
Pagi itu adalah hari pertama Asyifa kembali bekerja lagi di perusahaan setelah cuti, karna insiden pembullyan yang dilakukan Safira terhadapnya.
Baru saja melewati pintu utama perusahaan, Asyifa merasakan rasa sakit pada perutnya dan rasa ingin segera pergi ke toilet yang tak tertahankan.
"Hah..! Harusnya aku jangan terlalu banyak ngemil tadi!" gumam Asyifa.
"Kenapa Fa? Kamu kok keringatan gitu?"
"Tidak apa-apa kok, Ngel. Aku cuman kebelet pengen BAB aja, soalnya dari pagi aku tidak bisa berhenti ngemil karna gugup. Aku ke toilet dulu yah"
"Bareng aja, Fa. Pakai toilet di lantai bawah sini, biar kita berdua temani"
"Tidak usah Ra, aku bisa sendiri kok. Kamu kan harus segera ke ruanganmu, bukannya kamu ada rapat pagi ini sama anggota divisimu? Dan kamu semalam terpaksa menunda pemeriksaan berkas, karna harus mendengar curhatanku kan, Ngel? Jadi mendingan, kalian berdua langsung ke ruangan masing-masing aja deh"
"Tapi tetap saja, kita tidak mungkin membiarkan kamu pergi sendirian, mengingat kejadian terakhir kali..."
"Aduh, aku sudah tidak bisa tahan lagi guys! Aku ke toilet dulu yah, sampai bertemu lagi nanti, saat jam istirahat di kantin!" ucap Asyifa memotong ucapan Angel dan berlalu dari sana.
"Asyifa, kalau ada apa-apa, segera hubungi kita berdua!" teriak Mira sebelum sosok Asyifa menghilang dari pandangannya.
"Tidak akan terjadi apa-apa kan, Ra? Aku ingin sekali menyusul Asyifa, tapi kerjaan para bawahanku butuh diperiksa dan ditandatangani secepatnya"
"Aku juga harus melakukan rapat pagi ini, Ngel. Gimana dong?"
"Begini saja, kita pergi dan segera selesaikan pekerjaan kita, kemudian kembali ke sini lagi! Bagaimana?"
"Yah mau bagaimana lagi?, hanya itu jalan satu-satunya. Ayo cepat, kalau begitu!"
Disisi lain, Asyifa yang sedang berada di depan pintu masuk toilet khusus cewek dilantai satu, tiba-tiba teringat kembali akan kejadian yang menimpanya.
Tubuhnya bergetar hebat dan dadanya terasa sesak, membuatnya sangat kesulitan untuk bernafas.
Dengan sekuat tenaga, ia menancapkan jari-jari panjang miliknya ke telapak tangannya sendiri hingga berdarah. Semua itu ia lakukan agar kesadarannya tetap ada, karna saat ini ia merasa sangat pusing dan pandangannya menjadi kabur.
Pembullyan yang dilakukan Safira bersama kedua sahabatnya, membuat trauma Asyifa menjadi bertambah parah.
Kini bukan berada di ruangan gelap saja yang bisa membuat traumanya kambuh, tapi hanya dengan melihat pintu toilet bisa membuat Asyifa kehilangan kontrol atas dirinya.
"Ayo, kamu pasti bisa, Asyifa! Itu hanya toilet, kamu tidak perlu takut sama sekali!" ucap Asyifa menyemangati dirinya sendiri.
Baru saja ia akan memdorong pintu toilet, namun sebuah suara menghentikan niatnya.
"Asyifa!"
Asyifa berbalik ke arah sumber suara dan menemukan sosok Safira beserta kedua sahabatnya disana.
Seketika sakit di perut Asyifa hilang seketika, digantikan oleh rasa mual saat berhadapan dengan ketiga orang itu.
__ADS_1
"Cepat, ikut aku!" ucap Safira sambil menarik tangan Asyifa dengan kasar.
"Apa-apaan kamu Safira? Cepat lepaskan tanganku! Apa kamu tidak merasa bersalah sedikit pun kepadaku?"
Tiga lawan satu adalah pertarungan yang sangat tidak seimbang, membuat Asyifa terpaksa mengikuti kemana Safira menyeretnya dengan bantuan Karin dan Lia.
Saat sampai di depan tangga darurat, Safira menolak tubuh Asyifa hingga jatuh terduduk di lantai.
"Apa kamu bilang? Merasa bersalah? Jangan mimpi, kamu memang pantas mendapatkan semua itu!"
Plak....
Habis sudah kesabaran Asyifa terhadap Safira, ia bangkit dan melayangkan sebuah tamparan pada pipi kiri gadis itu.
Asyifa merasa sangat marah dan kecewa, jangankan merasa bersalah, ketiganya malah tanpa rasa takut menyeret dirinya.
Harapan Asyifa untuk mendapatkan permintaan maaf hari ini demi menyelamatkan mereka, malah di balas perlakuan kasar lainnya.
"Apa kamu tau, berapa banyak penderitaan yang harus aku rasakan akibat perbuatan kalian bertiga? Dalam tidur pun aku masih bisa merasa ketakutan! Bahkan hanya dengan melihat pintu toilet saja bisa membuatku sangat kesulitan untuk bernafas!"
"Bukan urusan kami! Dirimu sendiri lah yang membuat kami melakukan semua itu!"
"Hah! Memangnya, apa yang sudah aku lakukan terhadap kalian bertiga, Karin? Apa? Kalian selalu mencari masalah denganku dan juga menyebarkan berbagai gosip jelek tentangku di seluruh perusahaan ini, tapi tidak pernah sekali pun aku membalasnya!"
Plak...
"Itu balasan atas tamparanmu tadi kepadaku, Asyifa! Semua ini adalah salahmu yang sudah merebut posisiku tanpa tau malu, jadi jangan salahkan kami!"
Safira tersenyum licik dan dengan tatapan mengerikan, ia mengeluarkan sesuatu yang mengkilap dari dalam tasnya.
"Pegang yang kuat guys, aku akan membuat ini menjadi sangat menyenangkan!"
Asyifa yang melihat hal itu, menjadi sangat ketakutan "Apa yang akan kamu lakukan dengan pisau itu, Safira? Jangan macam-macam, kamu bisa saja masuk penjara!"
"Diam! Jangan banyak bicara! Safira, cepatlah lakukan!" protes Lia, yang terlihat mulai kesulitan menahan tubuh Asyifa karna gadis itu mulai berontak sekuat tenaga.
Tanpa ragu sedikitpun, Safira mendekatkan ujung pisau itu ke arah leher Asyifa. Membuat gadis itu seketika diam, tak berani bergerak lagi.
"Dengarkan baik-baik perkataanku, Asyifa! Aku bukanlah tandinganmu, jadi jangan pernah sekalipun berpikir untuk berani melawanku. Karna aku akan memberikan kesakitan yang lebih besar padamu dari pada yang sebelumnya, mengerti?"
"Akhhh. He, hentikan Safira, sakit!" mohon Asyifa saat merasakan rasa perih pada lehernya.
Setetes darah mengalir turun pada leher Asyifa. Ternyata, Safira telah kehilangan akal sehatnya dan membuat goresan dengan menekan pisau itu sekuat tenaga.
"Hentikan, Safira! Kamu melukainya, bukan seperti ini yang kita rencanakan!" teriak Lia ketakutan saat melihat hal itu.
"Biarkan saja! Biar sekalian, aku bunuh gadis ini! Karna dirinya, aku harus menerima penghinaan dari banyak orang! Awas saja kalau sampai kamu berani menceritakan yang sebenarnya kepada pak Zidan! Aku pastikan, akan benar-bebar membunuhmu saat itu juga, Asyifa!"
__ADS_1
Tiba-tiba pintu menuju tangga darurat terbuka lebar, dan muncullah sosok Angel dan juga Mira disana.
"APA YANG KAMU LAKUKAN, SAFIRA?!" tanya Angel histeris saat melihat Safira yang menempelkan pisau di leher Asyifa hingga berdarah.
"Jangan ikut campur, ini bukan urusan kalian berdua!"
"Tapi Asyifa berdarah, Safira! Jauhkan pisau itu darinya, aku mohon!"
Tak memedulikan permohonan Angel sedikitpun, Safira malah semakin menekan pisau itu pada leher Asyifa.
Semakin banyak darah yang mengalir turun hingga mengenai bagian depan kemeja gadis malang itu, tak ada yang bisa ia lakukan selain meneteskan air mata menahan perihnya goresan pisau.
Safira tampaknya malah sangat menikmati semua itu. Ia terlihat puas saat melihat wajah kesakita Asyifa dan juga wajah ketakutan orang-orang disekitarnya, bahkan kedua sahabatnya pun ikut menatapnya ketakutan.
"Safira, turunkan pisau itu! Ini sudah jauh berlebihan dari rencana yang kita bahas! Kita melakukan semua ini, hanya untuk menakutinya supaya tidak menceritakan yang sebenarnya kepada pak Zidan, bukan untuk melukainya!"
"Diam Karin! Jangan berani sekali pun, kamu memerintahku! Atau, pisau ini akan berpindah tempat ke lehermu!" ancam Safira sambil menjauhkan pisau itu dari leher Asyifa dan menganjungkannya di depan wajah Karin.
Melihat kesempatan itu, Mira dengan cepat melayangkan sebuah tendangan pada tangan Safira, hingga pisau itu terjatuh ke lantai dekat kaki Lia.
Lia dengan sigap, segera mengambil pisau itu dan melangkah menaiki beberapa anak tangga untuk menjauhi Safira.
"Berikan pisau itu padaku, Lia!"
"Tidak, Safira! Kamu bisa saja membunuh Asyifa atau orang-orang disekitarmu dengan pisau ini!"
"Ah, jadi kamu ingin menyelamatkan gadis ini? Kamu ingin menyelamatkan Asyifa, begitu?"
Lia menggelengkan kepalanya cepat "Bukan, bukan Asyifa yang ingin aku selamatkan, tapi dirimu! Aku tidak bisa membiarkan sahabatku menjadi seorang pembunuh dan harus masuk penjara!"
Seolah tak bisa diajak kompromi, Safira malah berusaha menggapai Lia dengan menarik ujung bajunya, hingga gadis itu jatuh terduduk di atas tangga.
Karin melepaskan tangan Asyifa dan dengan bantuan Mira, keduanya menahan pergerakan Safira.
"Lepaskan aku brengsek! Lia, cepat bawa kemari pisau itu, sialan!" teriak Safira menggila.
Sedangkan Asyifa yang sudah terbebas, hanya bisa terduduk lemas sambil menahan darah yang terus mengalir dari lukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Angel, pergi minta bantuan satpam untuk ke sini dan segera telpon polisi!" perintah Mira.
Angel yang sedari tadi hanya bisa berdiri memantung melihat kejadian di depannya, seolah mendapatkan kembali kesadarannya dan berlari mencari bantuan.
Tak butuh waktu lama, Angel segera kembali bersama dua orang satpam yang kemudian mengantikan Karin dan juga Mira untuk memegangi Safira.
Seketika di depan pintu tangga darurat itu menjadi penuh dengan para karyawan, yang mengikuti Angel dan dua satpam tadi karna rasa penasaran saat melihat ketiganya berlari dengan tergesa-gesa.
Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah suara yang sangat familiar terdengar menyela kegaduhan. Suara itu membuat semua orang yang ada disana seketika terdiam dan tak berani bersuara lagi.
__ADS_1
"ADA APA INI?!" teriak Zidan murka.
Bersambung...