baik? Memangnya apa yang terjadi pada Asyifa, dok? Tidak bisa kah dokter menjelaskannya secara detail pada kami?" tanya Zidan memburu.
"Maaf, tapi seperti______"
Bruk!
Angel yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa kesal dihatinya, dengan berani melemparkan sebuah pot bunga kecil yang diambilnya dari jendela rumah sakit ke lantai depan dokter Renata.
Dengan tatapan geram, ia memandang dokter Renata seolah ingin membuat dokter itu mengikuti semua ucapannya. Tentu saja, dokter Renata tampak sedikit terkejut dengan tingkah Angel tersebut.
"Angel, apa yang kamu lakukan? Kenapa menghancurkan pot bunga milik pihak rumah sakit seenaknya?" tanya Zidan cemas, karna takut dokter Renata menjadi tersinggung.
"Dengar yah dok, sebelum Asyifa menikah dengan suaminya itu, aku adalah sahabat yang menjadi satu-satunya keluarga Asyifa. Dan sebelum suaminya sempat menolong Asyifa dalam kondisi seperti saat ini, aku dan Zidan yang sudah menyelamatkannya. Apa kedua alasan kuat ini. Masih tidak bisa membuat kami berhak mengetahui keadaan Asyifa secara detail?"
"Baiklah. Saya akan memberitahukan keadaan pasien pada kalian berdua. Karna melihat dari sikap anda, sepertinya anda tidak akan mudah untuk menyerah. Benar begitu bukan?"
"Tentu saja" jawab Angel tegas.
Dokter Renata hanya bisa menghela nafas dengan pasrah saat mendengar jawaban Angel. Ia seperti melihat dirinya sendiri yang selalu keras kepala akan segala sesuatu, dan itulah yang nenjadi alasan dirinya menuruti keinginan gadis di depannya.
"Kalau begitu, apa kita bisa bicara di ruangan saya saja? Supaya lebih nyaman dan sambil duduk juga, karna saya sudah memperhatikan dari dalam ruangan, kalau kalian berdua tidak duduk sedetik pun sejak sampai di tempat ini"
"Tapi Asyifa, siapa yang akan menjaganya kalau kami berdua pergi ke ruangan dokter?" tanya Zidan cemas.
"Tidak usah khawatir. Dalam rumah sakit ini, kami mempunyai cukup banyak perawat yang bisa saya tugaskan untuk menjaga ibu Asyifa, selama waktu yang diperlukan"
"Ah, begitu. Maaf, saya tidak tahu dok"
"Tidak masalah. Mari silakan ikuti saya"
Zidan dan Angel pun kemudian mengikuti langkah dokter Renata. Setelah sampai, mereka pun duduk untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh dokter Renata.
"Jadi, bagaimana keadaan sahabat saya dok?" tanya Angel yang sudah mulai stabil rasa emosinya.
"Keadaannya sangat tidak baik. Tubuh dan juga kandungannya, semua sedang tidak baik-baik saja. Kandungannya terlihat sangat lemah dan rentan mengalami keguguran"
"Ke_ke_keguguran dok? Tidak_tidak mungkin, saya itu yang paling tahu seberapa rajinnya Asyifa meminum vitamin kehamilannya agar bayinya selalu sehat! Mana mungkin ibu hamil yang serajin itu, tiba-tiba mengalami semua yang dokter katakan?!"
"Tapi memang seperti itulah hasil yang saya dapatkan setelah memeriksa ibu Asyifa berulang kali"
Zidan nampak berpikir sejenak, ia merasa ada yang tidak beres. Zidan masih ingat betul, kalau seminggu yang lalu Asyifa sempat bercerita padanya, kalau hasil pemeriksaan terakhir yang dilakukan wanita itu hasilnya sangat bagus.
Bagaimana bisa setelah seminggu berlalu, kondisinya bisa menurun sejauh itu? Bahkan hingga mengalami pendarahan yang cukup banyak, dan hampir keguguran.
"Apa kondisi seorang ibu hamil yang baru saja memeriksa kehamilannya seminggu yang lalu dan mendapat hasil yang bagus, kondisinya bisa berubah terbalik dalam waktu sesingkat itu dok?"
"Maksud pak Zidan, ibu Asyifa baru seminggu yang lalu memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan?" ulang dokter Renata, untuk memastikan apa yang dikatakan Zidan.
__ADS_1
"Iya dok"
"Kemungkinannya pasti ada. Tapi, yang menjadi pertanyaan saya adalah, apa yang menjadi pemicu terjadinya hal tersebut?"
"Apakah kelelahan bekerja selama dua hari, bisa menjadi pemicu dok?" tanya Angel yang tiba-tiba teringat kalau sudah dua hari ini, Asyifa memaksa dirinya untuk bekerja lembur.
"Kalau kondisinya seperti itu, memang bisa membuat ibu hamil mengalami pendarahan. Tapi pendarahannya hanya akan berupa sebuah flek atau bercak darah saja, bukannya separah yang dialami oleh ibu Asyifa"
"Lalu, apa yang menjadi pemicunya dok?"
"Saya juga belum bisa memastikannya, pak Zidan. Tapi saya akan melakukan beberapa tes lagi pada ibu Asyifa, untuk mencari tahu penyebabnya. Oleh karna itu, saya butuh persetujuan dari wali atau suami pasien" jelas dokter Renata pada akhirnya.
"Baiklah dok. Saya akan mencoba untuk kembali menghubungi suami Asyifa"
"Terima kasih, pak Zidan. Dan tolong, suruh suaminya untuk segera menemui saya jika ia sudah datang.
"Baik dok. Kalau begitu, kami permisi dulu" pamit Zidan dan juga Angel sopan.
"Silakan"
Kedua orang itu keluar dari ruangan dokter renata dengan wajah yang tertunduk lemas. Entah mengapa perasaan sedih merasuki hati mereka, seolah takut jika akan ada hal buruk lainnya yang akan terjadi pada Asyifa.
Tanpa berbicara apa pun lagi, kali ini Zidan lah yang secara langsung menghubungi William. Ia tak lagi memikirkan gengsi yang pernah ia ucapkan, kalau dirinya tidak akan pernah menghubungi William duluan meski pria itu memberikan nomornya begitu saja.
"Halo? Apa ini benaran pak Zidan yang menelponku?" sapa William dengan nada mengejek tanpa beban sedikit pun, dari seberang sana.
"Dimana kamu?" tanya Zidan dingin dan tanpa basa-basi.
"Tumben kamu ingin tahu, aku sedang berada dimana sekarang. Apa baru saja terjadi sebuah tragedi pada dirimu?"
"Aku tanya sekali lagi, kamu dimana?"
"Astaga, ada apa denganmu? Jangan seperti itu, membuatku merinding saja!"
"Aku tanya kamu dimana sekarang? Kenapa tidak menjawab satu pun telepon dari Angel yang masuk ke ponselmu?! Apa kamu tahu sekarang apa yang telah terjadi pada istrimu, yang kamu tinggalkan sendirian di rumah selarut ini?" tanya Zidan bertubi, karna saking emosinya.
"Iya, aku masih menyukai dirinya, dan aku sangat tulus menyukainya. Jika itu aku yang menjadi suami Asyifa, aku tidak akan membiarkan istriku sendirian dirumah hingga larut malam dan kemudian mengalami pendarahan tanpa bisa minta tolong pada seorang pun!"
"Pendarahan? Jangan konyol kamu Zidan, keadaan Asyifa dan anakku bahkan sangat sehat sejak seminggu yang lalu. Tidak akan mungkin ia mengalami pendarahan!"
"Tidak mungkin? Kalau begitu, datanglah sendiri ke rumah sakit yang paling terdekat dari rumah kalian. Lalu, tanyakan sendiri apa ada pasien bernama Asyifa yang baru saja mengalami pendarahan!" perintah Zidan, kemudian mematikan sambungan teleponnya begitu saja.
William yang berada disisi lain, hanya bisa menjadi antara percaya dan juga tidak percaya setelah mendengar perkataan Zidan. Tapj karna rasa penasarannya, ia pun memilih untuk memastikannya sendiri.
"Aliya, aku pergi dulu yah. Besok aku janji akan kesini lagi, kamu mimpi yang indah yah. I love you, sayang" ucap William di depan wajah Aliya yang sudah tertidur lelap di samping pria itu.
Dengan penuh cinta, William menciumi puncak rambut Aliya kemudian beralih untuk mengecup pelan bibir imut wanita itu. Setelah puas berpamitan, ia pun bergegas pergi menuju rumah sakit.
*****
"Hah, untuk apa aku bisa-bisanya datang kesini mengikuti perkataan pria gila kerja itu. Sudahlah, aku pulang saja!" gerutu William yang sudah tiba di depan bangunan rumah sakit.
Saat akan kembali masuk ke dalam mobilnya, langkah William terhenti oleh suara Zidan yang memanggil namany dari arag belakang. William pun segera berbalik untuk melihat langsung, apa bebar itu adalah Zidan.
"Zidan? Kamu juga ada disini?" tanya William dengan tatapan terkejut.
"Tentu saja aku ada disini. Memangnya kamu pikir bagaimana aku bisa tahu tentang Asyifa jika aku berada di dalam apertemenku?"
"Maksudmu? Semua yang kamu katakan di telepon tadi, bukan candaan? Itu benaran? Astaga Zidan, ini benaran tidak lucu!" seru William mulai terlihat kesal.
Namun Zidan bukannya menjawab perkataan William, ia malah menarik kasar pria itu menuju meja resepsionis.
"Tanya saja sendiri sana!"
Meskipun masih tampak tak percaya dan bingung, William pun lebih memilih untuk melakukan apa yang disuruh ole Zidan barusan.
__ADS_1
"Selamat malam suster, apakah ada pasien dengan nama Asyifa yang baru saja masuk ke rumah sakit ini karna mengalami pendarahan yah sus?"
"Oh, maksud bapak, pasien yang tadi datang bersama dengan pria yang ada disebelah bapak itu?"
"Apa? Ja_jadi, benaran istri saya, Asyifa yang sedang dirawat di rumah sakit ini?" tanya William masih saja tak percaya.
"Benar pak. Apa perlu saya yang mengantar bapak langsung kesana?" tanya perawat itu menawarkan diri.
"Tidak usah sus, biar saya saja yang akan mengantat pria jelek ini. Terima kasih untuk bantuannya"
"Iya, sama-sama pak"
Masih dengan cara menarik paksa William, Zidan menuntun pria itu ke depan ruangan milik Asyifa. Dan saat Angel melihat sosok pria itu, gadis itu seketika menjadi marah dan tanpa sepatah kata pun, ia melayangkan sebuah tamparan pada William.
"Apa-apaan kamu, Angel! Kenapa seenaknya main tampar seperti itu?!" seru William marah dan juga kesal.
"Dengar yah Will, dari awal aku dan Mira sudah tidak setuju lagi untuk membiarkanmu menjadi bagian dari hidup Asyifa. Tapi wanita itu, tetap saja memberikanmu kesempatan untuk bersama dengan dirinya. Dan setelah semua yang dilakukan Asyifa, kanu bahkan dengan tega meninggalkan dirinya seoranh diri dalam keadaan hami! Apa kamu masih manusia?!" marah Angel, mengeluarkan segala kekesalannya pada William.
"Aku meninggalkan Asyifa sendirian, juga bukan karna kemauanku sendiri. Aku juga punya pekerjaan di perusahaan yang harus aku selesaikan!"
"Pekerjaan, apa pekerjaan lebih penting dari istrimu yang sedang hamil besar? Lalu, apa kamu pikir aku akan percaya kalau kamu diluar untuk menyelesaikan pekerjaanmu?"
"Apa maksudmu, Ngel?"
Angel yang masih kesal, kini mengganti tatapannya pada William dengan tatapan jijik. Dengan cepat, gadis itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mulai sibuk dengan berselancar disana.
Tiba-tiba, William pun merasakan adanya getarak berulang kali dari ponsel miliknya. Dengan tatapan penuh tanya, William mulai mengecek isi dari pesan berupa gambar yang dikirim oleh Angel.
Seketika itu juga, wajah William menjadi sepucat tembok. Ternyata semua itu adalah foto dirinya bersama dengan Aliya yang tampak sangat mesra saat di taman bermain, beberapa waktu yang lalu.
"Apa sekarang kamu mengerti apa maksudku, William? Apa kamu merasa bangga setelah berhasil memiliki dua orang wanita sekaligus dan membuat Asyifa menjadi seperti itu sekarang?"
"Apa maksudnya itu, Angel? Coba berikan ponselmu padaku!" pinta Zidan penasaran sambil merebut ponsel milik William begitu saja.
Setelah melihat semuanya, Zidan menjadi diam selama beberapa saat. Pria itu tampak bingung harus bereaksi seperti apa. Haruskah dirinya merasa bahagia, karna sekarang ada satu alasan untuk membuat Asyifa dan William berpisah?
Atau, ia malah harus merasa sedih sekaligus marah karna telah menduakan wanita yang begitu sangat ia cintai. Namun saat melihat foto terakhir, Zidan menjadi tahu apa yang harus ia pilih.
Dengan brutal ia memukul jatuh William dengan sekali pukulan saja. Tak hanya sampai disitu, ia bahkan menginjak tubuh Wiliam tanpa rasa belas kasihan sama sekali.
Meskipun William sudah berteriak minta berhenti pada Zidan, namun tak juga didengar oleh pria itu. Sedang Angel, hanya turut menonton tanpa ingin membantu William sedikit pun.
"Pak Zidan! Apa yang bapak lakukan, kenapa memukuli orang begitu saja?!" teriak dokter Renata yang baru saja datang.
Dengan sekuat tenaga, dokter wanita yang bertubuh tak sebanding dengan Zidan, mencoba untuk menghentikan pria itu untuk melanjutkan aksinya.
"Apa-apaan kalian berdua, kenapa seenaknya berkelahi di dalam rumah sakit?" marah dokter Renata.
"Terima kasih dok, terima kasih karna sudah menyelamatkan aku. Aku mungkin sudah mati jika dokter terlambat datang sedikit saja"
"Kamu bahkan masih bisa mengucapkan terima kasih? Setelah berselingkuh dari Asyifa, dan membuatnya hampir keguguran, kamu datang dengan alasan pergi karna pekerjaan tanpa rasa bersalah sedikitpun! Kamu memang pantas untuk dibunuh oleh diriku!"
Zidan kembali maju untuk memburu William, namun pria itu malah bersembunyi di balik tubuh dokter Renata. Entah mengapa ia menjadi sangat penakut terhadap sosok Zidan yang terlihat sangat menakutkan ketika sedang marah.
"Dasar pengecut!" cibir Angel sinis.
"Baiklah, aku mungkin sedikit banyak sudah memahami keadaan diantata kalian bertiga. Tapi saat ini, aku menyelamatkan pria ini karna ia adalah suami ibu Asyifa, dan aku membutuhkannya untuk menyetujui tes yang akan ku lakukan pada bu Asyifa. Aku harap kalian mau mengerti"
"Sebaiknya dokter cepat bawa dia pergi dari hadapanku, kalau tidak ingin dia menjadi lebih babak belur dari sekarang" ancam Zidan.
Mendengar itu, Renata segera manarik tubuh William menuju ruangannya. Sedang Zidan hanya bisa memukul ke arah udara untuk melampiaskan amarahnya yang masih tersisa.
"Dari mana kamu mendapatkan semua foto itu, Ngel?" tanya Zidan penasaran.
"Aku mendapatkannya dari orang suruhanku yang aku bayar untuk mengawasi William selama pria itu berada diluar rumah"
__ADS_1
Bersambung....