
Adam berjalan kembali ke dalam bar untuk segera bertemu dengan Raka dan juga Zidan. Tapi yang anehnya, dia sama sekali tidak menemukan keberadaan Raka disana.
Hanya ada sosok Zidan seorang, yang masih tetap berada diatas sofa dalam keadaan tertidur lelap karna telah berada dibawah pengaruh alkohol yang kuat.
"Loh, kemana perginya Raka? Bukannya tadi aku sudah menyuruhnya untuk menunggu bersama Zidan disini, kenapa dia malah pergi begitu saja?!" gumam Adam keheranan.
Karna badannya sudah lelah karna sedari tadi sibuk mengurus mobil Zidan, dan hal lainnya, Adam memutuskan untuk duduk di sebelah Zidan sambil menunggu kedatangan Raka.
Lima menit, sepuluh menit, hingga setengah jam berlalu begitu saja, namun sosok Raka tak juga kunjung terlihat. Dengan kesal, Adam meraih ponsel miliknya dan mencoba untuk menghubungi Raka.
Sayangnya setelah mendengar nada tunggu selama beberapa saat, bukan suara Raka lah yang terdengar menjawab panggilan Adam, melainkan suara operator sistem.
"Ya ampun, apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh anak yang tingkahnya absurd itu? Apa aku benar-benar harus berkeliling lagi untuk.mencarinya?!"
Meski sudah sempat menghubungi ponsel Raka sekali dan tidak mendapat jawaban yang sesuai dengan harapannya, Adam yang enggan putus asa, kembali mencobanya lagi.
Maka hasilnya yang didapat olehnya, juga tetap sama seperti sebelumnya. Seketika itu juga Adam menjadi dilema, antara harus meninggalkan Zidan seorang dir lagi demi bisa mencari Raka, atau tetap disitu bersama Zidan sampai Raka datang dengan sendiri.
"Arggghhh! Sebodoh amat deh! Mendingan aku tidur saja! Eh tapi sebentar, bagaimana kalau aku menaikan story untuk meminta bantuan pada teman lainnya? Mungkin saja kan mereka datang" ucap Adam tiba-tiba mendapat sebuah ide.
Tanpa berpikir panjang lagi, Adam segera melakukan ide tersebut yang sudah ada di dalam kepalanya. Dengan cepat, ia merekam seluruh keadaan bar dan menyisipkan kata help disana.
Setelah merasa semuanya sudah cukup, Adam sekali lagi menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, untuk melakukan tugas yang sama seperti sebelumnya, yaitu menunggu.
Entah sudah berapa lama Adam menunggu disana, dirinya sendiri juga tidak tahu. Yang pasti kini rasa kantuk menyerangnya dengan cepat, dan membuatnya tertidur pulas.
Bahkan sekali pun suara dentuman musik yang semakin bertambah keras, serta suara tawa dan teriakan dari sekumpulan orang yang berada disana semakin riuh terdengar, tidur Adam tak terganggu sama sekali.
"Permisi, aku datang lagi untuk melaporkan hasil dari tugas kedua yang anda berikan padaku" ucap pelayan yang sebelumnya telah menawarkan minuman pada Raka, kepada seorang wanita lainnya.
"Jadi bagaimana, apa kamu sudah berhasil menyelesaikan tugas kedua itu sama seperti kamu menyelesaikan tugas yang pertama?"
"Iya, aku sudah berhasik melakukannya sesuai dengan apa yang anda inginkan. Pria itu, kini dia juga sudah tak sadarkan diri di sebelah tubuh temannya"
"Ahahahaha, ahahaha. Bagus, bagus. Tidak salah aku memilihmu untuk melakukan apa yang ku inginkan. Karna ternyata, kerjamu sangat bagus sekali"
"Terima kasih atas pujian anda. Kalau begitu, apa sekarang aku sudah bisa menerima upah dua kali lipat yang anda janjikan padaku di awal tadi?" tanya pelayan itu penuh harap.
"Tentu saja bisa, kenapa tidak bisa? Kamu kan sudah bekerja keras melakukan semua yang aku perintahkan, jadi sudah seharusnya aku memberikan bayaran yang sepantasnya juga. Bukan begitu?"7
"Iya, benar"
Merasa sudah tak ada lagi hal yang harus dibicarakan, wanita itu segera meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat, lalu menyerahkannya kepada sang pelayan tersebut.
"Nah, ambillah! Itu adalah upah yang sudah aku janjikan padamu, kamu juga bisa melihat ke dalam untuk memastikan jumlahnya pas atau tidak dengan yang kamu harapkan"
"Wa_wah! Ini sih sudah sangat melebihi dari perkiraanku, terma kasih. Lain kali jika anda berniat mencari seseorang untuk disuruh melakukan pekerjaan semacam ini, anda bisa langsung menghubungiku" ucap pelanyan sambil menyerahkan kartu namanya.
"Tentu saja. Aku pasti akan langsung teringat dan menghubungimu saat ada pekerjaan seperti ini lagi. Senang bisa bekerja bersama denganmu" jawab wanita itu tersenyum licik.
Setelah menerima bayarannya, pelayan itu pun berjalan pergi meninggalkan sosok wanita yang memperkerjakannya selama beberapa jam sebelumnya.
"Kalau begitu, sekarang aku tinggal lanjut ke rencana selanjutnya dengan berpura-pura menjadi teman mereka, dan membawanya ke tempat lain. Lihat saja Asyifa, aku pasti akan membuatmu menyesal karna tidak menepati janji yang telah kamu katakan!"
Yah, wanita yang telah merencakan semua niat jahat itu adalah Elina. Entah apa yang sudah merasukinya hingga bisa berbuat senekat itu terhadap ketiga pria dewasa yang tak memiliki salah sama sekali padanya.
Elina yang gagal saat berniat mengikuti Mira dan juga Angel untuk mencari tahu dimana keberadaan Eden dan juga Asyifa, berakhir dengan stres berat dan tak bisa lagi berpikir logis mengenai segala sesuatunya.
Yang ada dipikirannya setiap saat hanyalah rasa takut bahwa dirinya cepat atau lambat akan segera dilaporkan ke polisi, terkait tindakannya menculik Eden hingga pria itu harus berakhir kembali ke ranjang rumah sakit, dengan kondisi mentak yang tak stabil.
Bagi Elina yang telah hidup dalam kesusahan karna tidak memiliki orang tua dan harus hidup di sebuah panti asuhan yang berada di desa terpencil, hidupnya yang sekarang adalah harta paling berharga yang dimilikinya dengan susah payah.
Oleh karna itu, Elina tidak akan pernah mau melepaskan kehidupannya dengan semudah itu, apalagi sampai harus mendekam di dalam dinginnya tembok penjara.
"Sebentar lagi, bukan aku yang akan susah payah mencari keberadaanmu dan juga turut memohon untuk dibebaskan, tapi kamu lah yang akan melakukannya Asyifa"
Elina berjalan dengan percaya diri ke arah sofa dimana Adam dan Zidan sedang tertidur pulas. "Astaga Adam, Zidan? Kenapa kalian berdua bisa tertidur seperti ini? Aku harus segera membawa kalian pulang sekarang"
"Permisi mba, apa ini benar kedua pria ini adalah teman-teman anda? Mereka sudah seperti ini sejak tadi" sapa seorang gadis yang adalah pelayan juga di bar itu.
"I_iya, ini adalah teman-temanku. Kami datang berempat tadi kesini, temanku yang satunya lagi ada di sofa lain dalam keadaan tertidur karna mabuk juga. Aku datang kesini untuk meminta bantuan, tapi tidak menyangka kalau dua temanku lainnya juga kondisinya sama saja" jawab Elina pura-pura kesal.
"Ya ampun. Kalau begitu, bagaimana mba bisa membawa mereka bertiga pulang? Mba saja hanya seorang diri, pastinya akan sangat kesulitan bukan?"
"Entahlah. Tapi aku rasa mungkin saja untuk ku membawa mereka pulang, asalkan mereka sudah berada dalam mobil, pasti semuanya akan baik-baik saja"
"Kalau membantu mba membawa mereka sampai ke mobil di parkiran bar ini, aku pasti bisa melakukannya. Bagaimana mba?"
"Benarkah? Aku pastinya akan sangat merasa berterima kasih sekali, kalau kamu benaran ingin membantuku. Tapi kita akan bolak-balik membawa tiga orang pria dewasa loh, apa kamu tidak masalah?"
"Tidak masalah kok mba. Ayo kita mulai saja membawa mereka satu persatu ke mobil" ajak pelayan itu, terdengar yakin.
__ADS_1
"Baiklah. Mohon bantuannya yah"
"Iya mba"
Saat kedua wanita itu baru saja berhasil meraih tangan Zidan untuk bisa dilingkarkan ke leher mereka masing-masing, sebuah suara mengejutkan mereka.
"Apa yang kalian lakukan? Mau kalian bawa pergi kemana pria itu, apa kalian mengenal teman-temanku?"
Deg! Saat mendengar suara yang sepertinya mengenali Zidan dan juga Adam, jantung Elina seketika berdebar kencang karna rasa takut kalau nanti rencana jahat nya akan terbongkar begitu saja.
Tapi suara siapa itu? Suaranya seperti suara seorang wanita yang seumuran dengannya. Apa itu adalah Asyifa? Kalau benar itu adalah Asyifa, maka tak ada jaminan lagi untuk bisa kabur dari sana.
Namun saat Elina berbalik untuk melihat wajah dari pemilik suara tersebut, wajahnya sama sekali belum pernah dilihat oleh Elina selama dirinya mengikuti Asyifa dan semua pria yang ada disekitar wanita itu.
"Kenapa kalian diam saja? Aku sekarang lagi bertanya kepada kalian loh, apa tidak ada satu pun yang bisa kalian katakan padaku?"
"Maaf mba, aku hanya ingin membantu mba ini untuk memindahkan teman-temannya ke dalam mobil yang ada di parkiran bar, supaya bisa diantar pulang" jawab pelayan itu jujur.
"Teman? Apa kamu benar adalah salah satu teman dari kedua pria ini, kenapa aku tidak pernah melihat wajahmu selama ini? Kalau boleh tahu, siapa namamu?"
"A_aku, aku bernama Vera" jawab Elina, tak ingin memberitahu nama aslinya pada wanita yang tak dikenalnya itu.
"Hmm, Vera yah. Nama yang bagus, lalu kamu belum menjawab satu lagi pertanyaanku tadi. Apa benar kamu teman dari Zidan dan juga Adam?" tanya wanita itu sekali lagi.
"I_iya, aku teman mereka. Kami tidak sengaja bertemu di bar ini tadi, dan karna mereka terlalu banyak meminum alkohol, makanya jadi seperti ini"
"Astaga, yang benar saja! Lali bagaimana dengan Raka, bukannya tadi mereka berdua juga datang kesini bersama Raka?"
"Ah, kalau Raka, dia sedang tertidur di sofa lain dalam bar ini dengan keadaan yang sama dengan Zidan dan juga Adam. Itulah kenapa aku terpaksa meminta bantuan pelayan untuk bisa membawa mereka pulang"
"Ternyata begitu. Maaf yah, karna tadi aku sudah bertanya dengan cara yang sangat tidak sopan padamu, padahal niatmu baik ingin menolong mereka bertiga"
"Tidak apa-apa kok. Lagipula, ini kan juga pertama kalinya kita bertemu, jadi wajar saja kalau kamu merasa waspada" jawab Elina, berpura-pura bersikap pengertian.
"Terima kasih atas pengertiannya Vera, kamu baik sekali. Oh iya, aku lupa memperkenalkan namaku padamu. Namaku adalah Kinara, aku adalah sahabat dekat mereka bertiga"
"Senang berkenalan denganmu Kinara. Apa kamu juga adalah sahabat dekat Asyifa, yang adalah tunangan Zidan?"
"Tu_tunangan? Zidan dan Asyifa sudah bertunangan? A_apa kamu tidak sedang salah bicara yah, karna setahuku mereka bahkan belum berpacaran"
"Aku tidak salah bicara kok, Ayifa dan Zidan memang benar sudah bertunangan. Kalau kamu tidak percaya, lihat saja cincin yang ada di jari manis Zidan saat ini"
Dan memang benar sesuai kata Elina, ada sebuah cincin dengan desain sederhana yanh sedang melingkar indah disana. Sebuah cincin yang terasa familiar diingatan Kinara.
Tak terasa, setetes air mata pun meluncur turun membasahi pipi mulusnya tanpa bisa dicegah. Melihat hal itu, entah mengapa Elina bisa merasakan bahwa ada suatu hubungan asmara yang terjalin diantara Zidan dan juga wanita yang baru saja dikenalnya itu.
"Astaga, kenapa kamu tiba-tiba saja menangis seperti itu? Apa ada sesuatu yang melukai hatimu, atau kamu merasa kecewa karna tak diberitahu tentang pertunangan mereka?"
"Ah iya, sepertinya begitu. Sebenarnya aku menyukai Zidan, tapi ternyata dia sudah lebih dulu mengikat hubungan dengan Asyifa, itu lah yang membuatku merasa sedikit sedih" jawan Kinara jujur.
"Kamu menyukai Zidan? Jadi selama ini, kalian bertiga telah menjalankan percintaan segitiga? Astaga, seperti di dalam drama korea saja yah"
"Ahahaha, kamu ternyata menyukai drama korea yah Vera. Tapi sayangnya, di drama ini bukan aku pemeran utama wanita yang akan menjadi pendamping Zidan, melainkan Asyifa lah yang akan menjadi pendampingnya"
"Yah, itu memang sangat disayangkan. Padahal kalau dilihat-lihat, kamu bahkan jauh lebih cantik dari Asyifa, tapi kenapa Zidan malah lebih memilih Asyifa yah? Benar kan kataku?" tanya Elina kepada pelayan yanh sejak tadi berdiri diam sambil mendengar percakapan mereka berdua.
"Aku belum pernah melihat seperti apa wajah Asyifa itu. Tapi kalai melihat wajah anda, aku memang seperti melihat bidadari karna wajah anda sangat cantik. Semoga anda suatu saat nanti anda bisa menemukan pria yang jauh lebih baik dari pria ini"
"Ya ampun, kenapa aku jadinya malah buka sesi curhat tentang perasaanku pada kalian berdua, konyol sekali. Tapi terima kasih yah atas ucapannya, itu membuat perasaanku menjadi sedikit lebih baik sekarang"
"Sama-sama Kinara. Aku juga sama berharap seperti pelayan ini, semoga nanti kamu bisa menemukan pria yang jauh lebih baik dari Zidan. Jadi sekarang jangan sedih lagi"
"Iya Vera, terima kasih. Oh iya, bagaimana kalau kita mulai mengangkat Zidan dan dua pria lainnya menuju ke mobil saja?"
"Boleh saja. Tapi ke mobil siapa? Aku tidak dapat menemukan kunci mobil mereka meski sudah mencari sedari tadi. Kalau pakai mobil milikku bisa saja, tapi nanti mau dibawa kemana mereka?" tanya Elina, kali ini sungguh merasa bingung.
"Tenang saja Vera, kita bawa saja ke mobilku. Nanti biar aku yang akan mengantar mereka pulang, kebetulan aku memang mengenal semua anggota keluarga mereka"
"Syukurlah kalau begitu"
Setelah selesai berunding akan dibawa pergi] kemana ketiga pria itu, Kinara dan Elina pun segera mulai mengangkat tubuh mereka satu persatu dengan bantuan dua orang pelayan lainnya.
Tak lupa, Kinara juga bertukar nomor telepon dengan Elina untuk bisa lebih menjalin suaty hubungan pertemanan yang akrab satu sama lain, sebelum pergi dari sana.
"Terima kasih yah atas bantuanmu Vera. Aku sungguh senang bisa mengenalmu hari ini, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu dan bersenang-senang bersama" ucap Kinara penuh harap.
"Aku juga berharap seperti itu. Silakan kamu hubungi aku saja di nomor tadi jika memang ingin bertemu, aku pasti segera meluangkan waktuku untukmu"
"Tentu Vera. Kalau begitu, aku pamit"
"Iya, hati-hati Kinara"
__ADS_1
Saat Kinara melangkah mask ke dalam mobil dan berjalan pergi dari bar, seketika itu juga senyum di wajah Elina lenyap begitu saja tanpa bekas, tergantikan dengan ekspresi kesal yang teramat sangat.
"Wanita sialan! Kenapa juga dia harus datang di saat aku hampir saja berhasil untuk menyelesaikan semua rencanaku terhadap ketiga pria biadab itu!" gumam Elina pelan.
*****
Seperti pagi hari sebelumnya, hari ini juga Zidan bangun dengan keadaan kepala yang terasa amat sakit karna sudah terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol saat berada di bar semalam.
Tapi yang bedanya, hari ini dia juga ditemani oleh dua orang sahabat sejatinya yang masih dalam keadaan tertidur pulas disamping kiri kanan pria itu.
Dan untuk kali ini, Zidan ternyata bisa bangun di dalam kamarnya sendiri dan bukannya di sebuah kamar hotel seperti sebelumnya.
"Arrgghhh! Kenapa kepalaku selalu terasa sakit dan seperti mau pecah saja, setiap kali habis minum alkohol?!" gerutu Zidan, sambil memegangi kepalanya erat.
"Itu karna kamu terlalu memaksakan diri untui meminum minuman beralkohol dalam jumlah yang banyak. Apa tidak bisa kalau kamu menguranginya sedikit saja?" tanya Kinara, berjalan masuk ke kamar sambil membawa sebuah nampan ditangannya.
"Ki_Kinara? Kenapa kamu bisa ada di dalam apertemenku, siapa yang sudah mengizinkan kamu untuk seenaknya masuk?!" tanya Zidan, terlihat marah.
"Sebentar Zidan, aku bisa jelaskan kenapa sampai aku bisa berada di dalam apertemen milikmu. Aku hanya ingin berniat baik, untuk menolong kalian bertiga saja kok"
"Menolong? Memangnya siapa yang bilang kalau aku dan juga kedua sahabatku butuh bantuan darimu? Tidak usah bicara sesuatu yang terdengar mustahil Kinara, dan langsung saja katakan apa niatmu ada disini!"
"Aku tidak bohong Zidan. Aku ada disini karna memang ingin menolong kalian bertiga, mana mungkin aku bisa membiarkan kalian bertiga tertidur dalam keadaan mabuk di dalam bar begitu saja semalam"
"Bertiga dalam keadaan mabuk? Apa yang sedang kamu katakan, yang mabuk kan hanya aku seorang, kenapa kamu bisa mengatakan kalau Adam dan Raka juga mabuk?"
"Mereka memang mabuk juga semalam, sama sepertimu Zidan. Kalau mereka tidak mabuk, kenapa sampai sekarang belum bangun juga? Coba cium saja aroma dari tubuh keduanya, penuh aroma alkohol" pinta Kinara, terlihat yakin.
Meski tak ingin percaya pada ucapan Kinara, Zidan yang merasa penasaran dan juga ingin memastikannya secara langsung, akhirnya terpaksa melakukan sesuai dengan apa yang dikatakan wanita itu.
Benar saja, saat Zidan mendekatkan indera penciumannya ke atah tubuh Adam dan juga Raka secara bergantian, kedua sahabatnya itu memang tercium penuh dengan aroma alkohol yang sangat menyengat.
"Dasar teman tidak bisa dipercaya! Katanya ingin ikut bersamaku, supaya nantinya bisa membawaku pulang dengan selamat saat aku sudah mabuk parah. Tapi ternyata, mereka juga ikut-ikutan mabuk bersamaku!"
"Sudah, kamu tidak perlu marah-marah lagi pada mereka berdua. Sebaiknya kamu segera meminum minuman pereda mabuk ini, dan mandi" tegur Kinara, menyodorkan nampan yang dibawanya kepada Zidan.
"Terima kasih. Tapi bagaimana bisa kamu ada di dalam bar yang sama dengan kami bertiga, kamu tidak dengan sengaja sedang mengikuti kami kan semalam?"
"Kamu masih saja berpikiran buruk tentangku yah, padahal sudah lama sekali kita tidak lagi pernah bertemu. Tenang saja, karna aku tidak mengikuti kalian kok"
"Lalu, bagaimana kamu sampai bisa tahu kami ada disana, dan juga membantu kami pulang ke apertemenku?"
"Itu karna semalam aku menghadiri pesta perayaan ulang tahun salah satu teman modelku, yang diadakan di bar yang sama dengan tempat kalian bertiga datang. Saat sedang berjalan menuju mobilku di parkiran, aku tidak sengaja bertemu dengan Adam. Itulah mengapa aku tahu kalian ada disana"
"Jadi, karna itu juga kamu tanpa tahu malu malah mengambil kesempatan untuk bisa bergabung bersama kami bertiga? Apa kamu tidak merasa bersalah sama sekali, setiap kali melihat wajahku?!"
"A_aku merasa bersalah Zidan. Tapi yang semalam itu aku sungguh tidak berniat untuk mengambik kesempatan supaya bergabung bersama kalian. Aku juga waktu itu sudah pergi, tapi karna melihat stoey Adam di media sosial yang terlihat mengkhawatirkan, aku pun memutuskan untuk kembali"
"Memangnya ada apa dengan story Adam, sampai bisa membuatmu memutuskan untuk kembali ke bar?" tanya Zidan penasaran.
Kinara yang tidak hanya ingin menjelaskan dengan perkataan, segera mengambil ponsel miliknya dari dalam saku, dan mencari story Adam yang dimaksud untuk diperlihatkan kepada Zidan.
Setelah melihat isi dari story tersebut, Zidan merasa bisa mengerti alasan Kinara yang memutuskan untuk kembali menemui mereka bertiga, itu karna Adam memang menuliskan minta bantuan di storynya.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf, karna sudah seenaknya menuduhmu tanpa sempat mendengarkan semua penjelasanmu dengan baik" ucap Zidan meminta maaf.
"Tidak apa Zidan. Aku bisa mengerti kenapa kamu sangat mencurigaiku, pasti karna sikap yang ku tunjukkan selama ini membuatmu merasa terganggu bukan?"
"Yah, memag bisa dibilang seperti itu. Tapi aku juga seharusnya tidak asal menuduhmu saja, sekali pun sikapmu selama ini memang sangat membuatku kesal. Sekali lagu aku minta maaf padamu, dan juga pastinya ingin berterma kasih"
"Iya, sama-sama Zidan. Aku juga sudah menerima permintaan maafmu, dan dengan senang hati memaafkanmu. Apa sekarang kamu sudah bisa meminum minuman yang aku buat? Aku jamin, tidak ada bahan yang aneh-aneh di dalamnya" jawab Kinara, terlihat sangat tulus.
"Ah, iya. Aku akan meminumnya"
Dalam sekali teguk, Zidan langsung saja menghabiskan minuman yang dibawakan oleh Kinara. Dan memang benar minuman itu terbukti manjur, karna rasa sakit di kepala Zidan langsung hilang dalam hitungan menit.
Merasa sudah bisa kembali beraktifitas seperti biasa tanpa adanya gangguan dari kepala sakit, Zidan sambil terseyum, mulai berjalan turun dari tempat tidur.
"Astaga, minuman apa yang sebenarnya sudah kamu berikan padaku? Kok bisa sakit kepalaku langsung hilang dalam sekejap? Rasanya aku harus mendapatkan resepnya juga, supaya bisa ku buat kalau saat dalam keadaan mabuk seperti ini"
"Ahahaha, kamu itu memang tidak pernah tertebak yah jalan pikirannya. Baiklah, aku janji akan membagikan resepnya kalau kamu mulai berjalan masuk ke dalam kamar mandi, untuk mandi. Oke?"
"Janji yah?"
"Iya janji" ucap Kinara, sambil mendorong sekuat tenaga tubuh Zidan untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah pintu kamar mandi menutup rapat, Kinara baru bisa terseyum senang karna menyadari sikap Zidan tak secuek dulu lagi padanya.
Meski hanya sekilas saha bersikap ramah karna minuman yang dibuatnya, Kinara harap itu akan menjadi awal sesuatu yang baik dalam hubungan keduanya di masa yang akan datang nantinya.
Bersambung...
__ADS_1