
Lilian yang takut sesuatu terjadi pada Asyifa, atau malah wanita itu sendiri yang melakukan hal nekat, dengan cepat meminta bantuan pada Zidan untuk mengecek ke dalam kamar Asyifa.
Awalnya Zidan melakukan hal yang sama seperti yang Lilian lakukan, yaitu mengetuk pintu kamar sebanyak beberapa kali. Namun saat hasilnya sama tidak ada jawaban juga, pria itu mulai habis kesabaran.
Dengan sekuat tenaga, Zidan mendobrak pintu tersebut menggunakan tubuhnya. Dan setelah percobaan ketiga, pintu itu baru bisa berhasil terbuka lebar.
Pemandangan di dalamnya, membuat tubuh Zidan dan juga Lilian seketika membeku, saking terkejutnya. Dengan cepat Zidan lari menghampiri tubuh Asyifa, dan mencoba menyelamatkan wanita itu.
"Arrgghhhh" teriak Lilian histeris.
Keempat pemuda dan pemudi yang sedang sibuk melakukan tugasnya masing-masing, langsung terlojak kaget saat mendengar teriakan Lilian.
Dengan cepat, mereka berempat segera berdatangan ke tempat sumber teriakan itu. Awalnya mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam kamar, karna terhalang oleh tubuh Zidan
Namun saat tubuh itu berpindang ke arah lainnya, keempat orang itu pun memasang ekspresi yang tak jauh bedanya dengan Lilian. Apalagi Angel dan Mira, keduanya juga sama hanya bisa terdiam di tempat.
Beruntung Raka dan Adam bisa mengontrol diri, da langsung masuk ke dalam kamar untuk membantu Zidan menangani keadaan Asyifa yang mengenaskan.
Yah, wanita malang itu baru saja melakukan sebuah percobaan bunuh diri, dengan cara mengiris kedua pergelangan tangannya. Kini darah yang mengalir dari kedua luka itu telah dihentikan oleh Zidan.
"Apa tidak ada kotak pertolongan pertama di rumah ini? Aku tidak bisa terus-menerus menahan lukanya seperti ini, bagaimana pun juga harus segera diobati"
"Sepertinya aku sempat melihatnya di dekat lemari ruang tamu tadi. Biar aku carikan dulu disana, sabar yah" jawan Adam cepat, lalu berjalam kembali ke ruang tamu.
"Raka, setelah adam membawa kotaknya, tolong kamu menggantikanku menahan kain yang menutupi kedua luka Asyifa. Nanti biar aku saja yang mengobatinya"
"Baik, Zidan"
"Apa bunda dan kalian berdua akan terus saja berdiri seperti itu? Apa kalian tidak berniat untuk membantuku, dengan cara menelpon seorang dokter, supaya datang dan mengecek keadaan Asyifa"
"Bi_biar bunda saja, Zidan. Karna kebetulan saja, bunda mempunyai seorang teman yang menjadi dokter di kota ini.
"Baiklah. Zidan mohon bantuannya dari bunda yah, terima kasih bunda"
"Sama-sama"
Dalam sekejap mata, Lilian pun terlihat mulai menjadi sibuk dengan ponsel yang terpasang berada dekat dengan teliganya. Adam yang pergi mengambil kotak pertolongan pertama pun juga turut muncul.
Zidan dengan cepat dan terampil, mulai mengobati kedua luka dipergelangan tangan Asyifa dengan hati-hati, hingga selesai tanpa satu pun yang terlewatkan.
"Zidan, kata teman bunda, dia akan segera datang kesini. Dan untungnya lagi, jaraknya berada menuju ke rumahnya Asyifa, cukup dekat"
"Syukurlah kalau begitu. Zida juga sudah selesai memberikan obat dan membalut luka Asyifa dengan baik, jadi saat dokter datang nanti, hanya tinggal memeriksa keadaannya saja"
"Apa dia seputus asa itu Zidan? Dia bahkan rela untuk mengakhiri hidupnya sendiri, tanpa merasa takut sedikit pun"
"Menurut Zidan, sudah sewajarnya kalau Asyifa merasakan semuanya itu, apalagi setelah banyaknya musibah yang datang bergantian menerpa hidupnya"
"Bunda juga tahu, Zidan. Tapi maksud bunda, sekarang bunda menjadi lebih takut untuk meninggalkan Asyifa seorang diri saja dalam suatu ruangan. Bunda takut, Asyifa akan melakukan hal yang sama untuk melupakan semua luka yang dirasakannya
Mendengar perkataan Lilian barusan, Zidan pun tampak berpikir sejenak. Memang benar apa yang dikatakan oleh bundanya, mereka tidak bisa membiarkan Asyifa seorang diri, selama wanita itu belum bisa menyembuhkan luka tersebut.
Hal itu juga akan tetap berlaku meskipun semua orang telah kembali ke kota tempat mereka bekerja, dan Asyifa telah kembali juga ke apertemen bersamanya.
Ketika Zidan sedang sibuk tenggelam dalam pemikirannya sendiri, sebuah suara yang terdengar dari arah depan segera membuat fokusnya teralihkan.
Ternyata itu adala seorang pria yang Lilian maksud sebagai teman dokternya. Pria yang terlihat seumuran dengan Lilian itu, berjalan masuk ke dala kamar Asyifa dengan sopan mengikuti langkah Raka, yang mengantarnya.
"Syukurlah dokter sudah datang. Aku mohon untuk dokter segera memeriksa bagaimana keadaan pacarku" sambut Zidan, terlihat mulai bisa bernafas lega.
"Baik, Zidan"
Setelah memerika keadaan Asyifa berulang kali, sebanyak 3 kali, dokter itu baru mulai berhenti memeriksanya. Entah mengapa, ekspresi sang dokter, seketika berubah jadi sangat serius.
"Ada apa dok? Apa keadaan Asyifa sangat tidak baik sekarang, atau ada infeksi pada kedua lukanya karna salah diobati olehku?"
"Sebelumnya aku menjawab pertanyaan itu, ijinkan aku duluan yang memberikan sebuah pertanyaan. Apa wanita yang baru saja aku periksa ini, sedang mempunyai sebuah masalah besar dalam hidupnya?"
"Bisa dibilang seperti itu, dok. Dan lagi bukan hanya satu masalh saja, tapi ada cukup banyak masalah yang menimpa hidupnya. Memangnya ada apa dok?"
"Maaf kalau aku bersikap sedikit lancang, tapi menurutku wanita yang ku periksa ini, dari pasa membutuhkan pertolongan medis, dia malah lebih membutuhkan pertolongan atas jiwa dan akal sehatnya"
__ADS_1
Mendengar jawaban sang dokter, semua yang berada disana seketika memandanginya dengan tatapan bingung dan juga dipenuhi oleh tanda tanya.
"Maksud dokter?"
"Dia membutuhkan seseorang yang bisa diajak bicara tentang semua luka yang telah dialaminya, Lilian. Dia sama sekali tidak butuh pertolongan medis, mungkin medis bisa menyembuhkan luka di kedua tangannya yang terlihat sekarang. Tapi medih tidak bisa menyembuhkan luka dalam dirinya, yang tidak terlihat"
"Jadi maksud dokter, kami harus membawa Asyifa untuk pergi menemui seorang ahli psikiater?" tanya Angel memastikan.
"Iya, benar. Aku pikir itu adalah penanganan yang terbaik bagi Asyifa dalam kondisinya saat ini. Karna dengan kemampuan yang aku miliki, hanya bisa menyembuhkan kedua luka itu saja. Tapi dirinya tidak akan sembuh, mengikuti kedua lukanya"
"Aku rasa, apa yang dikatakan oleh dokter ada benarnya. Kita harus menyembuhkan dulu jiwa Asyifa yang sedang tak baik-baik saja sekarang, maka luka seperti ini tidak akan pernah muncul lagi" timpal Adam menyetujui.
"Tapi apa itu mungkin? Apa kita akan berhasil membawa Asyifa pergi menemui seorang psikiater, seperti saran dokter?"
"Ada apa Ngel? Kenapa kamu menanyakan sesuatu, yang seolah kamu yakin mustahil untuk bisa terjadi?"
"Asyifa berubah, Mira. Dia berubah menjadi dingin dan ketus, layaknya orang asing, dan bukanlah sosok Asyifa yang kita kenal"
"Menurut pengetahuanku yang pernah masuk dan mendalami bidang kejiwaan, itu adalah sebuah bentuk perlawanan atau pertahanan dari diri pasien, terhadap orang sekitarnya"
"Tapi kenapa? Kenapa dia melakukan semua itu pada kami? Kami bukanlah orang lain, tapi kami sudah seperti keluarganya sendiri"
"Sepertinya aku bisa memahami hal tersebut, karna aku juga pernah mengalaminya. Asyifa saat ini sudah lelah untuk merasakan rasa sakit karna kehilangan seseoarang, dan dia cuman mempunyai dua pilihan. Yaitu dengan bersikap dingin agar semua orang menjauh darinya, atau melenyapkan dirinya sendiri"
*****
Beberapa hari telah berlalu setelah terjadinya insiden Asyifa mencoba melakukan bunuh diri. Kini rombongan itu telah kembali pulang ke kota tempat mereka tinggal.
Awalnya setelah sadar, Asyifa denga yakin telah mengumumkan bahwa dirinya tidak akan mau kembali lagi ke kota tersebut, dan lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah keluarganya.
Namun karna semua orang terus memaksa dirinya untuk ikut pulang bersama-sama, ia pun hanya bisa menuruti keinginan mereka dengan terpaksa.
Setelah sampai di aperteman milik mereka bertiga, hal yang dilakukan Asyifa hanyalah terus berada di dalam kamar dan sibuk dengan dunianya sendiri.
Wanita itu hanya baru mau keluar kamar jika merasa lapar atau pun haus, selain dari itu ia lakukan semuanya di kamar. Bahkan Asyifa juga tak pernah datang untuk bekerja lagi di perusahaan milik Zidan.
Dan Zidan yang mengetahui keadaan Asyifa, serta memahami kalau semua yang wanita itu lakukan adalah bentuk perlawanannya untuk menjauhkan semua orang dari sisinya, berusaha untuk memaklumi.
"Kalian dimana sekarang? Apa masih berada di dalam aperteman?"
"Iya, aku dan Angel masih di apertemen. Kami berdua sedang menunggu Asyifa siap-siap di kamarnya, karna tadi saat Angel mengajaknya pergi, tanpa diduga ia malah menjawab setuju untuk ikut"
"Benarkah? Itu adalah sebuah berita bagus, tapi kenapa suaramu terdengarnya seperti tidak sedang dalan suasana hati yang bagus? Apa ada sesuatu yang salah?"
"Entahlah, ini sesuatu yang salah atau bukan. Tapi waktunya sudah hampir satu jam berlalu, sejak Asyiga meminta kami berdua untuk menunggunya bersiap-siap"
"Ah, begitu. Mungkin saja saat dia sedang bersiap, tanpa sengaja dia kesulitan dengan sesuatu, dan itulah yang membuatnya lama. Aku dan yang lainnya juga tidak masalah jika kalian bertiga datang agak sedikit terlambat"
"Tapi kami yang masalag Zidan! Bagaimana pun juga ini adalah acara untuk merayakan ulang tahun bundamu, masa yang berulang tahun datang lebih dulu" protes Mira.
"Tidak usah merasa bersalah seperti itu Mira, lagian bunda juga tidak masalah. Jadi kalian boleh pelan-pelan saja, yang penting Asyifa bisa ikut datang juga"
"Hah, terserah kamu sajalah"
"Hehehe. Maaf merepotkan Mira, tapi aku mohon bantuanmu dan Angel yah untuk msalah Asyifa. Terima kasih" jawab Zidan, sambil terkekeh pelan.
"Emm. Yah sudah kalau begitu, aku matikan dulu yah, nanti kalau sudah akan berangkat akan ku telpon"
"Baik, Ra"
Setelah mendengar permintaan Zidan dan juga mendapat pengertian dari Lilian, Angel dan Mira pun memutuskan untuk menunggu Asyifa kembali dalam waktu setegah jam lagi.
Tapi jika sampai waktu itu, Asyida tak juga kunjung keluar dari kamarnya, maka Mira lah yang akan masuk sendiri kesana untuk mengecek apa yang dilakukan oleh wanita itu sedari tadi.
Dan benar saja perkiraan Mira, setelah waktu yang diberikan keduanya berakhir hingga lewat beberapa menit, Asyifa tak juga kunjung keluar kamar. Mira pun seketika menjadi marah, ia kemudian bangkit berdiri.
"Kamu mau kemana Ra?"
"Mau kemana lagi, kakau bukan ke dalam kamar Asyifa? Kita berdua sudah cukup terlalu lama menunggunya sedari tadi seperti orang bodoh disini, dan sudah waktunya untuk melihat sendiri apa yang sedang wanita itu lakukan di dalam!"
"Apa tidak sebaiknya kita memberinya waktu sedikit lagi, dan terus menunggu? Mungkin saja yang dibilang Zidan ada benarnya, kalau dia sedang kesulitan dengan sesuatu saat mempersiapkan diri"
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan masuk dan turut ikut membantunya dengan kesulitan tersebut. Bukankah itu jauh lebih efektif? Dan kita juga bisa menjadi lebih cepat pergi ke tempat acara ulang tahu bunda, bagaimana?"
"Baiklah. Tapi kamu harus janji padaku, kalau kamu tidak akan menggunakan kekuatan dan juga amarahmu saat berhadapan dengan Asyifa"
"Janji? Apa pelu aku melakukannya sampai seperti itu?" tanya Mira tak sejutu.
"Tentu saja kamu harus melakukannya, karna aku lah yang paling mengenal seperti apa sifatmu itu. Kalau kamu tidak ingin berjanji, maka kamu tidak boleh masuk ke dalam kamar Asyifa"
"Baiklah, aku berjanji. Apa sekarang aku sudah boleh masuk?" jawab Mira dengan setengah hati.
"Tentu saja, silakan"
Ketika Mira dengan tak sabaran mendorong pintu kamar Asyifa hingga terbuka lebar, keduanya malag tak menemukan siapa pun di dalam sana.
Angel dan Mira yang kebingungan, mulai mencari di seluruh sudut kamar hingga keluar lagi ke ruang tamu, dan juga ke balkon. Tapi setelah beberapa waktu mencari, telinga Mira samar-samar mendengar sebuah suaram
Suara itu adalah suara nyanyian yang berasal dari Asyifa. Dengan cepat, Mira memberikan isyarat pada Angel untuk mengikuti langkah kakinya.
Suara itu berasal dari dalam kamar Asyifa, dan lebih tepatnya lagi dari dalam kamar mandi wanita itu. Dan benar saja, setelah Mira menempelkan sebelah telinganya ke daun pintu, suara itu semakin jelas terdengar.
Tok.. Tok... Tok..
Ketuk Mira yang sudah dipenuhi oleh emosi, berulang kali. Wanita itu bahkan terlihat lebih sedang mengedor pintu kamar mandi itu, dari pada mengetuknya
"Asyifa! Asyifa, apa kamu sedang di dalam? Kalau kamu di dalam, tolong jawab aku dan ceoatlah keluar sekarang juga!"
"Iya, aku di dalam. Memangnya ada apa, kamu kenapa mengedor pintu kamar mandi orang lain seenaknya?" jawab Asyifa terdengar santai.
"Tidak usah banyak tanya, cepatlah keluar sekarang, baru kita aka bicara satu sama lain secara langsung!"
"Baiklah, tunggu sebentar"
Setelah itu, suara gemercik air pun perlahan mulai menghilang Tak lama kemudian, sosok Asyifa berjalan keluar dengan tubuh hanya terbalut sebuah handuk saja.
Dengan santai, ia menggosok-gosok rambut panjangnya ke sebuah handuk lain, dan tak memperdulikan tatapan Mira yang kini seperti telah siap dengan segala sumpah serampah yang akan keluar dari mulutnya.
"Ada apa?"
"Ada apa? Kamu bertanya ada apa? Apa kamu benar-benar tidak tahu, atau otakmu itu sudah bego karna terlalu terobsesi untuk bunuh diri! Kami sudah menunggumu selama hampir dua jam diruang tamu, dan dengan santainya kamu berlama-lama mandi di dalam sana dan sambil bernyanyi ria"
"Loh, memangnya kenapa kalau aku ingin melakukan semua itu? Apa ada sesuatu yang salah, atau kamu merasa terganggu karna tidak bisa melakukan hal yang sama seperti diriku?"
"Hah, dasar wanita gila!"
"Cukup Mira, biar aku saja yanh akan bicara pada Asyifa. Asyifa, kenapa kamu melakukan semua ini padaku dan juga Mira? Apa kamu memang melakukannya dengan sengaja, supaya kami marah dan menjauh darimu?"
"Sengaja? Yah kalau bisa dibilang, memang ada unsur kesengajaan. Tapi jangan salah paham, itu aku lakukan hanya karna merasa bosan berada di rumah seharian"
"Lalu, apa kamu pikir kami berdua adalah mainan pelepas rasa bosanmu? Kalau kamu merasa bosan, kenapa tidak kembali bekerja saja di perusahaan Zidan lagi, kenapa malah menyusahkan orang lain?!" amuk Mira tanpa bisa dicegah.
"Aku cape dengan pekerjaan kaku seperti itu, jadi aku ingin melakukan pekerjaan lain yang lebih mudah"
"Aku yakin ayah, ibu kandungmu, dan juga anakmu menyesal karna sudah memilikimu sebagai salah satu keluarga mereka. Kamu tahu kenapa? Karna kamu adalah wanita yang lemah, baru begitu saja kamu sudah sok-sok merubah sifatmu segala!
"Diam kamu! Tidak usah membawa anggota keluargaku dalam hal ini, dasar sialan!"7
"Kalau aku tidak mau kenapa? Aku rasa ini adalah kebiasaanku untuk mengusir rasa bosan yang ada dalam diriku. Bagaimana, keren bukan?" jawab Mira, sambil menirukan gaya bicara Asyifa.
"Dasar ikut-ikutan!"
"Sudahlah Mira, hentikan. Aku akan bertanya pertanyaan terakhir, apa kamu akan ikut pergi bersama dengan kami ke acara perayaan ulang tahun bunda?"
"Tidak, aku malas"
"Baiklah, kalau begitu kami berdua yang akan pergi sendiri. Tapi sebelum pergi aku ingin bilang sesuatu padamu, aku sangat kecewa melihat dirimu memaksakan diri untuk bisa berubah sejauh ini. Ayo pergi, Ra"
"Baiklah"
Kedua wanita itu pun keluar dari dalam kamar dan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Asyifa seorang diri di dalam sana. Namun tanpa sepengetahuan keduanya, Asyifa kini sedang menatapi mereka dengan tatapan sedih penuh luka.
Bersambung..
__ADS_1